
Yara terbangun pagi-pagi. Ia mendengar bahwa Ale akan pergi ke arah Selatan kerajaan Elf ia akan bertandang didesa yang berada disana. Yara mendengar berita itu dari makan malam semalam, Alejandro tidak datang ke makan malam itu dan membuat Yara sedih.
Ia bertanya pada Raja Logan, alasan Ale tidak datang karena menyiapkan kepergiannya ke Selatan. Yara taju Ale hanya mencari-cari alasan agar tidak bertemu dengannya.
Semakin Ale menghindar dan tidak ingin didekati oleh Yara maka membuat Yara semakin penasaran dan mengejar tanpa lelah. Ale salah jika dengan menghindar maka Yara akan menyerah dengan sendirinya.
Yara bukan orang seperti itu. Perempuan itu tidak akan menyerah dengan mudah. Ia sudah menyiapkan segala perbekalan.
Yara keluar kamar, ia jalan perlahan menyusuri lorong istana, ia bersiap ke tempat Alejandro. Ia akan menyelinap di kereta kuda yang dibawa oleh Ale.
Keluar kerajaan ia memacu kudanya ke tempat Ale berada. Ia bisa melihat kereta kuda itu. Ia turun dari kudanya. Agak jauh dari kediaman Ale.
Menepuk kudanya. Dan kuda itu melangkah meninggalkan Yara. Kudanya kembali ke kerajaan.
Ia berlari cepat ke arah kereta kuda Ale. Bersembunyi, Yara memperhatikan sekelilingnya, dirasa aman, ia masuk dan bersembunyi diantar peti-peti yang Ale bawa.
Tak lama Yara bisa mendengar suara Ale yang bertanya pada bawahannya tentang persiapan keretanya. Bawahannya menyampaikan jika semua beres dan Ale bisa berangkat.
Yara mengintip, dari tempatnya ia bisa melihat sosok yang membuat hatinya berdetak kencang. Wajah datar dengan rahang tegas itu.
Tubuh tinggi tegap. Yara ingin memeluknya. Yara menjauh, saat matanya hampir bertubrukan dengan mata Ale. Bisa-bisa ia ditendang keluar tidak boleh ikut.
Ia mendengar langkah kaki mendekat. Namun Yara tidak berani mengintip.
"Tuan Alejandro! Bandul anda tertinggal" suara langkah kaki terdengar menjauh. Yara kembali mengintip. Ia bisa melihat Ale mengambil sesuatu, dan mengalungkannya.
"Bandul" gumamnya.
Kereta kuda mulai bergerak mengembalikan lamunan Yara ke dunia nyata. Ia tak ketahuan dan ia akan ikut Ale keselatan. Yara mengantuk, ia bangun terlalu pagi tadi.
Ia pun tertidur.
Perjalanan panjang. Sore memasuki malam. "Kita akan beristirahat untuk makan malam, cari kedai didepan." Ucap Ale.
__ADS_1
Kereta kuda melewati jalanan berbatu yang tak rata. Kereta kuda agak bergoyang. Dan membangunkan Yara dari tidur lelapnya. Ia membuka mata. Agak terkejut dengan keberadaannya.
Ia berada di dalam kereta kuda. Ia membuka lebar keretanya dna kembali menutupnya dengan cepat. Ingatannya kembali.
Untung saja kebodohannya berhenti tepat waktu. Tadinya ia siap melompat keluar dari kereta kuda, dalam pikirannya ia sedang diculik. Otaknya mengingat cepat. Kalau tidak akan runyam. Ale akan tahu ia menyelinap.
Ia merasa tidak lagi ada pergerakan dari kereta kudanya. Yara kembali bersembunnyi. Agak lama menunggu. Yara bisa mendengarkan keramaian di luar.
Yara mengintip san menemukan kereta kudanya terparkir di sebelah kedai besar dengan banyak pelanggan menikmati hidangan.
Perut Yara berbunyi. Ia keluar perlahan setelah memastikan tak ada lagi orang disekitar kereta kudanya.
Ia tak melihat Ale di dalam sana. Pasti lelaki itu memesan ruang khusus. Yara duduk di sudut ruangan yang ia yakin tidak terlihat dan dekat dengan pintu keluar.
Ia memesan beberapa makan yang bisa ia bawa dan dan juga alkohol. Untuk menghangatkan tubuh. Kereta kuda ternyata sangat dingin dan Yara tentu tidak membawa mantel tebal.
Menikmati makanan hangat dengan alkohol adalah sesuatu yang nikmat. Ia makan dengan lahap dan cepat. Makannya habis, Yara melangkah ke kamar mandi.
Tidak bagus! Mereka selesai makan dan akan melanjutkan perjalanan. Yara telah membayar didepan. Ia kemudian keluar dan kembali menyelinap masuk ke dalam kereta kuda.
Ia meringkuk, bersembunyi di antara tumpukan peti, saat mendengar langkah kaki yang mendekat ke tempatnya.
Anak buah Ale mendekati tempat Yara bersembunyi ia memeriksa peti-peti bawannya. Lalu kembali ke depan.
"Ayo kita kembali berjalan, setidaknya besok pagi kita akan sampai di Desa Selat" suara Ale terdengar. Yara ingin sekali mengintip tapi ia tidak ingin ketahuan oleh Alejandro. Lelaki itu menaiki kudanya.
"Siap Tuan" Anak buah Ale memacu kudanya, Yata merasakan kereta kudanya bergerak perlahan.
Udara semakin dingin, angin masuk melalui sela-sela kereta kuda. Yara merapatkan mantel tipisnya tapi tidak berguna.
Yara mengeluarkan botol alkohol yang ia beli dari kedai makan tadi. Ia menyesap sedikit. Rasa pahit dan bercampur sedikit manis menjalar dalam mulutnya.
Rasa yang makin lama makin membuat Yara tidak bisa berhenti menyesap minuman itu. Tubuhnya menghangat. Pipinya memerah. Dan Yara merasakan tubuhnya ringan.
__ADS_1
Ia mulai tersenyum. Yara sedikit mabuk. Ia sadar jika sudah mabuk, tapi ia ingin tetap menyesap minuman pahit itu.
Goncangan kerata kuda terasa kencang. Membuat Yara terkekeh. Kereta kudanya melesat cepat. Terdengar juga dentingan pedang yang saling menghantam.
"Siapa kalian!" Suara anak buah Ale.
"Serang!" Suara yang lain.
Tapi Yara yang mabuk tak menghiraukan. Ia hanya senang dan terkekeh karena goyangan kereta kuda yang kencang. Ia senang. Kereta kuda Ale melaju kencang.
"Bandit sialan!" Maki anak buah Ale. Ia melaju kereta kudanya lebih dulu, meninggalkan Ale dibelakang.
Anak buah Ale menangkis serangan para bandit. Tapi ia minum terlalu banyak, hingga dengan mudah ia dapat diserang oleh para bandit.
Ale sudah ada di belakang kereta kuda miliknya dengan anak buahnya yang lain, Tapi anak buahnya yang mengendalikan kereta kudanya menggelinding jatuh dari kereta kuda. Mau tak mau Ale menghentikan kudanya.
Kereta kudanya telah diambil alih oleh pada bandit yang kesenangan. Kain belakang kereta kudanya terhempas. Dan disaat yang sama ia melihat Ale. Wanita itu membuka kain penutup lebar-lebar dan memperlihatkan dirinya. Yara yang telah mabuk berat melambai kesenangan.
"JENDRRAAAALLL~" teriak Yara.
"ALE SAYANGKU! ALEEE … ALEJANDRO SUAMI MASA DEPANKUUUU~" Yara kegirangan ia terus melambai.
"Shiit!" Umpat Ale. Ia memacu kudanya dengan cepat. Tapi kereta kudanya telah menjauh.
Ale terus mengejar dengan banyak makian keluar dari bibirnya.
"Kenapa dia disana? Siaaal!!" kembali mengumpat.
"Dasar wanita menyusahkan!" Geram Ale yang semakin mempercepat kudanya.
Sedangkan anak buahnya terus mengikuti sang Jenderal.
Tbc.
__ADS_1