Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 112. Kisah Yara Alejandro 19


__ADS_3

Yara menyibukkan dirinya di ruang latihan. Ternyata latihan baik untuk menghilangkan mimpi buruknya beberapa hari ini setelah ia bertemu dengan sosok misterius itu.


Ale juga berada di tempat yang sama mengawasi Yara. Ia tak mengatakan apapun pada Yara. Begitu pun Yara yang tak menyinggungnya.


Ale masih menunggu. Wanita itu memberi ia penjelasan. Nampaknya Yara tak juga datang padanya.


Yara membereskan perlengkapannya. Ale mendekati wanita itu.


"Semalam apa yang kau lakukan padaku?"


Yara hanya melirik lelaki itu. Dan segera pergi. Ia tak ingin berurusan dengan Ale. Setelah kejadian yang memalukan itu.


"Kau mau kabur, heh?!" Ia menangkap lengan Yara.


"Lepas!"


"Tidak. Sebelum kau jelaskan tentang yang semalam!"


"Apa maksudmu? Aku tak mengerti! Lepas!" Yara memutar lengannya tapi Ale tak.jua melepaskan.


"Semalam kau Elf hitam?" Yara dibuat mengernyit.


"Elf hitam? Apa yang kau katakan? Jangan hanya sepotong!" Ketusnya.


Bukan memberi penjelasan, lelaki itu menatap Yara lama. Tepat dimata wanita itu. Mencari kebohongan yang Yara simpan.


"Lepas aku ingin kembali kekamarku" ucap Yara. Namun cengkraman Ale terlepas. Yara tanpa kata melenggang pergi. Tatapan Ale pada punggung Yara sangat rumit.


***


Kembali kamarnya dibuka. "Aku datang tampan" dalam ranjangnya Ale pura-pura tertidur.


Saat dirasa ada yang ingin merengkuhnya. Dengan cepat Ale menangkapnya, melempar diranjang dan mengkungkung sosok itu.


"Hai miss me, huh!" Yara dengan mata merah. Tersenyum menggoda pada Ale.


"Yara apa yang kau lakukan? Menggodaku dan besoknya kau tak ingat"

__ADS_1


"Kau ingin mempermainkan aku huh!"


"Siapa Yara? Aku Ginda!" Tangan Yara mengulur. Ia mengelus pipi Ale tapi ditepisnya kasar.


"Yara, akting mu cukup niat juga? Dengan mengganti warna mata, huh!"


"Yara! Yara! Aku bukan Yara! Aku Ginda, Elf Hitam! Kalau kau mencari anak ini, ia sedang tidur dan tak akan terbangun" ucap Yara yang tentu membuat rahang Ale mengeras.


"Siapa kau? Cepat kembalikan tubuh wanita ini padaku!" Desis Ale, matanya nyalang menatap lurus pada Yara yang tersenyum dibawahnya.


"Ahahaha, tentu tidak bisa, aku meminjamnya dan baru akan mengembalikannya saat aku puas."


"Yara! Kau dengar aku! Kembalilah!" Bisik Ale dikuping Yara.


"Tidak! Aku Ginda!" Yara mulai berontak. Ale mendekap diri Yata. Dan terus membisikkan kata-kata yang sama.


"Yara, ini aku Ale, Kembali Yara!"


"Diam kau! Tidak bisa! Jangan!" Rontaan Yara menggila.


"Jangan sekara—" Tubuh Yara tak lagi berontak, wanita itu terlelap. Ale menunggu. Pergerakan pada mata Yara.


Matanya terbuka perlahan. Menatap langit-langit dengan sayu. Rasanya lemas. Tenaganya terkuras.


"Kau bangun" suara yang bisa kenali juga dekat itu membuatnya membatu. Perlahan wajahnya menengok ke sumber suara.


Wajah Ale begitu dekat. Ia terbangun, gerakannya yang cepat juga tubuhnya yang lunglai membuatnya terjatuh dari ranjang.


"Aw"


"Jangan dulu bergerak" ucap Ale yang membantunya untuk duduk dipinggir ranjang. Yara menurut tubuhnya benar-benar tak bisa menopang berat tubuhnya.


Laksana tak bertulang, ia menyender pada papan ranjang.


"Sebentar aku ambilkan air hangat"


Tangan Yara ingin menggapai dan berkata tidak usah, namun ia tak sanggup. Sebenarnya ia kenapa? Ia menatap Ale yang kembali dengan gelas di tangannya.

__ADS_1


"Minum dulu" Yara hanya melirik gelas Ale. Mungkin lelaki itu mengerti. Ale menyodorkan gelas dekat bibirnya.


Yara meminum airnya. Rasa hangat mengalir membasahi kerongkongannya yang kering. 


"Sudah?" Yara mengangguk.


"Mari kita istirahat, ini tengah malam" ucap Ale yang meletakkan gelas pada nakas sebelah sisi ranjang Yara. Lelaki itu memutar dan merebahkan tubuhnya di samping Yara.


"Kenapa kau disini?" Alis Yara menaut, ia heran jika ingin istirahat mengapa Ale tidak kembali ke kamarnya.


"Aku ingin istirahat"


"Kau bisa kembali ke kamarmu!" Ucap dingin Yara. Ale yang terlentang, ia memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya menghadap Yara.


"Apa?" Yara jengah ditatap lekat oleh mata jelaga milik lelaki itu.


"Kau sudah sadarkan?" Yara mengangguk. Tatapannya bingung.


"Kau lihat sekelilingmu kau dimana?" Yara mulai menatapi sekelilingnya. Kamar sama tapi tidak dengan catnya. Ini bercat keabuan dan kamarnya bercat krem.


"Aku dimana?" Yara berucap perlahan. Ia kembali menatap Ale yang meletakkan kepalanya pada bantal. Sungguh ia mengantuk.


"Kamarku" ucapnya. Yara mengangguk. Lalu setelahnya. Matanya membola.


"Kam-kamarmu!"


Ale menarik Yara hingga wanita itu ikut berbaring. Yara ikut bergeser, dan memeluknya. Yara menegang. Mereka dekat. Sangat. Yara menahan nafasnya.


"Bernafaslah!"


Yara menghembuskan nafasnya kasar, Yara ia mencoba melepaskan diri. Menggeser Ale yang menempelinya.


"Tidur!"


Bukannya melepas, Kepala Ale berada didada Yara. Tangannya tak membiarkan Yara keluar dari kungkungannya. Degupnya meliar wajahnya yang semula pucat pasi menjadi memerah.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2