Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 72. Kastil Tengah Hutan


__ADS_3

Ruve mengayunkan langkahnya cepat. Ia menuju kekamar Elves. "Boleh aku lihat gambar Lavender yang kau punya?" Gebrakan pintu yang terbuka, dengan menampilkan Ruve membuat kernyitan di dahi Elves.


"Mana?" Ruve terburu. Ia akan memastikan apa yang ia lihat benar adanya.


Elves merogoh kantongnya dan memberikan selembar kertas pada Ruve. Mata melebar menandakan apa yang Ruve lihat memang benar Lavender.


"Aku melihatnya." Ucap Ruve ia melihat reaksi Elves.


"Dimana?" Tanya Elves terkejut. 


Araria ikut masuk kekamar Elves dan Yara pun mengikuti Araria. Ia melihat lembar kertas yang Ruve letakkan di meja.


"Ini bukannya wanita yang kita lihat di kedai. Kenapa kau mempunyainya Ruve? Kau kenal dengan wanita tadi?"


Pertanyaan bertubi yang tak mendapat jawaban itu membuat Yara melemparkan tatapannya pada Ruve.


"Dia adikku," Elves jawab perlahan. Ia mencoba mengontrol emosinya.


"Adik? Jadi … " Ruve mengangguk. Araria melihat lembaran itu.


"Berarti disana juga ada Hudson?" Lanjut Araria. Sunyi.


"Kita dekat. Setidaknya Lav masih hidup" Elves mengusap wajahnya kasar.


"Aku akan membantu kalian. Aku memiliki teman-teman disini, mereka bekerja di pusat desa ini. Kau gambar adikmu dan kita sebarkan pada teman-temanku, atau siapa tahu mereka ada yang tahu dimana keberadaan adikmu"


Usul Yara. Yang telah mengetahui cerita penyebab mereka berada di tempat ini.


"Setuju, aku akan menggambar mulai malam ini," Araria ikut berpartisipasi.


"Aku memiliki alat untuk memperbanyak gambar, aku mendapatkannya dari dunia atas." Yara menyela.


"Boleh aku bawa gambarnya" Yara meminta izin pada Elves. Membawanya keluar.


"Aku ikut" Araria mengikuti Yara. Tak berapa lama mereka datang dengan tumpukan kertas dengan gambar Lavender didalamnya.


Keesokan harinya, Yara mengumpulkan teman-temannya, pondok menjadi ramai. Yara mulai memberikan gambar pada setiap orang.


Yara memberitahukan apa yang Ruve dan Elves katakan. Ada satu wajah yang tampak mengkerut. Ia merasa pernah melihatnya. Tapi ia lupa dimana. Dan lelaki itu bernama Ronal.


Lelaki itu hanya diam, karena takut salah memberi informasi yang tak benar ia ingat. "Baik kami akan membantu." Ucap salah satu teman Yara yang diganggu oleh semuannya.


"Terima kasih" Elves mengucapkan dengan tulus.


"Tak usah sungkan,"


***


Hari pertama hingga seminggu mereka tidak mendapatkan apapun. Teman-teman Yara pun tak memberikan informasi apapun, sama sekali tak ada perkembangan.


Namun minggu berikutnya salah satu teman Yara bernama Rolan, pergi ke rumah Yara. Ia tergopoh, ia baru mengingat jika wanita yang mereka lihat tinggal di tengah hutan Lamerda.


Dan saat itu juga dua orang teman Yara membuntuti gadis yang ada di gambar. "Apa benar?" Tanya Woli pada temannya Rota.


"Benar"

__ADS_1


"Sini lihatlah, rambut bergelombang madu, matanya biru, kuping lancip" bisik Rota. Woli mengangguk. Ia mengikuti kemana gadis itu berjalan.


Ternyata mereka menaiki kereta kuda. Gadis itu bersama beberapa penjaga. Woli dan Rota mengikuti sambil melihat-lihat barang di pasar.


Gadis itu terasa aneh di mata Rota. Tatapannya kosong. Dan hanya mengikuti kemana wanita paruh baya itu membawanya.


Woli dan Rota kembali mengikuti. Pasar yang ramai membuat mereka kehilangan gadis itu. Mereka berlari mencari. Woli dan Rota berpencar. Rota berbelok pada salah satu gang. Ia ditarik kencang hingga punggungnya menabrak dinding.


Lehernya dijepit oleh lengan. Sosok di depannya untuk sekejap membuat Rota terpesona. Kulit putih mulus, bibir kemerahan, hidung mungil, sungguh cantik.


"Mengapa kau mengikutiku!" Bisiknya mengeram. Benar gadis ini yang mereka cari. Bangsa elf memang sangat mempesona.


"Tidak nona, kami hanya ingin berkenalan dengan nona cantik sepertimu" ucap Rota.


Mata itu berwarna biru terang namun redup. Kosong. "Menjauh! Atau aku akan membunuh kalian!" Ucapnya dengan mendesis.


Ia melepaskan Rota terlihat lehernya memerah. Rota melihat gadis itu menjauh. Derapan kaki terdengar di belakang Rota.


"Bagaimana kau menemukannya?" Rota mengangguk masih mengelus lehernya yang perih.


"Mana?" Woli celingukan mencari keberadaan gadis itu. 


"Dia tahu kita membuntutinya. Dia memperingatkanku untuk menjauh atau kita dibunuh katanya"


Woli merasa cemas, ia mengamati sekeliling apa gadis itu masih berada disana apa tidak.


"Masa ia menakuti bandit" bisiknya Woli pada Rota. Ya memang mereka adalah bandit di daerah Lamerda. Lebih tepatnya mantan bandit, Dan mengapa Yara bisa berteman dengan mereka.


Karena wanita itu berhasil mengalahkan dan membuat babak belur keduanya lalu Yara menolong menyembuhkan apa yang Yara lakukan. Dari situ lah ia berteman baik dengan Yara.


Mereka ke tempat Yara. Mereka berkumpul dan Rota menjabarkan penemuannya.


"Aku mengikutinya namun ia tahu dan mengancam. Aku melihat keretanya menuju ketengah hutan."


"Ah aku ingat, sebenarnya aku familiar dengan wajah gadis itu, beberapa kali membeli bahan makanan ditempatku, ia selalu bersama wanita paruh baya, wanita itu masih sering membeli bahan makanan ditempatku"


"Maaf tak menceritakannya, aku masih menyakinkan diri bahwa ia sama dengan orang yang aku maksud."


"Wanita paruh baya? Apa wanita itu masih ke tempatmu?" Rolan mengangguk.


"Dua hari lalu ia membeli bahan makanan sangat banyak di tempatku, saat aku tanya akan ada pesta di rumahnya, ia hanya mengangguk dan tersenyum."


"Ia rutin ke tempatmu?"


"Iya setiap jumat pagi" Elves memandang Ruve, 


"Rolan bisa kau masukkan aku menjadi pegawaimu?" Rolan hanya mengangguk.


"Aku dan Yara saja, karena mereka tak kenal dengan kami berdua" Araria mengusulkan.


Ruve dan Elves mendengar dengan seksama.


"Benar, kami berdua, kalian bisa bersembunyi di tempat ku, kedaiku berada di seberang toko Rolan" ucap Rota. Ia memiliki kedai sup nasi yang cukup laris.


"Baik, terima kasih kerjasama kalian, untuk disini kita sudahi pencariannya? Kalian luar biasa" ucap Yara menyudahi diskusi, dan mereka menyantap masakan yang Yara persiapkan.

__ADS_1


***


Hari Jumat,


"Kau gugup?" Yara menyenggol Araria. Lebih ke srondol keras.


"Apa sih!" Pekik Araria terkejut, Ia jelas gugup. Sampai siangnya wanita paruh baya itu belum juga muncul.


Araria selalu bertanya pada Rolan, apa itu orangnya? Yang membuat lelaki itu beranjak pergi, mencari barang digudang, saat Rolan baru keluar, ia melihat wanita paruh baya itu berjalan ke tokonya.


Ia kembali masuk dan mengkode Araria juga Yara. Mereka bersiap menyambut,


Ctar!


Ctar!


"Selamat pengunjung ke seratus." Saat wanita paruh baya itu masuk, Yara dengan kamera yang didapat dari dunia atas, memotret wanita itu. Araria dan Rolan bertepuk tangan di depannya.


Wanita itu tampak terkejut. Ia digiring untuk duduk di sebuah meja.


"Selamat Madam, anda pelanggan ke seratus di bulan ulang tahun Toko Rolan. Anda akan mendapatkan sepeti bahan makanan yang akan secara khusus kami kirim ke alamat anda, gratis!" ucap Rolan sang pemilik toko.


"Bisa anda berikan data diri anda?" Wanita paruh baya itu tampak senang, setelah ia melihat sepeti hadiah. Tanpa lagi berpikir ia mengisi data dirinya.


"Apa benar ini gratis?"


"Tentu Madam, ini gratis juga ada kupon yang bisa kau pakai untuk berbelanja selama setahun" ucap Araria.


"Wah terima kasih"


"Sama-sama"


"Selamat berbelanja" Araria melihat kertas, menunjukkannya pada Ruve dan Elves yang memantau dari tempat Rota, kertas yang berisi data lengkap perempuan paruh baya itu. Bernama Rosi.


"Yang ini diantar, dan yang ini saya bawa?"


"Baik Madam" Rolan memasukkan semua belanjaan wanita itu.


"Selamat siang, semoga hari kalian menyenangkan" ucap Rosi sebelum meninggalkan toko Rolan.


Ruve dan Elves mengikuti kereta kuda Rosi. Mereka memasuki hutan yang semakin kedalam semakin gelap, melewati air terjun besar. Dan dari kejauhan ia melihat sebuah kastil.


Ruve akan mendekat, lengannya ditarik oleh Yara. "Jangan, mereka memiliki barrier" Yara muncul dengan goggles di wajahnya.


"Kita mundur lagi. Barier mereka bisa mendeteksi penyusup dua meter dari barier asli." Yara adalah seorang ahli membuat barier. Barier yang melingkupi Cahaya Ilusi adalah buatnya.


"Barier cukup kuat, Dan ia memberi alamat palsu kah, karena alamat yang tertulis di kertas itu berbeda dari tempat ini" ucap Yara.


"Apa kita sudah ketahuan?" Araria ikut cemas.


"Kita lihat besok saat mengantar peti makanan itu. Lebih baik sekarang kita kembali" ucap Yara.


Benar setidaknya mereka telah mengetahui kastil di tengah hutan itu, Elves melirik ke dalam kastil, ia telah memastikan jika memang itu tempat persembunyian Hudson.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2