Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 82. Desa Ceraz Viper, Desa dalam Desa


__ADS_3

Ruve mulai berkemas. Ia akan kembali malam ini juga.


"Mau kemana kau?" Ruve menatap Elves walau lelaki ini telah mengumumkan hubungan mereka juga Raja dan Ratu tak menolak dirinya. Namun sayang mereka harus berpisah.


Bagaimana pun Elves adalah calon Raja, dan tidak diperbolehkan meninggalkan kerajaan.


"Aku akan kembali ke desaku, mereka membutuhkan diriku, terima kasih selama ini Elves, eh bukan Pangeran Elves. Aku pamit ya"


"Kau ingin meninggalkanku? Setega itu dirimu Ruve."


"Bukan, tapi ini demi desaku pangeran"


"Pangeran! Jangan memanggilku begitu Ruve aku tak suka" Elves mendekat. Ia merengkuh Ruve dalam pelukannya.


"Aku ikut denganmu" ucap Elves, Ruve mendorong keras tubuh Elves.


"Kau gila! Bagaimana seorang penerus kerajaan keluar dari kerajaannya, tidak,tidak, kau tidak bisa mengikutiku kali ini Elves" ucap Ruve.


"Mengapa? Aku sudah siap, iya kan Araria"


Elves menengok kebelakang ia melihat Araria sudah siap dengan mantelnya.


"Aku juga ikut, kita tim kau lupa"


"Ngomong-ngomong ini berat Elves" ucap Araria dengan menenteng tas milik Elves.


"Ayo kita berangkat," ucap Elves dengan menggendong tas perlengkapanya.


"Tapi,tap—" 


"Stttt … sudah, waktu kita tak banyak, lebih cepat sampai lebih bagus"  Elves memotong ucapan Ruve. Ia mendorong tubuh kekasihnya untuk naik ke Horsi.


Benar kata Elves. Mereka harus cepat. Ruve memacu kudanya cepat. Mengikuti Elves yang memimpin. Mereka menuju portal cermin.


"Elves aku belum pamit pada Raja dan Ratu" Elves tersenyum, entah mengapa saat Ruve mengatakan itu hatinya menghangat.


"Aku sudah pamit kan dengan mereka,"


"Oh" pikiran Ruve bercabang. Ia sangat cemas dengan keadaan desanya. Ruve memegang kupingnya dan mencoba bertelepati dengan adiknya.


"Deraa?" 


"Deraa kau dengar kakak?"


Setelah Ruve mematikan koneksinya semalam. Ia tak bisa menghubungi adiknya, atau kekuatannya belum sepenuhnya kembali.


***


Disudut gelap, tubuh terkulai tak sadarkan diri.


"Deraa"


"Deraa"


"Ugh" ia membuka mata, gelap hanya gelap.


"Deraa"


Tangannya susah digerakkan, sakit, perlahan ia menyentuh telinganya.


"Ruve" suara lemah.


"Deraa kau dimana? Aku menghubungimu dan kau tak menjawab"


"Gelap Ruve" ucap Deraa.


"Deraa kau baik-baik saja? Kau dima– kau ta– –pa– co– —las— Der— "


"Ruve" suara Deraa semakin lemah dan ia pun kembali tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


Ruve berteriak frustasi. Mereka berada di Lamerda, ditempat Yara. Untuk menjemput Yara. Ruve akan meminta Yara membantunya membuat barier untuk desa Ceraz Viper.


Deraa tak dapat tersambung dengan Ruve. Mereka bergegas untuk menuju Desa Ceraz Viper. Mereka tidak ada waktu.


Di perjalanannya Ruve mencoba memasuki penglihatan Mateo. Ia melihat sebuah pintu. Saat dibuka ruangan itu hanya gelap.


"Hai Ruve, kau lihat siapa yang meringkuk di ujung sana?" Tawa menggema dalam ruangan.


"Aku menunggumu sayang" Ruve kembali menarik kekang horsi. Bedeb4h itu mengurung adiknya disuatu tempat.


Blast! 


Mereka memasuki desa Ceraz Viper. "Ruve kau harus memimpin jalannya." Ucap Elves yang menengok dan tak menemukan keberadaan Ruve.


Pemandangan pasir dengan kaktus juga bebatuan, pemandangan yang mereka dapati.


Angin panas menerpa. Untung Ruve telah memberitahu jika tak akan ada gunanya mantel tebal di desanya.


"Ruve kemana?" Ucap Elves yang masuk paling akhir.


Yara dan Araria. "Ia belum masuk" ucap Yara.


"Siaal! Ruve pergi entah kemana, ia pasti pergi ke tempat Deraa" Elves khawatir.


"Lebih baik kita segera ke Ceraz Viper dulu," Araria mengangguk.


Mereka berjalan memasuki pintu gerbang dengan gapura besar bertuliskan Ceraz Viper. Untuk konflik harusnya penjagaannya diperketat, tapi ini sepi.


Mereka bertiga masuk kedalam desa. Juga sepi. Jika ada, orang-orang memilih didalam rumah.


"Kita cari kedai atau bar saja. Juga penginapan"


Mereka berkeliling. Tak menemukan Bar, kedai atau penginapan. Sekalinya bertemu ternyata tutup.


Dan terpaksa mereka akan menggunakan  sebuah bangunan yang ditinggalkan saja. 


"Kalian siapa?" Seorang yang mereka temui, 


"Kami hanya lewat dan ingin beristirahat di desa ini tapi tampaknya tak banyak warganya"


"Mari ikut cepat sebelum jadwal mereka berkeliling." Ucap berbisik lelaki itu.


Mereka masuk dalam sebuah gubuk reyot. Yara bisa merasakan ada barier yang mengelilingi gubuk reyot itu. 


"Masukkan sekalian kuda kalian" ucap lelaki tua,


Mereka memasuki gubuk itu, dengan menarik kuda-kuda mereka. Hanya gubuk biasa, lelaki tua itu terus masuk ke lorong gelap.


Mereka mengikutinya masuk ke lorong itu, dan berpapasan dengan seseorang, "Tosai" sapanya, lelaki tua itu hanya bergumam.


Elves dan Araria menatap kepergian lelaki yang menyapa lelaki tua itu.


Masuk kedalam mereka memasuki gurun. Dengan bebatuan juga kaktus, seperti saat mereka menginjakan kaki mereka pertama kalinya di luar desa.


Tak lama mereka menemukan padang savana, 


"Kalian bisa meninggalkan kuda-kuda kalian disini, selamat datang di desa Ceraz Viper, aku ayah dari teman kalian Ruvera, Batosai" ucap lelaki tua itu menyebutkan namanya.


"Bagaimana—"


"Aku bisa mencium keberadaan anakku di sekitar kalian bertiga, santai saja kalian bisa memanggilku Tosai" ucap lelaki tua dengan kumis lele berwarna putih panjang.


"Ruve, mm dia,"


"Pasti ia ke tempat dimana adiknya disekap, aku ikut mendengar saat ia berbicara dengan adiknya. Kalian tak perlu cemas Ruvera pasti akan kembali kemari"


"Karena aku bisa merasakan kekuatannya bertambah pulih dan bertambah kuat" 


"Tapi kami khawatir, Tosai kau tahu dimana mereka menyekap Deraa, aku akan menyusulnya" Elves berkata.


Mereka masih berdiri di depan gerbang desa. Konsep mereka bersembunyi dari musuh sungguh menarik, memanipulasi desa dalam desa.

__ADS_1


Jika sebelumnya mereka mendapati desa yang sepi, kini, banyak warga yang melakukan aktivitasnya. Sangat ramai. 


"Desa dalam desa" gumam Yara.


"Kalian sudah menduga nya? Ini cara kami bertahan dari pemberontak juga musuh, Yang tadi berpapasan dengan kalian adalah penjaga yang akan menggantikan shift orang yang berpura-pura mengintip" senyum Tosai menatap Yara.


"Aku akan membantumu membuat barier dan kau bisa mengajariku tentang konsep desa dalam desa ini?" Yara terlihat antusias.


"Ayo masuk dulu ke dalam" Tosai mempersilahkan ketiganya mengikutinya. Elves melihat Tosai begitu tenang dengan dua anaknya yang berada di tangan musuh.


"TOSAI! CEPAT CARI ANAKMU! KAU B4JING4N!" Suara menggelegar keluar dari sebuah rumah dengan dua lantai.


"Ahahaha perkenalkan itu istriku, ia sangat menggemaskan bukan?" Ucap Tosai memperkenalkan sosok yang keluar manusia dengan rambut ular.


"Maddy, sayang, ini kenalkan teman-teman Ruvera" senyum lebar terpatri di wajah Tosai


"Oh halo saya ibu dari Ruve, Maddy, kemana dia? Jangan bilang sedang ke tempat adiknya?" Ucap Maddy untuk sesaat rambutnya kembali menjadi rambut namun ketika ia tahu Ruve tak bersama mereka rambutnya berubah menjadi ular lagi.


"Benar-benar anak itu! Oh maaf ya kalian harus melihatku marah, memang mereka bandel sama seperti ayahnya"


Tawa menggelegar Tosai, membuat Yara, Araria dan Elves tak begitu terkejut. Kelakuan absurd Ruve ternyata keturunan kedua makhluk di depannya ini.


"Aku akan menyiapkan kamar kalian, dan ayo ikut aku ke dapur" ajak Maddy.


"Tak udah sayang biarkan bibi Nyam yang memasak, kau tak usah sibuk, kita temani mereka dan menunggu anak nakal kita kembali, Ayo"


Tosai mengedip pada ketiganya. Yang paham, bahwa ibu Ruve juga tak bisa memasak,


"Benar Maddy, kami ingin tahu mengenai tempat ini, aku sangat penasaran bagaimana bisa kalian menemukan konsep desa dalam desa ini"


"Oh honey, kau sudah bertemu orang yang tepat, aku yang menciptakan konsep itu" Maddy bangga. Benar-benar Ruve kopian dari Maddy.


"Maddy apa kau masih ada keturunan Medusa?" Araria sangat penasaran dengan rambut ular Maddy.


"Benar cantik, tapi aku tak tahu keturunan keberapa," mereka sudah duduk di ruang makan.


"Bibi nyam buatkan masakan istimewa"


"Baik Nyonya"


"Juga buatkan sup stamina ya bi untuk Deraa ia sedang menjalankan misi" ucap Sang nyonya.


"Baik Nyonya"


"Hugh, uhugh!" Tiba-tiba Maddy terbatuk darah.


"Maddy, kah tak apa?" Kaget Araria memberikan kain kebibir Maddy, ia mengucapkan terima kasih pada Araria.


"Ini tak baik sayang, mereka menyerang anak kita" seketika wajah khawatir terlihat.


"Kalian bisa kirim kami kesana?" Elves menyakinkan Tosai. Tosai mengulurkan tangannya.


"Kalian bisa pergi melewatiku, pegang tanganku," Elves dan Araria mengangguk. 


"Yara temui Berus dan Orso di depan. Aku tak siapa lagi yang mereka bawa, tapi mereka akan membantu kita" Yara mengangguk.


Mereka telah merencanakan ini saat dirumah Yara. Dan sampai disini Elves baru memahami jika Ruve telah mengetahui rencana orang tuanya.


Tosai menatap Elves dengan senyuman di bibirnya, seperti bisa membaca pikiran Elves. 


"Ayo aku akan mengirimmu menuju kekasihmu" bisiknya.


Tubuh Elves menegang, tapi kembali tenang setelah mendapat anggukan kepala Tosai. Semua pertanyaan  yang ada dalam kepalanya mendapatkan jawaban iya.


Tosai menggerakan jarinya agar Elves memegang tangannya. Araria pun mengikuti. Dalam sekejap hanya gelap yang terlihat. Tapi Elves bisa merasakan kepengapan diruangan itu.


BLASH!


Elves dan Araria menghilang. Tosai menjadikan tubuhnya media portal. Dan untuk bisa melakukan itu, hanya yang berilmu tinggi yang bisa melakukannya.


"HAARRGH!"

__ADS_1


Karena menghabiskan banyak kekuatan, nafas lelaki itu tersengal, Maddy mengulurkan butiran obat pada Tosai. Dan lelaki itu menelannya. Ia duduk bersilah di atas kursinya dan dengan tangan didada, membuat obat yang ia telah menyebar cepat ke tubuhnya.


Tbc.


__ADS_2