
Persiapan pesta perjamuan teh melibatkan banyak orang, Phoenix Way pun ikut terlibat. Semua orang bersuka cita untuk sejenak melupakan rasa duka.
Mereka menghias rumah, jalanan, pasar, menghiasnya dengan pita, bunga, kertas warna-warni, balon-balon juga ikut memeriahkan sudut-sudut Cahaya ilusi.
Namun masih ada peraturan yang mengikat, untuk para anak juga kalangan ibu, ada peraturan yang mengharuskan pulang kerumah sebelum pukul delapan.
Acara utama diadakan di sepanjang jalan pasar Cahaya ilusi. Pasar yang berada di depan penginapan Ruve.
Anak-anak tentu saja sangat senang akan banyak gula-gula, manisan juga susu. Begitu juga para orang dewasa, mereka akan mendapatkan secangkir teh buatan Agrabella yang dicampur dengan kekuatan bulan.
Teh yang akan menghilangkan hal negatif dari tubuh mereka. Memberikan kekuatan magis.
Teh yang ditunggu rakyat Cahaya ilusi. Sehari sebelum pesta diselenggarakan mereka akan mengentri di Rumah Ceret Teh.
Ruve dan para volunteer lain mendapatkan kesempatan menikmati kesegaran teh racikan Agrabella terlebih dahulu.
Karena setelah terjun untuk melayani para pengantri teh mereka tidak ada waktu untuk sekedar beristirahat.
Dan benar saja, pengantri terus saja berdatangan. Tapi Ruve tidak merasakan kelelahan. Itu efek yang ditimbulkan dari teh yang ia minum.
Ia sangat bersemangat, juga sangat sibuk. "Mateo, ini berikan pada barisan sebelah kanan," Ruve menyerahkan nampan dengan banyak cangkir.
Mereka yang telah mendapatkan teh tubuhnya akan mengeluarkan sinar keemasan.
"Siap Ruve" Ruve tersenyum melihat tingkah teman barunya. Ia dan Mateo baru bertemu setelah menjadi volunteer.
Ia lelaki yang menyenangkan. Sangat lucu dan suka sekali tertawa. Ia tak sendiri ia memiliki satu teman bernama Los. Seorang yang suka membaca.
Setiap senggang Los selalu membaca bukunya. "Kau membaca apa?" Suatu hari. Ruve melihat Los yang terdiam dibawah pohon menunggu Mateo menyelesaikan tugasnya.
"Hanya pengetahuan tentang ular derik" Ruve sangat antusias ia bertanya. "Apa yang aku temukan?"
"Hanya makanan apa yang tak boleh mereka makan" ucap Los.
Ruve tidak curiga. Ia malah menyangka Los melakukan itu untuk Mateo. Ini mengapa Ruve bisa dekat dengan Mateo. Mateo adalah bangsa derik sama dengannya.
Ruve sangat senang menemukan teman satu klan. Ruve jalas tak mengenal Mateo ia terlalu sibuk ditempa untuk menjadi penerus.
Temanpun Ruve hanya sedikit.
"Kau begitu sayang pada Mateo, aku terharu, melihat persahabatan kalian" Ruve menepuk bahu Los pelan.
"Ruve kembali kerja! Kita kekurangan orang!" Teriak Elves dari kejauhan. "Aku pergi ya, selamat membaca." Ruve menjauh.
"Wanita bodoh!" Findel sedari tadi menguping, ia keluar dari tempat persembunyiannya.
Los mendegus, membenarkan kebodohan wanita yang membuat Mateo gila itu. "Aku merasa ringan setelah meminum teh itu. Aku ingin mencurinya."
"Aku dengar ini teh kesukaan Raja dunia bawah." Los berkata.
"Pantas saja. Teh yang bisa membuat nyaman" Findel naik ke tempat dimana ia nyaman, atas pohon.
Los juga merasakan kekuatan dari teh itu. Ingatnya semakin baik saja, juga ia cepat mencerna informasi.
***
"Kau sudah menemukannya?" Lisica berbisik pada Berus. Macan hitam itu mengangguk dengan tatapan datarnya. Melihat kesekitarnya.
"Mereka berpencar, menyamar dengan sangat baik, tapi teh buatan Agrabella memang ajaib"
"Aku dengan mudah menemukannya, dan mereka masih tidak sadar. Orso menjaga si tato, Kau dan simba berjaga, Lonard menjaga si buku."
"Yang pasti aku yakin mereka mengincar satu orang yang menjadi targetnya. Aku telah baca yang kau kirim dari pusat. Mereka saat ini dalam tampilan berbeda."
"Dan akupun tak menyangka ia menjadi targetnya, mau tak mau ia harus menjadi umpannya" Berus tak lagi menanggapi. Matanya menatap ke tempat Ruve yang sibuk dengan Mateo.
Ruve mengenalkan lelaki itu padanya dan Orso. Bukan hanya dia tapi juga Elves dan Gen, sahabatnya.
"Apa dia duta berteman?" Celetuk Berus.
"Hah? Apa? Kau bicara denganku?"
Lisica memiringkan kepala, melihat perubahan wajah dari Berus, ia heran, orang datar itu bisa tersenyum hangat. Lisica melihat kemana arah tatapan Berus. Dan menemukan Ruve yang mengomel pada Gen.
"Hati-hati kau jatuh cinta" Yang langsung kabur sebelum sang macan menelannya bulat-bulat. Berus hanya mendengus dengan kelakuan rekannya itu.
***
__ADS_1
Musik terdengar meriah, suara riang tawa berderai, lampu kelap-kelip, bendera warna-warni bergoyang terkena angin malam, anak kecil dan sebagian wanita telah kembali pulang kerumah masing-masing mengunci pintu dengan rapat, pesta sangat meriah, semua menari dan berdansa.
Bukan hanya ada teh juga ada alkohol disana. Banyak yang mabuk dan tak sadarkan diri.
Ruve sedikit terhuyung. Gen bahkan sudah tertidur, banyak minum karena frustasi, seharian mengejar Lisica dan hanya mendapatkan tanggapan dingin.
Lisica dan Araria pamit kembali ke kamar begitu juga dengan Orso. Sedangkan Simba, Leonard juga Berus, tak terlihat sejak pertengahan pesta.
Elves masih menikmati pesta. Ruve beranjak dari tempatnya. "Kau mau kemana?" Elves memegang lengan Ruve.
"Kamar mandi" ia sedikit mabuk tapi masih tersadar. "Aku antar" ucap Elves. Ruve hanya mengangguk. Lalu ia berjalan tidak masuk ke penginapan. Tapi ke belakang penginapan.
"Katanya kau mau ke kamar mandi? Rube kau kemana?" Ruve tidak mendengar perkataan Elves, ia terus melangkah masuk kedalam hutan di belakang penginapan.
"Ruve! Hei! Kau mau kemana?" Ruve menepis tangan Elves.
"Ruve! Kau mau kemana?" Elves mengguncang lengan Ruve dan membuatnya mendongak menatap Elves.
Elves melihat mata Ruve kosong.
Ruve melepaskan cengkraman Elves di lengannya. Kemudian ia kembali berjalan masuk hutan.
"Berhenti Ruve!" Elves menghadang Ruve.
"Ruvera, kemari sayang!" Suara seseorang muncul dari kegelapan hutan. Ruve mendorong Elves dan datang ke sumber suara.
"Ruve berhenti" Elves menahan lengan Ruve, namun dengan gesit Ruve memutar lengan Elves dan memelintirkan tangan lelaki itu ke punggungnya.
"Ark" pekik Elves.
"Kemari sayang!"
Suara itu memanggil Ruve. Ruve bereaksi hanya pada suara itu,
BRUGH!
Ia mendorong keras dan membuat Elves jatuh tersungkur, Kaki Ruve bergerak dengan sendirinya mendekati suara yang memanggilnya.
Elves bergegas bangun, dan mengejar Ruve namun sosok lain menghimpit lehernya kencang. Elves berontak. Namun ia tak bisa melepas jeratan kuat itu.
"AKU TAKDIR RUVERA!" Teriak menggelegar. Suara itu.
"Mateo?" tebak Elves. Dan sosok Mateo keluar dari kegelapan sedang memeluk Ruve dengan tatapan kosong.
"Benar aku pasangan yang ditakdirkan oleh Ruvera, ya kan sayang?" Ruve mengangguk, Mateo mendekatkan wajahnya pada Ruve, ia mengecup pipinya.
Elves mengepalkan tanganya. "RUVE SADAR!"
"Uhrg!" Himpitan lengan Findel mengeras. Sesuatu yang menyakitkan menusuk punggungnya.
Los menyuntikan tubuh Elves dengan sesuatu. Elves terus mencoba melawan, tapi Findel dengan mudah membuatnya tak berkutik.
"Sayang kita harus pergi, sebelum para pengganggu itu sadar" Ruve mengangguk.
"Findel habisi dia" Mateo tak menyangka, ini sangat mudah harusnya ia melakukan ini lebih cepat.
"Ayo sayang" Ruve masuk dalam rengkuhan Mateo. Mereka bertiga meninggalkan Findel dengan Elves.
"Ruvnnm … mhmm … " Elves berusaha berontak.
BRAK!
Tubuh Elves ditekan ke tanah, tubuhnya seakan lumpuh, ia tidak bisa menggerakkan tangannya. Siaal! Siaall! Siaal! Maki Elves.
Cairan apa yang mereka suntikan padanya,
"Kau akan mati, jantungmu mungkin lebih lezat dari bangsa peri yang aku mangsa"
Wajah Elves bergetar, rahangnya mengeras, ia ingin sekali mengejar Ruve dan menghajar Findel, namun tubuh kakunya menahan semua.
DRAK!
Tendangan kencang membuat tubuh Elves yang tak bisa dikendalikan berguling cepat menabrak batu.
Matanya menyipit, ia tak merasakan sakit pada tubuhnya. Namun kepalanya mengeluarkan darah, mungkin juga hidungnya patah.
Ia melihat seringaian Findel. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan tangan itu pada Elves dengan kuku yang meruncing tajam.
__ADS_1
Findel menyentuh dada Elves, merasakan detak jantung yang menggila.
"Sangat menenangkan"
Findel menutup matanya. Menikmati irama detak jantung Elves yang penuh kemarahan. Namun ia tak bisa melakukan apapun.
BRAK! KRAK!
"Maaf terlambat teman" Gen datang dengan cengiran tanpa dosanya. Ia melenggang ke dekat Findel tersungkur. Karena tendangan yang ia terima dari samping.
"Beraninya kau merusak kesenanganku!" Desis Findel yang sudah dipengaruhi rasa membunuh yang tinggi. Sudah lama ia menekan rasa itu.
Tapi setelah ia akan melampiaskannya, seseorang atau sekelompok orang di depannya ini merusaknya.
"HEARGH!"
"KALIAN MENGGANGGU!" Findel berlari maju dengan percaya diri, memperlihatkan gigi tajamnya siap mengoyak tubuh seseorang.
"HYEAA" Leonard datang dari atas. Ia mencengkram belakang pakaian Findel lalu melemparkan tubuhnya ke bebatuan. Findel berguling menabrak banyak bebatuan.
BRAK! BRAK! DRUAK!
"HURG!" Ia memuntahkan darah segar, nafasnya terputus. Robekan di alis mengalirkan banyak darah, menutupi sebagian wajahnya.
"Kalian tak akan bisa mengejarnya! Ahahaha" Findel melarikan diri.
"Dasar pengecut!" Umpat Gen, Leonard mengeluarkan suntikan dari tas di pinggangnya, dan kembali memasukkannya di punggung Elves.
"Apa itu?" Alis Gen menyatu, saat suntikan besar itu menembus punggung Elves dan temannya hanya diam. Tidak berteriak dan merintih.
"Penawar, temanmu ini mati rasa. Ia tak merasakan apapun, tapi setelah obat ini—"
"AARGH!"
"HAAARGH!"
"HHH, AAARGHH!"
"Bekerja sakitnya akan terasa." Lanjut Leonard. Ia mengeluarkan beberapa butir kapsul dan memberikannya pada Elves.
"Minum"
Elves dengan tanham bergetar hebat menerima kapsul itu dan menelannya. Tangannya ia gebrakkan ke tanah, rintihan terdengar dari bibirnya. Mencakar rerumputan dan meremasnya kuat.
Obat itu telah bekerja. "Ini minumlah" lagi lelaki singa itu menyerahkan satu botol dengan cairan berwarna hijau tua.
Elves membuka tutupnya dan menenggak cairan itu tanpa pikir. Ia ingin penyiksaan menyakitkan ini berakhir. Dan ia akan mengejar Ruve.
"Berikan ini saat ia pulih, suruh makan" Leonard memberi bungkusan kecil pada Gen dan diangguki oleh Gen.
"Aku duluan" Leonard telah melakukan tugasnya disini. Lelaki itu berubah menjadi sosok singa dan menghilang di kegelapan
Tubuh Elves berangsur membaik, Gen menunggunya sadar. Elves sempat hilang kesadaran. Tak butuh waktu lama, penyembuhan singkat.
"Bagaimana keadaanmu? Ini makanlah" Gen menyerahkan bungkusan itu. Elves memakan apapun itu. Dan ia berdiri, tak ada lagi luka pada kepalanya, atau hidung patahnya, ia kembali segar.
"Sudah ayo kejar mereka!" Elves merasa tubuhnya menjadi lebih ringan. Ia bisa berlari lebih gesit.
"Elves! Kau terlalu cepat! Tunggu aku!" Gen berusaha mengejarnya, tapi ia tak kuat, ia melambatkan laju larinya.
"Hei Elves kau lari seperti kilat, sangat cepat!" Elves berbalik ia menghampiri Gen dan mengangkat dan menggendong Gen di punggungnya.
"Elves obat apa yang mereka berikan padamu? Kau memiliki kekuatan super sekarang," Ucap Gen
"Aku akan minta juga pada Leonard" lanjutnya.
"Elves kau cepat sekali, Woah,"
"Tambah lagi kecepatannya, Elves, cepat kejar!, go,go,go!" Gen menyemangati.
"Awh, Awh,Awh!" Rintihnya,
"Awh, Elves, Jangan juga kau tabrak semua ranting, perih ini … ssshhh" gerutu Gen.
"Gen kau berisik!"
Tbc.
__ADS_1