
Terdengar derapan kuda yang menyusul di belakang Elves, mereka melewati tiga pejalan kaki dengan mantel tebal dan tudung yang menutup kepalanya.
"MINGGIR! MINGGIR!" teriak Gen membelah jalan, ia sudah berada di samping kuda Elves. Ketiga pejalan kaki itu menyingkir. Membiarkan Elves dan Gen lewat dengan kencang. Gen memantrai kuda Ruve agar ia mengikuti Gen kembali ke tempat Agrabella.
Mata salah satu pejalan kaki itu menatap sebuah tangan yang menjuntai berwarna kehijauan.
"Memang tidak ada sopan santunya" Decak Mateo. Ia memainkan rantainya. Mereka sudah keluar dari bar yang mereka bakar dan berniat mencari penginapan lain.
Mungkin saatnya menjelajah tengah desa Cahaya ilusi. "Lebih baik kita masuk kehutan" usul Filden. Ia tak ingin berpapasan dengan orang lain.
Lebih sedikit yang melihat mereka, resiko ketahuan semakin kecil. "Baiklah, tapi bisa kita mencari kedai, aku lapar" Mateo menyusul dua rekannya yang sudah masuk hutan lebih dulu.
Mereka membela belukar, melompat dari satu dahan pohon ke pohon lainnya. Dan jika berpapasan orang, maka mereka akan bersembunyi di kegelapan.
Masuk dalam keramaian, ketiganya melepaskan tudung kepala. Dan menikmati keadaan keramaian seperti yang lainnya.
Mateo tangannya selalu sibuk, memainkan tiga bola kecil yang selalu ia lempar-lemparkan ke udara.
Cara efektif agar ia tidak mengeluarkan rantai pada jarinya. Dan akan menimbulkan penasaran orang yang melihatnya.
"Kesana saja, tidak terlalu ramai" Los menunjuk satu kedai. Los tak lagi berparuh, dan mengubah menjadi wajah manusia.
Mateo memesan banyak makanan, ia memang sangat lapar. Dan kedua temannya mempercayakan semua pada dirinya.
Makanan telah tertata di atas meja, pelayan meninggalkan meja mereka. Mateo yang lapar memakan roti isinya. "Tumpukan daging untuk Hyena yang lapar" ujar Mateo menggeser piring dengan tumpukan daging setengah matang itu pada Filden.
"Seekor anak babi panggang untuk si raja unggas" kelakar si ular derik itu mencairkan suasana. Los hanya menatap Mateo.
Mereka menikmati makanannya terdengar kasak kusuk di meja sebelah Filden "Kau dengar barier bagian utara ada penyusup" suara lelaki di meja sebelah mereka membuat Filden melemparkan lirikannya.
"Aku juga terkejut selama ini tidak pernah ada yang bisa menerobosnya."
"Kudengar GranpaD sudah datang, dan jika ia sudah turun tangan berarti masalahnya besar"
Brak!
Seseorang datang ke meja sebelah lalu mengebrak meja.
"Kalian tahu kejadian kebakaran pada Bar milik Nelson pun dengan Nelson juga ikut terbakar? Katanya ada sangkut pautnya dengan barier yang jebol itu" bisik lelaki itu. Para pendengar hanya mengangguk.
Sedangkan Filden menatap lurus Los. Mereka harus bersembunyi. Mateo yang rusuh pun menjadi tenang dengan terus mengunyah roti isinya.
"Aku juga curiga, kalian tahu seaneh apa Nelson dan seteliti apa orang itu? Tak mungkin ia terkunci dan mati terpanggang."
__ADS_1
"Iya benar, dan katanya yang aku dengar saat jasad Nelson ditemukan memang sudah hancur dan jadi abu tapi pada bagian dada masih keliatan tapi dadanya berlubang dan jantungnya menghilang" bisikan pelanggan lelaki itu.
"Jangan bilang Cahaya ilusi sudah tak aman lagi, ada bandit berbahaya yang berkeliaran."
Filden berdecak keras. Ia juga membanting sendoknya. Selera makannya hilang. Mendengar para lelaki yang bergosip di sebelahnya. Tentu saja mereka yang bergosip mengunci mulutnya.
Filden beranjak keluar, wajahnya garang juga dingin membuat beberapa lelaki penggosip itu bergidik ngeri, apalagi dengan tato di leher yang terlihat jelas.
Los menyusul dan Mateo membungkus makanannya, ia tak mau rugi, dan memberi beberapa kantong koin pada pelayan yang girang.
Kantong koin yang Mateo curi dari para lelaki penggosip. Ketiganya tidak suka jika disamakan dengan bandit rendahan.
"Ayo kita cari penginapan, tadi aku sempat bertanya pada pelayan kedai, dan dia memberitahukan ada satu penginapan milik nenek Teapot, kita kesana"
Mateo menyusuri jalan yang pelayan itu gambarkan. Dan merka bertiga sampai pada sebuah bagunan besar didepannya.
Penginapan milik Agrabella. Los masuk lebih dulu, Mereka disambut rakoon kacamata.
"Selamat datang di Nenek Teapot, mau berapa kamar?" Tanya Baltar.
"Satu kamar tapi besar dengan tiga ranjang" Los memainkan pena yang ada di atas meja resepsionis.
"Ada, isi disini"
"Baik ini kuncinya, dan ini untuk selimut" ucap Baltar kaku, matanya terlihat kosong.
Los mengambil kuncinya dan berlalu, disusul Filden juga Mateo yang masih sibuk dengan bola-bola di tangannya.
Untuk sesaat Baltar hanya terdiam, setelah ketiganya tak terlihat, kesadaran Baltar kembali, ia menggeleng, "Apa ada tamu?" Bingung.
***
"AGRABELLA!"
"AGRABELLA!"
"Ada apa?" Regulas berlari mendekat saat ia melihat Elves membopong seseorang dan di belakangnya Gen menyusul.
"Mana Agrabella?" Tanya Gen,
"Ada apa ribut-ribut?" Wanita tua itu mendekat.
"Ruve terkena racun Golum"
__ADS_1
Elves masih membopong Ruve yang terkulai, Agrabella menyikap mantel yang menutupi Ruve. Ia menempelkan tangannya pada tangan Ruve.
"Bawa masuk kedalam, ikuti aku, Regulas siapkan semuanya, ini tidak bagus" Mendengar itu Regulas melesat melakukan apa yang Agrabella minta.
Elves mengikuti peri tua itu. Agrabella membuka pintu sebuah kamar yang didalamnya terdapat ranjang dan lemari kaca menutupi setiap dinding kamarnya.
Ada satu lemari yang menarik perhatian Gen. Lemari dengan kayu yang dicat hitam. Yang berada di tengah ruangan.
"Tidurkan disitu" Agrabella membuka lemari hitam itu. Ia berdiri lama, dihadapannya ada beberapa botol dengan bentuk yang berbeda beda, ada yang kerucut, segitiga, kotak, guci, transparan, dan banyak lagi.
Ia meraih beberapa ramuan. Dan meletakan pada meja yang berada disamping ranjang.
"Aku saat itu sudah meneliti racun apa yang Golum punya, sebelum kami mencari monster lumut itu, kami membuat penelitian lebih dalam, Gilberto yang banyak menemukan hasil riset kami"
"Aku juga tak tahu akan berhasil atau tidak, maaf harus aku memberikan penelitian kami itu pada kalian, maaf"
"Agrabella boleh aku melihatnya?" Elves mencoba membaca tulisan sang guru.
"Sepertinya aku bisa bantu mencari semua bahan yang diperlukan, riset kalian luar biasa, hampir seluruh yang ditulis di buku ini benar"
"Golum mempunyai kekuatan untuk membuat lawannya berhalusinasi, juga membawa kami masuk ke dunia mimpi." Elves mengangguk, menjelaskan sambil membaca tulisan gurunya.
"Tujuannya untuk menjebak kami didalam sana, ia bilang didalam dunia mimpi itu, kami tak bisa mengalahkannya. Juga Golum terobsesi tentang kecantikan." Lanjutnya.
"Semua yang kalian riset semua benar" Kekaguman menjadi rasa 'andai' jika sang guru masih berada didekatnya, mungkin mereka akan melakukan riset bersama dan hasil ya pasti akan luar biasa diluar nalar.
"Lakukan saja, aku percaya bahan uang kau teliti telah mendapat persetujuan dari Gilberto berarti ia memiliki pemikiran yang sama" ujar Elves.
Walau sedikit ragu, tapi melihat dari hasil penelitiannya saja bisa hampir seratus persen benar. Elves juga sama layaknya Agrabella yang memiliki ragu.
"Kalian tak oerlu mencari aku telah memiliki semua bahan yang dibutuhkan" Agrabella mulai meraciknya. Memasukkannya dalam kapsul-kapsul.
"Coba kau dudukkan tubuhnya. Minumkan padanya" Elves menyendokan air ke mulut Ruve, namun wanita itu tidak menelannya.
Elves melempar kapsul pada mulutnya, ia tenguk air dan meminumkannyanpad Ruve dari mulut ke mulut.
Berhasil, Ruve menelan obatnya. Seluruh tubuh Ruve dingin tapi detak jantungnya masih terasa walau tipis. Bahkan tubuhnya sudah sempurna menghijau.
"Kita tinggal menunggu, kau sudah bacakan efeknya setelah Ruve meminum ramuan itu" Elves mengangguk. Ia duduk pada kursi di samping ranjang.
"Aku tinggal" Agrabella keluar ia melihat Gen yang sudah ketiduran dengan bersandar ke lemari. Hari yang melelahkan bagi mereka.
Agrabella mengambil dua selimut. Satu ia berikan pada Elves, satu lagi ia selimutkan ke tubuh Gen.
__ADS_1
Tbc.