
Ale duduk di samping ranjangnya. Menatapi Yara lekat. Sejak mereka masuk dalam pintu.
Yara belum juga sadarkan diri. Otis ada bersama mereka. Ia mengetahui tentang apa yang Yara alami.
Saat ia kembali ke kamar Ale. Ale dan Yara yang tergeletak dilantai. Panik dan langsung melesat keruangan Hugo.
Juan menceritakan semua. Yang ia tahu. Tentang Elf Hitam. Juga gangguan yang Yara terima, Hugo langsung memanggil Otis.
Dari Ale Otis menjadi lebih percaya dengan sosok yang mengganggu Yara pasti Dantau. Cerita Juan yang memberikan ciri-ciri yang Yara pernah ceritakan padanya.
"Dia Dantau si ular hitam" ucap Otis.
"Dantau? Ia juga salah satu anggota Tanduk Hitam." Hugo menjelaskan. Otis mengangguk.
"Aku pernah melihatnya berbicara dengan Razor." Huvo pernah mendengar para petinggi Tanduk Hitam membangga-banggakan Dantau.
Tentang kekuatannya yang mengerikan. Juga ada para petinggi yang memperingatkan semua nya untuk tidak mencari masalah dengan Dantau.
Tapi yang Hugo ingat tentang Dantau, seorang bocah lelaki yang berusia sekitar 11 tahun, berambut emas. Mata berwarna abu, pendiam.
Tampak luar memang tak berbahaya tapi sebenarnya bocah itu sangat berbahaya. Dalam dirinya ia memiliki satu monster yang tersegel.
Hugo saat itu tidak terlalu memperdulikan, Yakin tidak akan berurusan dengan Dantau. Namun dengan Yara yang lelaki itu ganggu. Ia tak mungkin tidak melibatkan diri.
Dan dalam tidurnya Yara kembali bermimpi. Ia dihadapkan dengan gadis kecil lain. Yang kali ini berbentuk cantik. Rambut panjang terurai. Dengan pakaian gaun panjang lucu. Layaknya putri.
Tidak ada ketakutan dalam diri anak perempuan ini. Ia mengajak Yara bermain tapi Yara merasa anak perempuan di depannya ini berbahaya.
Entah mengapa ia merasakan ancaman begitu besar. Saat pertama tangannya diraih oleh sang anak perempuan. Padahal anak itu menggemaskan.
Yara waspada tapi tetap mengikuti mau si anak itu.
"Kau memerlukan aku" ucap anak perempuan itu.
"Hanya dengan pedangku kau bisa melawannya"
"Karena kalau jantungnya kau tusuk dengan pedang milikku … "
BLASH!
Pedang panjang dengan uliran berwarna hitam dan putih. Begitu indah. Tentu berkilap tajam.
Muncul dengan sosok perempuan dewasa dengan dari ujung rambut sampai kaki berwarna putih. Bahkan bola matanya pun putih. Yara terkejut ia jatuh terduduk, sedikit mundur.
"Pedang Elf Putih."
Sosok wanita itu dengan wajah dingin mengarahkan ujung pedangnya pada Yara.
Dalam tidurnya Yara gelisah. Kembali ia berkeringat, Ale yang setia menunggunya. Berbisik.
"Yara Kembali!"
Suara Ale bergema dalam mimpinya. Yara menatap ke atas mencari sumber suara yang menyuruhnya kembali.
__ADS_1
"Ale"
Dan dengan cepat Yara seperti tersedot sebuah putaran angin dan membawa tubuhnya pergi menghilang.
Netranya menyentak terbuka. Nafasnya memburu. Ia terduduk. Dan lebih menunduk dalam. Memikirkan tentang mimpi juga tentang suara Ale yang seperti kode untuk kembali ke dunia nyata.
"Kau bangun" Ale membawa segelas air dan menyodorkan cepat. Yara menatap Ale. Ale duduk di samping ranjangnya masih menyodorkan gelas dengan air.
Dengan gerakan cepat Yara masuk dalam pelukan Ale. Dorongan tubuh Yara membuat Ale ikut terguling diranjang. Ia menegang.
"Kembali"
"Aku kembali!" Ucap lirih Yara dengan getaran halus pada tubuhnya.
"Aku kembali" Ale mengerti, ia perlahan mengeratkan rangkulannya juga mengelus punggung Yara.
"Terima kasih memanggilku untuk kembali" bisiknya lirih. Air matanya juga ikut meluruh deras.
Ale mendongak kan wajah Yara. Tatapan kedua nya bertemu,Ia mengusap air mata wanita itu.
"Kau menangis"
Yara yang menatapnya hanya menggeleng. Ale terus mengusap air mata wanita itu.
Giliran Yara mengangkat tangannya. Ia melepaskan diri dari pelukan Ale. Dan duduk di ranjang. Ia mengusap sudut matanya yang memang berair.
Ia menangis. Tapi ia tak merasa menangis.
"Kenapa aku menangis?" Bisiknya. Ia menatap Ale. Wajah lelaki itu melembut. Dan Yara suka. Bertambah suka lebih tepatnya.
Yara kembali menjadi Ulat. Melakukan kegiatan seperti biasa. Dan Otis pun saat ini memutuskan bergabung penuh pada Hugo. Ia menyerahkan semua pekerjaannya pada Baldino.
Yara telah menceritakan semua mengenai pertemuan dengan Dantau, pertemuan dengan anak perempuan hitam dan pertemuan dengan anak perempuan putih.
Semua Yara ceritakan pada Otis dan yang lainnya. Ale hanya mendengarkan dengan seksama. Juga Ale yang membuatnya kembali.
Wajah Otis menegang. Rahangnya mengeras dengan rasa cemas.
"Tidak mungkin Ratu mimpi bangkit bukan?" Gumannya ia melihat Yara berlatih di tempat latihan.
"Jika terjadi … tidak! Ini tidak bisa dibiarkan, Ratu mimpi memiliki kekuatan luar biasa."
Otis melangkah besar ke tempat Hugo berada.
"Hugo!"
"Maaf kalau aku mengganggu"
Otis melihat Hugo sedang mengungkung Juan. Ia memutar tubuhnya.
"Ada apa?"
Terdengar kesan murka disana. Kesempatan untuk Juan meloloskan diri. Wanita itu jalan cepat keluar dari ruangan Hugo dengan merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan.
__ADS_1
Juan mengangguk pada Otis. Otis melirik Hugo senyuman miring menggoda Hugo.
"Jika kedatanganmu tidak ada yang penting, lebih baik kau enyah!" Gertaknya.
Membuat Otis semakin tergelak. Tawanya nyaring dan renyah membuat Bugo menggeram.
"Jangan lakukan itu, kau akan menyesal akhirnya. Penyesalan panjang dan menyakitkan."
Otis mengatakan dengan nada datar. Lalu mengerjap menangkap netra Hugo yang bertambah garang.
Otis menutup mulutnya, jangan bilang jika kekuatannya mengatakan sesuatu yang tak sengaja ia ramal pada Hugo.
Namun ia ikut duduk. "Aku bisa melihat diriku akan bergabung denganmu,"
"Lalu mengapa kau membuang waktuku merayumu untuk bergabung?"
"Aku hanya ingin melihat seberapa kau ingin aku bergabung" ucapnya enteng.
"Dan aku tak akan menyangka jika aku akan berhadapan dengan Ratu Mimpi pada proyek denganmu ini"
"Ratu mimpi?" Hugo yakin ia tak salah dengar.
"Ya Ratu legenda itu. Ia berada di tubuh Yara. Disegel dan tinggal menunggu waktu kapan akan segel itu lepas. Tapi … "
"Masalah sebenarnya bukan itu, tapi kemana Yara akan membawanya" ucap Otis wajahnya menjadi serius.
Dan suasana berubah hening. Yang Hugo tahu, Ratu mimpi itu Ratu yang kejam. Bahkan ia bermusuhan dengan Ratu pelindung juga Raja bawah.
"Ia mungkin bisa membantumu melenyapkan Tanduk Hitam. Tapi jika dia lebih condong ke Ratu putih maka kau tak akan bisa mengendalikannya sesuka hatimu."
"Ia akan meliar dan membuat dunia Elf berantakan" lanjut penjelasan Otis.
"Jadi lebih baik lebih ke Ratu hitam?" Ale yang sengaja mencuri dengar perbincangan Otis dan ikut masuk keruangan Hugo.
Otis menatap Hugo dan kembali menggeleng.
"Kedua Ratu itu mematikan! Namun jika Yara bisa menyeimbangkan dengan mengendalikan mereka, maka ia akan mengulang sejarah Ratu Gabriella"
Ratu Gabriella juga Ratu Mimpi terkuat karena hanya ia yang berhasil mengendalikan Elf Hitam dan Elf Putih yang ada di tubuhnya.
Tapi tak lama. Namun setelahnya dunia Elf menjadi lebih tenang dan nyaman tanpa adanya peperangan.
Tapi yang paling buruk adalah Ratu Mimpi terakhir. Ratu Mimpi Olive. Yang dikendalikan oleh ratu putih yang begitu kejam juga tak berperasaan. Peperangan dimana-mana. Bahkan ia menyinggung Ratu pelindung juga Raja bawah.
Dan mereka sekarang tinggal legenda, karena setelah Ratu Olive tidak ada lagi Ratu Mimpi yang muncul untuk menggantikan.
Otis kira tidak ada lagi Ratu Mimpi. Nyatanya Ratu mimpi masih ada. Dan bersemayam di tubuh Yara.
Dan entah siapa yang menyegel Ratu mimpi itu ditubuh Yara. Semua hanya tanda tanya. Elf Hitam dan Elf Putih dalam diri Yara telah tersadar.
Maka tidak ada jalan, mereka harus membantu Yara mencondongkan dirinya pada kebaikan.
Hanya cinta, kasih sayang juga kelembutan tulus adalah kunci mengendalikan kedua Elf itu.
__ADS_1
Tbc.