
"RUVE!" Dekapan erat Ruve rasakan. Ia masih lemah dengan terbatuk hebat. Ia mendorong si pemeluk itu.
"Elves, kita dimana?" Nafasnya masih tersengal, ia mencoba menenangkan dirinya.
"Ada yang sakit? Terluka?" Elve mencoba memeriksa keadaan Ruve, ia bisa melihat memar pada pelipis wanita itu.
"Ini?"
"Ouch!" Pekik Ruve. Saat memar itu Elves sentuh.
"Gen mana?" Ruve menengok ke kanan-kirinya, Elves ikut melebarkan mata, ia baru teringat Gen, ia berdiri, "Kau istirahat dulu disini" Ruve menggeleng, ia ingin ikut mencari.
Ruve menarik mentel basah yang elves pakai. Ia ingin ikut. "Jangan tinggalkan aku ikut" manjanya, dalam keadaan biasa Elves tanpa pikir panjang ia akan meninggalkan Ruve.
Elves mengulurkan tangan. Ruve tersenyum tipis dan menyambut tangan Elves. Ia berdiri dengan susah payah. Tubuhnya terasa berat saat ingin melawan gravitasi.
Ruve oleng dan dengan sigap Elves menangkap tubuh Ruve dan menariknya dalam pelukannya. Ruve reflek memeluk erat Elves. Kesempatan dalam kesempitan Ruve manfaatkan.
Untuk sesaat, Elves membiarkan Ruve terdiam dalam dekapannya. Ia pikir Ruve memerlukan waktu untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Ssshhh … kalian melupakan aku … ssshhh … dasar kau derik genit! … ssshhh … " Desisan bercampur telepati terdengar.
"Gen!" Elves melepas pelukan Ruve pelan. Ruve menyembikkan bibir ia tak rela juga kesal pada Gen. Siaal! kau mengganggu! Telepati yang Ruve kirimkan hanya untuk Gen.
"Kau dimana ular kadut?" Suara tinggi Ruve yang hanya ditanggapi oleh kekehan Gen.
" Sshhh … Aku tersangkut diatas kalian Ssshh … " lagi telepati itu, Elves melihat Gen melilitkan tubuhnya pada dahan pohon. Dan ia meliuk turun dari pohon dan mengubah dirinya menjadi sosok manusia.
"Berada dimana kita?" Gen mendekat dengan pakaiannya yang kering karena saat mereka terbawa air, Gen merubah dirinya menjadi ular dan sempat berenang dan mencari Ruve dan Elves, namun ia tak hati-hati, terbentur dinding goa dan pingsan lalu saat ia keluar dari Goa bersama derasnya aliran air bandang, ia terlempar pada dahan pohon.
__ADS_1
Tidak ada pakaian kering, Ruve dan Elves menunggu Gen mencari desa terdekat, mereka melepaskan pakaian tebal menyisakan pakaian tipis, bahkan Ruve dengan tak malu hanya menggunakan pakaian tipisnya.
Dan membuat Elf muda itu berdehem berkali dan wajahnya memerah. Ruve yang peka, malah menjahili pangeran Elf itu.
Ia mendekatkan diri, "Dingin sekali" ia memeluk dirinya, ia menyentuhkan punggungnya pada punggung Elves. Mereka saling memunggungi. Dan Ruve semakin lama semakin menempelkan dirinya. "Ini hangat" modus Ruve, padahal mereka sedang berjemur. Matahari pun terik.
"Ah … Nyaman" Ruve tak menemukan penolakan Elves. Ia menempelkan kepalanya pada Elves. Angin semilir membuat sudut bibirnya naik.
Derapan kaki kuda mendekat. Elves merasakan kelegaan ia melihat kuda Gen mendekat. Dan membawa sesuatu itu. Rasanya ia sangat kepanasan dari tadi. Sejak Ruve menyandarkan tubuhnya pada Elves.
Ia berdiri dengan cepat. Dan membuat Rube yang sedang menikmati kedekatannya dengan Elves terjungkal.
"Kok berdiri?" Ruve mengerucutkan bibirnya. Dan dibalas lirikan tajam Elves. Kerucutan bibirnya tertarik menjadi melebar. Ruve mendekat kan diri ingin melihat semburat merah di wajah Elves.
"Elves kenapa wajahmu?" Ruve mendekatkan wajahnya ke depan wajah Elves, pemuda itu melengos tak ingin Ruve melihat wajahnya yang memanas.
Decakan kesal terdengar dari mulut pemuda elf. Ruve melipat bibirnya dan mengulurkan telunjuknya ke pipi Elves. "Malu ya?" Telunjuk Ruve terus menusuk-nusuk pelan pipi Elves.
"Sini lihat, lihat," Ruve melipat tangannya didada dan mengerucutkan bibirnya, namun ia tak hilang akal. Senyum miring tercetak pada bibir mungilnya. Senyum jahil.
Ia menangkup wajah Elves dan menarik ke depan wajahnya. Tubuh Elves ikut menunduk, karena tinggi badan mereka yang timpang. Ular derik itu hanya setinggi bahunya.
Mata Elves melebar, semburat merah menjalar hingga telinganya. "Kalian ini masih saja bisa saling menggoda, ah bukan pasti kau Ruve yang genit!" Keduanya menengok ke Gen yang bersedekap dada tak percaya, dengan kelakuan si wanita derik itu.
Padahal beberapa waktu lalu nyawa mereka setipis itu menuju kematian. Elves dan Ruve kembali berpandangan.
Cengiran manis tertangkap netra Elves yang menyentak menjauh. Dan berdehem melonggarkan tenggorokannya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Gen kau menemukan pakaian kering?" Elves mengalihkan kelakuan Ruve yang mendapatkan angin segar, dan tanpa malu menempelkan pipinya pada lengan Elves. Yang mendapat lirikan tajam, agar Ruve menjauhkan wajahnya.
__ADS_1
Gen turun dan menyerahkan bungkusan pada Elves dan melemparkan bungkusan satunya pada kepala Ruve yang sedari tadi cengar-cengir kesenangan.
"Aku ganti dulu ya, Mau ikut?" Menoel pundak Elves.
"Hei Derik genit cepat ganti bajumu itu, merusak pemandanganku saja!" Gen berteriak lantang di pinggir sungai menata makan yang didapatkan pada desa terdekat.
Ruve berjalan dengan mengerlingkan mata dengan jarinya membentuk love pada Elves, sambil berjalan ke belakang batu besar ia akan mengganti pakaiannya.
Elves menghela nafasnya lelah. Akhirnya ia bisa membuka pakaian basahnya. Elves memang menunggu Ruve tak terlihat, jika Ruve melihat tubuhnya yang tak berpakaian pasti wanita itu akan terus menggodanya.
Ia memang setuju dengan pendekatan dengan Ruve namun ia masih canggung dan tak mengerti, ia tidak pernah didekati seintens itu dengan wanita sebelumnya.
Elves telah berpakaian keringnya. Mendekat pada Gen yang memanggil dirinya. "Elves sarapan!" Ia duduk.dan mengambil bungkusan roti isi dan memakan dengan lahap. Ia lapar.
"Disana ada desa, tapi agak sepi, aku bertanya pada pemilik bar, ada penginapan juga, setelah ini kita kesana"
"Oke" dan ia masih sibuk melahap makanannya, Gen menggigit apel, ia telah menghabiskan roti isinya.
"Kalian makan tak menungguku! Dasar!" Keluh Ruve yang menjemur pakaian basahnya.
"Kau terlalu lama! Kami lapar. Ini milikmu," Gen memberikan jatah roti isi milik Ruve. "Lapar" setelahnya Ruve fokus pada makanan, perutnya belum terisi sejak kemarin.
Ruve makan dengan bar-bar. Mulutnya belepotan saus. Dan Elves refleks menghapus saus pada bibir Ruve.
"Kau makan seperti anak kecil!" Elves terkekeh, dan memasukan jari dengan saus dari bibir Ruve pada mulutnya, dan kelakuan itu membuat Ruve terpaku, dan pasti itu membuat debaran jantung Ruve berlompatan. Dan perutnya yang lapar seketika kenyang.
Ruve manahan pipinya dengan kedua tangan agar tak menarik sudut bibirnya yang ingin sekali melebar. Dadanya membuncah kesenangan.
Elves tak sadar dengan perlakuan manisnya ia melanjutkan makan roti isi, tak menyadari ada yang seseorang dengan harapannya meninggi.
__ADS_1
Gen masih ada disana, berbaring, tertidur dengan topi menutup wajahnya.
Tbc.