Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 40. Bandit Yang Tak Mau Disebut Bandit


__ADS_3

Elves merasa tangan Ruve bergerak di tangannya. Ia tersentak, Ruve kejang, sama seperti apa yang ada di buku Gilberto.


Lalu mulutnya mengeluarkan busa, itu proses dari pembersihan racun yang ada dalam tubuh Ruve.


Setelah kejangnya selesai Elves mengompres dahi Ruve dengan air hangat. Ia membersihkan busa pada mulut Ruve.


Tubuh Ruve masih berwarna hijau. Dan jeda tiga puluh menit, Elves meminumkan Ruve air. Lalu nanti tiga puluh menit selanjutnya, lagi, Ruve harus minum air. Agar cepat ternetralisir semua racun.


"Kau istirahatlah aku akan menggantikanmu" Gen menguap, ia terbangun. Elves mengangguk lalu beranjak dari tempatnya. Ia keluar, menuju ruang depan, ia melihat Resgulas yang berjaga.


"Resgulas apa kau punya coklat hangat?" Elves lapar tapi ia malas makan, coklat hangat dengan susu cukup untuk malam ini.


"Sebentar saya buatkan" 


"Tolong dua gelas" Pinta Elves, sebelum Regulas menghilang di dapur. Elves berjalan gontai. Ia duduk di kursi tunggu.


"Pangeran Elves? Pangeran? Saya sudah menyiapkan kamar tamu, mari saya antar ke kamar" Elves membuka matanya, ia meregangkan tubuhnya. 


"Tak apa, aku akan kembali ke tempat Ruve. Terima kasih coklat hangatnya, tapi mungkin temanku akan menggunakan kamar tamunya"


"Baik, silahkan hubungi saya saja" Regulas kembali ke tempatnya. Elves kembali ke ruangan Ruve dengan membawa dua cangkir ukuran besar coklat hangat.


"Gen, ini, isi perutmu" Elves menyodorkan satu cangkir untuknya. Dan satu lagi ia nikmati. "Thanks dude" Gen menyesap cairan dalam cangkir itu.


Hangat, manis dan membuat nyaman. Ia menyesap lagi, hangat mengalir ke dalam perutnya yang kosong, ternyata ia lapar.


"Kau bisa melanjutkan istirahatmu, kau juga di serang Golum, temui Rasgulas di resepsionis, ia sudah menyiapkan kamar kosong" kembali Elves menghirup wangi coklat pada cangkirnya.


"Oke aku istirahat dulu" Gen pun keluar mencari Regulas.


Elves meletakkan cangkir coklatnya di nakas ranjang. Tangannya terulur, menyentuh dahi Ruve dan ia merasakan suhu tubuh Ruve sudah turun. Dan membuat Elves lega.


Ia merapikan selimut Ruve. Hanya saja kulit kehijauan Ruve belum berubah. Gurunya bisa memprediksikan segalanya.


***


"Mereka cukup pintar rupanya" Los berkomentar tentang apa yang mereka dengan dikedai. Mateo sibuk memakan roti sisa makan siangnya tadi.


"Tak menyangka mereka akan secepat ini menyadari adanya penyusup. Aku terlalu meremehkan sistem keamanan mereka"


Los kembali berbicara. Sedangkan Filden sejak tadi berdiam dengan memandangi kegelapan hutan diluar sana.


"Berarti kita harus cepat, sebelum mereka menemukan kita." Sambung Mateo.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak keberatan jika mereka tahu siapa kita, sudah lama tubuhku tak bergerak." Filden meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Jangan dulu buat kacau, temukan dulu wanita itu, setelahnya terserah padamu."


Saran Los, ia tidak ingin membuat keadaan semakin menyusahkan untuk dirinya, saat ia tidak tahu keberadaan targetnya. Dan itu akan membuat apa yang ia lakukan sedari awal sia-sia.


"Benar, jangan mengacau, penting, kontrol emosimu! Jangan seperti di kedai siang tadi" Mateo menatap lurus dingin pada Filden juga Los, bersamaan mereka mengangguk,


"Baik ketua"


Cengiran tercetak pada wajahnya. Cengiran menyeramkan.


"Kau keluarlah Filden, renggangkan ototmu, kau bisa bermain-main dengan penjaga bagian Timur."


"Buat dia menyesal telah menyamakan kita dengan para bandit rendahan itu" Mateo melahap potongan terakhir roti isinya. Ia memainkan bola-bolanya.


"Baik ketua" Filden membuka jendela kamar penginapan. Ia keluar balkon dan melompat turun dengan lincah. Ia masuk ke arah hutan dan menghilang  menuju bagian Timur Cahaya Ilusi.


***


Dalam kegelapan ia lepaskan tudung kepalanya. Wajahnya ditumbuhi bulu, geraman terdengar tak sabar ingin mencabik-cabik targetnya. Ia berada disisi Timur Cahaya Ilusi.


Mata tajamnya tidak melepaskan buruannya. Targetnya keluar, perlahan ia meninggalkan tempatnya. Ia ikuti sang target.


BRAK!


"Ampun!" Lelaki tua itu tersungkur.


BUGH! BUGH! BUGH!


"Am,ampun … ampun tuan!" Suaranya gemetar, wajahnya babak belur, darah segar keluar dari hidung dan mulutnya. Lelaki tua itu merintih dibawah kakinya.


"Kalian perusak pemandangan harusnya kau menghilang pak tua" ucap lelaki muda. Si target.


Dari atas Filden memperhatikannya.


"Kaum rendahan seperti kalian pantas mati!" Rintihan terdengar dari lelaki tua yang sedang dijambak itu. Lelaki muda mendorong kepala pak tua ke tanah.


BUGH! BUGH! BUGH!


DRUAK!


"Bandit siaalan! kau mencemari udara, cih!" Lelaki muda itu meludahi lelaki tua yang terkapar, rintihan dan isakan bergema di gang kosong ini.

__ADS_1


Filden melompat turun. Dan berdiri tepat di depan sang target.


"F^ck!" Makinya.


"Berdiri!" Desis Filden.


"Hey dude, siapa kau?" Lelaki muda itu mendorong bahu Filden.


"Berdiri!" Lagi Filden mendesis.


"Hey pergilah dari hadapanku! Jangan mengganggu!" Usir si lelaki muda, suaranya meninggi, Dengan mendorong bahu Filden.


"BERDIRI!" Bentakan bercampur raungan, membuat lelaki muda memundurkan tubuhnya.


Ia melihat pak tua itu berdiri dengan susah payah. Filden melangkah mendekat.


"HURGH!"


Tangan Filden menembus punggung lelaki tua itu dengan jantung berada di genggaman. Ia menarik tangannya dan membiarkan jasad si lelaki tua itu tergeletak ditanah.


Ia berbalik ia melihat wajah lelaki muda yang ketakutan. Ia berjalan mendekat, lelaki muda itu mundur menjauh.


"Kau terlalu lama dan aku mempercepatnya" Filden mengarahkan jantung itu ke wajah lelaki muda, yang berbalik cepat dan memuntahkan isi perutnya.


"Kau terlalu lemah untuk seorang yang arogan," Filden meremas jantung itu hingga hancur dan menciprat ke wajah lelaki muda.


"Aaargh" ia mundur terlalu terburu hingga tubuhnya jatuh ke tanah, ia ingin melarikan diri. Memundurkan tubuhnya. Lalu merangkak.


Filden mengikuti kemana lelaki muda itu akan kabur. Lelaki muda itu tak menyadari Filden mengikuti dirinya. Ia mencoba bangun. Tapi Filden tak sebaik itu untuk melepaskan buruannya.


Ia mencengkram leher lelaki muda itu kencang. Dan tangan satunya menuntaskan. Menembus punggung. Saat itu terlihat wajah pucat pasi dan basah oleh air mata.


Filden melepaskan cengkraman pada leher pemuda yang telah tewas itu. Dan meraih name tag, Robin.


Filden mematikkan api, membakar semuanya, memastikan yang kali ini benar-benar menjadi abu, hingga tuntas. Tercetak senyum kepuasan diwajah dingin itu.


Filden kembali ke kamarnya dengan melewati jendela kamar, tubuh penuh darah. "Bersihkan tubuhmu!" Perintah Mateo.


Ia segera melenggang ke kamar mandi. Los masuk ke kamar mereka dan berpapasan dengan Filden. Matanya membulat.


"Hal menyenangkan apa yang terjadi?" Ia menunjuk Filden. Melihat tampang rekannya yang sedang senang, dengan tubuh penuh cipratan darah segar itu.


"Entah" Mateo hanya mengangkat bahunya. Ia kembali memainkan bola yang sebesar bola ping-pong, memutar bola-bola itu dengan satu tangan. 

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2