Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 61. Meringkus Klan Hyena


__ADS_3

Mereka mengintai para bandit yang itu. Ruve tak ingin sampai mereka lepas. Ia dengan perlahan melihat pergerakan Mateo.


Sesama derik ia bisa memprediksi gerakan lawannya apa lagi yang sebangsa dengannya. Ruve tidak ada lawannya saat ia masih di desanya. Namun Berus memasukan ke kelompok Orso dan sedang mengintai pergerakan Filden.


Lelaki itu. Ia pernah bertemu dengannya. Ia ingat tato di lehernya. Si bandit yang menghadangnya setelah pulang dari Taman Jiwa.


"Ah dia rupanya" desisnya berbisik. Ruve terkejut mengapa ia bisa melakukan hal itu? Ataukah Akar Bulkie memberikan efek pada tubuhnya?


Di Cahaya Ilusi saat itu, ia hanya melihat Mateo dan Los sedangkan untuk Filden sendiri Ruve jarang melihatnya.


Mereka melihat pergerakan Filden. Dan mulai mengikuti. Perlahan layaknya bayangan hitam.


Merasa ada yang mengikuti. Findel mengira itu adalah para bandit yang mengincarnya, Senyum miring tercetak pada bibirnya. Sebenarnya ia sedang bosan.


Mateo melarangnya keluar, namun rasa berburunya sangat kuat. Ia berhenti dan pergerakan sang pengintai pun berhenti. Menengok ke arah belakang.


Dan mulai mengejar balik. Ia mengejar Ruve. Gerakan Ruve dibuat layaknya bandit. Ia mengedip ke timnya. Umpannya termakan. Ia melarikan diri.


Ia tersusul, Ruve bisa mendengar kekehan Findel. Dan lelaki itu, menghadangnya. Dengan gesit Ruve menjaga jarak aman dengan kuda-kuda siap, jika ia diserang.


Orso telah menghilangkan aroma ularnya. Itu membuat Hyena itu menjadi penasaran dan terbukti. Filden cukup penasaran.


Bandit dari mana yang berani-berani mengikutinya. Tubuhnya sekecil itu, mungkin ia bandit yang hanya asal mengambil target.


"Kau salah mengambil musuh bandit" ucap Filden. Ia melipat kedua tangannya didada. Menunggu lawannya itu melawan.


Mata bulat menatapnya tanpa ada rasa takut, membuat Filden lebih bersemangat. Ia suka lawan yang benar melawannya tanpa menghibah.


Ruve mendapat kodenya. Ia menyerang Findel dengan membabi buta. Findel memang menyangka jika lawannya ini anak bawang dengan tingkat keagresifan tinggi untuk memenangkan pertarungan.


Filden melawan dengan respon tenang. Memperhatikan gerakan lawan yang memang di bawahnya jauh.


Filden sudah menduga itu. Ia menangkis gerakan lawan dengan mudah. Tangkisan yang semakin lama semakin membuatnya bertahan.


Gerakan serampangan namun power yang dimiliki serangan itu cukup besar. Filden yang tadinya merasa bosan semakin tertantang. Lawannya ini menyerang titik lemah tubuh lawan.


Ruve tadi hanya melakukan serangan acak, Orso yang mengontrol. "Ruve santai, biarkan ia banyak menilai" Leonard ia masuk dalam tim Orso.


"Lakukan sampai ia merasa gerah, sebentar lagi" Leonard mengerti lirikan Ruve yang sesaat padanya.


"Hey bocah, waktu main-mainmu telah habis." Filden bersiap menyerang, kuku panjangnya siap mencengkram jantung Ruve.


Gerakannya gesit. Ia maju mendekati Ruve. Namun dengan cepat juga Ruve menangkap gerakan tangannya. Mata mereka saling bersimborok.


"Kerahkan kekautanmu jika tak ingin jantungmu ia ambil." Orso dengan tampang serius. Matanya menatap tajam dari balik kegelapan. Hilang sudah sikap ramahnya, sekarang waktunya menyerang.

__ADS_1


Filden merasakan ancaman di belakangnya, ia menjauh memberi jarak pada Ruve dan waspada pada sekitar.


"Kau tak sendiri bocah! Bagus aku suka" katanya dengan lidahnya menjulur menjilat bibirnya.


Ruve melancarkan hantaman demi hantaman, Filden menangkis dan menghantam balik dan mengenai wajah Ruve. Dengan mudah. "Aduh Maaf" Filden tersenyum miring.


Ruve kembali menyerangkan kepalan tangannya, lalu kakinya ia lancarkan ke perut Filden, tentu saja Filden bisa membaca gerakan Ruve.


"Mana temanmu heh! Takut?" Hantaman cepat mengenai ulu hati Ruve.


"Uhugh" gerakan Ruve terhenti, ia meremas rasa nyerinya. Kembali Filden menyerang dengan gesit, Ruve tersungkur.


Lagi serangan cepat Findel sarangkan ke tubuh Ruve. Ia menginjak tubuh Ruve dan menendang perut Ruve.


Suara kekehan senang dan mengerikan. Mengaung di hutan.


"Hugh hhh uhugh!" Ruve memuntahkan darah segar. Sebagian wajah Ruve masih tertutup.


"Kau bangsa serangga bau sepertinya, lincah dan tak gampang mati" kata Filden. Yang akan menginjak kepala Ruve.


Wanita itu masih bisa menahan kaki Filden. Ia mengerahkan tenaganya. Dan memutar kaki Findel hingga tubuh lelaki itu ikut berputar dan jatuh ketanah.


Gerkan Ruve menjadi lebih gesit. Ia menghantam berkali wajah Filden saat lengah. Lelaki itu menangkap kaki Ruve yang akan menendangnya dan memutar tubuh Ruve.


Ruve masih bisa menjaga keseimbangan dirinya. Ia mendarat dengan sempurna. Dan melihat Filden tertawa kencang. Lelaki itu berdiri. Kembali Ruve maju dengan kecepatannya dan kembali ia melompat dan menyerang perut Filden.


"Hyaaargh!" Ia memegang pinggang Filden dan dengan kekuatannya ia membalik tubuh Filden dan menghantamkan kepalanya ke tanah dengan keras.


DOOM!


Ledakan, menghamburkan tanah dengan asap debu, dan membuat lubang pada tanah. Kejadian terjadi sangat cepat bahkan Filden tidak bisa melawan.


Tubuh Filden lunglai dengan kepala masuk dalam tanah. Ruve menjauh ia menjaga jarak, matanya menatap dingin pada tubuh Filden.


"Ruve jangan lengah! Tak mungkin ia mati semudah itu!" Leonard memperingati Ruve. Dan benar. Tak lama Ruve mendengar suara meringkik.


"Kikikkikkkk" dari tempat Filden. Ia melihat tangan lelaki itu bergerak. Filden menumpuhkan tubuhnya dengan kekuatan tangannya lalu melontarkan tubuhnya. Ia melayang berputar di udara. Lalu berdiri tegak dihadapan Ruve.


Kikikannya terdengar nyaring di hutan yang sunyi. Darah segar mengalir perlahan di kepala Filden.


"Kikiikikkkk ternyata aku terlalu meremehkanmu bocah ihkkikilhiahahaa … " Mulutnya terbuka lebar, ia membukuk memegang perutnya. Seperti Ruve menggelitik tubuhnya.


Filden semakin tertarik. Ia suka tantangan dan bocah kecil ini sudah membuatnya merasakan tantangan.


Ia melompat-lompat ditempat. Adrenalinnya terasa terpompa, tak ia pedulikan sakit pada kepalanya yang bocor.

__ADS_1


Gilirannya menyerang, tadi ia sedang berbaik hati. Menganalisa kekuatan sesungguhnya dari lawan.


Filden menyerang leher dan mencekik leher Ruve, ini lebih cepat daripada yang tadi menyerangnya.


Ruve menghantam batang pohon besar. Ia tak bisa bernafas, jemari dengan kuku panjang Filden membuatnya tercekik.


Ruve meronta. Ia menyerang dengan segala kekuatannya. Kepanikan melanda dirinya. Ia meronta layaknya cacing kepanasan.


"Kemana kekuatanmu tadi hei bocah!" Ucap Filden. Mata Ruve mulai memerah. Matanya berair. 


"Baru juga aku serius kau malah akan mati!" Lelaki itu tertawa senang. Ruve masih meronta.


"Jangan panik! Gunakan kekuatan rantai Ruve tak apa" Orso berkata ia masih memantau dalam kegelapan.


Zzzrrtttt …


Dak!


Mata Ruve menajam, rantainya menghantam dada Filden, namun tak membuat tubuh itu mundur. ia mengontrol jemarinya hingga rantai itu juga menjerat leher Filden.


"Ah kau derik! Jangan bilang kau derik wanita itu!" Jari dengan kuku tajam milik Filden menurunkan kain penutup wajah milik Ruve.


"Ah benar ka— ughh … aha,ha, hahah— " Filden melayang dengan rantai-rantai Ruve menembus tubuhnya. Sengaja Ruve tidak langsung menusukan rantainya pada jantung lelaki itu, dan barulah Orso dan Leonard keluar dari persembunyiannya.


"Kau bersalah atas pembunuhan di Cahaya Ilusi. Kami akan menahanmu!" Orso mengeluarkan tali ikatan yang bersinar, tali yang tak dapat diputus dan membuat penjahat menurut.


Orso melemparkan ikat bersinar dan ia akan mengikat dengan sendirinya. Dari leher, ke mulut, tangan, pinggang dan kaki.


Filden memberontak, tapi dalam sekejap setelah ikatan itu mengikat tubuhnya. Tak ada lagi tatapan tajam menusuk. Hanya ada tatapan kosong.


"Lisica pun berhasil meringkus Los, kita tunggu kabar Berus." Ruve mengangguk.


"Kita kembali" Orso melangkah pergi dengan Leonard. Mereka menggunakan Ruve sebagai umpan, dan Ruve pun dengan senang hati menyetujuinya.


***


"Kau dapat kabar dari mereka?" lelaki itu menggoyangkan gelas yang berisi cairan merah itu.


"Belum" lelaki kedua, mengisap Shisa mengepulkan asap tebal.


"Mereka terlalu lama" lelaki pertama, kembali mencium aroma Wine yang memabukkan itu. Lalu menyesap sedikit.


"Haruskah kita turun tangan?" lelaki pertama itu menatap pada gelas Wine.


"Kita tunggu sebentar lagi" kembali lelaki kedua mengepulka asap-asap tebal.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2