
Gen mengetuk kamar Ruve. Ruve menarik bantalnya ia tak ingin bangun, ia masih mengantuk. Baru saja ia terlelap.
Matanya pun terasa berat, susah sekali untuk terbuka. Semalam tidak hanya satu dua tetes air mata yang keluar tapi banjir hingga ingusnya pun ikut keluar.
Menyebabkan pagi dengan mata yang membengkak dan suara bindeng. Hidungnya pun memerah karena ia mengusapnya kasar.
"Ruve! Kau tak sarapan!" Gen terus saja mengetuk tanpa jeda. Ruve menendang selimutnya. Ia berjalan dengan terhuyung. Dengan bantal yang siap menghantam kepala Gen.
"Gen kau tahu aku baru kembali tengah malam dan baru bisa tidur saat matahari bersinar, jadi tolong jangan ganggu aku sampai makan malam, oke?"
Omelan Ruve tanpa melihat si pengetuk. Tak ada jawaban, Ruve pun mengintip seseorang di depannya susah payah akibat matanya yang bengkak.
Matanya melebar, harusnya, tapi sekali lagi, karena bengkak jadi siapapun yang melihat matanya hanya terbuka segaris.
Ruve dengan keras menarik tangan Gen masuk dalam kamarnya. Dan menguncinya.
"Kenapa kau membawanya!" Ruve melirik ke arah pintu. Dengan gedoran kencang disana.
"Kenapa dengan pipimu? Matamu? Kau menangis?" Gen mendongakan wajah Ruve.
"Ssttt, itu nggak penting! Kenapa kau membawanya kemari! Dia sudah memiliki pasangan Gen!" Bisiknya. Gedorannya semakin kencang.
"Mm … Ruve kau selalu begini jika tidur!" Ruve bingung, ia sedang serius dan temannya ini malah … ia melirik pakaiannya. Ia hanya mengenakan pakaian tipis tanpa lengan juga celana pendek sepaha dan ketat.
Ruve melihat Gen yang cengar cengir, "Dasar kau mesum!" Ruve membuka pintunya dan mendorong Gen keluar. Dan kembali mengunci pintunya.
"Kau yang menarikku masuk hei Ruve aku tak mesum!" Protes Gen.
"Ruve kau mau sarapan—" Gen mendekatkan wajahnya ke pintu Ruve.
"TIDAK! PERGI KAU!" Teriakan dari dalam. Gen pun mengangkat bahunya ke arah Elves.
"Sudahlah Dude, tunggu sampai perasaannya membaik" Gen merangkul Elves untuk mencari sarapan.
Namun mata Elves terus menatap pintu Ruve, "Aku tak tahu ternyata si derik bisa seseksi itu"
PLAK!
"Jangan dibayangkan!" Elves melirik garang Gen.
"Cemburu … tunggu, kenapa Ruve bilang kau punya pasangan?"
Elves pun mengangkat bahu tidak tahu.
"Wanita sangat susah dimengerti" helaan nafas Gen lelah.
***
Berus mengamati daerah pepohonan hutan. Ditangannya terdapat burung gagak hitam, alat pengintaian hidup milik mereka. Yang remuk dan tewas.
Ini tanda si penyusup masih ada diantara mereka. Dan mereka pasti telah merubah penampilannya.
__ADS_1
Ini juga tanda jika si penyusup menantang mereka, karena dengan berani menyentuh teritori lawan.
Agrabella.
Berus menemui Agrabella di rumah kaca milik wanita itu. Disana sambil melihat-lihat tanamanya. Ia ingin wanita itu meramu teh yang sangat disukai sang Raja dunia bawah.
Teh yang dapat melihat wujud asli dari si peminum.
"Kebetulan ada perjamuan teh setelah bulan purnama. Dan Cahaya ilusi selalu merayakannya, perjamuan ini sebagai rasa syukur rakyat pada Moon Goddess yang selalu menjaga kami."
Jelas wanita itu panjang lebar.
"Kita bisa menggunakan perjamuan itu untuk menangkap mereka"
"Aku tidak setuju, di perjamuan banyak rakyat berbaur menjadi satu. Tidak, tidak, terlalu berbahaya"
"Apa tidak ada cara lain?" Tanya Dylan yang juga berada di tempat itu. Dan juga Orso disana.
Berus sudah mengantongi informasi bangsa dari ketiga penyusup itu. Klan Hyena, Klan burung bangkai, dan melihat korban terakhir dan juga gagak pengintai. Jelas Ular derik.
Dan wanita yang ia tolong semalam salah satu ular derik, kemampuan Berus ia bisa tahu ras apa mereka dari aromanya.
Walau mereka menyamar ia tahu bangsa aslinya. Tapi begitu banyak rakyat Cahaya ilusi, dan selalu keluar masuk. Akan sangat susah.
Mereka buntu.
***
Perutnya lapar. Ia keluar penginapan berjalan di pasar akan sangat menyenangkan.
Ia ingin makanan berkuah hangat. Kedai sop menjadi pilihan. Ia memilih mie sup kuah sapi. Rasanya mendengar namanya saja membuat liurnya meleleh.
"Boleh bergabung?"
Beruang ber-armor, menarik kursi sebelah kiri Ruve. Dan beruang itu tidak sendiri. Ada si macan hitam yang duduk di hadapannya,
Dan satu lagi yang baru pertama kali ia lihat. Rubah putih itu menarik kursi sebelah kanannya, Mereka ber-armor. Sungguh terlihat gagah.
"Oh ya kenalkan, kita belum berkenalan semalam. Orso, dia Berus dan ini Lisica." Ah, Berus nama macan hitam itu.
"Aku kira kalian sudah kenal" Lisica menatap temannya dengan penasaran. Ini kejadian yang jarang terjadi. Berus mau diajak bergabung untuk makan dengan orang asing.
"Kenalkan semalam" Beruang itu mengedip pada Macan hitam yang tak menanggapi.
"Hai aku Lisica," ia mengangguk,
"Ruvera, kalian bisa panggil Ruve"
"Emm … soal semalam, aku meminta maaf dan berterima kasih pada kalian berdua, sebagai rasa berterima kasih, aku akan membayar makanan kalian"
Ruve mencoba ramah. Walau rasa malu membuat pipi wanita derik itu semerah tomat. Apalagi sedari tadi Berus menatapnya tajam.
__ADS_1
"Memang apa yang terjadi semalam?" Tanya Lisica. Memandang ketiganya.
"Aku hanya membantu menenangkan kudanya, tak tahu dengan berus" Orso mengedip menggoda.
"Aku ditindih" ucap suara berat itu. Ruve tak mengira macan hitam itu akan menanggapi godaan temannya.
Warna merah menjalar dari pipi hingga telinga nya. Ruve menunduk. Astaga mengapa dirinya semalu ini, kemana keagresifannya saat bersama Elves, batinnya mengomel.
"Kalian! Sudah jangan menggodanya terus, memangnya kenapa kau ditindih?" Tawa Orso menyembur, ia tak tahan melihat perubahan ekspresi pada wajah Ruve.
"Kau tidak menjawabnya?" Berus dengan tampannya yang datar.
"Dia menyelamatkanku jatuh dari kuda dan aku jatuh diatasnya" suara Ruve mencicit, ia menggigit bibirnya.
"Sudah, sekarang aku serius. Maaf ya Ruve mereka ini suka jahil"
"Bukan jahil tapi membully" oceh Ruve.
"Ini pesanannya, selamat menikmati." Pelayan membawakan pesanan Ruve.
"Bisa dibungkus saja" Ruve meminta pelayan membungkus pesanannya. Ruve menggeser mangkoknya.
"Katanya kau akan membayar makan kami?" Ruve menepuk dahinya. Ia lupa.
"Ah ha ha ha tak jadi" Tawa yang dipaksakan. Ia mendekatkan lagi mangkoknya.
"Apa ini enak? Kelihatanya sih enak, pelayan aku mau ini" Lisica menunjuk pesanan Ruve.
"Aku juga" Orso ikut memesan pesanan yang sama walau si beruang itu tak berhenti terkekeh.
"Tiga" Berus pun ikut, "Bukannya kau tak suka mie dengan sup" Orso suka sekali menjahili Berus.
"Benar, aku ingat, saat makan di rumahku, kau menolak mie dengan sup buatan Ratu" Kapan lagi bisa membully Berus pikir Lisica.
"Kau bisa memesan yang lain jika kau tak suka, aku akan memesannya untukmu" Ruve akan beranjak namun tangan Berus menghentikanya.
"Tak perlu aku makan itu saja" Ruve memperhatikan tangan yang Berus sentuh. Lama.
"Ehemmm"
"Uhuhm … " suara deheman dan batuk membuat Berus dan Ruve tersadar. Beeus melepas tangan Ruve dan Ruve merasa sangat canggung.
"Ah ya, ya tak apa kalau gitu" jawab aneh Ruve. Dan wanita derik itu dibuat mati kutu. Ia menyesap mie kuahnya hingga terbatuk.
"Uhugh … hugh"
"Ini minum, pelan-pelan kalau makan" Berus memberi minuman pada Ruve, lelaki itu juga menepuk perlahan punggung Ruve. Berus berada di samping Ruve,
Dan kejadian itu disaksikan oleh banyak mata, dengan banyak perasaan tergambar disana. Terlebih dua sosok yang menatap tajam pasangan itu.
Tbc.
__ADS_1