
"Jadi apa yang terjadi?" Ruve terus mengejar Elves dengan pertanyaan yang sama, setelah mereka sampai di rumah Lisica, Elves belum juga menceritakan pada Ruve.
Ruve menjadi kesal mengapa harus dinanti-nanti. Semakin membuat Ruve penasaran.
"Kau menjadi sosok ularmu" Mata Ruve berbinar mendengar penuturan Elves.
"Dan kau menyerangku" binar mata Ruve meredup.
"Maaf" ucap Ruve.
"Tak apa kau tak sadar" Ucap Elves menyiapkan teh untuk mereka berdua. Elves meletakkan satu cangkir di depan Ruve.
"Minumlah agar tubuhmu hangat" Ruve mengulurkan tangan dan meraih cangkir teh.
"Bagaimana perasaanmu?" Elve smenyezap cangkir miliknya setelah ia mengambil tempat di depan Ruve.
"Senang karena aku bisa kembali menjadi sosok ularku, tapi mengapa aku tidak sadar?" Kembali wajah Ruve menjadi sendu.
"Mungkin itu cara tubuhmu mengingat kembali kekuatanmu yang hilang, dengan sedikit demi sedikit mengingat" ucap Elves.
Ruve mencerna ucapan Elves. Bisa juga. Harapannya kembali naik.
"Dan ketika ia kembali, tubuhmu juga sudah siap menerima kembali, bisa jadi tubuhmu sedang beradaptasi"
Ruve memutar-mutar cangkirnya. "Semoga saja."
"Apa serbuk itu juga berpengaruh, jika benar kita harus menemukan portal menuju Dragon Eye" ucap Ruve.
"Dragon Eye?" Araria datang dengan Lisica.
"Kalian juga baru kembali," Dua wanita itu mengangguk bersamaan. "Melelahkan" Lisica melemparkan tubuhnya pada kursi sebelah Ruve.
__ADS_1
Elves kembali berdiri dan menyiapkan teh untuk Lisica dan Araria.
"Ini silahkan untuk menghangatkan." Elves meletakkan cangkir di depan Lisica dan Araria.
"Terima kasih pangeran, maaf seharusnya saya yang melakukan ini"
"Tak perlu sungkan dan tak perlu formal, biasa saja seperti kau pertama kali berbicara padaku"
"Pangeran?" Bingung Araria.
"Pangeran Elves dari kera—"
"Tadi kami bersama. Simba mendatangi pondok milik Hudson" ucap Elves mengalihkan topik dirinya ke topik lain.
"Mengapa kalian tidak mengajakku!" Pekik kencang Araria.
"Kami kesana tempat itu sudah kosong, ia sudah melarikan diri," ucap Elves.
Brak!
"Aku keluar sebentar" Araria beranjak dari tempatnya, wajahnya mengeras, berjalan cepat tak tentu arah. ia juga mengejar Hudson. Sama seperti Elves, ia mengejar Hudaon karena lelaki itu membunuh Gilberto, gurunya di depan matanya.
Saat itu ia menemani Gilberto mencari tanaman obat dan mereka menginap di pondok milik gurunya, Gilberto mendorong dirinya untuk masuk ke ruang bawah tanah untuk diam di sana beberapa waktu.
Araria waktu itu hanya menurut, ia kembali menekuni buku Gilberto. Namun tak lama ia mendengar suara gebrakan terdengar dari atas tempat Gilberto. Dengan cepat Araria mematikan penerangan di ruangan itu sesuai instruksi Gilberto.
Ia mengintip dari cela lantai. Bisa ia lihat dengan jelas tiga orang disana.
Araria menutup mulutnya agar pekikan tidak keluar dari bibirnya. Pupil matanya membesar, berkaca, ia menahan air matanya untuk meluncur.
Tapi ia tak bisa menahan isakannya. Ia menggigit bibirnya menahan agar tak bersuara. Netranya menangkap apa yang ketiga tamu, bukan, tapi penjahat itu lakukan pada Gilberto. Mereka menyiksanya. Ancaman dapat Araria dengar, adalah berkaitan dengan kerajaan Elf.
__ADS_1
Tapi Gilberto tak mau mengikuti apa yang penjahat itu perintahkan. Suasana mencekam. Penjahat itu membuat Gilberto babak belur pada wajahnya. Namun Gilberto tetap tak mau menuruti perintah mereka.
Salah satunya Hudson. Araria tahu karena rekan Hudson memanggil namanya, pemuda itu maju dan dengan cepat menghunuskan pedangnya pada jantung Gilberto.
Araria melihat semua nya, dalam diam matanya mengobar dendam juga kesedihan dan rasa sesal seumur hidup. Penjahat itu menunggu Gilberto mati dan pergi.
Araria keluar dari persembunyiannya dan berlari kencang ke Gilberto yang meregang bernyawa, ia menangis sejadinya, menggoyangkan tubuh gurunya.
Ia dengan cepat menmanggul tubuh Gilberto dengan perlahan ia menaikkan pada kudanya, memacu kudanya dengan cepat dan kembali ke Cahaya Ilusi,
Berlari turun dan menggendong Gilberto dan bertemu dengan Agrabella, dengan gemetar ia menangis kencang dan meminta agar Agrabella dapat menolong Gilberto.
Araria mengeratkan kepalan tangannya. Rasa sesal akan selalu mengikuti dirinya. Mengapa ia tidak menolong. Mengapa ia begitu patuhnya saat itu. Betapa begitu pengecutnya dirinya saat itu yang terpaku hanya dapat melihat Hudson dan dua lainnya menganiaya Gilberto.
Benar-benar tidak berguna. Araria hidup dalam penyesalan dan juga pengejarannya pada Hudson.
Ia telah melatih dirinya dan bahkan ia belajar ramuan dari penyihir hitam. Ramuan terlarang. Untuk menuntut balas.
Akhirnya ia bertemu dengan pangeran kerajaan Elf. Yang pernah disebut oleh tiga penjahat saat itu.
Ingatan itu kembali terputar pada otaknya seperti kaset rusak. Berkali ia menyebut ini bukan salahnya namun salah si pangeran Elf. Itu dulu saat awal ia masih tidak terima atas kematian Gilberto yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri.
Terima kasih pada guru bela dirinya, Lindang, untuk berdamai dengan mencari siapa yang salah, namun dendamnya pad Hudson tidak bisa ia hapus.
Ia mengepalkan tangan, ia butuh udara untuk mendinginkan otak walau ia sudah berdamai tapi saat ia bertemu dari salah satu sumber Gilberto terbunuh. Rasa amarah muncul.
Ia menatap ke langit gelap. Rahangnya mengeras. Mengepal, dan berteriak kencang. Melampiaskan rasa frustasinya. Setelahnya ia bersandar pada batang pohon dan menunduk sendu.
"Kau tak apa?"
Tbc.
__ADS_1