Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 130. Kisah Yara Alejandro 37


__ADS_3

Dalam ruangan gelap di atas ranjangnya ia duduk di samping ranjangnya. Ia beringsut ketakutan. Tubuhnya membungkuk. Kepalanya terus menerus menunduk.


"Jangaann"


"Jangan! Jangan!"


"Jangaaaannn!"


 


Lengkingan teriakan panjang, semakin lama suaranya melemah dan diam.


Tubuh membungkuk itu menegakkan tubuhnya. Kepalanya pun menegak. Bibirnya melengkung tak sampai mata. Menyeringai. Matanya menyorot tajam.


Kedua matanya berbeda warna. Satu merah hitam, merah putih, Keduanya memiliki warnah merah.


Selalu ada dua pilihan dalam setiap jawaban. Dan kalian hanya bisa memilih satu. Harus satu.


***


Mereka kembali masuk dalam area mimpi.


Helaan nafas Yara terhembus lelah. 


"Selamat datang"


Seorang perempuan berlarian, ia mengitari Ale dan Yara.


"Ayo bermain, kejar aku! Kejar aku!"


Perempuan itu berlari menuju sebuah portal berwarna putih. Lalu ia masuk ke dalam sana. Yara mengikutinya. Ia melangkah akan memasuki portal tapi terhenti.


Ale menahan dirinya. "Apa tak apa? Terakhir kita berurusan dengan bocah lelaki saja membuat mu begini," ada kekuatiran dalam mata lelaki itu.


"Tak apa mungkin ia akan menunjukkan dimana Dantau menyimpan dirinya."


Yara masuk ke portal. Ale mengikutinya. Mereka memasuki sebuah pondok kayu megah. Tinggi menjulang, gelap. Suara langkah kaki yang bertemu dengan kayu menimbulkan bunyi bergidik.


Mereka masuk dalam pondok. Sebuah tangga melingkar dari sisi kanan dan kiri. Dalamnya luas dan tak ada barang.


TRAK!


Bunyi benda jatuh. Yara langsung berlari ke sumber suara. Yara mendapati siluet yang masuk kedalam ruangan.


Yara mengejarnya. Namun ruangan itu kosong. Seperti hembusan angin Yara mendengar suara.


"Ayo cari aku!"


"Kejar aku!"


"Hehehhee"


Yara kembali mencari sumber suara. Kembali ia melihat bayangan yang berlari dalam lorong gelap menuju tangga lantai tiga pondok kayu.


Ale mengikuti di belakang Yara memastikan wanita itu baik-baik saja.


Syuuuuttt …


Trank!


"Waspada!" Ale mengeluarkan pedangnya. Serbuan busur panah menghujani Ale dan Yara.


"Masuklah!"


"Cepat Ale! Masuk!"


Ale menangkis busur-busur itu. Dengan gesit Ale masuk kedalam ruangan dan menutup pintunya.


"Kalian bisa sampe sini"


Yara dan Ale memutar tubuh mereka.

__ADS_1


"Dantau?"


Disamping lelaki itu ada perempuan yang sejak awal mengganggu Yara. Ia hanya diam tak melakukan apapun.


"Kalian untuk apa kesini?"


"Kami akan menjemputmu!"


"Menjemput?"


"Aaah … aku suka disini"


"Jangan terlalu keras pada kami, disini kami diminta untuk menjemputmu!"


"Terlalu keras kepala?"


"Lebih baik kau bertemu dengan dirimu ini?" Ucap Dantau. Lalu perempuan itu kembeli mengganggu Yara dan Ale.


"Kau sampah!"


"Kau tak berguna!"


"Lebih baik kau mati!"


"Sini aku akan membunuhmu!"


Perempuan itu menhitari Yara dengan gumanan-gumanan yang tak berguna. Yara tak lagi tertipu.


Ia dengan cekatan meraup kepala perempuan yang berbentuk siluet hitam selalu menggoda dan mendorong dalam kegelapan.


Yara membanting tubuh si perempuan itu ke tanah. Perempuan siluet itu kembali ke sebelah Dantau dengan sempoyongan.


Layaknya kaset rusak. Gumanannya selalu sama.


"DANTAU KEMARI!"


"AKU AKAN MENYELAMATKANMU!"


"CEPAT!"


Tubuh Yara dan Ale seperti terseret. Ke satu tampat. Disana ia melihat diu bocah meringkuk, yang satu lelaki dan satu perempuan.


Mereka berdua menangis. Lalu ada tangan tangan orang dewasa yang melepaska  pelukkan mereka dan memisahkan mereka.


"Bitaa … " Dari samping Ale dan Yara sosok Dantau, menangis, ia menggedor tembok tak kasat mata. 


"Bitaaaa … "


"Maafkan aku Bitaaaa …"


Dengan cepat suasana berubah diperlihatkan pertumbuhan keduanya dengan cepat dimana kedua bocah yang awalnya Yara prediksi berusia 5 tahunan.


Terlihat bagaimana mereka menjalani dua didikan. Yang wanita seakan disiksa, melakukan banyak pengobatan dan yang lelaki diperlakukan layaknya anak lelaki biasa.


Terkadang mereka bermain bersama dan bocah perempuan itu berlagak layaknya teman dekat normal.


Kita dibawa menjadi sosok sang bocah lelaki berusia kira-kira 8 atau 9 tahunan. Bocah itu meneriakkan nama "Bita" berkali-kali.


Hingga bocah itu melihat dalam kegelapan sebuah ruangan. Bau anyir menyeruak. Ia menangkap sosok yang memunggunginya. Ia terkekeh. Menatap sesuatu ditangannya.


"Bita?"


JDAR!


Kilat masuk terang masuk melalui jendela ruangan itu yang terbuka. Gemuruh juga hembusan angin kuat membawa wangi hujan juga bau anyir.


Tawa melengking kesenangan terdengar, bocah perempuan itu menatap dengan mata yang berbeda. "Aku mengunci dirinya! Dalam diriku, Dantau!"


"Bita … "


Tubuh bocah lelaki itu kaku ditempatnya saat bermata nyalang, senyum menyeringai, ia memanggil nama Dantau. Wajah itu penuh cipratan darah.

__ADS_1


Kilat dan petir kembali menyambar memperlihatkan gambaran lebih jelas dari siluet itu.


"Dantau"


Tak lama mata Bita menyorot normal. Dengan senyuman lembutnya. "Selesai!"


"Kau sekarang hiduplah bebas Dantau"


"Larilah dari tempat terkutuk ini"


"Larilah!" Perlahan Bita melangkah mendekati jendela yang terbuka.


Dantau kecil sedari tadi berdiri kaku didepan pintu ia tak berani masuk.


"Maafkan aku Dantau aku tak bisa terus bersamamu"


"Terima kasih"


"TIDAK!"


"JANGAN!"


"TIDAK! TIDAK!"


teriak Dantau dewasa terus menggedor dinding tak kasat mata. Bocah perempuan itu mengangkat pedangnya yang tipis mengarah ke leher.


Kilat memantulkan cahaya pada pedang. Dan semua terjadi cepat. Kepala bocah perempuan itu menggelinding di kaki Dantau.


"Oh kasihan sekali! Ia menyerah dan tak ingin hidup bersama denganmu!" Suara menggema dari belakang tubuh Dantau kecil.


"Tapi tak apa kita bisa cari lagi dia dalam tubuh seorang gadis yang kita kan bangkitkan Ratu Elf Hitam di dalamnya"


"Kau tenang saja!"


Blash!


Suasana kembali memutih. Ada Dantau dengan tangisnya. 


"Suara siapa itu yang ada di belakangmu saat itu Dantau"


"Suara seorang dokter di pusat pengembangan observasi" lirih Dantau linglung. Ia seperti dibangunkan pada kenyataannya yang menyakitkan.


Tentang Bitanya yang selama ini selalu menderita demi dirinya. Ia tak pernah ingat kejadian terakhir saat Bita mengakhiri dirinya.


Mungkin ia  melupakan kenyataannya yang menyakitkannya itu. Makan ingatannya terlupakan atau sengaja dihapus daro ingatannya.


"Dokter Helius"


***


"Dokter" seorang pasien yang menggunakan pakaian pasien menyapa dokter yang berjalan di koridor rumah sakit.


"Flora? Bagaimana keadaanmu hari ini?"


"Berkat Dokter, lebih baik dok" wajah pasien itu merona. Ia tersipu.


"Bagus, istirahatlah dengan baik dan dengarkan semua kata dokter ya!" Sangat ramah. Ia pun pamit.


"Dok"


"Sudah sehat Tuan?"


"Iya dok, terima kasih"


"Syukurlah, permisih"


Langkahnya masuk dalam ruangannya. Senyuman ramahnya perlahan menghilang. Ia masuk lagi dalam sebuah ruangan, menekan tombol, pintu rahasia lain terbuka. Lorong dengan kaca-kaca lebar di kanan kirinya.


Lagi ia memasuki pintu kaca. Dan disana banyak tabung-tabung besar berisi air, Banyak tubuh mengambang di dalamnya.


Ia mengelus salah satu tabung, seringaian miring terlihat pada tampang bengisnya.

__ADS_1


"Maha karya"


tbc.


__ADS_2