Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 42. Korban ke-3


__ADS_3

Seorang lelaki berlari ditengah hutan gelap. Nafasnya memburu juga tersenggal. Ia berhenti di sebuah pohon besar untuk sekedar mengambil nafas.


Wajahnya sudah babak belur, matanya menyipit satu bengkak, juga darah yang mengering dipelipis kanannya, hidungnya  patah dan berdarah, dengan bibir robek.


Kepalan tangannya yang retak. Juga buku-buku jari membiru dan berdarah. Ia telah kehilangan banyak energinya. Sosok yang ia lawan, bukan makhluk biasa.


Ia mendengar langkah kaki mendekat, ia mengintip sosok bayang hitam berjalan ke arahnya, tanpa pikir panjang ia keluar dan menabrakkan tubuhnya pada sosok itu.


Sosok itu tersungkur menabrak batang pohon. Lelaki itu mengambil kesempatan untuk melarikan diri.


"Hhh hah hhh" terengah. Ia berusaha membuat kakinya terus berlari. Sesekali ia melihat kebelakang, melihat ke arah sosok itu.


Sosok itu masih disana, berdiri perlahan. Ia kembali mengejar dirinya. Yang pasti ia harus bersembunyi.


Mata lelaki itu mencoba awas, ia tahu tempat ini, ia berada di dekat perbatasan selatan Cahaya Ilusi. Ia mengeluarkan senjata terakhirnya.


Menembakkannya diudara, ledakan dengan sinar menerangi hutan itu untuk sesaat layaknya kembang api.


Semoga saja pertolongan cepat datang pikirnya. Saat benda keras mengenai kepalanya. Ia tersungkur.


Memegangi kepalanya yang bocor. Ringisan keluar dari mulutnya. Ia melihat sepatu melangkah mendekatinya tepat didepan matanya. Perlahan ia mendongakkan kepala. Ia bisa melihat senyuman mengerikan dari balik tudung.


DRUAK!


Sosok itu menendang keras, kepalanya terbanting ke samping dan menghantam tanah.


Sosok hitam itu mendekat dan mencengkram lehernya, hingga kakinya terangkat, tak lagi menapak tanah.


"Hegh! Am … hhh … phun, hegh!"


Cekikan membuat lelaki itu susah bernafas. Ia meronta, bukannya lepas, sosok itu mencengkram erat leher lelaki itu.


Lelaki itu memukul lengan si sosok yang mencengkiknya. Ia tak bisa bernafas. Matanya melebar, urat pelipisnya menyembul dengan wajah yang membiru.


"Kemana perginya keberanianmu tadi pagi saat menantang kami?" Ucap sosok Filden. Ia membuka tudung kepala memperlihatkan dirinya. Mata lelaki itu melebar dan memerah. 


"Aku berbaik hati, aku akan membantumu, kau harus berterima kasih"


JLEB!


Tangan dengan kukunya yang panjang, kembali menembus punggung seseorang. Ia menarik tangan yang mengenggam jantung itu lalu membakarnya lebih dulu.


Derapan langkah kaki menghentikan aksi brutalnya, ia merasakan ada beberapa orang mendekati tempatnya.


"Ada orang disana? Hei, jika kalian mendengar coba buat suara?" Ucap lelaki penjaga perbatasan dengan penerang.


Filden berdecak, ia menutup kepalanya dengan tudung, dan melompat ke pepohonan rimbun, meninggalkan mayat yang belum sempat ia bakar.

__ADS_1


"Hei kalia— Disini! DISINI!" Petugas itu melihat sosok tertelungkup di tanah.


"Apa kau baik—" ia menggoyang tubuh itu, lalu ia terdiam saat melihat dada lelaki yang tertelungkup itu bolong.


BRAK!


"AAARGH!"


Penerang yang ia bawa terjatuh dan padam. Ia mundur dan terjerembab ke belakang, kakinya tersandung akar pohon.


"Ada apa?"


Beberapa orang datang berlarian mendekati pria dengan wajah pias terkejut.


"It,itu … "


ia hanya menunjuk ke mayat yang ia temukan. Beberapa temannya mendekati apa yang ia tunjuk.


"Apa ka—" Satu penjaga tak teliti menanyai mayat, temannya menepuk bahunya lalu menggeleng.


"Sudah tewas" matanya melebar saat temannya memperlihatkan punggung bolong. 


Satu petugas berjongkok, dan menyentuh leher mayat itu. "Baru, masih hangat, kita terlambat menyelamatkannya"


***


Jantungnya hilang, tapi ini berbeda, tubuhnya tidak dibakar.


"Dia adalah Gior, penjaga perbatasan Timur" Gerald, ketua penjaga perbatasan selatan. Berdiri disamping Dylan yang sedang memeriksa mayat Gior.


"Tim melihat tembakan pertolongan dilangit, lalu masuk hutan dan menemukannya" jelas Gerald.


"Apa ini ada hubungannya dengan penyusup yang membobol perbatasan Utara?" Tangan Gerald bersedekap.


"Masihku selidiki, cuma, cara menghabisi lawannya, sama" Dylan memberitahukan nya.


"Kau dengar rumornya? Korban sebelumnya dibunuh karena membicarakan penyusup itu"


"Dan aku dengar dari bawahanku, siang tadi Gior pun melakukan hal yang sama, bahkan ia menantang si penyusup" jelas Gerald.


Dylan sudah mendengarkan kabar itu dari Regulas saat perjalanan.


Penyusup suka sekali menghabisi dengan cara, langsung mengambil jantung lawannya. Dan hanya satu klan yang suka melakukan hal itu. Klan Hyena.


Banyak Klan Hyena yang tinggal di Cahaya Ilusi.


"Antar aku, dimana anak buahmu menemukannya" Dylan mengambil peralatannya mengikuti petugas yang ditunjuk Gerald.

__ADS_1


"Disini" petugas itu menunjukkan tempatnya. Dylan mengamati sekitar. Tangannya menggambar sigil dan menerbangkan ke atas.


Cahaya terang menerangi hutan itu. Dylan melihat ada abu, ia berjongkok meraih goggles, dan menuang bubuk putih di atas abu, melihat dari goggles nya.


Jantung!


Di kepalanya berputar banyak prasangka, si pembunuh tak sempat membakar tubuhnya karena kedatangan petugas perbatasan. Ia membakar jantungnya terlebih dahulu.


***


Dylan duduk di balkon kamarnya, Agrabella mengamati suaminya dan mendekat. "Aku dengar penyusup itu klan Hyena?" Ia menjentikan jari dan dua gelas teh berada ditangan Agrabella. Ia duduk disebelah sang suami.


"Minumlah, untuk menenangkan pikiran" ia menyerahkan satu untuk sang suami, satu untuk dirinya.


"Hari yang berat?" Tanya Dylan pada sang istri. "Tak begitu, hanya ramuan untuk Ruve menghabiskan energiku" Agrabella meyesap tehnya.


"Seminggu berturut, sudah tiga mayat ditemukan tanpa jantung, apa kau pikir pembunuhnya orang yang sama?" Keluar juga pertanyaan yang selalu berputar dalam kepalanya.


"Mungkin saja, karena motifnya sama jugakan? Membicarakan si penyusup." Agrabella bisa merasa kerisauan Dylan.


"Untuk korban kedua dan ketiga, sama, korban pertama aku masih tak tahu"


"Mungkin kau harus selidiki ini sembunyi-sembunyi, penyusup itu mungkin memiliki masalah pada emosi diri, dia terlalu sensitif"


"Coba selidiki lebih dalam bar tempat mereka membicarakan si penyusup" Dylan merasa tercerahkan. Senyumnya mengembang. "Makasih honey" ia mengecup sang istri.


***


Elves menunggu Ruve, tangannya memegang tangan Ruve yang sedingin es. Elves menyalurkan energinya untuk Ruve agar tetap hangat. Agrabella telah meminumkan ramuan campuran kristal abadi siang tadi pada Ruve.


Keringat Ruve sebesar jagung, Elves menyeka dahinya. Mata Ruve terbuka. Ia terduduk, menengok ke Elves.


"Ruve kau sadar?" Pekik girang Elves. Ruve hanya tersenyum, Ruve menangkup wajah Elves.


"Aku akan panggil Agrabella juga Gen" ia melepas tangan Ruve yang terasa sedingin es itu, tapi Ruve tidak mau melepaskannya.


"Kesini" ucap Ruve. Ia menepuk ranjangnya. Tak mengerti apa yang Ruve inginkan.


"Duduk sini" Ruve menepuk lagi samping ranjangnya. Mata nya berkaca. Mau tak mau Elves menurutinya.


Elves duduk di sebelahnya. Di pinggir ranjang. "Sini" Ruve menggeser tubuhnya agar Elves bisa duduk ditengah.


Elves menaiki ranjang dan duduk ditempat yang Ruve minta. Ruve tersenyum lebar. Ia merangkul lengan Elves. Dan menyandarkan kepalanya ke bahu Elves.


Rasanya sangat dingin. Elves merasa tubuhnya dipeluk oleh bongkahan es.


Wanita itu berdiri di ranjang, "Ruve?" Mata membola, tampak jelas  keterkejutan Elves. 

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2