Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 111. Kisah Yara Alejandro 18


__ADS_3

Otis semakin mengagumi 'Tuan Ulat' dengan keterampilannya untuk membuat barier baru. Lelaki itu memutuskan untuk bergabung dengan Hugo.


Mereka kembali ke markas khusus milik Hugo. Otis tidak seperti Ale dan Yara yang bebas. Ia seorang ketua garda depan Desa Combo jadi tidak tinggal di Markas Khusus.


Lagipula yang Hugo butuh dari Otis adalah ramuan milik lelaki itu. Ramuan obatnya tidak kalah dengan apa yang Orang tua Yara buat. Namun sama-sama efeknya luar biasa.


Kabar Razor dengan Ulalatnya semakin santer terdengar. Tapi tidak membuat Hugo menurunkan petarung yang ia miliki.


Hugo malah mengirim para petarungnya untuk pergi ke desa lain. Dan dalam perjalanan ada yang mengikuti mereka.


Sosok yang muncul selalu di depan Yara. Dengan seringaian yang menakutkan. Yara tidak kenal dengan sosok itu.


Tapi merasa risih. Saat sosok itu kembali menampakkan wujudnya Yara mengejarnya. Ia hanya ingin tahu apa mau sosok itu padanya.


Yara mengejarnya. Dan saat Yara berada di tempat sosok itu berdiri. Sosok itu menghilang. Yara tidak putus asa, ia masih mencari sosok itu dan saat ia berbalik ia melihat sosok lelaki tersenyum miring.


"Apa maumu!"


"Tidak ada"


"Hanya menyampaikan salam padamu" ucapnya dengan senyuman.


Lelaki itu berwajah tampan, dengan rambut keriting panjang keemasan, tubuhnya tinggi dan kuku jemarinya berwarna hitam.


Sosok itu akan menyerang Yara, bersamaan suara derapan langkah Ale yang mendekati Yara. Sosok itu lenyap seperti angin didepan Yara.


Serangan dadakan yang membuat degup jantung Yara berhenti. Tubuh Yara bergetar. Baru pertama kalinya ia merasakan ketakutan yang luar biasa.


"Kau tak apa?" Ale menggoyangkan tubuh Yara. Lelaki itu melihat tatapan kosong juga ketakutan wanita itu.


Yara menarik Ale dan merengkuh lelaki itu. Kencang. 


"Tunggu sebentar"

__ADS_1


"Pinjami aku tubuhmu sebentar"


Air mata Yara mengalir. Matanya memerah, efek dari serangan yang belum mengenainya itu sungguh besar.


Sosok itu seperti mengenal dirinya, dan dalam kelebatan Yara kembali mengingat sebuah peristiwa yang membuatnya ketakutan.


Ia seperti berada di kegelapan, dengan suara menyeramkan memanggil dirinya. Ia merasakan tangan hitam menyergap Yara kecil.


Tangannya meremas tubuh Ale. Lelaki itu bisa merasakan jika tubuh mungil didekapannya bergetar.


Perlahan Ale mengelur punggung Yara. Tanpa kata. Mereka berada dalam jarak yang amat dekat.


Nafas Yara berangsur tenang. Ia mendorong perlahan tubuh Ale.


"Terima Kasih" ucap Yara. Ia menggigit bibirnya. Harusnya ia tak memperlihatkan kelemahannya.


"Kau tak apa?"


"Tak apa, lebih baik kita kembali" ucapnya dingin.


***


Setelah kejadian itu. Yara serasa dihantui oleh mimpi buruk itu. Kembali ia masuk dalam mimpinya. Disana sosok hitam menangis dihadapannya.


"To-tolong aku Yara"


"Selamatkan aku"


"Siapa kau?" Yara mendekati sosok hitam yang meringkuk didepannya.


"Aku adalah dirimu"


"Hanya kau yang bisa menolongku" ucapnya.

__ADS_1


"Genggam tanganku" ucap sosok itu. Tangan hitam itu dengan cepat meraih dan menjalari tangan Yara yang terulur.


Blash!


Sosok Yara yang tertidur terbangun dari ranjangnya. Rambutnya tampak berantakan ia terkekeh. Yara mendongak dengan gelegaran tawa.


"AKU BEBAAASS!"


"Terima kasih Yara, AAKU BEBAAAASS!!"


Yara kembali terkekeh keras. Matanya terbuka bola matanya berwarna merah. Menyeringai. Ia beranjak dengan terhuyun


"Aku berjalan" Yara membuka pintunya. Dan ia menyusuri lorong. Masih mengumam diselingi dengan kekehan.


"Yara?" Suara berat Ale menegur wanita yang ia kenali dari postur mungilnya.


Yara membalik tubuhnya dengan cepat berlari dan menubruk tubuh Ale. Langkah kaki terdengar mendekat. Ale membawa masuk Yara dalam kamarnya.


Yara tak pernah se teledor ini, ia tidak memakai atribut 'Tuan Ulat' nya. Kekehan terdengar dari pelukkannya.


"Yara kau tak apa?" Wajah Yara mendongak, matanya yang berwarna merah menatap dengan wajah yang menggoda.


"Hai tampan, aku suka aroma tubuhmu" Yara mendekatkan wajahnya pada leher Ale.


"Siapa kau?" Tanya Ale dingin.


Yara hanya tertawa. "Aku adalah elf hitam, Ginda" ucapnya memperkenalkan diri. 


"Ah, sepertinya aku harus pergi, Ini sebagai hadiah pertemuan kita tampan"


Dengan lancang ia mencium pipi Ale. Dan tubuh Yara kembali jatuh dalam pelukan Ale. Lelaki itu menegang di tempatnya.


Elf Hitam.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2