Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 99. Kisah Yara Alejandro 6


__ADS_3

Yara membanting tubuh Magnolia. Ekspektasi Yara terlalu tinggi. Magnolia tidak setangguh itu ternyata. Lima hari, Yara bisa melihat bagaimana menyebalkannya Magnolia.


Ini sudah pertandingan keempat mereka. Dan semua Yara yang memenangkannya. Telak.


"Sudah! Kau tak apakan?" Ale mendekati Magnolia, ia memberikan handuk.kecil pada wanita itu.


"Hei itu kan si Magno? Wah dia sudah pulang" ucap wanita rambut panjang dengan menggulung bawah rambutnya centil.


Gerombolan yang ada di sampingnya, tiga wanita satu berambut cepak, satu berambut panjang dan satu dengan badan bongsor berambut sebahu.


"Iya semakin cantik saja ya, mereka memang serasi" kata si badan bongsor. Ia menatap iri.


"Bukannya mereka kekasih?" Ucap rambut cepak. Yang menggulung pakaian nya ke bahu. Mereka juga habis berlatih.


"Setahuku kekasih Magnokan Gama?" Sela si bongsor. Ia iri dengan Magnolia yanh bisa dekat dengan pangeran-pangeran di kerajaan Elf. 


"Bukannya sudah putus?" Wajah si rambut panjang menyembik. Merasa kecantikannya melebihi Magnolia tapi mengapa para pria tidak melihat dirinya. Ia selalu kalah oleh Magnolia.


"Kau tahu darimana? Jangan gosip!" Yara melirik kumpulan wanita cepak itu dengan pandangan mengernyit. Bukankah sedari tadi mereka bergosip.


Sudahlah, Yara mengambil handuk dan botol minumnya. Menggak air dalam botol itu dengan memandangi pasangan serasi yang tak sadar dirinya digosipkan.


"Ya mereka memang serasi" Yara menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi panjang, kepalanya mendongak juga bersandar pada kursi itu. Ia melempar handuknya asal untuk menutupi setengah wajahnya.


"Benar mereka serasi." Yara merasa ada sosok yang mendekat padanya, Suara berat ala lelaki. Ia mengangkat handuknya. Ia mengintip.


Muncul sosok lelaki dengan rahang tegas, diatas kepalanya yang mendongak. Sosok itu sibuk menatap sejoli didepan mereka.

__ADS_1


Lelaki itu memutari kursi dan duduk disebelah Yara. Berbarengan dengan Yara yang menarik handuknya dan menegakkan tubuhnya.


Sekarang mereka berdua menatap lurus pada objek yang sama.


"Kau siapa?" Tanya Yara menatap sosok lelaki yang melambaikan tangan memperkenalkan dirinya layaknya bocah lima tahun.


"Halooo, aku Gama" lelaki itu masih tersenyum lebar.


"Ah kau—" 


"Gama! Hei kapan kau kembali?" Omongan Yara terputus oleh wanita yang sudah menggeser tubuh Yara untuk duduk diantar dirinya dan Gama-Gama ini. Salah satu dari wanita penggosip tadi. Si rambut panjang.


"Hai Magda, baru saja, kau juga latihan disini?"


"Yah … disini juga lumayan, walau aku yakin tak sebanding dengan Phoenix Way" ucap Wanita yang terus saja menggeser Yara.


Namun kakinya berhenti saat lengannya ditahan oleh Ale. "Apa yang kau obrolkan dengannya?"


Wajah Yara kesal. Ia melirik Magnolia yang sendu "Tak ada, aku tak kenal dan lelaki itu terus saja bersuara" ucap Yara sambil melepas lengannya dari cengkraman Ale.


Tapi cengkraman Ale mengeras. "Lepas!" Ucap Yara. Teringat saat beberapa hari sebelumnya Yara mendatangi Ale dan meminta kejelasan tentang kejadian malam ia mabuk.


Saat itu ada rasa yang ia pupuk terlalu subur tapi hasilnya sangat menyakitkan. Ya, Yara mendatangi Ale untuk menanyakan alasan lelaki itu menciumnya.


Dan Ale mengatakan jika itu tidak berarti apapun. Hanya terbawa perasaan. Yara menanyakan perasaan Ale yang mulai tumbuh padanya. Dan sekali lagi penyangkalan Ale. Dengan mengatakan jika tidak mungkin Ale menyukai nya.


Yara bukan tipenya, dan akan sangat memalukan bagi Ale yang Jendral memiliki kekasih seperti Yara. Wanita yang tidak mencerminkan wanita ideal bagi Ale.

__ADS_1


Juga menyarankan Yara untuk belajar dari Magnolia, bagaimana bersikap. Dan Yara akhirnya menyadari seberapa buruk ia dimata Ale.


Ia marah, tapi tidak tahu pada siapa? Yara pun berjalan asal kemana kakinya melangkah. Sampailah ia di arena ini.


Jika pagi arena yang Yara datangi hanya arena berlatih biasa. Namun jika malam, Arena Urban Latan. Ini akan menjadi arena perkelahian mematikan, tentu ada uang dan judi disana.


Arena Urban Latan. Dan Yara adalah pendatang juga idola baru bernama Ulat. Pada hari pertamanya ia bisa mengalahkan Hlogor. Petarung tak terkalahkan.


Dengan mudah Ulat bisa mengalahkan. Ia menutupi wajahnya dengan gogglesnya. Tubuhnya mungil, Yara sangat gesit dan lincah.


Malam itu Ulat menang KO semua petarung ia libas. Yara tidak mengambil uang taruhan itu, ia memang tidak tertarik. Namun saat Yara kembali menjadi Ulat. Opal, bandar disana, memberi bagiannya.


Yara tak menyangka ia mendapatkan uang sebanyak itu. Yara menerimanya, membawanya.


Seonggok karung coklat berada di kamarnya. Karung berisi uang hasil menang KO. Setiap ia merasa kesal ia selalu datang ke Arena Urban Latan.


"Ulat! Ulat! Ulat!" Suara sorak sorai, para penonton menyemangati Yara. Lawan di depannya sangat tangguh.


Tubuhnya sudah beberapa kali terlempar. Robekan sudut bibirnya juga beberapa lebam menandakan, lawannya bisa membalas pukulan Yara.


Black Skull, lawannya. Sosok itu menggunakan topeng tengkorak, jika diamati perawakan lelaki. Terlihat dari batang lehernya, ia mempunyai jakun.


Yang paling menyebalkan untuk Yara adalah. Lelaki itu selalu menyepelekannya. Seperti malam ini lawannya itu keluar arena pertarungan, dan pergi begitu saja. Dan otomatis ia yang memenangkan pertandingannya.


Tapi bukan senang Yara malah dibuat semakin kesal. Perasaan digantung. Dan rasa marah menguasai hingga esok harinya. Ia akan membuat perhitungan jika bertemu dengan si tengkorak hitam di Arena.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2