
Guyuran air dingin di kepalanya seakan menyadarkan.
"Apa yang telah aku lakukan!" Gumannya, ia tidak mengerti dengan segala tindakannya akhir-akhir ini. Meremas kesal rambut basahnya. Ia kelepasan.
Bagaimana bisa ia meladeni perempuan itu. Selama ini godaan apapun bisa ia singkirkan namun entah mengapa ia tak bisa menghindari perempuan yang suka sekali menggodanya itu.
Ia mengetukan kepalanya ke kucuran air.
"Siaal! Siaal! Siaal!" Umpatnya. Namun ia bersyukur perempuan itu tertidur. Kalau tidak, entah apa yang akan ia lakukan.
***
Matahari menyapa mata Yara yang masih terpejam. Ia menarik selimutnya dan kembali meringkuk dalam selimut hangat.
Selimut hangat? Mata wanita itu terbuka lebar. Ia menyentak tubuhnya hingga terduduk di atas ranjangnya.
Dimana dia? Ruangan kayu dengan ranjang? Otaknya masih berputar. Mengingat, mengapa dirinya berakhir di tempat ini? Terakhir yang ia ingat saat ia kembali ke dalam kereta kuda Ale.
Bagaimana bisa? Apa dirinya telah ketahuan? Gawat! Pasti Ale akan murka padanya.
Apa yang harus ia lakukan. Pintu terbuka seorang pelayan wanita dengan seragam masuk dengan nampan di tangannya.
"Sarapan anda Nyonya" ucap pelayan itu.
"Nyonya? Aku ada dimana?" Tanya Yara. Sang pelayan telah meletakkan sarapan di meja yang berada di tengah ruangan.
"Anda berada di desa selat, pondok milik tuan Alejandro"
"Dimana Ale?" Yara mengernyit. Ia ketahuan.
"Ada di ruang makan, sedang makan siang" Yara terkejut. "Makan siang? Jam berapa sekarang?"
"Masuk pukul satu Nyonya."
"Dimana kamar mandi?" Yara melompat dari ranjangnya buru-buru hingga kakinya terantuk kaki meja. Ia kembali mendudukan dirinya di ranjang, dan mengurut rasa nyeri pada jari kelingkingnya.
"Berada di sebelah sana Nyonya." Ucap pelayan. Yara turun dengan cepat lagi, Namun ia sedikit oleng. Efek mabuknya masih terasa. Rasanya kepala nya pusing.
"Anda baik-baik saja Nyonya? Saya sudah siapkan sup, juga ramuan penghilang mabuk, silakan di minum, saya permisi Nyonya"
Yara mengangkat tangannya. Agar pelayannya tak mendekat. Ia memijat pelipisnya. Dan berjalan pelan ke kamar mandi.
"Aku tak apa, aku boleh turun" ucap Yara dari kamar mandinya.
Pelayan itu mengangguk dan mundur. Ia keluar kamar Yara dna turun, ia melewati Ale yang sedang memakan makananya.
"Suara ribut apa diatas" tanya Ale tapi matanya masih fokus pada makanan yang ada dipiringnya.
__ADS_1
Pelayan itu berhengi lalu mengangguk hormat. "Itu Nyonya Yara terlalu terkejut ia bangun tergesah dan kakinya terantuk kaki meja. Lalu kedua kalinya, efek mabuknya membuat Nyonya sedikit oleng, namun ia berkata tak apa dan menyuruh saya keluar"
"Baik, kembali bekerja" kembali pelayan itu mengangguk. Dan meneruskan langkahnya.
Penjelasan sang pelayan membuat Ale sedikit kuatir. Hanya sedikit. Ia meletakkan alat makannya.
Pikirannya bingung, ia menyusul ke atas atau menunggunya di meja ini.
"Tuan apa makanannya tidak sesuai selera anda?" Saat melihat Tuannya berhenti mengunyah. Dan bahkan meletakkan alat makannya namun piringnya masih sisa banyak makanan.
"Ini lezat, hanya saja aku kenyang" ucapan Ale yang membuat sang kepala pelayan di pondoknya itu menautkan alisnya. Ia merasa heran dengan kelakuan Tuannya.
"Tuan apa anda mau makanan penutup?" Ale mendengarkan langkah kaki terburu dari lantai atas.
"Ya siapkan sekarang makanan penutup ku" perintah Ale.
"Dua porsi" lanjut Ale.
"Baik Tuan" kepala pelayan menunduk dan meninggalkan ruangan makan.
"Alejandro" panggil lirih Yara. Perempuan itu melipat bibirnya. Ia terlihat canggung. Pasti tentang kejadian semalam, pikir Ale.
Perlahan Yara mendekat. Ia menyeret kursi di sebelah Ale. Yara duduk perlahan dikursinya. Wanita itu terus saja menggigit bibirnya. Dan pandangan Ale terpaku disana.
Dibibir berwarna merah ranum, yang lembut dan manis sepertinyangbia rasai semalam, pas dengan seleranya. Ale melemparkan pandangannya menjauh, ia membuang nafasnya kasar.
Yara semakin tidak enak. Wanita itu pikir Ale pasti sangat marah padanya. "Maaf" lirih Yara.
"Kenapa meminta maaf?" Tanyanya. Jika permintaan maaf untuk kejadian semalam, mengapa Ale tidak suka.
"Aku menyelinap di kereta kudamu dan ikut denganmu diam-diam" jelas Yara.
"Maaf kamu pasti marah" terlihat ada kelegaan di wajah Ale ternyata kata maaf Yara bukan untuk kejadian semalam.
"Aku tak marah," jawab Ale.
"Benarkah? Kau tidak marah aku mengikutimu?" Terlihat binaran dari mata Yara. Ale hanya mengangguk.
"Makanan penutupnya tuan" Kepala pelayan menyodorkan dua ramekin yang didalamnya terlihat seperti butiran kaca yang dilumuri dengan cairan merah
"Apa ini Bruno?" Tanya Ale yang juga Yara tanyakan dalam pikirannya.
"Ini es serut saus berry, sangat cocok untuk suasana panas, dan ini sangat menyegarkan" jelas Bruno. Ia melihat tamu tuannya yang sudah menatap piringnya ingin segera memakannya. Bruno terkekeh.
"Terima kasih Bruno"
"Selamat menikmati Tuan, Nyonya" ia menunduk pamit.
__ADS_1
"Terima kasih Bruno" ucap Yara yang sudah memegang sendok siap menyendok. Dan sesendok es dengan saus berry yang masuk ke mulutnya meleleh lumer, dingin menyegarkan. Sangat lezat.
Yara terus memakan hingga otaknya ikut beku. Ia memukul pelan kepalanya. "Kenapa? Masih pusing? Kamu udah memakan obatnya kan?" Ale mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Yara yang hanya mengangguk.
"Ini bukan karena pusing mabuk, tapi otak kayak ikut beku"
"Kamu terlalu banyak makan esnya." Omel Ale. Yara memegang tangan Ale yang ada di kepalanya dan menyengir.
Tahu dengan kelakuannya yang kelepasan Ale menarik tangannya. Tapi Yara menahan tangan Ale agar terus menepuk kepalanya pelan.
Tapi yang Yara dapatkan sentilan dahi yang luar biasa sakit.
"Aduh!" Pekik Yara kencang. Ia mendesis dalam kesakitannya.
"Ale sakit!"
"Makanya jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Ale yang melihat Tara terus mengelus dahinya yang mulai memerah.
"Kalau ada kesempatan ya tak boleh disia-siakan, itu baru benar!" Sentilan Ale masih terasa panasnya.
"Merah lho" Ale tak sadar menarik kepala Yara, ia memperhatikan dahi Yara yang memerah.
Wajahnya dan wajah Ale hanya berjarak kepala tangan. Rasanya membuat nafasnya berhenti. Pipinya menghangat.
"Lho lho bukan dahi seluruh wajahmu memerah. Apa sesakit itu?" Ale dengan kurang ajarnya, ia menangkup wajah Yara. Membuatnya semakin salah tingkah dan malu.
Yara hanya menggeleng cepat. "Ada apa?"
Yara melepas tangkupan tangan Ale, ia menjauh dan mengambil banyak oksigen. Itu rekor terlamanya ia menahan nafas.
"Kau ingin membunuhku huh!" Ucap Yara dengan nada tinggi.
"Kau terlalu dekat! Jantungku mau meledak rasanya! Astaga mereka berlompatan heboh" Ucap Yara dengan memeluk tangannya sendiri merasakan degub jantungnya yang meliar, membuat Ale menjauh perlahan. Mendengar ucapan jujur Yara membuatnya melambung senang.
Ale melipat bibirnya menahan agar tidak tertarik lebar. Ia berusaha melawan tarikan bibirnya.
Ale memperhatikan Yara. Wanita itu sudah tenang. Ale berpikir jahil. Ale mendekatkan wajahnya pada samping wajah Yara.
"Mau apa?" Bisiknya menegang. Kembali pipinya memerah. Ia terkejut wajah Ale sangat dekat dengannya. Ia baru sadar ketika hembusan hangat mengelus pipinya.
"Cuma ingin tahu seheboh apa jantungmu lompat" bisiknya didekat telinga Yara.
Yara menyentak berdiri, dorongan kursi kuat memekakkan telinga. Terkejut dua kali. Matanya menatap Ale bergantian dengan kursi. Lalu berlari ke kamarnya.
Ale hanya tersenyum, ia memiliki mainan baru. Di dalam kamarnya Yara menangkup wajahnya yang panas. Ia mengipasi dengan tangan dan duduk ditepi ranjang.
"Kenapa dengan lelaki itu? Kenapa senang sekali menggodaku? Apa dia sakit? Atau terantuk? Kemana sikap acuh dan tidak pedulinya?"
__ADS_1
"Aark" teriak Yara di dalam bantalnya. Ia merasa malu, senang dan maluuuu…
Tbc.