
Ruve mengetuk kamar Elves. Lelaki itu apa baik-baik saja. Pikirannya melalang buana pada Elves. Ia tidak bisa tidur dan saat mengintip keluar, ia melihat cahaya dari cela pintu Elves.
Ia turun dan menuju dapur. Regulas memberitahu bahwa jika mereka haus atau mau membuat sesuatu, mereka bisa menggunakan dapur bersama.
Ditangannya ada dua buah gelas dengan teh panas mengepul. Ia mengetuk pintu Elves dengan menggunakan rantai pada jari kelingkingnya.
"Elves?" Ruve masih mengetuk. Ia bisa melihat bayangan mendekat pada cela pintu. Bunyi kunci dibuka.
"Kau baik-baik saja?" Ruve bertanya ia bisa melihat kelelahan pada raut wajah Elves.
Elves membuka lebar pintunya, agar Ruve bisa leluasa masuk ke dalam. Ruve masuk masih membawa dua cangkir tehnya. Elves duduk di tempatnya semula. Ia mengambil buku kecil dan kembali membaca.
"Duduklah" setelah Ruve hanya berdiri menunggu Elves menawarinya duduk. "Kau sedari tadi membaca buku itu?" Elves mengangguk. Pemuda itu membalik lembar demi lembar mendiamkan Ruve.
"Ini aku buatkan teh, tenang, aku membaca arahan dari Tony bagaimana membuat teh" Ruve menjelaskan ia mengikuti petunjuk saat membuat teh itu tidak asal tanpa takaran.
"Letakkan saja disana" sunyi Ruve mengamati Elves. Lelaki itu memang kelihatan lelah, bukan kesedihan mendalam yang terlihat pada gestur pemuda itu melainkan dingin dan tak tersentuh. Dan Ruve tidak suka.
Ia tidak mengenal lelaki di depannya ini, seperti bukan Elves yang ia kenal. Yang ini tidak tergapai. "Elves kau baik?" Tanya Ruve lembut. Ruve menyentuh tangan Elves yang membalik lembar buku kecil di tangannya.
Akhirnya Elves menatap lurus pada Ruve. Lalu ia menunduk dan bahu pemuda itu bergetar. Ruve tahu tak mungkin Elves baik-baik saja.
Ruve mendekap kepala Elves, mengelus rambut pemuda yang terisak di dadanya. Ruve masih tak tahu apa yang Elves dapatkan dari buku tebal milik sang guru itu.
Kesedihan Elves menjalar pada Ruve. Pangeran Elf itu sangat rapuh saat ini. Ia merangkul Ruve dengan erat. Meminta kekuatan dari wanita derik itu.
Ruve tidak mengetahui tentang sihir penyembuh atau apapun tentang pengobatan, namun Elves pernah mengajarkan tentang sihir penenang.
Ruve menggambar sigil diatas kepala Elves dan sigil itu masuk ke tubuh lelaki itu. Dan perlahan membuat kesadaran lelaki itu menghilang.
Ruve memeluk Elves, ia berdiri.
TRAK!
Membiarkan buku kecil itu terjatuh. Ia memapah lelaki itu untuk menuju ranjangnya dan melemparkan tubuh besar itu keranjang empuk.
Ruve merapikan posisi tidur Elves. Dan menyelimutinya. Dan mematikan penerangan di kamar itu.
Ruve meraih buku kecil yang tadi terjatuh dan meletakkannya pada nakas ranjang Elves. Ia menghampiri Elves dan mengelus sayang rambut lelaki bangsa Elf itu.
"Selamat malam"
***
Gen terbangun, ia keluar, ingin menikmati pagi di Cahaya ilusi. Ia keluar penginapan dan ternyata saat pagi jalanan ini disulap menjadi pasar.
Ramai pedagang dengan gerobak mereka. Juga pembeli yang berjejalan. Ruve satu nama yang terlintas di ingatannya jika ia melihat pasar. Wanita derik itu suka dengan hiruk pikuk pasar.
__ADS_1
Gen kembali masuk menuju kamar Ruve. Ia menggedor pintu Ruve dengan bar-bar. Hingga mengganggu kamar lain yang ada di lantai itu. Tak terkecuali Elves.
"Ruve bangun!"
"Gen kau mengganggu tamu lain!" Elves keluar dari kamarnya dengan tangan bertengger di pinggang.
"Gen kau berisik!" Ruve keluar dengan mata yang masih mengantuk. Ia baru tertidur saat matahari mulai terlihat. Baru ia mendapatkan tidur tenangnya suara gedoran tak masuk akal terdengar dari luar kamarnya.
Pelakunya menyengir jenaka. "Ini tak lucu Gen! Ak—"
"Sudah kau ikut dulu" Gen menarik tangan Ruve dan membawanya keluar penginapan.
"Taraaa … " serunya senang. Ia tak mendapat lonjakan kesenangan yang sama. Gen heran, Ruve tidak seantusias dirinya.
"Kenapa?" Tanya Ruve bingung. Melihat keramaian disekitar penginapan di pagi hari.
"Pasar" ucap Gen semangat.
"Lalu?" Gen semakin membuatnya bingung dengan kegirangan saat mengatakan pasar.
"Tempat kesukaanmu! Pasar Ruve!" Gen seantusias itu.
"Iyaaaaa … lalu?" Ruve masih mencoba menerka apa maksud Gen dengan membawanya turun dan melihat pasar.
"Astaga aku sakit? Atau kau masih tidur?" Gen mendekati Ruve, menempelkan telapak tangannya pada dahi wanita itu. Lalu mencoba melebarkan mata Ruve yang memang tak ingin terbuka. Ia. Masih. Sangat. Mengantuk!
"Kau sakit?" Elves yang sedari tadi hanya diam melihat kelakuan Gen dan Ruve yang selalu aneh.
Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Ruve dan menempelkan dahinya di dahi Ruve. Mata Ruve membulat.
Apalagi ini? pikir Ruve.
Sepagi ini mengapa dua orang rekannya berulah. Yang satu membuat darahnya melesat naik, Dan yang satu membuat jantungnya berlompatan tak beraturan.
"AAAARGH!" Ruve yang tak tahan berlari masuk, naik ke kamarnya. Ia bersembunyi dibalik pintu kamarnya, meredakan degupan jantungnya.
Menyisakan dua orang lelaki tampan, menjadi pusat perhatian. "Aku tahu Ruve pasti suka dengan ini" kesimpulan Gen dengan percaya diri.
Sedangkan Elves hanya mengangkat bahunya, ia memasukkan tangan ke kantong, lalu kembali masuk ke dalam penginapan. Udara semakin dingin saja. Cahaya Ilusi memasuki bulan musim dingin.
Dan Ruve yang mulai tenang kembali terpekik hebat saat melihat wajahnya, matanya cekung dan menghitam di sekitarnya. Ia memang kurang tidur. Atau lebih tepatnya tidak tidur.
Ia teringat bagaimana Elves menempelkan dahinya di dahi Ruve. Ia meraba dahinya. Pipinya kembali memerah, Lalu menjerit tertahan dan membanting diri ke ranjang kemudian ia membungkus dirinya di dalam selimut. Salah tingkah.
Dan pekikan tertahan kembali terdengar. Mengingat Elves melihat lingkaran hitam pada matanya dan kulit wajahnya yang kering secara dekat.
"Tidak! Tidak! Tidak!" Teriaknya dalam selimut. Jangan sampai Elves menjadi jijik padanya, Tidak bisa! ia harus membersihkan tubuhnya sekarang juga!
__ADS_1
Ketukan pintu terdengar.
"Ruve! Kau didalam?" Suara Elves membuat Ruve kalang kabut. Ia mengambil mantel dan mengenakan tudung kepala menutupi wajahnya.
"Apa?" Ruve berkata lirih dengan memunggungi Elves. Pemuda itu melihat kelakuan aneh Ruve menjadi bingung, sedari tadi ia mendengar suara berdentum di dalam kamar wanita itu, ia hanya ingin memastikan Ruve baik-baik saja. Tapi yang ia dapat malah tingkah aneh Ruve.
"Kau kenapa?" Elves ingin memegang bahu Ruve namun ditepis oleh wanita itu dan Ruve beringsut pada pintu. Seolah Elves adalah kuman.
"Tak apa" Ruve merapatkan diri ke pintu. Suaranya membentak.
Ia tak suka Ruve memperlakukannya seperti kuman. Ia pun memaksa menyentuh bahu Ruve namun sekali lagi ditepis oleh Ruve dan wanita itu menjauh dari Elves dengan masih memunggunginya di dekat ranjang.
Ruve membuat Elves darah tinggi. Pemuda elf itu mendekat dan ingin menyentuh bahu Ruve. Tapi Ruve dengan gesit menghindar sentuhan Elves. Untuk sekian kalinya Ruve menghindari sentuhannya, Dan mereka menjadi kejar-kejaran memutari meja tengah ruangan Ruve.
"Ruve mengapa kau menghindariku!" Elves mencoba mengatur nafasnya yang tersengal, ia matanya menatap tajam Ruve yang masih bersembunyi dalam tudungnya.
"Ti, Tidak!" Elak Ruve. Yang nafasnya juga berlarian. Kemudian Elves mengulurkan tangan dan dengan cepat Ruve menjauh. Elves mendapatkan mata Ruve. Ia menatap wanita itu tajam. Dengan rasa murka yang mencapai ambang batas.
GREB!
Elves mendapatkan Ruve. Ia memeluk Ruve dari belakang. Ruve yang salah perhitungan pun meronta. Ingin lepas, Elves mendorong Ruve hingga tersudut di dinding. Elves mengungkung Ruve.
Tangan Ruve dengan cepat menurunkan tudungnya dan menyembunyikan wajah dengan mata pandanya.
Kelakuan Ruve membuat alis Elves menukik tajam, Kemudian lelaki itu menarik tudung Ruve, dengan cepat ia menutup wajahnya dengan telapak tangan lalu menunduk.
Wanita derik itu masih berusaha menyembunyikan wajahnya.
Elves tak ingin menyerah. Ia mencari celah untuk mengintip. Namun Ruve masih tak mau memperlihatkan wajahnya.
"Tidak!" Ia menggeleng, Elves memegang dagu Ruve dan mendongakkannya. Wanita itu mengintip dari sela-sela jarinya. "Kenapa?" Tanya Elves lembut.
"Nanti kamu jijik" Elves mengerutkan dahi,
"Kau terluka?" Kuatir Elves. Ruve menggeleng. "Lalu … " Elves mencoba bersabar, ia memasukkan jarinya ke sela-sela jari Ruve yang menutupi wajahnya. Lalu mengait jarinya pada jari Ruve.
Dengan perlahan kaitan jari Elves menarik jari Ruve agar menjauh dari wajahnya. Dan Elves menemukan mata bulat, dengan hidung kemerahan juga bibir merengut.
"Kau menangis?" Bisik Elves. Ruve hanya mengangguk. "Karena aku melihat wajahmu?" Kembali Ruve mengangguk.
Elves menarik satu lagi tangan Ruve dan terlihat apa yang wanita itu sembunyikan mati-matian. Ia menghindari tatapan Elves.
"Lingkaran hitam ini?" Elves mengelus perlahan bawa mata Ruve. Membuat Ruve mengangguk dan semakin mengerutkan bibir. Lalu yang tak pernah Ruve bayangkan. Elves mengecup bibir Ruve.
"Manis" bisik pemuda itu di depan bibir Ruve, yang kemudian menjauh, keluar dari kamar, meninggalkan wanita derik itu mematung di tempatnya.
Tbc.
__ADS_1