Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 119. Kisah Yara Alejandro 26


__ADS_3

Juan terdiam dalam kamar mereka. Ia pernah bertemu Yara dalam wujud Gilda. Juan tak menyangka jika itu adalah sosok Yara.


Karena mereka sungguh berbeda. Golda lebih wanita penggoda yang genit juga ramah. Sedangkan Yara kebalikannya. Ia tangguh dan susah untuk didekati.


Dan Juan merasa sejak Yara bergabung dengan Hugo Yara semakin dingin. Dan melihat bagaimana Yara menempel pada Ale sangat mustahil.


Mengapa Yara begitu rumit dimengerti. Terlalu banyak hal misterius yang wanita itu sembunyikan.


Juan menyimpulkan semua keluhan Yara padanya. Ia selalu berada di kamar Ale dan tak ingat bagaimana sampai ke tempat lelaki itu.


Pasti sama seperti saat ini. Yara yang lebih memilih keluar kelamar Ale. Bahkan lelaki itu menjemputnya.


Apa hubungan Yara dan Ale membaik? Ia harus cari tahu. Selain untuk membantu Yara tapi sisi ingin tahu dirinya juga besar.


Juan membuka pintu. Melihat Ale yang berada di luar kamarnya. Duduk membaca buku. Juan duduk disebelah lelaki itu.


"Dimana Yara?"


"Tidur di dalam kamar"


"Bagaimana dengan Gilda?"


Ale menghentikan acara membacanya. Ia menutup bukunya dan manatap Juan.


"Kau tahu juga?"


"Tidak begitu, aku hanya pernah bertemu, sekali di salah satu bar"


Decakan tak suka keluar dari bibir Ale.


"Kapan?"


"Emm … sudah lama, aku melihat gadis itu menari dengan semangat dan menjadi idola saat itu juga"


Juan mengingat saat Gilda bagaikan kesetanan yang tak pernah keluar rumah. Dan mencoba banyak minuman hingga teler dan menyusahkan Juan.


Wanita itu meracau aneh. Dan saat Juan meninggalkan Gilda sejenak untuk mencari bantuan. Gilda menghilang. Dari situ Juan tak pernah bertemu dengan Gilda.


"Yara sendiri belum mengetahui jika ia memiliki Gilda dalam tubuhnya."


"Ia selalu saja terkejut dengan apa yang ia lakukan dikamarku, karena ia tak ingat apa yang Gilda lakukan saat mengambil alih tubuhnya." Ucap Ale panjang lebar.


"Ia bukannya tak ingat tapi menganggap semua itu hanya mimpi" Juan mengutarakan pendapatnya. Dari apa yang Yara ceritakan.


BRAK!


Suara gebrakan terdengar dari kamar Ale. Lelaki itu beranjak perlahan. Juan terkejut. Ia berlari ke depan pintu kamar Ale.


Melihat Ale yang terlalu lambat. Ia pun membuka pintu Ale. Pintu terbuka yang Juan dapati Yara yang tergeletak di lantai.


"Yara!"


Juan menyongsong tubuh Yara.


"Yara kau kenapa?"


Juan menggoyangkan tubuh Yara.


Ale melihat sekilas. Lalu berjongkok.


"Kebiasaan!" Ucapnya.


Ale menggendong Yara dan membaringkan di ranjangnya. Juan berlari kearah pintu, ia kira Ale akan mengantarkan Yara ke kamarnya.


"Ia akan lupa semua yang ia lakukan" ucap Ale. Juan mulai mengerti. Ia mengangguk.

__ADS_1


"Kau tidur dimana?"


"Ranjang"


Juan hanya melihat satu ranjang yang digunakan Yara. Tak ada ranjang lain.


"Tidak! Lebih baik kau antarkan Yara ke kamar kami"


Kernyitan terlihat di antara alis Ale.


"Merepotkan! Kami sudah sering tidur satu ranjang"


"Ta-tapi, tapi … "


"Sebaiknya kau juga beristirahat. Kau pasti juga lelah" Usir halus Ale. Mau tak mau Juan keluar kamar Ale. Ia kembali ke kamarnya dengan Yara.


***


"Hegh … ehgh … "


"Menjauh!" Ucap Yara dalam tidurnya. Tubuhnya gemetar hebat.


Ale merasa gerakan di sebelahnya. Ia menyipitkan matanya. Melirik Yara tidur dengan cemas.


"Yara bangun!" Ale menepuk wajah wanita itu penuh peluh sebesar biji jangung. Keningnya berkerut.  Rancuannya penuh ketakutan.


Mata Yara terbuka cepat. Tangannya meraih tangan Ale. Bola mata merah. 


"Ale … Ale tolong aku!" Rintih kesakitan.


"Gilda?" 


"Tolong aku! Tolong aku!" Nada suara gemetar juga meninggi.


Yara mengangguk.


Ale memegang lengan wanita itu. Ini baru pertama kalinya melihat Gilda yang biasa menggoda menjadi ketakutan.


ZLENK!


Ale tertarik masuk dalam kegelapan yang menyesakkan. Luas tak terlihat apapun, Ia berada dimana? Kenapa begitu sesak? Ia mengamati sekelilingnya.


Rintihan membuatnya mencari sumber suara. Ia melihat satu cahaya. Membuatnya mengayunkan langkah untuk.mendekati cahaya itu.


"Yara?"


"Uhgh uuu … "


"YARA!" Pekik Ale


Melihat tubuh Yara tergantung dengan lilitan hitam bersisik  mengelilingi tubuh wanita itu. Mata wanita itu kosong dengan air mata yang mengalir deras.


Ale meraba pinggangnya menemukan belati yang selalu ia bawa. Ia sabet lilitan hitam yang semakin mencekik Yara.


Blash!


Lilitan hitam itu jatuh tercincang dilantai. Ular tanpa kepala. Tubuh Yara luruh, ia berlari mendekat. Ale menangkup wajah Yara. Benar ini Yara. Matanya kecoklatan bukan merah.


Zrink!


Yara menepis tangan Ale. Matanya berkilat merah. Bola matanya memerah. Wajahnya mengeras. Dan dengan agresif menyerang Ale.


Ale terguling. Yara yang dikuasai Gilda. Berdiri di hadapan Ale yang terbaring di lantai. Gilda menatapnya dingin.


Ia meraba pinggang dan mengeluadkan sebuah pedang besar, yang mengkilat tajam dengan tangkai berulir dengan berhias ukiran.

__ADS_1


Ia mengacungkan pedangnya pada Ale. Tatapan mata Yara kosong.


"Berani sekali kau denganku! GILDA SANG ELF HITAM!" Hardiknya. Sosok Gilda marah.


"Kau lelaki Baji ngan!"


Gilda menyabetkan pedangnya. Dengan cekatan Ale menghindar dari pedang Gilda yang sedikit lagi mengenainya.


"Berani menipuku!!" Jeritnya menyabet asal tertuju pada Ale.


Ale menangkap tangan Yara. Dari belakang, Yara menyikut perut Ale. Lelaki itu mundur. Dan kembali ayunan pedang mengarah padanya.


Nafas Ale memburu. Ia tak mengerti mengapa si Elf hitam ini memburunya.


Trank!


Suara ngilu antara besi dengan besi terdengar. Ale menggunakan belatinya untuk menangkis serangan Yara.


Melihat cela. Ale dengan kekuatannya, membuat pedang Yara terpental. 


Kesempatan Ale kembali merangkul tubuh Yara, menariknya, dan tangannya menutup mata Yara.


"Yara! Kau dengar aku! Kembalilah!"


Tubuh Yara meronta kencang, ia berteriak.


"TIDAK!"


"Yara kembalilah Yara, aku menunggumu" Ale berbisik pada telinga Yara.


"TIDAK! TIDAK!"


"JANGAN!"


"ALE, JANGAN MENGUSIRKU!"


Gilda merasakan Yara yang berada di tubuhnya mendengarkan perkataan Ale. Yara menginginkan tubuhnya dikembalikan.


"ALE AKU MOHON"


"AKU MASIH INGIN DISINI!"


Rontaan Gilda jadi menggila. Ia mengeratkan cengkramannya pada lengan Ale yang menutup matanya.


"YARA KEMBALI!"


Tubuh Yara perlahan melemas. Dan akan meluruh namun Ale mendekap erat tubuh itu agar tidak jatuh.


Ia membuka tangan yang menutupi mata Yara. Wanita itu terpejam. Seakan kembali tertidur. Nafasnya mulai tenang. Begitu pula dengan degupan jantungnya.


Kesadaran Yara kembali. Matanya bergerak terbuka perlahan. Ia menatap Ale.


"Ale?"


Ale menghela nafasnya lega. Ia menyandarkan kepalanya pada pundak Yara. Mendapatkan perlakuan begitu. Yara semaki dibuat tak mengerti.


Mereka berada dimana? Ruangan seperti aula besar yang temaram.


Zlenk!


Sebuah pintu keluar di hadapan mereka. 


"Masuklah ke dalam. Itu jalan keluar kalian" sebuah suara mengejutkan keduannya.


"Cepat!"

__ADS_1


Yara dan Ale berjalan menuju pintu dan mereka masuk kedalamnya. 


Tbc.


__ADS_2