
Magnolia masih menangis di pelukan Ale. Namun lelaki itu melepaskan pelukannya. Lalu mendorongnya masuk kedalam.
"Kau tunggu dulu disini" Ale mendudukan Magnolia pada kursi ruang tengah. Dan bergegas kembali mengejar Yara.
Tangan dingin Magnolia menahan Ale. Kepala wanita itu menggeleng. Ia tak mau ditinggalkan.
"Tunggu disini, ada yang harus aku urus!" cengkraman tangan Magnolia mengerat. Kepalanya kembali menggeleng kencang.
Ale melepas cengkraman Magno, dan meletakkan tangan wanita itu di pangkuannya
"Tunggu sebentar aku akan kembali" Magnolia menatap nanar punggung Ale yang tak sekalipun menengok ke arahnya lagi.
Ale harus mengejar Yara banyak pertanyaan di kepalanya. Dari mana info yang Yara dapat itu. Ale bergegas keluar berlari kemana wanita itu akan pergi. Pasti arah pasar. Yara suka sekali berlama-lama di pasar.
Ale mengelilingi pasar tapi tidak menemukan Yara. Memasuki kedai demi kedai. Yara tidak terlihat.
Ia kembali, akan menunggu Yara pondok sajanya, Ale kembali. Ia mencium wangi masakan. Dan bergegas ke dapur.
"Yara kau …"
Sosok yang menatapnya bukan Yara melainkan Magnolia. "Kau sudah pulang? Maaf aku lapar, aku meminjam dapurmu," ucap Magnolia yang sibuk memasukkan sup dalam dua mangkok lalu meletakkan dimeja makan.
"Pakailah, aku akan ke kamar" Ale beranjak ke kamarnya.
"Tunggu!" Cegah Magnolia.
Ale melihat ke arah meja makan. Disana tersedia banyak makanan. Untuk dua orang.
"Aku membuatkan untukmu juga. Ayo makan" Magnolia melepaskan apron yang biasa Yara gunakan, menarik tangan Ale untuk duduk dan makan.
"Aku membuat makanan kesukaan yang biasa aku buatkan untukmu, semoga tetap enak" ucapnya dengan mengedip ke Ale. Lelaki itu hanya menatap wanita di depannya datar. Di dalam otaknya hanya ada Yara saat ini.
Ale hanya diam dengan Magnolia terus berbicara dan mendorong piring penuh dengan masakannya pada Ale.
"Cicipilah" ia menatap Ale dengan wajah penasaran. Ale mau tak mau menyendokkan sesuap makanan Magnolia ke dalam mulutnya.
Rasa enak tapi tak luar biasa. Karena sesungguhnya makanan yang Magnolia masak bukan makanan kesukaannya. Itu adalah makanan kesukaan Gama.
"Bagaimana masih selezat dulukan?" Ucapnya penuh harap.
"Ya" Ale mengangguk.
Jeblakan pintu terbuka terdengar. Yara masuk. Ia mematung. Dan Ale dan Magnolia menatapnya. Yara melihat meja makan dengan lilin, ah, begitu rupanya.
"Maaf menganggu, aku hanya mengambil barang yang tertinggal saja" Yara bergegas ke kamarnya. Tak lama Ale menenggak minumannya, dan mengelap mulutnya. Lalu beranjak dari meja makan.
Magnolia, menghentikan Ale namun lelaki itu seolah tuli, ia menghempas kasar tangan Magnolia dan melangkah menyusul Yara.
Setelah melihat kamar yang ia gunakan bersih, Yara mengambil tas yang ia bawa. Pintu kamarnya terbanting kencang. Yara tahu siapa yang masuk kedalam.
Ia menghela nafasnya kasar. Sebenarnya ia malas berdebat hatinya telah sakit. Dan ia tak ingin melihat wajah Ale untuk saat ini.
"Apa maksud perkataanmu itu?" Ale berdiri dengan tangan melipat didada dan tatapan menghunus tajam ke punggung Yara.
__ADS_1
Ia mengenakan tas pada bahunya. Berjalan mendekat pada Ale. "Maksudku? Aku tak memiliki maksud apapun, hanya membantumu"
"Atau kau sudah tahu?" Ale diam. Lama mata mereka saling bertatapan. "Ternyata kau sudah tahu, yasudah jika begitu,"
Yara melanjutkan langkahnya. Ia mendorong pintu tapi pintu itu tak bisa terbuka. Ia menggunakan sihirnya untuk membuka pintunya,
"Aw!" sihir Yara terpental. Yara mengibaskan telapak tangannya, rasanya telapak tangannya seperti tertusuk puluhan jarum, panas, Ale menggunakan sihir pengikat, tak bisa di lepaskan begitu saja.
"Buka, Tolong!" Ketus Yara dengan menahan panas tangannya.
Yara berbalik dan Ale sudah berada dibelakangnya. "Tolong buka pintunya!"
"Buka saja kalau kau bisa" Mata mereka bertemu. Ale mendengus. Dalam hati ia lanjut berkata, jika kau bisa.
"Apa sebenarnya maumu!"
"Kau mau kemana?" Ale bersuara dingin.
"Bukan urusanmu" kembali Yara berbalik menghadap pintu. Ia akan mencoba membuka pintu.
"Kau adalah tanggung jawabku disini!!" Ale membalik bahu Yara dan berucap dengan nada tingginya.
"Ah itu, kau tenang saja, tak perlu kuatir, aku sudah memberi kabar pada lav untuk disampaikan pada Raja dan Ratu, jika aku menyerah, aku tidak akan kembali ke kerajaan Elf. Aku akan kembali ke tempatku!"
Yara melepaskan cengkraman tangan Ale di bahunya. Ia menatap lurus pada Ale. Dengusan dengan tawa yang mengejek Ale lontarkan.
"Kau ingin menghindar dariku" ucapan yang membuat dahi Yara mengeluarkan tiga garis horizontal. Wanita itu tampak heran.
"Menghindar untuk apa? Aku hanya melepas kekeras kepalaanku padamu. Tidak lebih. Kau menolak dan buat apa aku terus bertahan?"
"Mencintai diriku sebagai aku, dan aku cintai" ucap menggebu Yara.
Dengusan terdengar dari Ale.
"Aku tidak yakin, secepat itu rasamu untukku menghilang?" Ejeknya.
Entah sejak Yara keluar dari pondoknya ia telah marasakan amarah. Dan ditambah dengan ucapan wanita itu tentang akan bahagia dengan lelaki lain menyulut emosinya hingga ia mengepal keras. Ya Alejandro menahan amukannya.
"Menghilangkan rasa memang bisa secepat itu Tuan Jendral, dengan yang kau lakukan tadi" Yara mengeluarkan sihirnya. Ia menggunakan sihir untuk melepas barier kuat. Sebenarnya itu sihir dengan tingkat tinggi yang akan menguras energinya.
Ctaz!
Sihir Ale terputus. Ledakan kecil terdengar dengan percikan api disekeliling pintu yang terbuka perlahan.
Yara berbalik, ia menarik kerah pakaian Ale. Dan mengecup bibir lelaki itu, Melum atnya dalam. Saat Ale mulai terhanyut dan membalas. Yara mendorong tubuh lelaki itu hingga terhuyung kebelakang.
Ale terpaku, ia hanya diam. Ada rasa aneh yang tak biasa. Ia memeras pakaian depannya, hatinya yang ikut tercubit nyeri.
"Berbahagialah Tuan Jendral." Yara beranjak meninggalkan kamarnya. Ia berpapasan dengan Magnolia tanpa harus menyapa wanita itu. Yara keluar dari pondok Ale.
Selamat tinggal cintaku, berbahagialah dengannya, ia terus berlari dengan cepat melintasi hutan desa Selat.
Tujuannya rumah Juan, sebenarnya ia kembali memang untuk mengambil tas dan akan tinggal di rumah Juan untuk sementara, sebelum berbaikan dengan Ale. Tapi sekarang tak lagi ada alasan untuk mereka berbaikan.
__ADS_1
"Kau datang, Ulat?"
"Aku akan tinggal disini, hingga aku menyelesaikan urusan dengan Tanduk Hitam."
"Hah! Ada apa?"Juan ngeri mendengar Ulat akan meladeni Tanduk Hitam.
Mengalirlah cerita tentang dirinya dan Ale.
"Pilihan yang tepat adalah kau pergi dari desa ini yang jauh dan jangan berurusan dengan tanduk hitam!" Juan memberikan saran yang akan ia lakukan jika ia berada diposisi Ulat.
"Tidak bisa! Aku akan menyelesaikannya dan pergi!" Keras kepala Yara.
"Kau jangan mencelakai dirimu Ulat. Kau tak memiliki siapapun disini yang akan menolongmu, aku dan Opal pasti tak akan bisa menang melawan Tanduk Hitam" jawaban panjang lebar Juan.
Juan bukannya menolak menolong Yara namun kekuatannya tidak sehebat itu. Opal lelaki itu janganlah diharapkan, mendengar nama Razor saja membuat kakinya menjadi jeli sangking takutnya.
"Tenang aku tak akan menyeret kalian, mungkin akan membawa teman untuk kemari"
"Maksudmu? Kau ingin meminta bantuan temanmu?" Yara mengangguk.
"Aku meminta bantuan pasukan khusus Phoenix Way, ternyata Tanduk Hitam mulai meresahkan, dan saat aku sebut nama Tanduk Hitam ternyata mereka sudah mengincarnya juga."
"Apa tidak apa jika kau meminta bantuan pada pasukan khusus desa lain?"
"Tak apa, ini tidak lagi kejahatan lokal, Tanduk Hitam sudah menyebar ke banyak kota"
Walaupun Juan akhirnya mengangguk tapi ia masih sedikit ragu. Apa tidak apa jika Yara melangkah hingga meminta bantuan pasukan elit terhebat itu.
"Dimana kamarku?"
"Ah ituu …" Juan masuk dalam rumah dan masuk lagi ke dalam pintu yang ternyata adalah sebuah hutan.
"Inikan … desa dalam desa?" Yara terkejut Juan bisa menciptakan sesuatu yang saat ini ia dalami,
"Kau tahu?" Juan pun terkejut ada yang mengetahui.
"Jangan bilang kau pernah ke Ceraz Viper?" Yara mengangguk.
"Ya, Aku belajar pada Maddy, istri Tosai"
"Kau mengenalnya? Mereka apa kabar?"
"Baik, sekarang, mereka juga hidup pada desa luarnya, tak lagi merasa harus waspada, seperti pertama kali aku menginjak Ceraz Viper."
"Apa yang terjadi? Aku sudah lama tidak kesana? Pasti Maddy akan mendampratku" ucap Juan ketakutan. Ia terlalu sibuk di tempatnya saat ini, membuat ramuan dan menyembuhkan orang-orang dengan trauma"
Jika dikatakan tabib tentu bukan, ia hanya tertarik mempelajari tentang penyakit trauma yang tidak ada obatnya selain ramuan penenang.
Karena Juan adalah salah satu pengidap trauma itu sendiri. Saat bertemu Maddy dna bisa membangun ruangan dalam ruangan ia menjadi bisa lebih nyaman. Ia bisa bersembunyi didalam ruangan itu tanpa diganggu.
Hanya yang diundangnya masuk yang bisa masuk kedalam.
"Istirahatlah, jika kau lapar aku sudah menyiapkan makanan untukmu, aku keluar"
__ADS_1
Yara meletakkan tasnya. Mungkin ia akan tinggal disini lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Tbc.