
Agrabelle telah memberi Ruve penawar dari ramuan penurut milik Los. "Kita tunggu saja beberapa jam, ini ramuan tingkat tengah, tapi pengaruhnya kuat"
Agrabella membereskan perlengkapannya. Ia keluar kamar Ruve, Elves beranjak dari tempatnya. Ia ingin tahu efeknya pada tubuh Ruve.
"Efeknya bagaimana?" Ramuan dengan pengaruh kuat, akan berefek kuat pula.
"Aku tak melihat adanya ramuan yang masih berada di tubuhnya, pengaruh Akar Bulkie yang ia hirup banyak menjaganya dari efek yang akan didapatkan dari ramuan itu."
"Kita tunggu ia siuman, lebih jelas kita bisa melihat langsung efeknya"
"Silahkan" Gma Mima menyiapkan cangkir-cangkir penuh dengan teh khusus milik desa Bymaba.
Teh kulit ulat, Agrabella tercengang dengan kualitas teh yang baru ia sesap. Manis dan membuat nyaman.
"Teh kulit Bymaba memang berkhasiat" ucap wanita tua itu. Ditempat itu ada Berus dan kawan-kawan yang sibuk dengan Dylan membahas para bandit yang kabur.
"Mereka akan masuk daftar pencarian oleh pasukan elit Phoenix Way, dan tidak akan bisa lolos dengan mudah." Orso menjelaskan tentang nasib Mateo, Los dan Vindel.
"Ruve telah sadar" Araria yang menunggu Ruve berlari keluar kamar Ruve dan mengabarkan Agrabella.
"Sangat cepat" Agrabella dan Gma Mima ikut masuk kedalam kamar Ruve. "Ruve?" Namanya dipanggil Ruve menengok. Ia melihat sosok yang dirindukan.
"Gma? Kok disini?" Ia melihat Agrabella juga Araria disana.
"Kau tak apakan sayang? Mana yang sakit?" Ruve yang masih disorientasi tempat itu hanya diam dalam pelukan Gma Mima.
"Tidak ada, memang aku kenapa?" Pertanyaan Ruve. Ia masih dibuat bingung, ia berada didalam kamarnya yang berada di rumah Gen.
Rumah Gen? "Gma Mima? Aku di Bymaba?" Ruve berucap dengan kening berkerut.
"Iya sayang kamu dan Gen pulang, kau tidak ingat bagaimana kau sampai disini?" Ruve menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ia menatap satu per satu wajah-wajah yang ada di depannya.
Agrabella maju, "Tubuhmu ada yang sakit?"
"Tidak" Ruve menggeleng.
"Kejadian yang terakhir yang kau ingat?" Agrabella memeriksa denyut nadi Ruve.
"Pesta teh di Cahaya ilusi" Ruve melupakan kejadian dengan Mateo.
"Dan apa sekarang yang kau rasakan?" Agrabella tidak menemukan keanehan pada tubuh Ruve semua sehat.
"Segar, ini tidur ternyenyak, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kalian ada di Bymaba? Dan pestanya bagaimana?" Banyak pertanyaan di benak Ruve dengan keanehan saat ini, dimana ia berada di Bymaba dengan semua orang dari Cahaya ilusi.
"Sepertinya Akar Bulkie membersihkan semua ramuan itu hingga tuntas, hingga Ruve tidak mengingat kejadian itu" Agarbella memberi penjelasan.
"Sarapan siap" Holin teman Gma Mima.
"Ruve kau bisa menggerakan dirimu?" Ruve menggoyangkan tubuhnya. Ia pun berdiri. Dan melangkah mengelilingi kamarnya.
"Kau sehat"
"Iya aku merasa lebih segar." Ucap Ruve.
"Yasudah ayo sarapan dulu" Gma Mima merangkul bahu Ruve. Ruve melihat Elves di pintu. Ia tersenyum lebar. Entah mengapa ia merasa sudah lama tidak bertemu dengan Elves.
Ruve merasa rindu. Ia ingin menghampiri Elves. Namun tangannya lebih dulu ditarik oleh Gen. "Hei Ruve kau sudah sadar" Gen mengacak rambut Ruve.
"Gen biarkan Ruve membersihkan dirinya, Sayang Gma dan lainnya menunggu di ruang makan ya" Gma Mima menyeret Gen yang mendapat protes dari sang cucu.
Ruve mengangguk. Ia masuk dalam kamar mandi. Ia mengusap wajahnya dengan kain. Segar. Kenapa ia bisa merasa serindu itu pada Elves.
__ADS_1
Mereka sering bertemu. Aneh. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya. Dengan semua keanehan ini. Ia berada di Bymaba, dengan orang Cahaya ilusi.
Brak!
Pintu kamar mandinya tertutup. Disana Ruve melihat Elves dari kaca kamar mandi. "Elves?"
Ruve tampak terkejut Elves memeluk dirinya dari belakang. Menyembunyikan kepalanya di curuk leher Ruve.
Ruve merasa hembusan hangat pada lehernya. Tubuh lelaki itu bergetar. "Elves kau menangis" Ruve bisa mendengar isakan lirih dan tertahan. Elves menggeleng di curuk lehernya. Ruve merasa geli.
Ruve mengusap rambut Elves, ia masih tidak tahu apa yang terjadi. "Kau mengenalku?" Ucap serak Elves.
"Tentu! Jawab Ruve cepat.
"Kau sempat melupakan aku" ucap lelaki itu yang betah di leher Ruve.
"Sini perlihatkan wajahmu," ucap Ruve.
Elves menggeleng.
"Aku mau lihat, sini" tangannya masih terus bermain di kepala Elves.
Perlahan Elves mendongak. Ruve bisa melihat mata merah Elbes dari pantulan kaca kamar mandi.
"Ya itu karena ramuan, apa kau bisa cerita kejadian apa yang terjadi?" Ruve bisa menyimpulkan dari ucapan Agrabella ia terkena ramuan dan melupakan kejadiannya.
Elves mengangguk, "Ya sudah, ayo kita turun dan sarapan, setelah itu aku ingin mendengar cerita lengkapnya, sekarang aku sangat lapar."
Elves masih memeluk erat Ruve. Lama. Sebelum mereka turun ke ruang makan.
Tbc.
__ADS_1