
"Maaf" suara lirih Elves. Mendengar itu membuat Ruve menarik nafasnya,
"Sudahlah, aku juga salah, sekarang kita fokus kembali mencari Gen dan juga Lavender" Ruve membalik tubuhnya. Ia menatap Elves.
Matanya sembab, Elves berjalan cepat dan memeluk erat Ruve, "Ya ayo kita cari." Ucap Elves dengan lebih mengeratkan pelukannya.
Ia dapat merasakan anggukan Ruve di dadanya.
"Ruve! Elves! Kalian dipanggil ke Deep Inside" Araria melangkah mendekat, ia tak ingin mengganggu namun pesan Berus sangat penting sepertinya.
"Ada apa?" Ruve melepaskan pelukan Elves.
"Aku tak tahu, aku hanya disuruh menyampaikan padamu juga Elves" Ruve berjalan keluar dari tempat reruntuhan itu diikuti oleh Araria dan Elves.
Yang tak mereka sadari terlihat pedar yang Araria tangkap dari sudut matanya. Ruve melihat Araria berbalik ke tempat reruntuhan.
"Ayo Araria" teriakkan Ruve dari ujung, tempat dimana kuda-kuda mereka berada.
"Kalian duluan aku akan menyusul" ucap gadis siput itu. Ia penasaran pedar apa itu.
"Okeh kami ke Deep Inside" Ruve dan Elves memacu kudanya kencang. Membelah hutan.
Araria hanya mengangguk. Dan mencari pedaran itu. Pedarannya sangat lemah, namun Araria dapat melihatnya. Ia mendekati pedaran itu.
Araria menatap sebuah batu, dan saat Araria ingin mengambilnya ternyata batu itu menempel kuat disana.
ZLENK!
Portal dimensi terbuka. Araria mencoba merasakan. Dan mengingatnya. Ia menemukan apa yang selama ini Ruve cari.
***
__ADS_1
Elves dan Ruve sampai di Deep Inside. Disana armor milik mereka muncul dan bercahaya.
Leonard menyambut mereka. "Mana Araria?" Tanyanya pada pasangan itu.
"Menyusul" ucap Ruve.
"Dasar! Harusnya ia juga ikut, hari ini penyempurnaan dari Armor kalian, penyatuan kekuatan Armor dan tubuh kalian."
"Hah, apa itu?" Ruve tak mengerti. Tentang segala macam per-armor-an ini. Ruve tak begitu berminat menjadi prajurit dari Phoenix Way.
Namun ia tak juga menolak. Ia mendapatkan kekuatan baru. Dan bisa menggantikan kekuatannya untuk sementara.
"Penerimaan tubuh kalian pada Armor, dan kalian bisa menggunakan kekuatannya kapanpun"
"Maaf terlambat" Araria datang tepat waktu. Ia memacu kudanya dengan sangat kencang, ia tak sabar memberi tahu Ruve tentang apa yang ia temukan.
"Sebenarnya ini hanya perjamuan dengan para tetua kami saja, jika kau tak mau tak usah dipaksa" Berus berkata. Ia menghampiri Leonard.
"Tak apa jika kami tak ikut?" Araria nampak antusias. Ia ingin segera kembali ke tempat reruntuhan dengan Ruve.
"Bagus kita bisa membahas, tentang Hudson, aku me—"
"Aku menemukan portal di reruntuh—" ucap mereka bersamaan.
"Berus apa yang kau katakan?" Elves dan Ruve menatap orang yang berbeda. Ruve menatap Berus dan Elves.
"Setelah ini, akan aku perjelas dengan kalian, lebih baik kalian masuk dulu" Berus mengarahkan mereka ke dalam sebuah ruangan.
Disana telah ramai, Lisica, Orso dan Simba. Ada disana. Juga Raja Marzon. Yang membuat mata Ruve terbelalak. Ia tak menyangka bisa bertemu langsung dengan Raja Marzon. Dan perempuan di sebelahnya jangan bilang jika itu Ratu pelindung.
Ruve membekap mulutnya. Raja Marzon tersenyum melihat tingkah Ruve. "Apa kabar Ruve? Sepertinya kita akan sering bertemu" ucap Raja Marzon. Membuat cengiran di bibir Ruve mengembang. Tapi senyuman itu langsung hilang.
__ADS_1
"Tak baik Raja, Rooth apa kabarnya Raja?" Ucap Ruve agak lesu.
"Ia kesepian butuh seorang sahabat sepertinya" ucap Marzon.
"Aku juga sahabat Rooth, Kalian saling mengenal?" Tanya Bharat.
"Ya, ia pernah ke taman jiwa dan berhadapan dengan Rooth, sangat lucu, ia mendapatkan tandingannya" ucap Marzon.
"Dia Raja dunia bawah? Dan Ratu pelindung?" Bisik Araria pada Ruve. Ia mengangguk.
"Benar itu mereka?"
"Iya itu mereka, ayo kita mulai, pemeran utamanya sudah datang" seseorang muncul dari belakang Ruve dan Araria,
"Tetua Hark" Berus dan prajurit lain menundukkan kepala mereka hormat.
"Kau sudah lama Marzon? Bharat?" Ia duduk ditengah antara Marzo dan Bharat.
"Kau terlambat Hark!" Ucap Bharat malas.
"Selalu tepat waktu huh, Hark!" Sindir Marzon. Tawa kencang menggema di ruangan besar itu.
"Kalian tahu sekali diriku, jadi senang" Tetua mereka seperti itu. Sama sekali hilang bijaksana yang tadi terlihat.
"Ayo mulai saja sekarang" di sela-sela tawanya. Tetua Phoenix Way itu mempersilahkan Berus menjalankan tugasnya.
***
"Ini, buat dia menurut padaku, jadikan dia senjata hidup untukku"
"Baik Tuan"
__ADS_1
Tubuh manusia terlentang diatas tanah. Ia tak sadarkan diri. Tangan terantai juga kakinya.
Tbc.