
Yara menerima misi pertamanya bersama Hugo dan Greya. Ia sudah menjatuhkan para penjagaan di tempat yang ia datangi.
Yara masuk ke dalam setelah anak buah Hugo yang lain membantu menjebol pintu dari bangunan didepannya.
Dengan santai ia memasuki bagunan itu. Hugo dan Greya mengikuti di belakang Yara. Mereka masuk tanpa adanya perlawanan dari musuh.
Bahkan tidak seperti saat di area depan bangunan yang dijaga ketat. Yara hanya tahu ia datang ketempat ini harus menghabisi mereka.
"Kau sangat efisien Ulat" Hugo memujinya. Ia tak perlu membawa banyak pasukan. Dengan seorang Yara ia bisa menghadapi belasan bahkan puluhan pasukan musuh.
Yara menghentikan langkahnya, ia bisa mendengarkan suara langkah kaki. Matanya awas. Dan benar, busur panah dengan unung berapi. Meluncur membidik mereka.
Dengan gesit anak buah Hugo menepis semua busur panahnya. Hugo, Greya dan Yara bersembunyi dibalik tembok-tembok.
Mereka menyiapkan senjata mereka. Dan kemudian maju kembali. Mereka menyusuri tempat busur panah yang menyerang mereka.
Tak ada lagi serangan, Yara menyimpulkan masih banyak jebakan yang akan mereka temui.
BRAK!
"AARGH!"
suara teriakan anak buah Hugo yang terperosok masuk dalam lubang yang mereka injak. Yara sangat tidak suka dengan jebakan macam teka-teki ini.
Yara lebih baik jika ia berhadapan langsung dengan makhluk nyata. Ia bisa menghabisi apapun makhluk di depannya dengan mudah.
Decakakan terdengar. Yara menggunakan tek ik meringankan tubuh. Ia bisa melalui dengan baik. Hugo, Greya juga beberapa anak buahnya mengikuti instruksi Yara.
__ADS_1
"Ringankan tubuh kalian dan ikuti aku!" perintahnya. Hugo dan yang lainnya patuh. Mereka bisa melewati jebakan itu.
Mereka memasuki sebuah ruang penuh dengan patung-patung. Yara waspada. Mereka melewatinya dan lagi. Teriakkan anak buah Hugo terdengar.
Yara dan yang lainnya mendekati tubuh anak buah Hugo yang sudah tergeletak di lantai, punggungnya menganga luka sayatan. Mereka semakin waspada.
Yara melihat tetesan darah dan mengikutinya. Ia berhenti di.depan sebuah patung seseorang dengan samurai. Ia melihat tetesan darah baru.
Yara mendongak ia melihat samurai yang patung itu pegang berlumuran darah. Dan tak.lama mata samurai itu berkilat. Dan langsung menebaskan samurainya pada Yara.
Yara yang gesit bisa menghindar. Walau sedikit rambutnya terpotong. Cengiran kaku patung itu terlihat.
Yara mengangkat pedangnya. Ia menyabet tubuh patung yang terbuat dari gipsum itu. Tangan patung jatuh itu terburai.
Ganti sudut bibir Yara terangkat. Ia kembali menggerakkan pedangnya, menyabet patung itu. Dan terakhir ia menebas kepala si pating samurai.
Zrrraaakkk!
Sebuah pintu batu bergeser di depan Yara. Tak mau mengulur waktu Yara dan yang lainnya masuk kedalam. Saat semua sudah masuk. Pintu itu tertutup.
Anak buah Hugo menggedor dan mencoba membukanya paksa tapi tak mungkin berhasil. Pintu itu terlalu kokoh.
Mau tak mau mereka harus masuk lebih dalam. Kembali Yara memimpin. Anak buah Hugo yang lain memberi Yara obor. Semakin masuk lorong yang mereka masuki semakin mengecil. Hingga mereka harus merangkak.
"Apa ada jalan di depan?" Tanya Greya pada Yara.
"Ada, kau harus bersabar Nona!" Ucap Yara.
__ADS_1
Yara tidak putus asa saat melihat api di obornya bergerak. Ada hembusan angin di depan mereka.
Dan mereka mendapati cahaya yang masuk dari ujung lorong yang semakin sempit ini. Dan yang mengejutkan mereka masuk dalam sebuah ruangan luas, putih, terang dengan banyak tumbuhan di dalam kapsul-kapsul kaca besar.
"Ah kalian berhasil menemukan aku, rupanya" seseorang dengan pakaian putih dengan goggles di kepala yang hampir botak. Ia sedang menyirami tumbuhan yang ada di kapsul-kapsulnya.
"Bastian" ucap Hugo.
Lelaki tua itu mendongakkan kepalanya. "Hugo, ternyata kau yang menghancurkan tempatku!"
"Ada apa kau hingga mencariku begitu sopannya" sarkas lelaki yang Hugo panggil Bastian.
Hugo membersihkan pakaiannya, lalu maju, ia tersenyum. "Kau harus bergabung dengan ku" ucap Hugo.
"Kau lupa perjanjian denganku setahun yang lalu, aku datang ke tempatmu" ucap Hugo dengan senyuman miring.
"Kau tak mengatakan jika aku tak boleh menghancurkan jebakkan yang kau siapkan bukan?" Lanjut Hugo.
"Tapi sayang sekali, Hugo kau keduluan dengannya" ucap Bastian bersamaan terdengar langkah kaki, Mereka teralih pada sosok yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Tuan Hugo, senang melihat anda bisa melewati jebakan si tua itu" Sosok yang Yara kenali.
"Tengkorak Hitam?" Sahut Greya tak percaya apa yang ia lihat.
"Alejandro" Guman Yara lirih. Namun bukan itu yang membuat Yara terkejut. Ale tak menggunakan topeng tengkoraknya. Ia memperlihatkan wajahnya.
Tbc.
__ADS_1