
Gelas yang Yara genggam meluncur begitu saja. Ia pun ikut luruh dilantai. Tak lama Yara membuka matanya.
Warna bola matanya memerah. Ia menyungging senyuman nakalnya.
"Hei kamu jangan menyusahkan. Sangat tidak bersyukur. Untuk kau mempunyaiku. Jangan panggil aku Gilda kalau aku tidak bisa membuat dirimu memukau banyak lelaki. Walau Ale tetap dihati, Aw!" Pekikan saat kakinya menginjak pecahan gelas.
"Ah siaal!" Umpatnya keluar dari kamar. Berbarengan dengan Ale yang juga keluar kamarnya.
"Ale sayang" tanpa mengindahkan luka di kakinya. Ia berlari ke arah Ale. Ale tak menanggapi Yara yang berubah menjadi Gilda. Ia sudah menduganya, karena Yara asli tak akan segenti itu.
"Aw … sssss … " desis sakit membuat perhatian Ale menuju padanya.
"Kau apakan kakinya?" Ale dengan cepat melihat keadaan kaki Yara. Ia melihat pecahan gelas yang menancap pada kaki wanita itu.
"Aw sakit" manja Gilda.
"Ck!" Decak Ale kesal. Ia membopong tubuh Yara dan masuk kembali ke kamar wanita itu. Ale melihat ada noda darah di dekat pecahan gelas.
Ia mendudukkan Yara di ranjangnya. Lalu melangkah ke arah kotak obat. Ia mengambil dan membawanya ke tempat Ia mendudukan Yara.
Ale duduk di dekat kaki Yara.
"Sini" Gilda tentu cepat menjulurkan kakinya. Senyuman malu-malu ia lemparkan pada Ale.
__ADS_1
Ale membersihkan luka Yara. Pekik kesakitan Yara bertambah kencang karena dengan sengaja Ale menekan luka Yara.
"Sakit! Kau sengaja?" Wajah Yara cemberut. Gilda menatap perlahan pada Ale.
"Tidak" Ale acuh. Ia tetap membersihkan luka Yara. Ia membebat kaki Yara dengan kain. Lalu ia membersihkan pecahan kaca.
"Kau itu meminjam tubuh orang lain jadi harus hati-hati" ceramah Ale pada Gilda yang cemberut.
"Aku sudah berhati-hati. Ia tadi sempat pingsan dan tubuhnya aku ambil alih." Ucap Gilda.
"Ia sebelum aku ambil alih tubuhnya, wanita ini pun merasakan kesakitan pada kepalanya. Dan aku kembali mengambil alih tubuhnya."
"Apa ia sering merasakan sakit pada kepalanya?" Tanya Ale.
"Iya sering. Dan baru beberapa kali aku ambil alih tubuhnya" Gilda melangkah kembali mendekat pada Ale.
***
Razor mencari keberadaan Yara. Ulat itu jarang terlihat. Padahal ia telah memiliki ulalat. Ia duduk menatap pertandingan anak buahnya itu dengan tampang malas.
Seperti tidak menarik lagi semua kemenangan yang ia dapat. Target kemenangannya adalah Ulat atau Yara.
Namun belakangan ia tak melihat keberadaan Ulat. Razor hanya dibuat naik darah dengan para penyidik pasukan khusus yang memburu bandit-bandit Tanduk hitam.
__ADS_1
Bahkan hingga Pasukan khusus milik Phoenix Way. Mereka mulai mengendus keberadaannya. Jika dirinya mulai terendus. Ia akan menumbalkan anak buahnya agar tidak tertangkap.
Saat ini ia sedang bersembunyi di hutan lebat. Diantara gelapnya hutan. Ia akan meminta bantuan rekannya yang juga penyuka warna hitam Dantau. Sosok rambut keriting pirang. Tinggi dengan mata tajam. Juga kuku yang dicat hitam.
Sosok misterius yang selalu menyeringai dengan gigi tajamnya. Sosok penguasa mimpi. Ia anggota Tanduk hitam.
"Dantau bantu aku" bisiknya. Sosok itu muncul bagai angin. Kepulan asap hitam membentuk sebuah tubuh di hadapan Razor.
"Kau meminta bantuan apa?" Tanya Sosok yang mulai terlihat bentuknya itu.
"Kecoh mereka yang membuntuti ku"
Dantau menggerakkan tangannya dan asap kehitaman melingkupi tubuh Razor. Dan menyerap masuk dalam tubuh Razor.
"Sudah. Keluarlah orang yang mengejarmu tidak akan bisa melihat penampakan dirimu" ucapan Dantau.
"Terima kasih atas bantuanmu" ucap Razor kembali keluar dari persembunyiannya. Ia mencoba melewati beberapa pasukan Phoenix Way.
Pasukan dengan armor itu tak menanggapi Razor. Mata Razor melebar. Ia begitu takjub dengan kekuatan Dantau.
Bahkan Razor bisa menggunakan kekuatannya untuk membalas Pasukan Phoenix Way.
Razor mengeluarkan beberapa senjata dan menembak tiga orang pasukan hingga pasukan itu tewas.
__ADS_1
Tawa kencang terdengar. Ia sungguh senang. Dan dengan ini ia tak perlu cemas jika perang terjadi. Ia yakin Tanduk Hitam akan memenangkan perperangan dengan siapapun.
Tbc.