
"AAAARGH … "
"AAAAAaaaa … " teriakan ketiga orang yang terlempar masuk meluncur dalam arus jalur cepat. Para penghuni laut lain yang menggunakan jalur itu pun memberi mereka tempat. Dan tak lama mereka pun terpental lagi masuk dalam gulungan air.
Gulungan air besar membawa mereka ke tepi sungai, ketiganya menggelinding keluar dari gulungan air itu yang kemudian menghilang, Ruve terbatuk, Gen tergeletak dengan nafas tersegal, juga Elves yang tersungkur di bebatuan.
Mereka melihat kuda-kuda mereka telah menunggu mereka, "Cough … cough … " Ruve merangkak lebih ke pinggir dan mendudukan diri. "Itu bukannya kuda kita" susah payah Elves berdiri. Ia berjalan dengan terhuyung.
Gen mengikuti di belakang, dengan mengibaskan mantelnya yang basah dan berat.
"Kenny ia kura-kura tua yang tega" gerutu Gen. Ia mendekati kuda mereka. "Itu barier milik Cahaya Ilusi kan?" Elves menunjuk barier berwarna hijau neon yang menjulang tinggi.
"Kau benar! Kita sudah berada di Cahaya Ilusi" Ruve melebarkan mata bulatnya. "Ruve" panggilan Elves membuat wanita bangsa ular derik itu menengok padanya.
Elves melempar tumpukan kain bersih, Ruve menangkap lemparan itu. "Cepat ganti!" Ruve mengangguk dan mencari tempat aman untuk mengganti pakaiannya.
Di tempat lain, Gerombolan dengan moncong berparuh menyerbu dan mengacak tempat Kenny, kura-kura tua itu dibuat tak berdaya dalam bentuk kura-kuranya.
Ia menyiapkan diri, ia harus melindungi desanya, dalam diam, tubuhnya mengumpulkan energi, membentuknya hingga sempurna, senjata terakhirnya
"Kemana mereka pergi?" Seseorang mengenakan topeng burung masuk, anak buahnya mengangguk hormat padanya dan salah satu dari mereka mendekat, "Cahaya Ilusi"
BLAM! DOOM! DOOM!
Kenny menghancurkan tempatnya bersama para penyerang. Banyak dari mereka terpental jauh karena ledakan juga tertimpa bangunan yang runtuh.
"Mundur!
"Mundur Semua!"
"Lindungi Tuan Rugert!"
"Mundur!" Penyerang itu menyelamatkan dirinya dan keluar dari tempat Kenny. Senjata terakhirnya berhasil.
"Tuan" Coral berlari mendekat. Ia melihat Kura-kura tua itu memuntahkan banyak darah. Dengan sihirnya ia mengangkat Kenny pada Kolam Sutra.
__ADS_1
Coral memasukan tubuh Kenny pada Kolam Sutra dan memusatkan kekuatan pada tangannya, mengarahkan pada kolam. Berkali-kali, untuk menyembuhkan Kenny.
***
Ruve, Gen dan Elves kembali memasuki Cahaya Ilusi. Tanpa adanya hambatan, mereka segera mencari rumah berbentuk teapot dengan hiasan labu, tempat dimana mereka akan mengurus perizinan untuk memasuki Phoenix Way.
Ting!
"Selamat datang di Cahaya Ilusi" Agrabella menyambut tamunya. Ia menggerakan tangannya diatas sebuah nampan. Dan muncullah tiga cangkir berisi air teh.
Teh yang dapat melihat niat mereka untuk masuk ke Phoenix Way. Mereka menerapkan aturan ketat, karena tidak ingin kecolongan seperti saat penobatan Ratu pelindung mereka, Ratu Bharat. Meminimalisir adanya penyusup.
"Silahkan diminum, lalu tunggu disana 15 menit" Agrabella menunjuk sebuah perpustakaan yang berada berseberangan dengan meja resepsionis tempatnya menerima tamunya.
"Namun sebelumnya, lepaskan mantel dan tudung kalian." Agrabella menatap lurus ketiga orang yang mengangguk itu.
Satu persatu mereka membuka mantelnya. "Ular hutan, Ular derik dan Elf, wah sangat jarang melihat Elf disini, bukannya kalian memiliki portal sendiri untuk ke Phoenix Way"
"Iya kami dari Lembah Abadi," Elves menjawab, "Ah pantas saja, Aku dulu memiliki sahabat yang menjadi guru hebat tentang ramuan disana, dan kami sering berbagi ramuan baru, Gilberto, tapi ia telah tiada. Sayang sekali padahal ia sedang mengembangkan ramuan yang akan banyak dicari"
"Iya kami teman lama, kau? Salah satu muridnya?" Elves mengangguk.
"Mengembangkan ramuan?" Agrabella melihat keingintahuan Elves terlihat di matanya.
"Aku memiliki waktu untuk membahas keingintahuanmu, tapi beri aku beberapa menit, kau bisa menunggu didalam" Agrabella menyarankan mereka masuk ke dalam perpustakaan.
Agrabella merapikan mejanya, membereskan eksperimen barunya, dan masuk kedalam. Ia memanggil suaminya, Dylan, untuk menggantikan dirinya menunggu tamu datang.
Ia membuka sebuah pintu, ia masuk ke dalam banyak lemari kayu dengan plitur hitam dengan pintu kaca disana. Ia menghampiri satu lemari yang terlihat tua. Membukanya dan mengambil sebuah buku dengan sampul tebal.
Ia mendekap buku dengan ukuran besar itu dan meletakkan pada atas meja. Buku bersampul hitam berdebu. Agrabella mengelap debu-debu yang menempel.
Ia kembali mengambil keranjang di sudut ruangan. Dari lemari yang sama, ia mengambil botol-botol berwarna hitam.
"Apa dia yang kau maksud? Kau bilang akan bertemu denganku? Rasa penyesalan menemanimu hingga kau hilang, mungkin sebentar lagi akan terhenti" Agrabella berbicara pada angin.
__ADS_1
Ia mendekap buku itu, kemudian keluar ruangan menuju tempat Elves menunggu. "Maaf menunggu lama?" Agrabella meletakkan buku yang ia dekap juga dengan keranjang dengan botol-botol kecil didalamnya.
Ruve dan Elves hanya menatap Agrabella, menunggu cerita dari wanita itu. Mengenai guru Elves. Yang adalah ayah dari Emma.
Gen tak begitu suka membaca, melihat tumpukan buku saja ia sudah ngeri, lelaki itu memutuskan berkeliling perpustakaan.
"Saat Gilberto mampir kemari, ia pasti akan tinggal lebih lama, ia bercerita jika disini banyak sekali tanaman langkah yang ia suka." Agrabella bercerita dengan tangan menepuk-nepuk buku besar.
Buku yang sampulnya familiar bagi Elves. Sampul bukunya sama seperti milik Emma yang ada padanya.
"Semua penelitian dan ramuan, tercatat disini, sudah lama buku ini tersimpan disini, pesan terakhir dari Gilberto, memberikan buku ini pada anak atau muridnya" Tatapan wanita tua itu terpaku pada Elves.
"Aku membacanya, kisahmu ada di dalam sini, dan ia sangat menyesal tak bisa melanjutkan ramuannya padamu, dan semua tertulis disini, Kau Elves bukan? Pangeran Elf, murid kebanggaan Gilberto" ucapan Agrabella tak bisa lagi membendung air mata Elves. Agrabella mendorong buku tebal milik Gilberto pada Elves.
Elves menyayangi Gilberto, melebihi sayang Elves kepada orang tuanya. Ia menghormati dan memberikan Elves kasih sayang seorang ayah. Saat ia tahu Gilberto tewas, ia bergegas menemui lelaki yang sudah terbujur kaku di tanah dan di tutupi kain.
Ia hancur. Ia menyelinap dan melakukan beberapa pemeriksaan pada jasad gurunya, dan hal mencengangkan bahwa banyak luka dan mengarah kepada pembunuhan.
Ia tak terima pernyataan ahli kesehatan kerajaan yang menyatakan bahwa Gilberto bunuh diri. Itu semua omong kosong. Ia bersikeras jika Gilberto dibunuh.
Ia memberitahu raja, namun bukannya mendukung, raja malah menyuruh Elves agar tidak melibatkan diri dan menyakinkan dirinya bahwa Gilberto bunuh diri.
Keyakinan yang ia tolak hingga kini, saat itu ia hanya anak belasan tahun yang tidak memiliki kekuatan. Ia lemah dan hanya boleh mengikuti aturan. Dan Elves memilih menyendiri di tempat Gilberto.
Mendengar cerita Agrabella, membuat tubuhnya bergetar, semoga asumsinya tidak benar. Asumsi tentang keterlibatan kerajaan pada kematian Gilberto.
Ruve merasa tubuh disampingnya bergetar. Ia meraih tangan Elves dan menggenggamnya, memberikan kekuatan pada lelaki itu.
Susah payah Elves meneguk salivanya. Rasanya lidahnya kelu, tenggorokannya kering, sakit, ia ingin menyangkal pikirannya, namun hatinya berkhianat.
Ia merasakan hangat pada tangan yang Ruve remas. Wanita itu tersenyum hangat padanya. Memberikan kekuatan. Elves meraih buku Gilberto. Lalu mengeluarkan buku milik Emma.
"Hei pak tua? Apa kau bertemu dengan putri kesayanganmu disana? Disini ada dirimu dan putri kesayanganmu yang sekarang menjadi milikku" Elves menumpuk buku Emma dan Gilberto. Lalu pemuda itu menunduk menumpahkan tangisannya.
Agrabella bangkit dan memberi waktu pada Elves. Dan Ruve setia menemani dengan menepuk-nepuk pelan kepala Elves yang terdengar terisak pelan.
__ADS_1
Tbc.