Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 21. Lavender 2


__ADS_3

Elves memacu kencang kudanya, ia mengejar kuda yang ia duga Lavender. Ia tak ingin kehilangan jejak lagi.


Ia masih bisa melihat kemana kuda Lavender berlari. Ia memacu kudanya lebih cepat. Suasana hutan yang gelap agak membuat Elves kesusahan, sesekali ia melihat Lavender menatap kearahnya. Ia tahu Elves sedang mengejarnya.


"LAVENDER!" teriakan Elves. Sambil terus memacu kudanya.


"LAV, INI KAKAK, LAV!" ia terus berteriak.


Wajahnya fokus bercampur kesedihan disana. Elves mulai putus asa saat ia melihat jalanan yang sengaja diputus oleh sang adik. 


Padahal sedikit lagi ia bisa menyamai laju kuda Lavender. Ia menarik tali kekang kudanya. Disebrang Lavender juga menarik kekang kudanya hingga kudanya diam. 


"LAVENDER KEMBALI!" tak lama ia kembali memacu kudanya, pergi dari hadapan. Elves turun dari kudanya. Ia ingin sekali menyebrangi namun jaraknya begitu jauh, dan jurang yang curam.


"JANGAN PERGI LAV!" Elves berjalan mondar-mandir masih mencari jalan untuk menyebrang.


"LAV TUNGGU!"


"KEMBALI LAV!"


"KEMBALIII" ia tak melihat lagi keberadaan Lavender, ia meluruh ke tanah, ia memukul-mukul keras hingga tangannya memerah.


Air matanya menetes. Ia mendudukan dirinya. Ruve yang menyusul dengan cepat turun dari kudanya dan berlari ke arah Elves.


"Elves kau tak apa?" Ia melihat keadaan pemuda itu. Ia merasakan tubuh Elves bergetar. Ruve mendekapnya. Tak terdengar suara tangis hanya getaran tubuh yang semakin mengguncang tubuhnya.


Ruve menggerakkan tangannya di punggung yang sekarang terlihat rapuh itu. "Ruve ada apa?" Gen baru menyusul. Setelah ia juga mengejar beberapa si jahil yang berpencar.


Dengan melemparkan kode mata agar Gen tak bertanya dulu, Gen mengerti ia turun dari kuda dan menariknya ke pinggir. Ia akan menunggu dibawah pohon untuk bersantai sebentar. Ia akan memberi waktu pada pasangan itu.


Setelah Elves mulai tenang, Ruve memberikan air pada Elves. Gen ia tak jadi beristirahat ia berinisiatif mencari jalan keluar dari BlackMud dan akan kembali setelah menemukannya.


Cukup lama Elves berdiam, kemudian "Aku mengejar Lavender" Ruve terbelalak tak percaya, Mereka sangat dekat dengan apa yang mereka kejar. Namun mengapa mereka tak menyadari. Atau Hudson yang terlalu lihai bersembunyi dan terlalu licin untuk ditangkap.


"Benar? Kau tak salah lihat kan, atau mirip?" Elves tak menanggapi, ia pun tak berpikir demikian, karena ia secara otomatis mengejar jika melihat sosok yang mirip dengan adiknya, tanpa berpikir.

__ADS_1


Suara derapan kuda mendekat. Gen turun, melihat keadaan Elves yang telah tenang. "Aku menemukan batu yang Dona maksud" mengingat kembali. Dona memberitahukan pada mereka, tentang batu besar dengan ukiran bulat di tengahnya. Juga terdapat gambar Mopia besar di tengah batu.


"Kau tak apa Elves?" Gen mendekat. Elves hanya mengangguk, "Maaf menghambat kalian" Elves bersiap dengan kudanya. 


"Tidak apa, setidaknya kita tahu adikmu masih hidup," Gen menaiki kudanya. Elves mengangguk. Membenarkan perkataan Gen. Setidaknya adiknya baik-baik saja.


Gen memimpin ia memacu kudanya cepat, Ruve dan Elves mengikuti di belakangnya. Derapan suara tapal kuda yang berirama menggema di sepanjang perjalanan mereka.


Mereka menaiki perbukitan tinggi dan sampailah mereka pada puncak gersang. Dan terlihat batu yang Dona katakan. Ruve lalu turun dan menarik tali kekang kudanya. Ini tugasnya. Sigil yang Dona berikan hanya pada salah satu dari mereka yaitu Ruve.


Ruve menggambarkan pentagram pada depan batu itu,


ZLENK! HYUUUUNG~


Denging portal yang terbuka terdengar nyaring. Permukaan batu berubah mengelap dan tampak seperti permukaan air hitam yang bergerak.


"Aku duluan" Ruve berucap dengan nada tinggi, yang diangguki Gen dan Elves.


BLEB!


Tak lama para pemuda keluar dari sobekan portal yang melayang di udara. Ruve sudah menaiki kudanya. Mereka melanjutkan perjalanan. Menyusuri hutan-hutan yang berangin. Dingin dan hari menjelang malam.


"Kita cari Goa" usul Gen. "Cuaca juga mendung, sepertinya akan ada hujan badai" Ruve juga sependapat ia mempercepat laju kudanya.


Mereka berburu dengan waktu. Mereka menemukan aliran sungai dan tak jauh terdengar suara gemuruh air dalam jumlah banyak. Tak lain itu pasti air terjun. Dan semoga saja ada Goa di sekitarnya.


Mereka melihat air terjun, dengan air jernih, sungai bebatuan yang terlihat jelas. Mereka menemukan Goa dibalik air terjun, dan tak lama mereka masuk dalam Goa, hujan deras datang.


Angin kencang, dan aliran air terjun yang menjadi besar. "Sepertinya kita harus keluar, ini tak bagus" Elves meneliti setiap sudut Goa. Dan menemukan fakta yang menakutkan. Mereka tak aman berada di dalam sini.


Elves mengintip keluar Goa dugaannya benar. Air sungai meluap dan menutup akses jalan mereka. Dengan aliran sungai yang deras. Dipastikan mereka tak akan bisa melewatinya.


"Kita tak bisa berdiam disini, kita harus cepat, mencari jalan keluar." Elves berkemas. Gen dan Ruve melihatnya bingung.


"Mengapa?" Gen mengintip, "Siaal! akses jalan kita tertutup bagaimana kita keluar?"

__ADS_1


Ruve ikut mengintip. Ini tak bagus dengan aliran air terjun yang bertambah besar bisa jadi Goa ini akan terendam.


"Kita masuk kedalam" Elves menggulung perlengkapannya. "Jangan bercanda mau mati konyol?!" Gen menjadi lebih panik.


"Sudah Gen ikuti Elves" Ruve sudah selesai ia meletakkan perlengkapannya pada kudanya. Dan Gen mengikuti. Elves memacu kudanya.


Dan jalanan kedalam goa landai ke bawah. Mau tak mau mereka harus jalan masuk dalam Goa. Melihat struktur Goa yang semakin dalam jalan nya menurun apakah benar dugaan Elves.


Dari arah belakang suara gemuruh besar menggema dalam tembok Goa. Mereka saling bertatapan. Ini tak bagus tampaknya.


Dan Air dalam kuantitas besar mengalir cepat ke arah mereka. Bagai air bah, menghantam mereka dan menggulung tubuh mereka.


Mereka berusaha mendapatkan nafasnya, berusaha sendiri. Air terus membawa mereka melaju dengan cepat tidak tahu kemana, Elves berusaha untuk tetap dipermukaan air, ia mencoba mencari rekan mereka, namun gulungan demi gulungan membuatnya kelelahan dan yang ada di kepalanya hanya pasrah dan kata maaf.


***


Nyaring terdengar aliran air yang tenang. Tubuh seseorang tertelungkup di pinggir sungai. Alisnya bergerak, dengan mata yang juga bergerak walau masih tertutup.


Ia membuka perlahan netranya, menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. Kepalanya mendongak, ia menelan salivanya susah payah. Haus!


Ia berusaha untuk mendudukkan dirinya. Seluruh tubuhnya basah dan ngilu. Ia melihat kuda-kudanya yang sibuk merumput.


Ia teringat pada kawannya, ia berusaha berdiri walau bersusah payah. Ia mengamati sekelilingnya, mencari dimana teman-temannya, ia berjalan gontai. Saat ia melihat gundukan kecoklatan di pinggir sungai seperti dirinya.


Ia berjalan cepat, menghampiri tubuh yang terlentang itu. "Ruve … " suaranya terdengar lirih.


"Ruve!" Ia menguatkan suaranya, namun tetap sama hanya lirih yang keluar dari bibirnya.


"Ruve … " ia mendekatkan kepalanya pada hidung Ruve, namun ia tak menemukan hembusan nafasnya. 


Panik, ia mulai memeriksa denyut nadi pada tangannya. Dan ia merasakan namun lemah. Ia mencoba memberi nafas buatan. "Ruve, ayo Ruve!" Kembali ia memberikan lagi nafas buatannya. Menekan dada Ruve dan kembali,


"Huwgr" Ruve tersadar.


 

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2