Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 87. Kembali Bersama


__ADS_3

Terbangun dan mendapati dinding batu bukan sesuatu yang akan kau sukai. Rasa nyeri pada kepala, juga dengan tenggorokan yang kering bukan sama sekali kesukaan Ruve.


Ia mendudukkan diri.


Pluk!


Kain terjatuh dari langit? Ia menatap langit-langit, terlalu cepat mendongak, nyeri di kepala semakin menyakitkan.


"Ssss" ringisnya.


"Harusnya kau tetap tidur, ini minum" Ruve manatap sosok lelaki di depannya. Rasa dejavu. Ia melihat tangan yang mengulurkan gelas kearahnya lama. Tangan hangat yang ia rindukan.


"Cepat!" Ia mengambilnya dan berkata "apa ini racun?" Gerakan Elves seketika berhenti. Ia tertegun kemudian kembali meracik sesuatu.


"Terserah, jika kau ingin sembuh, minum, jika kau ingin sakit dan mati, buang saja, dan jangan mati ditempat ku!" Ruve terkekeh teringat pertama kali Elves juga begitu ketus padanya, ia meminum ramuan yang Elves berikan.


Ia melihat sosok Elves dari sela-sela gelasnya. Sosoknya semakin tampan, dan lebih dewasa dibanding pertemuan pertama mereka tapi semakin seksi. Urat jemari yang menyembul itu.


Ia menghela nafas tak mengerti mengapa ia semakin me sum. Ini bukan waktu yang tepat untuk menggoda lelaki itu.


"Ini makanlah, perutmu sangat berisik, dan setelah kau sehat segeralah pergi dari sini" 


Elves mengambil kain yang ada di pangkuan Ruve.


Ia merapikan semuanya kemudian bersiap. "Kau akan kemana?" Tanya lirih Ruve.


Ia mencoba peruntungannya. Ia akan mendekati Elves seperti saat pertama kali bertemu.


"Pulang, kau tak berpikir kalau ini rumahku bukan?"


"Tapi, aku,aku" 


"Sayang sekali jika kau jatuh cinta padaku, aku sudah akan menikah beberapa hari lagi" 


Sakit. Sesuatu meremas jantungnya kencang.


"Bukan, Terima kasih untuk ini, juga aku akan pergi setelah pulih."


Kepalanya menggeleng cepat, Suaranya terdengar bergetar. Jelas Ruve susah payah menahan air matanya. Ia menunduk


Ruve mengambil nafasnya dalam-dalam. Ia mendongak "Selamat atas pernikahanmu Tuan" 

__ADS_1


ia menyiapkan senyum termanis untuk Elves.


Senyum itu tak bertahan lama, luntur seketika melihat kilatan kekecewaan yang Elves perlihatkan pada Ruve. Kilatan itu berubah menjadi kemarahan dan rasa frustasi.


Elves menangkup wajah Ruve dengan kedua tangannya.


"Kenapa kau begitu bodoh!" Ia menempelkan dahinya dengan dahi Ruve.


Tangis Ruve kencang. Rasa pedihnya tak lagi bisa ia tahan. Ia memeluk pinggang Elves kencang dan erat. Tidak ingin melepaskannya.


"Jangan tinggalkan aku"


"Jangan pergi" Ucap Ruve disela isakannya.


"Jangan menikah dengan gadis itu."


"Aku tidak sanggup kalau kau meninggalkan aku" ia katakan apa yang ia inginkan.


"Maaf, Jangan usir aku!"


"Jangan,Jangan pergi, tetap disini" ia menggeleng.


"Maafkan aku, aku mencintaimu Elves" Ruve meremas pakaian belakang Elves.


"Maaf,Maaf aku egois, harusnya aku berjuang, harusnya aku tidak menyerah secepat itu"


"Tapi kau menyerah tadi" kesal Elves.


"Maaf aku akan melepaskanmu tadi jika  memang kau melupakan aku. Tapi sekarang dan selamanya tidak akan aku lepaskan!" Janji Ruve.


Elves memberikan Ruve untuk mengeluarkan semua apa yang ada dihatinya.


"Peluk kau kencang" Ruve meminta itu.


"Aku akan ke kerajaan" ucap Elves. Yang dijawab gelengan Ruve.


"Jangan"


"Jangan pergi Elves," ia mengeratkan pelukannya. 


"Aku mohon tetap disini" ucapnya bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kenapa kau menjadi secengeng ini, Huh!" Elves mengusap air mata yang meluruh deras di pipi pucat Ruve.


Ruve memukul lengan Elves. "Ini semua gara-gara kamu" sesenggukan.


"Kau harus tanggung jawab buat aku kesepian dan patah hati!" Ucapnya manja.


"Kan kau yang menghilangkan ingatanku, mendorongku pergi, menjauh untuk menikah dengan wanita lain"


Gelengan Ruve cepat, ia menangis dalam diam. Rasanya menyakitkan saat apa yang kau lakukan menyakiti orang yang kau cintai.


"Maaf maaf maaf" Elves tak bisa mencecar Ruve. Melihat tubuh wanita itu bergetar karena merasa bersalah. Ia tak tega. Ia menarik Ruve dalam pelukannya. Dan mengelus punggung Ruve.


"Kau mengingatku?" Ucap Ruve setelah ia tenang.


"Bagaimana mungkin? Aku mempelajarinya dari raja Marzon, masa ia memberiku sihir tingkat rendah?"


"Jadi kau ingin menggunakan sihir tingkat tinggi agar aku tidak mengingatmu, hem?!" Ucapnya tenang namun terkesan mengerikan.


"Tidak,tidak aku bersyukur ia memberiku sihir tingkat rendah, mungkin ia tahu aku tak bisa berpisah denganmu" Ruve mengeratkan pelukannya.


Dalam hati Ruve meminta maaf kepada Raja Marzon yang sempat memaki karena memberinya sihir kelas rendah.


"Tapi aku harus tetap kekerajaan" Ruve tetap mengeratkan pelukannya. Bahkan kakinya ikut melingkar pada tubuh Elves.


Elves membereskan perlengkapannya. Dengan Ruve yang mengelendot macam koala.


Elves selesai dan bagaimana ia akan melepas belitan si derik ini. "Kau ikut ke kekerajaan" ucap Elves.


"Kau ingin membuatku menjadi saksi pernikahan kalian?" Ruve menggeleng di dada Elves.


"Tidak, siapa yang akan menikah?" Kata Elves.


"Kau yang menikah, aku menerima undangan yang kau titipkan pada Gen, jelas aku membaca namamu disana!" Ia menyurukkan kepalanya masuk kedalam dada Elves.


"Tidak, makanya ayo ikut aku kekerajaan, Lavender juga pasti rindu denganmu, ia memiliki bola-bola keju"


Kriuukk


"Suara perutmu itu, tahu saja jika mendengar makanan enak" cengiran Ruve membuat Elves merengkuh Ruve.


"Ayo kita menikah" ucap Elves dengan menyandarkan dagunya diatas kepala Ruve.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2