Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 98. Kisah Yara Alejandro 5


__ADS_3

Canggung, rasa malu-malu menyelingkupi diri Yara. Tapi sejenak ia kembali pada pikirannya.


Kau baru didekati begitu saja sudah seperti cacing kepanasan. Tidak bisa begitu Yara! Kau harus buang rasa malumu! Batin Yara memarahi dirinya sendiri.


Ia mengepalkan tangan dan ia dorong ke atas, Yara menyemangati dirinya sendiri.


"Pagi Alejandro" seru Yara dengan cengiran lebarnya. Hanya deheman dengan wajah datar balasan dari lelaki yang menggodanya semalam.


Cengiran Yara meluruh, ia melihat tatapan Ale yang kembali datar seperti sebelumnya. Apa semalam hanya mimpi? Ia memulai sarapan. Mengunyah rotinya dengan mata yang terus melirik Ale.


Ale sudah menyelesaikan sarapannya ia akan segera ke markas militer yang berada di desa Selat.


"Hunggu hahu ihuhuh" ucap Yata mendorong roti ke mulut mengunyah cepat dan meminum susunya.


Ale berdiri menatap kelakuan Yara yang tidak menunjukan kelembutan dan sopan santun seorang wanita. Dan jauh dari tipe kesukaannya.


Tapi mengapa ia merasakan nyaman jika bersama dengan wanita bar-bar di depannya ini, Ah tidak! Ale memalingkan wajahnya. Saat pipi Yara mengembung, Ale merasa Yara manis.


Tidak! Ale menyangkal. Dia bukan ucapnya dalam hati. Lalu Ale meninggalkan Yara.


"Jendral tunggu" Yara telah menelan semua makanannya, ia berjalan cepat untuk menyamai langkah Ale.


"Mau kemana?"


"Markas militer"


"Ikut" serunya senang. Sudah lama Yara tidak menggerakan tubuhnya, ia perlu berolahraga.


"Disana ada apa saja?"


"Ada pasukan"


"Ish bukan itu maksudku, sarananya ada apa saja?"


"Lengkap, Markas militer desa Selat ini Markas militer kedua terbaik di kerajaan Elf" seseorang datang dari arah belakang Yara.

__ADS_1


Wanita anggun dan cantik itu tersenyim sangat manis. "Selamat Pagi Jendral Alejandro" sapanya. Senyuman berlesung pipi membuatnya terlihat manis.


"Magnolia? Dari kapan?" Ale terkejut, ia mendekati wanita yang bernama bunga itu. Terlihat pancaran bahagia dari mata Ale. Dan lelaki itu seperti menjadi pribadi yang berbeda.


"Semalam, aku mengetuk kamarmu tapi kau sudah tidur"


"Selamat datang di rumah" ucap Ale yang ditanggapi dengan elusan kepala dari Magnolia ke Ale.


"Aku pulang" ucapnya pelan dengan senyuman yang indah. Yara melihat keduanya dengan pandangan menyimpit.


Matanya bertabrakan dengan Magnolia. "Hai kau teman Ale? Kau harusnya mengenalkanku dengannya."


Magnolia mendekati Yara, Yara menatap Ale yang tampak terkejut.  Tampaknya lelaki itu melupakan keberadaannya.


"Hai, aku Yara teman Jendral"


"Magnolia" Mereka tiba di markas militer. Menunggangi kudanya masing-masing.


"Tak banyak yang berubah ya, rasanya menyegarkan"


"Kau itu! Jangan merusak kesenanganku" protes Magnolia yang masih terpejam. Yara hanya diam memperhatikan keduanya. Pasangan yang serasi batin Yara. Ia tersenyum kecut.


Pantas saja Ale tidak menanggapi dirinya, karena ia menunggu wanitanya pulang. Jika begini Yara sudah kalah sebelum berperang.


"Oh iya Yara bagaimana kau bisa mengenal Si kutub ini?" tanya Magnolia. Pertanyaan yang tiba-tiba bagi Yara yang sedang melamunkan nasibnya yang merana.


"Hah! Oh, itu Temanku menikah dengan pangeran Elves dan kita bertemu disana," senyuman terlihat dari bibir Magnolia.


"Wah aku senang kau memiliki teman Handro" Ale menatap lembut wanita disampingnya.


"Karena kau pasti tahu kan semenyebalkan apa dia? Aku bahkan tahurah dengan Gama, jika dia pasti kesepian tak ada kami" ucapnya dengan kekehannya yang renyah.


"Gama mana? Kau tidak kembali dengannya?" Wajah Magnolia menjadi mendung. Tapi hanya sesaat.


"Ah rasanya sudah lama aku tak berlatih beladiri denganmu" Wanita itu kembali ceria, dan dengan jelas jika ia tak ingin membahas apa yang Ale tanyakan padanya.

__ADS_1


"Ck! Aku menolak! Aku tidak mau mengalah saat ini" ucap Ale yang kembali biasa, padahal tadi ia pun terlihat mendung.


Sebenarnya siapa Gama? Otak pintar Yara menyimpulkan jika ada hubungan segitiga antara Ale-Magnolia-Gama.


Dan jika ia masuk dalam hubungan itu menjadi Yara-Ale-Magnolia-Gama. Dan akan semakin rumit.


"Bagaimana jika berlatih denganku, aku juga merasakan pegal. Armormu bagus"


"Terima kasih, aku baru mendapat kenaikan pangkat dan ini armor baruku, Handro aku pulang ingin memamerkannya padamu" Ucapnya dengan bangga.


"Kau sih mengapa tidak mengambil pelatihan Phoenix Way, kita kan bisa bertiga. Dan menemaniku" sekilas sendu itu terlihat. Tapi dengan mudahnya Magnolia alihkan ke hal yang lain.


"Pangeran Elves saja mengambil pelatihan itu, jangan bilang wanita kecil yang selalu di sebelahnya itu istrinya?" Yara menagngguk.


"Kau bertemu dengan pangeran?"


"Iya, mereka berdua sungguh hebat, aku kira hanya partner biasa ternyata partner hidup, aku juga ingin, pasti romantis dan menyenangkan"


"Sudah jangan banyak bermimpi" Ale menjentikkan jari ke dahi Magnolia. Yara merasa kejadian itu begitu familiar di kepalanya.


Yara tersentak hingga menarik kekangan kudanya. Kudanya berhenti. Ingatan malam dimana ia mabuk mulai berkelebatan.


Juga ciumannya dengan Ale. Rona merah menjalar di pipinya. Yara merapatkan bibirnya.


Ale menciumnya? Apa itu hanya mimpi? Ia harus bertanya, mengapa Ale melakukan itu padanya. Jangan bilang Ale sudah memiliki rasa untuknya? Yara menatap mata Ale memperhatikan Magnolia yang terus bercerita.


Ah tak mungkin, batinnya, lihat itu, kau bisa melihat pancaran matanya yang terlihat jelas di sana kan? Kau lihat itu, ada cinta yang dalam untuk wanita cantik di depannya. 


Jangan banyak bermimpi! Benar kata Ale! Ulang batinnya yang mengomelinya, si batin mengikuti ucapan Ale pada Magnolia, yang membuat sudut hatinya ikut tercubit.


Bukan untuk mu! Lanjut batin Yara yang terus saja mengingatkan dirinya agar tidak terlalu larut dalam perasaannya.


Ya benar, ia harus bertanya langsung, jangan menebak dan menduga yang akan membuat dirinya jatuh kelubang perasaan tak berbalas yang menyakitkan.


Setelah ia tahu apa yang Ale rasakan ia akan mundur teratur. Ya benar. Di depan sana, terlihat betapa bahagiannya Ale bersama Magnolia.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2