Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 102. Kisah Yara Alejandro 9


__ADS_3

Seseorang menyalakan rokok di kamar mandi. Asapnya mengepul masuk dalam alat pendeteksi kebakaran.


Suara peringatan kebakaran terdengar nyaring, ia terus mengepulkan asap rokoknya pada alat pendeteksi itu.


Ia kembali duduk di kursi toilet, menghisap kuat rokoknya. Lalu air dari alat pemadam api keluar. Ia masih menikmati rokoknya hingga air mematikan rokok yang diapit bibirnya.


Membuka penutup toilet dan memasukan puntungnya dalam toilet dan mengguyurnya. Kemudian ia keluar toilet, melangkah santai bersama orang yang berlarian panik.


Misinya selesai.


Ia keluar meninggalkan gedung Arena Urban Latan, ketika netranya melihat sang ketua sudah aman masuk dalam mobil. Ia berbalik pergi. Yang tak ia sadari sang ketua melihat ke arahnya dan menyeringai menakutkan.


"Jalan!"


"Baik Tuan Razor"


***


"Dia Ulat" Ucap Opal, ia menghela nafas berat.


"Hah! Si idola Arena Urban Latan?" Pekik Juan. Ia pikir Yara adalah korban penyiksaan, atau korban KDRT.


Juan memandangi tangannya, Lengan kecil putih dan rapuh itu adalah lengan sosok Ulat, idola Arena Urban Latan. Yang bisa mengalahkan setengah dari peserta Arena Urban Latan dalam semalam saja, Ia tak percaya.


"Jangan bilang …." 


"Ya, ia melawan Razor" Opal mengangguk. Juan menepuk tangannya keras. "Sudah kuduga" ucapnya.


"Lalu ia kalah?" Juan tahu tentang trauma Opal. Dan wanita mungil yang terlihat rapuh itu melawan harus melawan si Razor mengerikan.


Opal menggeleng. Ia tak mengakui kekalahan Ulat disana, karena Razor yang melarikan diri bersama dengan para penonton untuk menyelamatkan diri dari kebakaran.


"Dia masih beruntung. Tidak harus tewas di tangan Razor." Juan melipat tangannya didada. Ia menyandar di pintu. Dengan mata menatap Opal yang menunduk. Ada yang aneh dengan temannya ini.


"Mengapa bisa Razor masuk Arena melawan Ulat? Kenapa dia tak menolak saja? Kau tak ada dibalik ini semua kan?" Mata wanita itu menyipit. Melihat tundukan Opal yang semakin dalam.


"Shitt!!" Umpat Juan.


"Berengseek kau!" Maki Juan


"Aku tak bisa apa-apa, Razor mendatangi aku, ia tahu aku terhubung dengan Ulat. Aku—"

__ADS_1


"Bedebaah sialaan! Kau "meminta bantuan" untuk dia berhadapan dengan Razor! Kau sinting!"


"Pengecut brengseek!! Benar-benar! Kau berlindung dibalik dirinya, ia kau buat jadi tameng agar kau tak diganggu Razor! Kau memanfaatkannya bedeb4h sialaan!!" Maki Juan tak terkontrol. Ia benar-benar marah.


"Dari awal aku sudah bilang, kau tak usah lagi masuk ke arena, tapi kau keras kepala!" Hardik Juan.


"Aku tak bisa" guman lirih. Dengan kepala tertutup handuk, Opal masih menunduk.


"Dan kau akan mengorbankan seseorang lagi tak cukup kau menghilangkan Fili dari muka bumi ini!" Desis Juan.


Ia tak bermaksud membuka peristiwa menyakitkan Opal tapi Juan harus menyadarkan temannya itu, untuk berhenti mencari tameng. Ia harus menghadapinya.


"Ugh … " lenguhan dari dalam. Juan mengintip, ia membuka pintunya dan Yara telah terduduk di ranjangnya.


"Kau bisa tetap beristirahat" Yara menatap Juan lekat. Juan yang ditatap merasa canggung, ia bisa melihat wajah mungil Yara. Dan terlihat seperti boneka.


"Aku dimana? Siapa kau?" Ucap lirih Yara. Masih terasa pening namun tak semenyakitkan awal. Yara memegang ujung ranjang dan akan beranjak turun. Juan akan berkata namun Opal masuk.


"Ulat kau sadar"


Ia mengenal wajah Opal, si bandar. Dan tampak sadar Yara meraba wajahnya. "Mana gogglesku?" Tanyanya. Mereka pasti sudah mengenalinya. Ia sudah tak peduli.


"Ini tergantung di pinggangmu, tersangkut di belati yang kau bawa" Yara mengambil goggles. Lalu mengenakannya.


"Kau tak perlu meminta maaf, aku juga yang menyetujuinya" Yara sudah akan pergi, Opal menghentikan langkahnya, lelaki itu menahan lengannya.


"Kau akan kemana? Baru saja bangun" ada rasa kuatir di wajah Opal.


"Tak apa aku tak selemah itu. Aku pergi dulu, aku masih ada urusan penting" Yara keluar rumah Juan. Ia harus mengatakan pada Ale apa yang ia temukan.


Si ketua dari Tanduk Hitam adalah temannya sendiri. Razor Gamaliel, Gama.


Ia sudah berada dalam pondok Ale yang gelap dan sunyi, masuk ke dalam, ia menyalakan penerangan. Sekali ia mengibaskan tangan semua penerangan pondok Ale menyala.


"Kau pulang?" Ale menatapnya dingin dan datar. Seperti saat awal ia mendekati laki-laki itu.


"Ale kau dengarkan aku! Ak—"


"Aku menyuruhmu tidur, bukannya bergulat di arena!" Suara lirih terlihat tenang namun mencekam.


"Mengapa kau tak mendengarkanku, huh!" Ale mendekati perlahan.

__ADS_1


"Ale dengarkan dulu penjel—"


"KAU MAU MATI HUH!" Suara tinggi lelaki itu membuat Yara berjengit kaget, ia tak pernah melihat Ale seperti itu.


"Kau harusnya bersyukur, alaram kebakaran menyala disaat yang tepat!" Ale semakin mendekat. Tatapannya nyalang, Yara ikut mundur.


Tangan Ale terulur, memegang kasar dagu Yara. Wanita itu mendongak. Menatap lurus mata yang pagi tadi menatapnya lembut. Wajah Ale perlahan menghapus jarak.


"Kau memang mencari mati kan!" desis Ale dikuping Yara. Rasa dingin menjalar di tubuh Yara. Ia melihat adanya kuatir. Apa ini hanya pikirannya saja? Ale mengkhawatirkan dirinya.


Yara terpaku pada wajah Alejandro, ia lupa jika lelaki itu sedang geram padanya. Garis rahang yang ditumbuhi rambut, rasanya ingin Yara kecup.


Yara mengulurkan tangannya. Mengusap pipi lelaki itu dengan jempolnya, ia tersenyum 


"Kau sangat tampan, boleh aku menciummu?" 


Ucapan hati Yara yang tak sadar wanita itu ucapkan membuat Ale melebarkan matanya. Tak habis pikir dengan wanita aneh di depannya ini.


"Kau tak usah khawatir aku tak apa!" Ale yang sadar Yara bisa membaca hati terdalamnya. Melepas kasar tangan yang mencengkram dagu Yara.


"Kau jangan terlalu percaya diri! Aku hanya tidak ingin membuat masalah dengan kerajaan, melukai tamu mereka." Ucapnya ketus untuk menghindari kenyataan.


Senyum genit Yara kembali menggodanya. Ale merlirik, tak suka jika Yara mulai diatas angin.


Ya Ale masih selalu menampik segala debaran yang mengarah jika ia memiliki perasaan lebih pada Yara.


"Kau jangan terlalu tinggi bermimpi! Kau tak cocok untuk mendampingiku! Kau bukan Magnolia! Sangat jauh perbedaan kalian!" Suara tingginya pada Yara. Lalu tawa mengejek keluar dari mulut Ale, Remuk, tentu saja. Yara menatap lurus pada Ale yang menghindari kontak mata dengannya.


Suara ketukan terdengar. Yara masih menatap Ale. Netra Ale menangkap Yara yang menatapnya. Ale tertegun. Kecewa. Itu yang tertangkap pada Netranya.


Ketukan semakin keras terdengar. Mereka melihat ke arah pintu. Ale beranjak dari tempatnya.dan membuka pintu pondok.


Ada yang menubruk tubuhnya kencang. Ale mundur beberapa langkah. "Handro, temani aku!" Ucap si penubruk. Tubuh wanita yang berada di dekapannya bergetar.


"Bolehkan aku tinggal disini" lagi ucapan wanita itu lirih. Yara menggunakan gogglesnya. Ia beranjak dari sana menuju pintu. 


Menepuk pundak Ale. 


"Kau mendapatkannya, Ale, aku kembali sebenarnya hanya untuk memberitahumu jika Razor Gamaliel adalah ketua Tanduk Hitam, bosnya bosmu yang aku lawan tadi, ya lelaki yang diinginkan oleh perempuanmu ini, permisi" bisik Yara lirih dikuping Ale. Lalu wanita itu pergi begitu saja tanpa melihat lagi pada lelaki itu.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2