Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 51. Akar Bulkie


__ADS_3

Berus dan Orso sudah tiba di Cahaya ilusi, mereka tidak sendiri, mereka membawa berapa anak buah yang terlatih.


Mereka langsung menyebarkan gambar ketiga orang yang mereka curigai ke seluruh sudut Cahaya ilusi.


Banyak laporan yang masuk dalam rumah ceret teh. Dan ada yang salah orang, banyak juga yang pernah berpapasan dengan mereka.


Ada yang bercerita bahwa mereka melihat saat ketiganya dan korban terakhirnya, si anak yang mengatai si penyusup dan si penyusup yang ada disana.


Juga tentang Gior, beberapa melihat ketiganya berada di bar dan kedai yang sama. Dan menguatkan kecurigaan mereka.


Los berjalan untuk mencari makan, ia menggunakan penyamarannya, dan itu suatu langkah yang benar, saat ia sedang menunggu makanannya, sekumpulan prajurit Phoenix Way datang dan menempelkan gambar mereka.


Ia melihat pengumuman itu. Ia kembali dengan tergesa. Ia menuju tempat persembunyiannya, hutan perbatasan.


"Ketua, mereka meminta bantuan prajurit Phoenix Way, dan gambar kita bertiga tersebar di seluruh Cahaya ilusi"


Mateo yang memainkan bolanya terhenti. "Ini tak baik, aku tak ingin berurusan dengan Phoenix Way" Mateo beranjak. Ia menatap hutan gelap.


"Kita harus segera menemukannya"


"Apa wanita yang kau cari juga memiliki rantai dari jari?" Findel menatap sang ketua yang kembali memainkan bolanya.


"Ya seperti klan mu dengan cara membunuh mengambil jantung kami Ceras Viper juga memiliki kekuatan sama. Iya, dia memilikinya."


Mateo memainkan bola-bola, karena saat ini ujung-ujung jarinya sangat gatal.


"Tadi pagi aku melihat seorang wanita dengan rantai yang sama, saat aku kejar mereka telah menghilang. Aku yakin mereka menginap di penginapan yang sama"


Findel merasa bersalah, tatapan mata Mateo menajam, tak ada lagi cengiran, tangannya terangkat, ia melempar keras bola-bola itu pada Findel.


Hyena itu terhuyung diam, bola itu mengenai kepalanya, tepatnya mengenai pelipis, dan darah segar keluar dari pelipisnya.


"Kenapa kau tak bilang! HAH!" bentak Mateo.


"Maaf ketua" hanya itu.


"Kita kembali dengan penyamaran dan kita berpencar" perintah Mateo.


Mateo keluar hutan, Los menyusul kemudian. Dan Findel tetap tinggal, ia akan kembali nanti.


Saat tengah malam, Findel berjalan memasuki Cahaya Ilusi. Ia melihat gambar wajah mereka. Ia mendekat dan meremas gambar itu.


Ia marah, dengan julukan Para Bandit Sampah.


Ia harus melampiaskan nya, ia berubah, ia keluar dari Cahaya ilusi, ia tak ingin membuat kecurigaan pada mereka bertambah. Ia masuk ke perbatasan.


Ia mendengar derapan langkah kuda. Mata tajam Findel menajam. Ia melihat seseorang dengan mantel bertudung.


"Kau sedang tak beruntung."


Findel menghadang. Kuda seseorang itu terkejut ia mengikik dan berontak. Manun dengan cekatan orang diatas kuda itu menenangkannya.


"TENANG HORSI! IA TAK APA! TENANG!" Kuda itu tidak tenang ia masih saja bergerak tak tentu arah. Kesempatan ia menyerang seseorang yang ternyata wanita itu.


Ia melancarkan aksinya. Findel melompat ke arah wanita itu. Dengan gerakan yang lincah wanita itu sudah bergelantung di dahan pohon menghindari serangan Findel.


"Ternyata kau bandit! Hei bandit aku sedang buru-buru bisa nanti saja" itu adalah Ruve.


Geraman terdengar mengerikan,  namun Ruve tak peduli, ia harus segera kembali, dan bertemu dengan Elves.


"Tuan bandit, jangan halangi jalanku oke, aku tak ingin bertemu dengannya dengan wajah yang lebam, atau bibir yang robek"


"AARH BERISIK!" Findel, sudah muak dengan sebutan bandit yang Ruve ucapkan. Findel gak lagi menunggu ia menyerang Ruve dengan agresif.


"Kau sangat agresif Tuan Bandit." Ruve menghindar dan berusaha membuka tudung kepala Findel. Tangannya menepis serangan-serangan Findel.


Dan merasa terpojok Ruve, menepuk keras dada, Findel yang terus melawan maju. Dan akhirnya lelaki itu mundur karena serangan Ruve pada dadanya.


Amarahnya memuncak, Geramannya kian mengeras. Findel melancarkan tinjuannya, dan mengenai wajahnya, ia lengah.


Ruve meludah darah. "Siaal!" Makinya,


"Aku benar-benar tak ada waktu untuk bermain" lanjutnya,

__ADS_1


Dengan gerakan lincah Ruve berhasil membuka tudung kepala Findel dan mengikat tubuh Hyena itu dengan rantai hitam miliknya.


Findel dibuat terkejut. Ia lengah dan ia terikat kuat. Pada batang pohon.


"Ah ternyata kau lelaki tampan, tapi sayang aku telah menjadi milik Elves. Dan aku ingin bertemu dengannya, jadi kita akhiri disini"


Ruve melepaskan rantainya dan Findel sudah terlilit oleh dahan tanaman rambat yang kuat.


"Dah tampan semoga kita bertemu lagi, "


"HARGH!" Findel melepas dahan tanaman rambatnya dengan mudah. Ia melompat dari satu pohon-ke pohon lain. Mengejar Ruve. Wanita ini incaran mereka.


Findel mengikuti kemana Ruve pergi. Dan ia melihat Ruve masuk ke rumah ceret teh.


"Ya sampai ketemu lagi manis" seringaian mengerikan tercetak pada bibir Findel.


***


Taman Jiwa, sebelum pulang ke Ceret Teh.


Ruve memandangi, sosok yang sedang tertidur di depannya itu. "Apa kubilang dia hipotermia Rooth, kau harus tanggung jawab!" Ruve mengomel.


"Mana ada yang dicuri bertanggung jawab atas kebodohan pencuri" Rooth ketus.


Ia sama sekali tak menyetujui usulan Ruve yang mengharuskan wanita pingsan ini dibawa masuk ke dalam taman jiwa.


Tapi sekarang wanita pingsan ini sudah masuk di taman jiwa.


"Biarkan saja, dengan menghirup wangi akar bulkie segala penyakitnya akan hilang"


"Rooth apa ini bisa menghilangkan racun dalam tubuh ku?" Tanya Ruve.


Root menukikkan alisnya. Tak mungkin orang sesehat Ruve menelan racun kan ia juga beracun. Sungguh aneh wanita ini, batin Rooth.


"Tak bisa" jawab Rooth tegas.


"Yah! Padahal kalau bisa aku tak perlu jauh-jauh mencari kristal abadi"


"KRISTAL ABADI?" Wanita yang pingsan itu sadarkan diri. Ia menatap sekelilingnya hanya ada ladang tanaman aneh juga seorang gadis cantik.


"Benar sekali anakku, kau ada di khayangang, bersama dewa dewi, kenalkan Aku Dewi Ruvera" Ruve berakting seanggun mungkin.


PLETAK!


"AWH! Sakiiiit" ia mendekat pada kerikil.yang entah dari mana datangnya. Dan susah dipastikan kerjaan Rooth.


"ROOTH! Kau tega!" Ruve cemberut dengan ia menatap ke langit. Ia menganggap Rooth sedang melihat dirinya. Benar, Rooth sesang melihat tingkah Ruve dan menghela nafas kesal saat ini.


"Kau siapa? Dan sedang berbicara dengan siapa?"


"Oh aku Ruve, aku bicara dengan penjaga taman jiwa, dia yang menghalangi kau untuk masuk kesini"


"Taman Jiwa? Kenapa aku berada disini, tadi aku—"


"Kau pingsan, kau ingin akar bulkiekan?" Ucap Ruve.


Wanita itu mengangguk, "Tujuan utamamu meminta akat bulkie untuk apa?"


"Kuberikan pada lelaki yang aku kagumi" wanita itu tersipu. Ruve yang merasa memiliki tujuan sama, langsung duduk disebelah wanita itu.


"Sama denganku, lelaki yang aku sukai eh ralat aku cintai, sedang marah karena aku menuduhnya berselingkuh, aku ingin minta maaf. Dan membawa barang yang ia inginkan." Curhat Ruve.


"Dan kau mendapatkan akar bulkie itu?" Ruve mengangguk senang. Wanita di depannya mendadak sendu.


"Kau kenapa?"


"Aku juga ingin menghadiahkan akar bulkie padanya" ini tak bisa dibiarkan, para pengejar cinta harus saling dukung.


"Rooth! Beri … "


"Emm … namamu siapa?"


"Araria"

__ADS_1


"Oke, sekali lagi, Rooth boleh aku membagi Akar Bulkieku dengan Araria"


Rooth tak menduga, Ruve meminta miliknya dibagi dua, Rooth kira Ruve memintakan satu lagi untuk Araria.


Rooth tak menjawab. Ia tak ingin menampakkan suaranya pada wanita itu. Ia melihat adanya lingkaran hitam yang menaungi hatinya.


Itu pertanda ada hal tidak bagus pada sosok wanita itu.


Tak terasa malam purnama pun tiba. Mereka berdua, berhadapan dengan rahasia semesta yang tidak semua orang bisa melihatnya.


Mekarnya Akar Bulkie, sinar bulan, membuat kuncup-kuncup mengeluarkan sinar keemasan, lalu setiap kuncup, menumbuhkan bunganya.


Bunga indah, dan setelah bunga membesar, tumbuh butiran merah delima, sinar merah memenuhi ladang. Luar biasa indah.


"Andai aku bisa memperlihatkan keindahan ini pada Elves" guman Ruve.


Lalu meredup. Keajaiban yang singkat dan membuat nyaman.


"Kau boleh mengambil satu" Suara Rooth kembali terdengar setelah lama ia tak menanggapi obrolan Ruve dan Araria menyangka Ruve gila.


"Siapa itu?" Araria terkejut. Suara lelaki yang terdengar. Hanya ada dirinya dan Ruve disini, dan mereka berdua wanita.


"Itu Rooth si ketus tapi pemalu" Ruve terkekeh.


"Ambil cepat atau aku berubah pikiran" Rooth ketus.


"Lalu aku boleh membaginyakan?" Ruve bertanya, 


"Terserah, ketika kau memetik satu dan itu menjadi milikmu" Ucap Rooth.


"Oke aku akan pilih yang besar dan panjang juga bersinar paling terang" niat Ruve, cengirnya bercanda.


Ruve masuk dalam ladang, ia merasa masuk dunia mimpi, ia menyentuh bunga-bunga itu, dan sinarnya menempel pada tangan Ruve.


Perasaan Ruve hangat, bahagia, dan gembira. Rasanya ia ingin berlari mengitari lapangan ini, dan Ruve melakukannya.


Araria melihat itu berpikir Ruve memang gila.


Dan Ruve telah memetik satu. Dan membawanya kembali ke tempat Araria. 


"Aku sudah mengambil satu, ini" Ruve memperlihatkan akar bulkie seukuran jari. Ia memotongnya menjadi dua dan memberikannya pada Araria.


"Ini" Araria bingung.


"Bukannya tadi kau bilang ingin memetik yang panjang juga besar?"


"Tidak aku hanya bercanda, Bunga ini hanya tumbuh satu tahun sekali, dan tanaman ini sangat penting untuk dunia, aku tak boleh egois, hanya karena keinginan hati."


"ROOTH TERIMA KASIH, MENEMANIKU SEHARIAN INI," Teriak Ruve.


"Iya tak usah berteriak juga!" Rooth membalasnya.


"Salam untuk Raja Marzon ya, bilang terima kasihku dari penggemar beratnya"


"Apa aku boleh bertemu denganmu, apa kita bisa bersahabat?"


"Sudahlah Rooth tak usah tak mau kau punya teman, Ruve apa kabar? Aku sedang bersama Rooth melihatmu dari taman Jiwa"


"Mariiiiiii aku sedang memperjuangkan maaf saat ini"


"Hah! Kenapa? Kau harus bercerita!" Mari adalah peri Gunung Rosemary, penjaga bunga Ploppy.


"Iya nanti ya, setelah semua selesai, aku janji bercerita"


"Sudah sana, pulang sana cepat!" Usir Rooth.


"Aku kembali ya, ROOTH TERIMAKASIH SAHABAT! daaaaa …. " 


"Jaga diri, dan berhati-hatilah Ruve" ucap Rooth. Melihat Ruve dari tempatnya.


"Senang sekali kau dapat satu lagi sahabat sekarang, selain aku dan Raja Marzon juga Ratu Bharat." Mari menyenggol ranting-ranting Rooth.


"Dia baik."

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2