
Mata nya terbuka, keremangan menyapa indranya. Hanya terlihat gelap dan pantulan cahaya kebiruan.
"Gagh … " pusing di kepalanya seakan ditusuki ribuan jarum. Ia memijat pelan kepalanya. Mendudukan diri. Berada dimana dia? Tangannya terikat begitu pula kakinya. Membuatnya tersadar bahwa mereka dalam bahaya.
Menengok ke samping kanan tergeletak tubuh seseorang. "Elves" panggilnya pelan. Ia goyangkan tubuh yang membelakanginya itu.
"Ruve?" Suara dibelakangnya, membuat Ruve berbalik cepat.
"Gen? Kita dimana?" Gen berusaha berdiri namun kakinya susah digerakkan. Tangan dan kakinya terikat kuat. Ia merasa basah. Entah apa yang mengikatnya.
"Entah, kau lihat Elves?" Tanya Gen. "Ia ada di sampingku, tidak sadarkan diri" kembali Ruve menggoyangkan tubuh Elves.
"Elves bangun" Ruve bersuara serak. Tenggorokannya kering dan sakit.
"Sudah bangun rupanya" Suara lelaki tua, Kenny, di luar penjara.
"Kenny? Mengapa kau lakukan ini pada kami? Apa salah kami?" Ruve memberondong lelaki tua itu banyak pertanyaan.
"Tenang aku akan menjawabnya, pertama, aku tak suka penyusup, kedua, kalian membantai garda depan milikku, klon pasir, yang ketiga aku tak suka penyusup yang membuat onar, kalian adalah pengancam keselamatan desa!" Ucap panjang lebar Kenny.
Benar yang rumor itu katakan, Kenny tak segan jika ia merasa terancam. "Tapi kami hanya melawan balik, serangan si kerdil pasir itu" Gen menimpali.
Kura-kura tua itu tidak menghiraukan, "Kalian mengancam!" Itu saja yang pak tua itu katakan dan pergi meninggalkan penjara.
"Ugh" suara lenguhan terdengar dari samping Ruve. "Elves, buka matamu" Ruve merasa kuatir. "Kita dimana?" Suara parau Elves bertanya setelah ia menangkap tembok lembab berlumut mengelilinginya.
"Mereka menyekap kita" Gen berucap dengan masih bersusah payah melepaskan ikatan pada tangannya. Mereka tidak bisa menggunakan sihir yang mereka punya. Gen telah mencoba, ia ingin mengubah dirinya menjadi sosok ular, namun ia tidak berubah.
Ruve pun demikian, ia mencoba mengeluarkan rantai hitam dalam jarinya, namun tak bisa.
Sama halnya dengan Ruve, Elves merasakan kepala nya pusing. Ia menggelengkan kepalanya agar menghilangkan rasa sakitnya.
Ia teringat kejadian sebelum ia tidak sadarkan diri, satu persatu dari mereka tergeletak, di atas kura-kura yang terus membawa mereka berenang ke dasar.
Sesaat ia mendapati kolam didalam laut dengan warna hijau kebiruan, saat itu kantuk menggelayuti pelupuk matanya.
Namun Elves berusaha menangkap pembicaraan kura-kura itu dengan wanita duyung berambut panjang yang datang.
Pedaran dalam kolam itu semakin terang, "Kita memerlukan ekstrak dari bunga Ploppy Tuan, untuk saat ini, ekstraknya pun tak mengapa, jika bunga segar tidak kita dapatkan." Ucap si wanita duyung itu.
"Masih tak ada kabar dari Rolan? Aku mengutus dirinya untuk membuat kesepakatan dengan Peri Mary, di gunung Rosemary untuk mendapatkan Ploppy" Kepala kura-kura itu masuk kedalam kolam, berpedar itu.
"Ini peringatan ketiga dari Kolam Sutra, Tuan" itu ingatan yang muncul di kepala Elves, sebelum ia tak sadarkan diri dan berujung di tempat gelap dan lembab ini.
"Ruve minta bantuan Mary" ucapan Elves yang mendapat respon bingung dari Ruve.
__ADS_1
"Mereka memerlukan bunga Ploppy, kita bisa menggunakannya untuk membantu kita menuju Cahaya ilusi."
"Kau tahu darimana, mereka memerlukan bunga Ploppy?" Gen masih berusaha meloloskan tangannya dari ikatan.
"Sebelum tidak sadarkan diri aku mendengarkan percakapan kura-kura itu dengan sosok duyung wanita." Jelas Elves.
Ruve mengeluarkan sebuah pluit berbentuk kayu bambu dan meniupnya.
Di tempat lain, Kura-kura itu kembali ke ruangannya, sebuah ruangan dengan tiang-tiang penyangga besar berwarna putih berpadu emas, juga menjuntai kain-kain putih keemasan yang transparan yang mengelilingi tempat itu.
Ia duduk di singgasananya. Sosok manusia berbadan ikan dengan armour mendekat kearahnya.
"Rolan bagaimana?"
"Maaf Tuan, kami tidak menemukan bunga itu di gunung Rosemary. Seminggu kita menunggu namun kami tidak mendapati tumbuhan apapun di puncaknya." Prajurit itu menunduk menyesal, ia merasa gagal tidak bisa menyelesaikan misi penting ini.
Helaan nafas terdengar dari bibir Kura-kura tua itu. Ia sendiri pun jika mencari juga tak mungkin bisa menemukannya. Ploppy sangat sulit dicari. Tapi ia membutuhkannya untuk mensucikan kembali Kolam Sutra.
"Tuan … Tuan … para penyusup itu memberontak, berteriak dan membuat gaduh, mereka berkata tentang bunga Ploppy" Mata sipit Kenny melebar, bagaimana si penyusup tahu ia memerlukan bunga Ploppy.
Ia turun dari singgasananya dan berjalan diikuti oleh Rolan. "Berikan Bunga Ploppy" Kenny melangkah ke tempat ruangan Ruve, Gen dan Elves di sekap.
"Bawa kami ke Cahaya Ilusi dan kau dapatkan bunga itu" Gen menantang. Kenny tersenyum kecut. Ia tahu jika kebebasan yang mereka inginkan. Namun ia tak ingin melepaskan penyusup yang bisa menjadi ancaman desanya.
Elves, Ruve dan Gen berjalan berjajar, mereka ditodong tombak runcing oleh para prajurit Kenny. Agar tak melawan atau pun kabur.
Mereka menetap ruangan itu, Kenny telah duduk di singgasananya. "Mana bunga itu!" Ucap Kenny dengan suara tinggi.
Ruve maju, "Sebelumnya, perkenalkan temanku, Mary" Ruve membuka telapak tangannya dari sana sosok perempuan seukuran jempol bersayap terlihat.
Ruve telah menceritakan, ia ingin menolong Rube namun tidak dengan Kenny. "Aku pernah melihat kau, berlemah ditempatku" ucap Mary pada Rolan. Manusia ikan itu hanya menatap Mary, ia tak pernah mengenal seorang peri sebelumnya, tapi ia hanya diam.
"Dan aku tak suka dengan kalian!" Peri Mary terbang mengitari ruangan. "Jika bukan Ruve yang memintanya aku tidak akan mau memberikan bunga berharga ini" Dari tangan Ruve muncul setangkai bunga Ploppy lalu sosok peri Mary menghilang.
Kenny menghampiri Ruve, ia mengambil bunga Ploppy. "Ikut denganku," Kenny menatap mereka bertiga. Dengan mengkode Rolan agar tidak lagi menodong, ketiganya.
Kembali mereka masuk dalam akuarium, Gen ragu. Kenny mengerti. "Tenang aku tidak akan ingkar janji, naiklah," Gem menaiki setelah mendapatkan persetujuan dari Ruve dan Elves.
Kembali mereka dibawa masuk ke dalam lautan, tempat dimana Kolam Sutra berada. Disana duyung wanita yang pernah Elves lihat menunggu mereka.
Kenny menurunkan ketiga orang itu, kemudian berubah menjadi sosok manusianya. Ia melangkah mendekat ke Kolam Sutra.
"Selamat datang, Tuan"
"Ini bunga Ploppy yang kau minta, Coral" Kenny menyerahkan bunga Ploppy pada Coral, si duyung wanita itu.
__ADS_1
"Baiklah Tuan saya akan langsung melaksanakan ritual penyucian Kolam Sutra." Coral berdiri di depan Kolam Sutra. Ia menusuk bunga Ploppy dengan tongkat kecil, runcing dan panjang, dan berkilau, lalu menyelupkan bunga Ploppy ke dalam Kolam Sutra dan memutarnya, mulut Coral mengucapkan rangkaian mantra,
"Putihkan yang putih dan hitamkan yang hitam, Kristal Abadi jaga semua kebaikan pada pusaran Kolam Sutra ini" pusaran air dalam kolam semakin kencang. Tongkat itu ia putar ke atas, dan satu titik cahaya putih meluncur cepat menuju langit.
Ruve mendengar Kristal Abadi disebut, membuatnya fokus pada tongkat yang ada di tangan Coral.
Gemuruh terdengar, pusaran itu membentuk gulungan air berwarna keruh yang naik ke atas menembus permukaan laut dan terus hingga menyentuh langit.
Kilat saling menyambar dengan petir juga awan gelap seolah menyerap semua air keruh itu.
BLAR!
Dentuman besar terdengar hingga menguncang pijakan mereka yang berada di Kolam Sutra.
Cahaya putih keemasan terpancar dari Kolam Sutra. Airnya berubah bening. Terlihat dua ikan Koi berwarna putih, merah bercampur emas berenang menikmati air kolam yang jernih.
"Saya pamit Tuan" senyum terpancar dari Coral. Si duyung berhasil mensucikan jantung dari lautan. Ia langsung mundur dan pergi.
"Terima kasih pada kalian, aku percaya kita ditakdirkan bertemu" Kenny menghadap ketiga sosok yang awalnya ia kira akan menjadi ancaman bagi desanya.
"Sekarang giliran ku, membantu kalian, Naiklah ke tempurungku" kembali Kenny merubah dirinya menjadi kura-kura.
"Akan aku antar kalian, sebagai permintaan maaf kami, juga diriku yang telah memasukkan kalian dalam penjara."
"Tak masalah, Kenny, Kami juga akan melakukan hal yang sama jika mendapati orang mencurigakan yang mengancam desa kami" Ruve menepuk tempurung Kenny.
Kenny terus meminta maaf, merasa tidak enak, karena bantuan Ruve menyelamatkan jutaan makhluk di lautan.
Kenny membawanya, terlihat ada sebuah jalur di tengah lautan.
"Apa itu?" Gen menunjuk ke arah, putaran dengan arus kencang di dalamnya terlihat ikan-ikan yang meluncur cepat dibawah oleh arus itu.
"Arus Jalur Cepat, jalan raya cepat untuk para penghuni lautan" jelas Kenny.
"Ini yang akan membantu kalian sampai dengan cepat menuju Cahaya Ilusi."
"Bagaimana bisa?" Ruve kembali mengerutkan dahinya.
"Pikirkan tujuan kalian, dan arus itu akan membawa kalian kesana, gampang, Dan aku akan menunjukan bagaimana cara masuknya" Kenny lebih dekat pada arus yang menggumpal putih itu.
"Begini" Kenny melempar ketiga orang itu dan berteriak. "PIKIRKAN TUJUAN KALIAN!"
"AAARGH!" Teriakan Gen, Ruve dan Elves masuk kedalam arus dan terbawa cepat.
Tbc.
__ADS_1