
Bukan tanpa alasan Yara membunuh keduanya. Ia telah mendengar nama Hansel dan Gretel sebelum, Scrotus bawa mereka ke Arena Urban Latan.
Keduanya sangat kejam. Tidak peduli sasarannya wanita atau anak kecil. Mereka libas semuanya.
Bahkan ia juga memperdagangkan korbannya. Bandit bodoh yang hanya tahu, uang, judi dan minuman. Membaggakan tubuh kekar yang tak memiliki kekuatan itu.
Menggelikan.
Yara keluar dari Arena. Opal menyambutnya. Ia telah lama tak melihat Yara. Juan berkata Yara sedang sibuk dalam misi penting.
"Kau datang? Dan melibas keduanya."
"Ya, sampaikan salamku pada lelaki tua itu, juga katakan padanya, apa ia kehabisan petarung hingga ia menggunakan bandit tak berotak ini"
Yara menepuk Opal. Ia memiliki rencana. Otis memanggil dirinya. Ia harus kembali ke markas khusus milik Hugo.
"Kalian?"
Hugo juga berada disana,
"Aku keluar dari tanduk hitam. Mereka mencurigai ku. Mereka membatasi gerak-gerikku."
"Ale aku tahu kau memiliki anak buah disana. Suruh berhati-hati. Pemimpin baru mereka dikenal lebih kejam dan tanpa perasaan dan kenyataannya begitu"
"Saat kau ikut Scrotus, apa kau pernah mendengar Jillian Hunter?"
Ale mengangguk.
"Aku tak pernah melihatnya tapi santer rumor beredar ia pembunuh berdarah dingin dan tak pandang bulu, petarung yang harus kau hindari."
"Benar rumor itu benar, ia membunuh tanpa ekspresi."
"Yang membuatku memanggil kalian, Hugo mendengar jika si Jillian ini terobsesi dengan kalajengking."
"Apa maksudmu, ini ada hubungannya dengan Yara?"
"Belum dipastikan,"
"Dan mungkin saja ia sedang memburu Hugo"
Yara duduk si taman yang berada di Markas khusus. Ia mendapatkan mimpi aneh dan itu hanya sepenggal-sepenggal. Namun yang membuat Yara teringat mimpi itu adalah penggalannya selalu menyambung satu dengan lain.
Juga sensasi yang Yara dapat setelah bermimpi ia akan bangun dengan rasa takut berlebih.
__ADS_1
Rasa takut yang membuatnya sesak nafas. Ia merasa listrik menjalari jantungnya menyekat sakit. Ia merasakan penderitaan itu setiap kali terbangun.
Mimpi yang menggambarkan seorang anak dengan lelaki dewasa. Yara merasa jika ia menghormati lelaki itu. Tapi Yara tak mengenalnya.
Ia belum pernah mengenal sosok yang ada dalam mimpinya. Dan Yara belum ada niatan untuk menceritakan mimpinya ini pada Ale, Otis dan yang lainnya.
Ia masih meraba. Jika nanti di tengah jalan ia tak kuat maka itu waktunya Yara bercerita dan meminta bantuan.
Wajah Yara mengkerut. Rasa sakit meremas jantungnya.
"Ughrr … hhh … hhh "
Yara mencengkram kain mantelnya. Ada suatu dorongan yang ingin keluar dan itu menyakitakan.
Rasanya tubuhnya dengan perlahan dibelah dan sedikit demi sedikit sesuatu itu keluar.
"HAARGH!"
Mendesak dengan paksa mendorongkan. Tubuh Yara berkedut. Kukunya mencengkram bangku yang ia duduki itu.
"Hhh … hhh … hhh "
Yara menunduk. Nafasnya tersegal. Ale berlari mendekat. Ia mendengar teriakkan Yara. Dan mencarinya.
Ale menggoyang tubuh itu. Wanita Itu menghela nafas kasar.
"Ayo kita temui Otis."
"Aku tidak apa-apa Ale"
Suaranya lembut dan formal. Bukan diri Yara sekali. Jika Gilda bersuara dengan nada keras dan memerintah bahkan menggoda. Yara dengan ketus, juga manis.
"Siapa kau?"
Tawa menggelegar hingga membuat Yara mendongak.
"Kau tak bisa dibodohi Ale. Kenalkan aku Zara, Elf putih"
Yara menatapnya. Bola mata Yara memutih dan sekelilingnya menghitam. Ia terlihat lebih dingin dan mematikan.
"Apa yang kau mau?"
"Tentu saja tubuh ini"
__ADS_1
"Aku membutuhkan tubuh ini! Dan berikan padaku!"
"Wanita bodoh ini bimbang untuk memilih, dan aku akan katakan jika ia harus memilih diriku, dan ia akan menjadi kuat untuk memiliki dunia"
"Mengapa tak kau rebut saja tubuhnya? Kau begitu inginnya ia memilihmu. Apa … karena kau tidak bisa merebutnya? Kalian di bawah kendali Yara?"
"Cih! Apa hebatnya dirimu, sampai mereka suka padamu?"
"Terima kasih, sanjunggannya, tapi tak perlu"
"Kau arogan!"
"Dan lebih bodoh lagi mereka berdua! Telahbkau sakiti dan masih suka. Jika aku mendapatkan tubuh ini pertama yang aku lakukan memenggal kepalamu!" Tampang dingin dengan tatapan tajam.
"Aku menantikannya, dan sekarang kembali ke tempatmu"
"Yara bangun!"
"BANGUN YARA!"
Ale memeluk Yara dari belakang. Berkata di dekat telinga Yara.
"Sial! Lepas" Zara berontak namun tak lama. Yara asli terbangun. Ia mengerjab. Tersenyum pada Ale.
"Kau kembali"
***
Otis dan Hugo mendatangi Dantau, lelaki itu nampak sehat.
"Mereka pasti masih mengintai diriku, apa kalian tidak takut jika aku akan menusuk kalian dari belakang"
"Mereka hanya menggunakan diriku, mamanfaatkan semua yang terlibat untuk menghancurkan Elf Hitam dalam diri Yara"
"Mereka mengincar Elf putih"
"Apa yang mereka incar? Kekuatannya?"
"Bukan kematian kedua Efl yang berada di tubuh Yara. Alias kematian Ratu mimpi. Kematian Yara"
"Kematianku?"
"Yara!"
__ADS_1
tbc