Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 129. Kisah Yara Alejandro 36


__ADS_3

Yara menyesap tehnya, sudah beberapa hari mereka kembali. Ia berada di kantin. Bosan juga jika harus terus dikamar.


Lagipula Yara tidak tahan dengan rasa lapar. Ia menggigit bagel yang tinggal setengah. Punggungnya masih terasa nyeri tapi ia masih bisa menahannya.


"Aku ke kamarmu dan kau tak ada! Ternyata kau meninggalkan aku ke kantin"


Juan dengan bersungut mendekati Yara. Ia tak lagi sekamar dengan Yara, setelah mendengar dirinya hamil anaknya Hugo langsung memerintahkan bawahannya untuk memindahkan barang-barangnya ke kamar lelaki itu.


Juan membanting tubuhnya di sebelah Yara.


"Bisa pelan-pelan duduknya? Kau sedang hamil anyway,"


"Maafkan mommy ya sayang,"


Juana mengelus perutnya perlahan. Ia mengambil potongan buah yang ada di nampan Yara.


Setiap pagi Juan selalu merasakan mual yang amat sangat, namun saat ia sarapan bersama Yara, rasa mualnya hilang dan ia bisa makan dengan tenang.


"Bagaimana keadaan lelaki itu?" Pertanyaan Yara setiap harinya. Selalu mengenai kabar Dantau.


"Masih belum sadar, namun luka-lukanya mulai sembuh"


"Dan bagaimana punggungmu?" 


Juan mengunyah apel, ia menunggu jawaban Yara.


"Hanya nyeri"


Yara selalu menjawab singkat.


"Lalu tentang pernikahanmu?"


"Jujur aku tak tahu, setiap kali aku akan membantu, asisten Hugo yang tampang datar itu tak pernah melibatkan ku"


"Aku tak mengerti sebenarnya ini pernikahanku atau pernikahannya?" Sungut Juan.


"Sudah benar, kau tinggal duduk dan semua beres,"


Juan menatap tajam, ia tak suka dengan ucapan Yara. Ia ingin ikut terlibat dalam persiapan pernikahannya sendiri.


"Kau tak tahu aku ingin dilibatkan!"


Ia mengunyah anggurnya dengan kasar.


"Kau sudah terlibat, pernikahan ini—"


"Selamat pagi, aku tadi ke kamarmu Yara tapi aku tak mendapati dirimu, namun aku menemukan Ale disana sedang membereskan kamarmu, penjagamu sangat rajin"


Otis datang dengan Ale, mereka belum mengambil sarapannya.karena mencari keberadaan Yara.


"Bukan rajin tapi kerajinan!"


Ia melirik malas Ale yang memperlakukan dirinya seperti pesakitan yang akan mati besok.


"Ale kau tidak sarapan?" Yara melihat Ale tak membawa nampan.


"Ini aku akan mengambilnya. Juan, Hugo mencarimu"


Ale beranjak dari tempatnya dan melangkah ke tempat mengambil sarapan.


Selang berapa lama, Hugo datang memasuki kantin. Ia menuju Juan. Membawa keranjang di tangannya.


"Ini, roti isi sosis yang kau inginkan"


"Sebanyak itu? Aku hanya ingin satu yang sosis dan rasa coklat juga vanila, kau tak perlu membawa sebanyak ini"


"Tak apa, makan lah"

__ADS_1


Hugo merobek kertas pembungkus rotinya. Dan menyodorkan pada Juan.


"Roti apa itu?" Tanya Juan pada Hugo yang memakan roti kismis.


"Roti kismis, kenapa? Mau?"


Dengan cepat Juan mengangguk roti milik Hugo terasa menggiurkan dari roti sosis yang berada ditangannya.


Hugo memberikan rotinya, dengan cepat Juan memakan lagap roti Hugo.


"Pelan-pelan tidak akan ada yang mencuri roti mu itu" ia mengusap kepala Juan, yang mirip dengan hamster, si hewan pengerat.


Yara, Ale dan Otis hanya sebagai penonton, tak mempermasalahkan mereka. Selagi Juan bisa memasukkan makanan dalam tubuhnya mereka semua tenang.


"Yara setelah ini bisa ikut denganku, aku akan memberimu ramuan untuk mengikat racun yang berada di tubuhmu"


"Sudah berapa hari ini? Setelah kau kembali?"


"Sudah tiga hari,"


"Kau harus kembali meminum ramuannya kembali, pasti yang ramuanku yang berada di tubuhmu sudah hilang"


"Baik" Yara kembali memakan bagelnya, kunyahan Yara memang lambat, setelah ia kembali, ia merasa tubuhnya melambat.


Otis berkata itu hal wajar, tapi Yara mulai risih dengan kelambatannya sendiri.


Ia harus pulih cepat. Karena ia masih harus menolong Dantau.


***


Otis memiliki ruangan yang cukup besar untuk meramu berbagai macam ramuan miliknya.


Di sana juga ada Dantau yang tak juga sadarkan diri. Ia masih tertidur di brankar. Yara menghampiri Dantau melihat keadaannya.


"Ia hanya tidur, karena setelah aku periksa, semuanya baik"


Ia menyerahkan botol itu pada Yara. Tak perlu lama, Yara menenggak ramuan Otis. Rasanya melegakan, nafasnya tak lagi berat.


"Bagaimana?"


Otis bertanya efek cepat apa yang Yara rasakan.


"Nafasku mulai ringan, juga kepalaku tak lagi berat"


Otis mengangguk ia memasukkan Akar Bulkie dalam ramuan Yara. Bubuk Akar Bulkie benar-benar obat mujarab.


Apalagi jika dicampur dengan bubuk kristal abadi, obat itu akan menyembuhkan segala macam penyakit dengan waktu singkat pun efeknya cepat.


Tapi sayang ramuan itu hanya bisa untuk menyembuhkan tubuh fisik saja. Otis sudah memberikan ramuan itu pada tubuh Dantau. Dan hasilnya memang benar adanya. Fisik Dantau sehat. Tapi ia belum juga sadarkan diri.


Hanya Yara, calon penguasa alam mimpi yang dapat menyelamatkan lelaki itu. Dantau secara tidak sadar mengurung dirinya di sudut gelap mimpinya. Yara yang bisa menemukan lelaki itu.


"Hegh!"


"Hah … hah … hhh … "


"Yara!"


"Menyingkirlah!"


Yara ambruk. Ia berlutut di lantai. Jemarinya kaku. Namun ia berusaha mencakarkan kukunya pada lantai.


"Kenapa?"


Otis dan Ale bergegas mendekat.


"Buka punggungnya!"

__ADS_1


Otis memerintahkan Ale untuk membuka punggung Yara yang terkena sengatan kelajengking raksasa itu.


Lukanya menghitam, terlihat lubang sebesar tutup botol yang mengeluarkan cairan kental kehitaman mengalir keluar.


"Ini akan menyakitkan namun membantu tubuhmu mengeluarkan racun-racun kalajengking itu"


Otis menaburkan bubuk berkilau di atas luka itu.


"Haaarg!"


Rasa sakit menyebar dengan cepat. Yara bisa merasakan rasa nyeri menggigit itu mengalir di setiap pembuluh darahnya.


"Bertahanlah!"


Ale memeluk tubuh Yara yang kesakitan.


Peluhnya banjir. Ia menggigit pipi dalam hingga darah segar keluar dari dalam mulutnya.


Cairan hitam kental itu terus keluar dan hilang menjadi asap hitam dari luka di punggung Yara.


Proses pembersihan racun dari Monster kalajengking berkepala ratusan naga itu memerlukan waktu yang tidak sebentar.


Karena luka itu mempengaruhi Elf Hitam dan Elf putih pada diri Yara.


"AAAARGH!"


Tubuhnya menggelinjang, bergetar dengan mata melebar. Tubuh Yara terangkat kaku, Mata Yara kembali berwarna merah. Namun hanya satu mata.


Dan kembali Yara melemas. Yara menatap Otis dan Ale yang dengan keras menjaganya, Yara menyungging senyumannya, lalu Ia ambruk.


Begitu juga Ale yang ikut ambruk. Mako dan Xelo datang bersama Hugo.


"Bantu aku bawa tubuh mereka berdua ke brankar kosong."


"Mereka masuk ke dunia Mimpi?"


Otis hanya mengangguk. Mako dan Xelo memanggul Yara dan Ale. Ia melihat wajah Otis yang kelelahan nafasnya memburu.


"Kalajengking berkepala ratusan naga itu Monster legenda"


"Ia memiliki racun yang sangat kuat."


"Kalian bisa menjaga mereka? Aku akan ke dunia bawah meminta bantuan Raja Marzon"


"Serahkan padaku juga Xelo"


Mako menyanggupi begitu juga Xelo, Hugo pun ikut mengangguk. Otis menyiapkan semuanya. Di pintu ruangan Otis. Peony menonton.


Ia tidak ingin mendekat. Dengan adanya lelaki itu disana. Ia menatap lelaki itu. Ia meremas pintu ruangan Otis keras.


Ia tak mengerti. Dalam dirinya ia merasakan adanya kekuatan besar. Yang ia tak suka kekuatan besar itu, kekuatan hitam kelam.


Rasanya tidak enak. Namun yang membuat gadis itu takut, sudut hatinya merasakan sebuah euforia kesenangan melihat Yara yang tak sadarkan diri.


Sekelebat mata Peony menghitam.


"Sebentar lagi!" Guman selirih angin.


Gadis itu seperti tersadar ada yang tidak beres dengan dirinya berusaha menjauh. Gadis itu terus menggelengkan kepalanya.


Ia meninggalkan ruangan Otis perlahan oa melangkah. Euforia itu membuat dadanya kencang dan sesak.


Kembali sekelebatan matanya kembali menghitam, Peony menyeringai menyeramkan.


Tanpa gadis itu sadari, Hugo mengikutinya. Ia bisa merasakan kekuatan hitam besar dari arah gadis itu.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2