
"Keluarkan semua yang kalian punya" Mateo berkata pada pelayan kedai,
"Baik Tuan" pelayan kedai masuk kedalam tempat koki berada. Koki melirik sedikit ke arah meja Mateo dan kawan-kawan.
Penasaran siapa gerangan yang meminta semua menu, apakah petinggi Cahaya ilusi? Atau para klan tinggi yang ingin berpesta?
Ia kembali ke dapurnya. Menyiapkan semua menunya, setelah lama menunggu, para owlayan datang satu demi satu, membawa baki dengan banyak piring yang terisi berbagai macam makanan.
Pelayan meletakkan piring-piring itu di meja, tapi makannya terus keluar dari dapur kedai. Mau tak mau mereka menggabung tiga buah meja. Dan akhirnya semua makan telah keluar.
Findel yang lapar lalu menarik kasar kaki babi panggang. Melahapnya. Begitu juga Los yang menarik piring berisi pie daging Mateo menikmati sup kerbau. Ia menghirup kuahnya. Dan senyuman tercetak.
"Kedai ini terlalu sepi" Los mengawasi sekitarnya, tujuan mereka mendengarkan rumor yang beredar hari ini. Tapi sedari tadi tidak ada dari pengunjung kedai berbicara. Lalu gak lama mereka keluar.
Mereka tidak memakan makanannya di kedai tapi dibawa pulang. Sangat aneh. Dan mereka bersikap canggung tidak saling mengobrol.
"Aneh" guman Los. Ia pun gak peduli, ia juga lapar sekali.
"BbbRlbb" Mateo bersendawa. Mereka menghabiskan semua nya tak bersisa.
"Pelayan, berapa semua nya?" Pelayan menyebutkan nominalnya. Dan pelayan itu mendapatkan 10 kantong koin emas.
"Tuan ini terlalu banyak" si pelayan mengembalikan beberapa kantong koin pada Mateo.
"Tak apa, tips untukmu" Los menjelaskan.
"Benarkah, Tuan" Mateo mengangguk.
"Terima kasih" ucap pelayan. Melihat punggung Mateo, Los dan Findel menjauh.
"Kita pindah ke Bar," Mateo memainkan bola-bolanya.
BRUGH!
TAK! TAK! TAK!
Bola-bola Mateo menggelinding di tanah, Seorang bocah lelaki menabrak tubuhnya. "Pinot!" Teriakan terdengar dari belakang anak itu. Bukannya berlari. Anak itu bersembunyi si belakang tubuh Mateo.
"Kembali!"
"Pinot!" Teriak seorang wanita. Ia melihat anaknya yang bersembunyi di balik tubuh orang asing.
"Pinot! Apa yang kau lakukan!" Wanita itu menarik tubuh sang anak yang mencengkram erat mantel Mateo.
"Maaf Tuan" ucap sang wanita tua itu. Mateo hanya mengangguk.
"Pinot ayo pulang!" Pinot masih keras kepala bersembunyi.
"Aku mau bermain, ibu!" Teriak bocah lelaki itu.
"Aku mau bermain dengan yang lain!" Lagi Pinot berontak saat tangan ibunya. Meraih tubuh kecilnya.
"Pulang! Kau tak dengar, sekarang tidak aman, berada diluar" Wanita itu berkata dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Aku tidak takut, aku punya ini!" Pinot mengeluarkan pedang mainannya. Ia mengacungkan pedang itu pada ibunya.
"Aku akan menusuk penyusup itu dengan pedang ini! Seperti ini, seperti ini, dan begini" Pinot memperagakan cara ia menghadapi si penyusup.
"Dan terakhir akan aku tusuk jantungnya! San aku akan mengalahkannya" Pinot mengangkat tangannya, ia memperagakan pose kemenangannya.
"Iya iya sekarang kita pulang!" Ucap sang Ibu, Pinot menggeleng. Ia masih tidak mau pulang.
Lalu melihat ke arah Mateo yang tersenyum lembut, lalu berpindah memandang Findel. Ia melihat ke arah leher lelaki penuh dengan tato itu. "Bu lehernya ada gambarnya."
Si ibu mencoba meraihnya anaknya yang semakin beringsut ke belakang Mateo. Ia melihat tatapan tajam Findel dan merasa tak enak.
"Pinot! Kemari!" Si ibu memandang sang anak tajam. Orang asing itu tampak menakutkan.
"Sini Pinot!" Bisik si ibu kesal.
"Tuan kau bisa menangkap penyusup itu" tanya bocah itu kencang. Si ibu cemas. Ia lalu meraih si anak, dan dapat, menarik dan menggendongnya.
Anak itu akan bersuara si ibu membekap mulut anaknya agar tak lagi penasaran tentang para penyusup yang membuatnya tidak bisa keluar rumah untuk bermain dengan temannya.
"Maaf Tuan, permisi" si ibu menyerahkan bola-bola milik Mateo, yang ia pungut.
"Ibu! Aku mau bola itu!" Teriak Pinot pada sang ibu.
"TIDAK!" Bentak sang ibu yang menggendong Pinot yang berontak. Tangannya ingin meraih bola-bola Mateo. Dan tangis Pinot pecah,
Mateo mendekat perlahan, "Ini aku pinjamkan" tangis Pinot menjadi isakkan kecil dan si ibu, mengucapkan terima kasih dan pergi.
"Aku hanya dipinjamkan" guman pelan Mateo, "Nanti aku ambil" lanjutnya.
***
"Am,ampuunn Tuaaan …. "
"Tidaaakk … tidak …"
"Ja,jangan, jangan, jangan bunuh kami!!"
"AAAaaaa … tidak … Ampun Tuaann " teriakan terdengar dari balik tembok sebuah rumah.
JLEB!
"Uhug … ibu … sakit!"
JLEB! JLEB! JLEB!
"Aku hanya meminjamkannya, tidak memberikannya, kenapa kalian tak mau mengembalikannya … ihihihii …"
Suara Mateo dibuat seperti bocah kecil, ia tertawa kecil, tangannya meraih bolanya pada genangan darah segar.
***
"GranpaD kita perlu bantuan dari Phoenix Way, ini sudah sangat kejam" Dylan datang tergesa. Ia terkejut dengan pemandangan didepan matanya.
__ADS_1
Regulas pun tak kuat ia mengalihkan wajahnya. Rumah ini penuh dengan cipratan darah dimana-mana.
"Dimana?" Gerald bergeser. Terlihat sesuatu tertutup kain putih yang berbercak kemerahan. Entah mengapa tangannya lemas saat ingin mengangkat kainnya.
Kain itu tersingkap. Dan pemandangan mengerikan membuatnya murka. Siapa yang berani memperlakukan anak kecil seperti ini.
Tubuh kecilnya tercabik, dan dadanya tertembus pedang mainan. Wajahnya hancur tak lagi berbentuk.
"MINGGIR!" Seseorang menerobos masuk, namun orang Gerald menahannya.
"MINGGIR! AKU INGIN MELIHAT ANAK ISTRIKU!"
"PINOT, KEMARI SAYANG! AYAH PULANG! DELILAH! AKU PULANG!"
"PINOT KELUAR SAYANG! KAU TAK INGIN MENYAMBUT AYAH JAGOAN!" Wajah lelaki itu sudah dibasahi air mata. Matanya memerah dan bergetar.
"DELILAH! AKU DATANG SAYANG, DELILAH, LEPASKAN AKU INGIN MENCARI ISTRIKU!" Lelaki itu berontak dalam rengkuhan tim Gerald.
"LEPASKAN! Aku mohon! Aku tahu kalian berbohong"
"Tidak mungkin Delilah dan Pinot meninggalku" rancunya. "Tenang Aldy!"
"Ketua, bagaimana aku bisa tenang! Mereka membuat lelucon bahwa anak dan istriku dibantai …. Ahahaha lelucon yang tak lucu!" Ia membentak.
"Ketua hukum mereka yang berbicara tidak benar!" Tubuhnya meluruh. Penjagaannya mengendur. Kesempatan ia gunakan untuk melesat gesit kedalam rumahnya.
"Jangan dikejar!" Gerald menghentikan bawahannya yang akan mengejar Aldy.
"Tidak!" Suaranya melirih saat melihat dua gundukan yang saling bersebelahan ditutupi kain.
Ia mendekat perlahan. Duduk bersimpuh di antara gundukan itu. Tangisnya tak bersuara. Sesak. Tangan nya bergetar. Ia menyingkap salah satu kain.
Dan ia memeluk tubuh dingin itu. Tangisannya pecah. Terdengar pilu. "Pinot jagoan ayah. Pinot anak baik" ucapnya. Disela tangisannya.
"Aaaargghhh"
"Aaarrgghhh … Delilaaaahhhh …" ia memeluk erat istrinya.
"Mengapa?"
"HAARGHH! PINOT JAGOAN AYAH, DELILAH! DELILAH!" Teriak Aldy kencang. Tubuhnya meluruh lemas dan tak sadarkan diri.
***
Mateo melihat kejadian itu dengan memainkan bola-bolanya di tangannya. Matanya berbinar. Ada kesenangan saat melihat kesedihan mendalam seseorang.
Tedengar tawa-tawa kecilnya. Mateo merasa sangat geli. Bahkan tawanya semakin geli. Ia layaknya orang yang menonton pertunjukan komedi.
Tawanya menjadi terpingkal.
"Aduh … ahahaha … sakit … aduh duh, sangat lucu sekali wajah lelaki itu. Ahahahaa … anak dna ibu itu juga, ppfff … ahahaha …"
Mateo mengusap sudut matanya yang berair karena terlampau banyak tertawa. Ia pun kembali tergelak kencang. Tak kuat untuk berdiri Mateo berguling dilantai. Tawanya tidak juga redah.
__ADS_1
"Pppffftt … huahahahaha … "
Tbc.