
Menatapi aliran sungai adalah hal yang Ruve sukai akhir-akhir ini. Dengusan terdengar dari bibir Gen yang menemaninya.
"Cari masalah sendiri. Dan terpuruk sendiri, kebodohan yang yang dibuat sendiri dan rasakan sendiri"
"Ini"
Kertas tebal itu, hijau tua berukir tulisan berwarna emas diatasnya. Disana tertulis nama Elves dan tidak tahu siapa, Ruve menutup dan menyingkirkan kertas tebal itu.
Jika tatapan bisa memotong sesuatu maka Ruve sudah mencincang sahabatnya ini. Ia kesal, sangat kesal. Namun Gen hanya tertawa mengejeknya.
"Menyesalkan" ucap Gen. Ruve melengos ia tak mau mengakui, jika ia menyesal. Sangat. Sudah sebulan kepulangan Elves ke kerajaan Elf. Dan Yara memutuskan untuk tinggal dan berguru pada Maddy ibu Ruve.
Sedangkan Araria melanjutkan mencari tumbuhan obat yang langkah. Gen masih berhubungan dengan Lavender. Hanya Ruvera yang berkubang dalam kesakitan yang ia buat sendiri.
Ruve sekarang sedang mempelajari apa yang harus seorang tetua lakukan, ia dan Deraa belajar bersama Tosai.
Ruve menyibukan diri, benar-benar sibuk hingga dia pun jatuh sakit. Seminggu ke pulangan Elves. Temannya masih tidak tahu tentang Ruve yang menghapus ingatan Elves.
Sengaja ia meminta secara langsung pada Raja Marzon cara menghapus ingatan. Melalui Rooth. Marzon mengajarkannya. Namun sebelumnya Marzon selalu memperingatkan.
Menghapus ingatan seseorang bukanlah sesuatu yang dibenarkan, karena mereka mungkin saja dalam hati kecilnya tidak ingin menghapus ingatan itu, walaupun menyakitkan.
Tapi si bebal Ruve mana peduli, ia terlalu egois, dan hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan perasaan Elves.
Gen memusuhinya saat Lavender men menceritakan keadaan Elves yang lupa tentang mereka.
Karena Ruve membuat Elves bukan hanya kehilangan Ruve tapi juga teman dekat dan orang-orang baik yang selalu menolong mereka.
Gen marah atas keegoisan Ruvera. Namun Gen luluh saat dengan isakan menyedihkan Ruve menceritakan alasan wanita itu.
"Kau masih marah denganku?" Tanyanya pada Gen.
"Tidak, aku dan yang lainnya akan pergi ke kerajaan Elf menghadir—"
"Sssttt … aku tak mau dengar, tolong" ucap lirih Ruve.
"Kau harusnya bertanya pada Tosai, aku tahu akan susah mendapatkan restunya, setidaknya kau sudah mencoba, berusaha bersama, berusaha untuk hubunganmu, bukannya malah menyerah"
"Ck! Bicara begini membuatku kembali membencimu" erangan Gen.
"Jangan benci aku" ia merangkul Gen, ia tak ingin kehilangan lagi, Gen adalah sosok kakak bagi Ruve.
"Aku ingin tapi aku tak bisa!" Gen menghela nafas kasar.
"Terima kasih masih menemaniku" kembali Rasa bersalah itu menghantam Ruve, mendengar ucapan Gen seperti pedang yang menancap di hatinya kemudian merobeknya.
Kebodohannya. Memang.
"Cobalah tanya Tosai mengenai kau yang akan menikah dengan ras yang berbeda, hanya bertanya, mungkin ketakutanmu itu tidak benar"
"Dan aku dengar, Elves bisa mengingat kita kembali, makanya Lav mengundang kita, mantramu tak sekuat itu ternyata"
Gen menepuk kepala Ruve dan meninggalkan Ruve disana, memberi ruang pada sahabatnya yang bodoh itu. Dan membuatnya gemas sendiri.
Disinilah Ruve dengan berbekal ucapan Gen ia berada di depan kamar ayahnya. Namun ia masih ragu.
Saat ia ingin mengetuk, pintu itu terbuka.
"Ruvera?" Tosai memperlihatkan kerutan dalam pada dahinya, melihat gelagat anaknya.
"Masuklah." Mereka duduk di kursi.
"Ada apa?" Tanyanya. Ruve belum juga membuka mulutnya.
"Ayah aku,aku … " Ruve melipat bibirnya. Tosai masih sabar menunggu.
__ADS_1
"Aku menyukai Elves" ucapnya pelan, Ruve memejamkan matanya takut dengan reaksi ayahnya.
"Lalu?" Ruve membuka matanya ia tak melihat kekagetan juga kemarahan dari sang ayah.
"Kalau aku serius dan menikah dengannya bagaimana?" Tanyanya pelan dan menelisik.
"Ya sudah jika kalian saling mencintai" mata Ruve membola dan mulutnya menganga, ia tak percaya dengan pendengarannya.
"Ayah tak melarang?" Bisik Ruve. Ada rasa senang menyeruak dihatinya.
"Kalau sekarang ayah melarang, ayah tak ingin anak ayah menjadi jahat, Elves akan menikah ayah dengar dari Gen"
DEG!
Rasa senangnya pupus dalam sekejap. Benar kata Gen bahwa dirinya bodoh, egois sekarang ia ingin memutar ulang waktu dan kembali kemasa ia memutuskan berdiskusi daripada memikirkan sendiri dan jadinya ia amat menyesal.
Ia harus menemui Gen dan memintanya menemani ke kerajaan Elf, ia ingin mencoba lagi. Biarlah ayahnya berpikir dia anak yang jahat, tapi ia ingin berjuang kali ini walau harus merebut.
Ruve mencari keberadaan Gen, tapi ia hanya menemukan Yara, perempuan itu berkata Gen kembali ke Bymaba untuk menemui Granma Mima.
Ruve mengumpulkan tekat, dan ia sekarang berada di Kerajaan Elf. Pintu gerbang dijaga dengan ketat, membuatnya susah untuk masuk.
Perutnya lapar, ia harus mengisi amunisi sebelum melakukan hal besar nantinya. Ia mampir kesebuah kedai masakan. Dulu Elves sering mangajaknya kemari.
"Ruve, kemana saja kamu sayang?" Pekik wanita dengan tubuh bulat yang menyapanya ini adalah pemilik kedai, ia sangat ramah juga menyenangkan.
"Darla, apa kabar? Makin ramai ya?" Ruve sudah menemukan tempat duduk, tempat yang biasa ia datangi dengan Elves.
"Sehat sayang, berkat kamu juga pangeran" ia selalu menyebut Elves dengan sebutan pangeran.
"Aku siapkan yang spesial untukmu, sayang tunggu sebentar ya" Darla masuk ke dapur, koki dapur adalah suaminya, Kerey.
"Kau tahu siapa yang akan dinikahi pangeran Elves?" Tanya wanita pada wanita lainnya di meja sebelahnya.
"Bukannya waktu makan malam dulu itu pangeran sudah memiliki kekasih?" Jawabnya.
"Lho bukannya itu pangeran Elves?" Ruve membalik tubuhnya dengan cepat.
Netranya tak perlu waktu lama mencari, ia sudah mendapatkan sosok itu memenuhi bola matanya, tatapan Ruve lekat kearah lelaki yang semakin terlihat tampan itu.
Merasa dipandang, Mata Elves bersiborok dengan mata Ruve. Jantung Ruve berlompatan saat ia melihat Elves berjalan ke arahnya.
"Pangeran kemari, dia kemari" ucap berisik wanita yang duduk disebelahnya. Mereka mencoba mengambil kaca dan membenarkan rambut dan pita mereka. Ada pula yang melihat riasan wajahnya.
Ruve menjadi salah tingkah, ia pun ikut merapikan rambutnya, ia menyampirkan rambutnya ke telinga.
Ia mencuri pandang, tatapan Elves masih mengarah padanya. Ruve ingin mengangkat tanganya, namun tertahan. Elves melewatinya.
"Maaf lama,"
"Pangeranku sayang, rindu sekali" sosok wanita, bergaun indah, rambut hitam lurus, tergerai cantik, ia menubruk tubuh Elves memeluknya erat.
Kejadian itu ditangkap Ruve dengan slow motion. Senyuman wanita cantik itu sangat menawan. Sangat cantik, bangsa Elf memang menawan. Batin Ruve.
Siapa wanita cantik itu.
"jangan-jangan itu calon Ratu" ucap wanita di meja sebelah berbisik kencang.
"Ruve makan yang banyak, spesial dari aku dan Kerey, ini sangat lezat"
"Pangeran! Kau kemari, oh halo Mrs William, makan atau diet, aku tak butuh wanita pemakan makanan kambing disini" ketus Darla.
"Oh Darla, aku juga menyayangimu" jawab wanita yang memiliki nama belakang Elves.
"Tentu aku juga menyayangimu Furla, mau sup ikan? Kolagen sangat baik menjelang hari besar."
__ADS_1
"Oh iya pangeran ada Ruve, lho kemana dia tadi dia duduk tempat biasa kalian duduk." Darla celingukan mencari keberadaan Ruve yang sudah keluar dari kedai tanpa menyentuh makanannya.
"Darla?" Seseorang memanggil dirinya.
"Sup ikan oke? Ya aku kesana" Darla kembali sibuk dan melupakan Ruve.
Hati Ruve berdenyut menyakitkan. Tadinya ia merasa percaya diri, bahwa Elves datang padanya, rasa sakit terus bertalu dengan degup jantung yang ikut meliar.
Hujan menambah efek kesedihan Ruve semakin menjadi, bukannbertedu Ruve terus berjalan, ia terus melangkahkan kakinya.
Ia sampai di tempat Gilberto, tempat Elves menghabiskan waktu, juga tempat pertama kali mereka bertemu.
Perlahan Ruve masuk kedalam. Ia menatap kenangan mereka dengan senyum lebarnya. Pakaiannya basah kuyup tapi Ruve tidak segera menggantinya. Tetesan air membasahi lantai.
Ia mengitari tempat itu dengan berbagai kenangan menyetirnya. Tangisannya pecah, isakkan bercampur sesenggukan.
Ia meraih pena yang selalu Elves pakai. Menggenggam erat pena itu, Ia meraihnya kembali buliran air membasahi pipinya yang pucat.
Langkah kaki terdengar, Ruve juga mendengar suara Elves bercakap dengan seseorang. Segera Ruve menyembunyikan dirinya. Ia berjongkok di belakang meja kerja milik Elves.
"Apa yang ketinggalan?"
"Sebuah pena"
"Oke aku menunggu diluar saja"
"Tidak, ini hujan, kau juga masuk, aku tidak lama," ucap tegas Elves.
"Aw, perhatiannya gentlemen ku ini, sini kecup dulu, aku makin sayang"
Cup!
Ruve mengeratkan tangannya. Ini terlalu menyiksanya. Ia tak sanggup, mungkin ini waktunya untuk menyerah, tapi ia belum berjuang, apa semua terlambat?
Sreeekk
Ruve meringkuk di tempatnya. Agar tidak diketahui.
Elves terdiam, ia memegang penanya yang terasa basah dan dingin. Ia melihat adanya bekas basah pada lantai, Dengan hentakan kepala juga kode mata, ia menyuruh Furla untuk pulang terlebih dahulu.
"Ah, sudah menemukannya, ayo kita kembali, wah dingiiinn" Suara wanita itu menjauh.
Dengan mengangguk Furla mengerti, ia pun keluar tempat itu dan pulang kekerajaan. Sudah ada kereta kuda menunggu dirinya.
Elves melangkah perlahan bersembunyi di kegelapan.
Ruve mengintip. Merasa aman ia berdiri.
Elves memandangi wanita basah itu dari tempatnya. Harusnya ia langsung menyergap dan menangkapnya namun ia ingin melihat apa yang akan wanita itu lakukan.
Ruve membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak, dan meletakkan di meja kerja Elves.
"Hadiah terakhir dariku, maaf dan aku mencintaimu"
Zlink!
Ingatan Elves kembali dalam sekejap. Ia membatu di tempatnya, semua kenangan menyerang otaknya.
Kemarahan menyeruak. Ia maju.
"Siapa kau!" Suara berat berbisik menyentak gendang telinga Ruve. Dengan cepat Ruve membalik tubuhnya, Elves berada tepat di belakangnya. Sangat dekat. Hingga Ruve bisa merasakan hembusan panas nafas Elves.
"Bandit dari klan apa kau! Berani sekali mencuri ditempatku!" Ucap Elves lirih. Mata Ruve berkaca. Bibirnya bergetar hebat. Ia bisa melihat Elvesnya sedekat ini.
Dan kegelapan menghampiri Ruve.
__ADS_1
Tbc.