Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 135. Kisah Yara Alejandro 42


__ADS_3

"Kau istirahatlah"


Opal melihat anggukan Yara. Dalam perjalanan menuju tempat istirahat ia berpapasan dengan petarung lain. Petarung yang meliriknya tajam. Tatapan mereka bertemu sekilas.


Rambut keemasan. Sangat khas. Pikir Yara. Ia berlalu begitu saja. Menuju ruang istirahat khusus miliknya.


Yara duduk menatap jendela besar yang menuju Arena Gerbang Kematian. Ia sandarkan dirinya pada punggung kursi empuk yang ia duduki.


Pertandingan selanjutnya segera dimulai. Dalam arena Yara melihat sosok yang berpapasan dengannya. Sosok berambut emas yang menatapnya tajam.


Lawannya bertubuh dua kali lebih besar darinya. Si rambut emas selalu menghindar dari serangan si lawannya.


Membuat lawannya geram. Yara mengamati pertarungan di bawah sana. Hingga ia merasa tatapan si pirang menuju dirinya.


Sangat mustahil mereka yang berada di arena menatap tempatnya saat ini. Apa lagi lurus pada matanya.


Yara cukup tertarik namun kantuk tak bisa Yara tahan. Ia pun mulai terlelap.


Ia masuk dalam dunia mimpi. Suasana berkabut keabuan. Yara berjalan tapi ia tak melihat apapun.


"Kau datang?"


Suara terdengar. Yara mencari keberadaannya.


"Aku adalah Zara. Aku wujud yang kau lupakan semasa kau kecil"


"Dimana kau? Kenapa tidak menampakkan diri?" Ucap Yara.


"Nanti, nanti kita bertemu jika ingatanmu tentangku pulih. Tapi sebelumnya jika kau mengingatku. Aku mohon kau bisa memaafkan aku"


Kening Yara mengkerut. Ia cukup penasaran. Apa yang suara ini lakukan padanya dulu.


"Memaafkan apa?"


"Kau akan tahu jika ingatanmu mengenaiku pulih."


Suara itu tidak serta merta menjawab apa yang membuat Yara penasaran.


"Lalu alasan apa yang membuatku melupakanmu"


"Kita satu saat itu, tapi hanya sekejap dan kita terpisah setelahnya. Lalu kau tak lagi mengingatku, saat itu aku sangat marah. Mengapa aku yang kau lupakan"


Suara itu bergetar dan mendesis. Ada kematahan yang disakan oleh Yara.


"Mengapa kau meninggalkan aku sendiri?"


"Mengapa kau tak ingin bermain denganku lagi?"

__ADS_1


Yara mulai merasa ketakutan yang amat sangat. Ketakutan yang terus muncul saat dulu ia menatap Dantau. Juga saat bertemu dengan bocah lelaki itu.


Saat ini rasa takut itu datang mendorongnya keras. Rasanya menakutkan.


"Mengapa hanya aku yang kau jauhi?"


"Tidak!"


"Mangapa?"


Yara berputar perlahan ia menggeleng, mulutnya bergumam.


"Tidak"


"Mengapa?"


"Ti-tidak!"


"MANGAPA YARA?!"


"Diamlah!"


Bentak Yara, ia menutup kupingnya agar ia tak lagi mendengar suara-suara yang meracau. Yara menggeleng keras, tubuhnya bergetar halus. Terlihat dari tangannya yang juga ikut bergetar.


"MENGAPA?"


"AAARGHAAA … "


"Yara?"


"Ale?" Ucapnya lemah.


"Yara?"


"Kembali Yara!"


Mata wanita itu mengerjap perlahan. Wajah lelaki itu yang memanggilnya. Tangan Yara mengulur ia menangkup pipi Ale.


"Ale"


"Kau kembali"


Yara mengangguk senyum mulai teetarik dari sudut bibir wanita itu, tangan Yara yang ada di pipi Ale, lelaki itu menggenggamnya.


"Kau ketiduran?"


"Iya hanya sebentar."

__ADS_1


"Kau mau kemana? Melanjutkan pertarungan atau kembali ke markas khusus"


"Aku kembali ke markas saja. Cukup untuk hari ini"


"Lagipula aku tak menemukan Razor"


Ale mengangguk dan mereka kembali bersama. Di Arena si pirang bersimbah banyak darah. Lawannya tergeletak menjadi cincangan.


"Kita akan segera bertemu"


Ia menatap tajam pada tempat Yara. Lama. Lalu berlalu begitu saja.


***


Dantau merasakan sentakan. Matanya menajam. Apa ini waktunya kebangkitan si putih.


Karena Dantau dapat merasakan eksistensi naga berkepala ratusan dengan bertubuh kalajengking.


"Ia kembali" gumam Dantau.


Dantau berlari keluar kamarnya ia mencari keberadaan Ale yang memiliki koneksi langsung dari racun si naga itu. Jika ia benar, maka lelaki itu dalam masalah.


Dantau berpapasan dengan Otis.


"Kau tahu keberadaan Ale?"


Otis menggerakkan bahunya.


"Kita harus menemukannya secepatnya! Kalau tidak, ia bisa mati."


Mendengar ucapan Dantau. Otis segera ikut mencari. Bertanya pada siapapun yang mereka lewati.


"Ada apa sebenarnya?"


Hugo masih tidak mengerti, lelaki itu melihat kepanikan Dantau juga Otis, ikut mencari keberadaan Ale.


"Dia kembali, aku merasakan keberadaannya, dan Ale adalah korbannya. Secara tidak langsung akan terkoneksi dengan sendirinya."


Otis dan Hugo tanpa penjelasan lebih lanjut pun mengerti. Nyawa Ale dalam bahaya.


Di tempat lain,


Ale merasakan nyeri yang amat sangat menyakitkan pada bekas luka di punggungnya. Padahal ia telah sembuh dari lama. Tubuhnya lemas, ia berjongkok tak lama ia tergeletak.


Apa racunnya masih tersisa di tubuhnya. Kembali nafasnya memberat. Ia tak dapat menghirup oksigen.


Wajahnya membiru. Ale tergeletak, tangannya masih berusaha meraih apapun. Ale mendengarkan derapan langkah kaki yang mendekat juga pekikan memanggil namanya.

__ADS_1


Tapi kesadarannya melemah dan gelap merenggut dirinya.


Tbc.


__ADS_2