Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 109. Kisah Yara Alejandro 16


__ADS_3

Yara disambung dengan jamuan makan yang sangat lezat. Otis senang sekali mengobrol dengannya. Yara berada di kediaman Otis.


"Aku dengar Razor memiliki saingan tuan Ulat, apa anda pernah mendengar ini Tuan Hugo?" Beldino, prajurit juga tangan kanan Otis.


"Namanya Ulalat. Katanya kekuatannya bisa melebihi keahlian Tuan Ulat" lanjut Beldino.


"Tidak ada yang memgalahi Tuan Ulat!" Otis menaikkan nada suaranya. Ia tak suka dengan Beldino yang mengungkit tentang Ulalat yang Razor bikin.


Ia sebenarnya tak suka dengan kelompok Tanduk Hitam, Otis masih menerima anggota Tanduk Hitam masuk ke wilayahnya karena adanya Hugo disana.


Juga bertambah adanya Tuan Ulat. Ia sangat mengagumi Ulat yang berhasil menjadi idola di Arena Urban Latan.


Otis sangat sebal dengan Tanduk Hitam yang merasa memiliki Arena itu. Mereka menaikkan harga tiket, juga menguasai tempat pertarungan itu.


Sejak Ulat masuk dan mengalahkan para petarung si Scrotus. Si rakus buncit itu. Arena seakan kembali ramai oleh petarung dari luar.


Semua berkat Ulat. "Aku telah mendengarnya, tapi aku percaya kekuatan buatan tidak akan pernah melampaui kekuatan asli bukan?" Ucap Hugo. Ia melanjutkan kunyahnya. Otis mengangguk membenarkan perkataan Hugo.


"Dan keperluan apa yang membawa kalian ingin menemuiku?" Mendengarbperkataan Otis yang terdengar serius. Hugo meletakkan alat makannya, ia membersihkan mulutnya.


Dan menatap lurus pada Otis. "Aku ingin kau bergabung denganku" tanpa basa-basi Hugo mengutarakan tujuannya.


Otis kembali menggerakkan tangannya pada piringnya. Ia sempat berhenti. Namun kembali.


"Dengan kau membawa Tuan Ulat? Kau sungguh cerdik tapi apa kau pikir aku akan mau bergabung dengan kelompok yang tidak aku suka?"


Otis memasukkan potongan daging ke mulutnya. Ia mengunyah dengan tatapan yang lurus pada Hugo.


"Otis kau tahu aku kan? Aku tak memaksa dirimu karena belum waktunya. Saat ini jika kau bergabung, kau bisa melakukan apa yang sedari dulu kau inginkan" ucap Hugo melihat Otis yang menatapnya.


"Kau tahu apa yang aku inginkan Hugo?" Yara sedari tadi hanya makan, ian mendengarkan percakapan yang tidak ditutupi itu.


"Kau ingin menghancurkan Tanduk Hitam tanpa sisa, aku tahu sedari dulu, karena aku pun menginginkan hal yang sama?" Ucap Hugo. Melihat Otis yang meletakkan alat makannya. Ketegangan terlihat diantara mereka.


Senyuman miring Hugo mengembang. Yara menatapi keduanya juga si tangan kanan yang sedari tadi hanya sibuk menyesap tehnya. Yata berdiri dari tempatnya. Ia mengulurkan tangan pada kalkun panggang besar di tengah meja.


Krak!


Tatapan ketiga orang yang serius itu mengalih ke arahnya. Yara mengacungkan sepotong paha kalkun yang sebesar lengan kekar seorang petarung itu.

__ADS_1


"Aku sangat lapar" ucapnya ia kembali duduk dan melahap paha itu dengan rakus.


Hugo menepuk kepala Yara. "Makan yang banyak"


"Tuan Ulat jamuan ini memang dipersembahkan Tuan Otis untuk anda," Yata mengangguk dengan mulut penuh daging kalkun.


"Benar habiskan semua, jika kurang aku akan memanggil pelayan untuk membuatkannya untukmu Tuan Ulat." Otis terbahak. Suasana kembali hangat.


Makan malam selesai Yara berada di kamarnya untuk beristirahat. Hari ini iya hanya makan, makan dan makan. Melupakan kelakuan Ale padanya sebelumnya.


Yara telah melepas semua atributnya. Dengan baju tidur putih, ia membanting tubuhnya pada ranjang empuk. Ia akan tertidur nyenyak malam ini.


Esok hari ia akan berkeliling kota Combo. Otis meminta waktu untuk berpikir. Jadi ia dan Hugo akan tinggal selama tiga hari di kota Combo ini.


***


Paginya pintu kamarnya diketuk kencang. Yara merasa terganggu ia memasukkan kepalanya pada bawah bantal.


"Tuan Ulat!"


"Tuan Ulat!"


Teriakkan dari luar pintu membuat Yara berdecak. Ia masih mengantuk. Tapi Yara langsung bangun dan bergegas kekamar mandi.


Ia membiarkan pintunya terus diketuk. Melangkah ke jendela matahari pun belum muncul.


"Tuan Ulat!"


"Tuan Ulat!"


Yara melirik pintu dengan kesal. Ia mengenakan semua atributnya. 


"Ya tunggu sebentar" Yara melangkah ke arah pintu.


"Ada apa Tuan Otis?"


"Maaf mengganggu istirahat anda Tuan Ulat. Saya hanya ingin memberi ini pada anda" ucap Otis. Ia meraih tangan Yara dan memberinya kantong coklat.


"Apa ini tuan?" Yara tahu kantong coklat itu berisi uang koin.

__ADS_1


"Hadiah, saat kau bertanding aku selalu menjadikan dirimu, oh aku ikut bertaruh, dan selalu menang, dan yang berada dalam tanganmu hanya simbolis saja, nanti aku akan beri sisanya saat kau kembali ke Kerajaan Elf, sudah hanya itu, kembalilah beristirahat. Aku permisi."


Yara bingung, ia menatap punggung Otis yang menjauh. Mengapa harus sepagi ini? Kenapa tidak nanti saja. Yara kembali masuk ke dalam kamarnya.


Ia mendudukan tubuhnya dengan kantong coklat dipangkuannya. Ia membukanya. Ternyata koin emas.


Yara sudah tak mengantuk. Ia keluar dari kediaman Otis. Ia menuju kandang kudanya. Waktu diseret ke kediaman Otis yang berada ditengah kota Combo.


Yara akan berkeliling hutan untuk menjelajah dan akan menunggu pasar di sekitar kota Combo buka.


Yara memacu kudanya kedalam hutan. Ia mendengar air mengalir, air terjun sepertinya indah.


Pemandangan air terjun besar, terlihat memukau. Sebelum mendekat Yara menarik kekangan kudanya. Ia merasakan  adanya barier kuat.


Barier yang kuat dan berbahaya. Yara turun dari kudanya. Ia mengikat kudanya kesalah satu pohon dan ia mendekati barier itu perlahan. Barier berbentuk air.


Yara pernah mempelajarinya tentang barier air ini, ia mendekat lagi. Ia menggunakan barier pelindung diri. Mengeluarkan alat dari kantong mantel. Dan menyodorkan tepat ke tempat barier itu.


Alat berbentuk senjata api berukuran kecil. Dengan layar hologram kotak muncul memberi tahu jenis apa barier yang berada di depannya saat ini.


Suara berpip terdengar dari alat pendeteksi barier milik Yara. "Lesmana barier" ucapnya.


Barier air yang akan menghipnotis dan membuat yang melewati tanpa sadar akan dibuat hilang ingatan. Barier setingkat dengan barier yang ia buat untuk Cahaya ilusi.


Sesuatu dilindungi dibalik barier ini. Yara tak bisa hanya menembusnya begitu saja, ia kembali pada kudanya dan mengambil sesuatu pada tasnya.


Lesmana barier ini sangat langkah. Dan cara membobolnya pun berbeda-beda. Tergantung si pada si pembuatnya. Tapi bisa juga dikulik sendiri. Membutuhkan waktu agak lama.


Yara tak akan bodoh dengan masuk begitu saja. Ia tak tahu siapa pembuatnya. Tapi dia akan cari tahu. Yara menaiki kudanya. Ia akan kembali. Sebelum kembali lagi.


Di tempat lain Otis merasakan seseorang menginjak tempat terlarangnya. Ia mengibaskan tangan dan portal dimensi terbuka di depannya.


Ia masuk kedalamnya. Dan Otis muncul didalam sebuah pondok kayu. Ia mengintip di luar jendela terlihat seseorang berada di luar barier yang terlihat seperti air mengelilingi tempatnya ini.


Wajahnya mengeras. Ada yang ingin membobol bariernya. Ia menunggu. Namun sepertinya sosok itu sangat waspada. Tidak seperti lainnya yang tak menyadari mereka masuk dalam barier dan berbalik dengan hilang ingatan.


Suara derapan kuda menjauh. Otis melihat pembobol itu tak jadi masuk ke tempatnya. Baguslah pikirnya. Ditempatnya ada tamu, Hugo dan Ulat. Ia tak ingin adanya rumor tentang hutan Combo menelan korban lagi.


Warga sekitar menyebut hutan Combo sebagai hutan kematian. Cold Minded. Setiap yang masuk kedalam akan keluar dengan tidak sadarkan diri dan akan lupa dengan segalanya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2