Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 107. Kisah Yara Alejandro 14


__ADS_3

"Tuan Hugo, senang melihat anda bisa melewati jebakan si tua itu" Sosok yang Yara kenali.


"Tengkorak Hitam?" Sahut Greya tak percaya apa yang ia lihat. 


"Alejandro" Guman Yara lirih.


"Oh rupanya Jendral Alejandro. Senang bertemu denganmu tanpa topeng menggelikan itu" ucap Hugo.


"Bagaimana jika kau ikut masuk dalam kelompokku?" Tawar Hugo.


"Aku yakin, kau tak akan menemukan apapun jika kau ditempat si buncit itu" ucap yakin Hugo.


"Bekerja sama denganku kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, begitu juga dengan ku aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan." Hugo mendekat pada kursi yang ada di sisi kiri dirinya. Ia mendudukan dirinya, dengan kaki melipat anggun.


***


"Kemana tengkorak hitam? Beritahu dia bereskan para penantang itu!" Si buncit itu memerintahkan bawahannya.


Ia tak pernah dipermalukan seperti ini. Para petarung nya dibuat kalah oleh satu orang yang ukuran tubuhnya saja hanya setengah dari petarungnya.


Ia bukan Ulat. Petarung ini milik Razor. "Lelaki itu merekrut kopian Ulat! Bede b4h sialaan!" Umpat Scrotus.


Ketukan terdengar. Langkah kaki terdengar cepat. "Mana Tengkorak Hitam?" Tanyanya.


"Ia tak ada di tempatnya Tuan. Sudah beberapa hari ia tak ke markas" ucap bawahannya.

__ADS_1


"Cari dia! Dan kerahkan petarung hebat kita!" Anggukan bawahan Scrotus sebelum mereka pergi.


***


Tengkorak Hitam maju ia melawan Ulalat anak buah yang sengaja Razor buat menyerupai Ulat atau Yara. Semuanya sama.


"Aku tak menyangka ia mengkhianati Scrotus, dan ternyata menjadi petarungmu" ucap Razor pada Hugo yang duduk di kursinya.


"Apa saja bisa bila ada uang" ucap Hugo. Ia juga ingin melihat seberapa hebat Ulalat milik Razor.


"Tak bisa memiliki Ulat kau membuatnya, sungguh luar biasa" dengusan terdengar dari bibir Hugo. Seniat itu Razor. Sangat lucu.


"Kau bisa lihat nanti keunggulan apa yang kuciptakan diatas aslinya" sahut Razor percaya diri.


Ditempat lain Scrotus mendapatkan kabar jika Tengkorak Hitam mengkhianatinya. Ia telah menjadi petarung Hugo.


Scrotus tak bisa mengusik Tengkorak Hitam. Ia tak bisa mengusik Hugo. Lebih baik ia melepas Tengkorak Hitam dari pada harus berurusan dengan Hugo.


Scrotus tersenyum kecut. Ia tak memiliki petarung tangguh saat ini. "Untuk sementara kita tak akan ikut pertarungan." Scrotus memutuskan untuk berkeliling dunia mencari petarung tangguh lainnya. Karena jika dipaksa ia yang akan mendapatkan malu.


Yara mengetuk kepalanya. Ia tak menyangka jika keterlibatannya dengan arena urban Latan akan menjadi sebesar ini.


Apalagi ia harus satu kelompok dengan Ale. Ia yakin Ale tak akan menerima kerja samanya dengan Hugo.


"Kau tak kembali ke markas." Juan dan Opal mengetahui jika ia bergabung dengan Hugo. Walau awal Juan dengan tegas menyuruh Yara agar tidak terlinbat dengan para bandit. Tapi mendengar nama Hugo Green, Juan tak lagi protes.

__ADS_1


Yara sempat bertanya, mengapa dengan gampangnya Juan tidak lagi menentang. Ia pernah langsung bertanya pada Juan. Tapi wanita itu mengalihkan topik dengan sangat baik hingga Yara tak lagi meneruskan pertanyaannya itu.


Tapi setelahnya Juan duduk di mejanya disana ia membuka laci dan mengambil selembar kertas lusuh dengan gambar diatasnya. "Green" gumamnya lirih, dengan jemarinya mengelus kertas lusuh itu. 


Ada kesedihan di mata Juan. Ketukan membuat Juan kembali menyembunyikan lebaran kertas lusuh itu. Opal memanggilnya.


"Kembali, tunggu tengah malam" alasan Yara ia tak ingin bertemu dengan Ale. Ya sejak mereka bekerja sama, mereka memiliki kamar di markas khusus milik Hugo.


Yara tentu menghindari Ale. Lagipula lelaki itu pun tampak tak peduli padanya. Tapi tetap ia tak ingin bertemu muka. Ia sedang tahap merelakan. Jadi seminim mungkin ia akan menghindari pertemuan dengan Ale.


Pengecut. Ya, dalam masalah hati. Yara tak menampik. Kembali ia menghela nafasnya. Yara menggigit apelnya kasar.


Ia berada di tempat latihan. Saat akan ke kamarnya yang ada di markas ia melihat Ale. Yara lalu berbelok melipir ke tempat latihan.


Ia tak melepaskan segala atributnya. Ditempat ini semua telah mengenal siapa sebenarnya sosok di balik Ulat.


Tak sengaja saat latihan mantelnya rusak, akibat petarung api milik Hugo. Mantel yang ia gunakan mantel biasa dan saat itu Yara lengah. Ia tak menggunakan bariernya.


Dan semua yang ia tutupi terlihat. Lawannya tak menyangka sosok wanita yang ada dibalik nama Ulat. Walaupun begitu tidak ada yang meremehkan dirinya.


Karena setelahnya petarung-petarung yang meremehkan dirinya ia habisi dengan cepat.


"Kau menghindariku" suara yang mengagetkan Yara. Wanita itu mematung.


Alejandro.

__ADS_1


Lelaki itu tahu jika Yara berputar arah, tak jadi menuju kamarnya saat melihat dirinya berada disekitar kamar wanita itu.


Tbc.


__ADS_2