
Elves mempelajari apa yang lelaki itu lihat, Agrabella sedang meracik ramuan Gilberto.
"Bulan purnama akan menambah kekuatannya, kau harus menjemurnya" Elves mendengarkan semua arahan Agrabella.
"Lalu setelah itu diamkan dalam air 3 hari, setelah itu kita lihat lagi." Elves mengangguk.
Tak lama langkah tegas terdengar, muncul satu sosok. "Agrabella mana tehku?" Sosok Lycan hitam. Masuk dan duduk di kursi yang ada.
"Maaf aku sibuk, begitu juga dengan Dylan, kau pasti mendengar tentang penyusup itu" Agrabella, melepaskan apronnya.
"Hmm … Mana tehku?" Lycan itu menggeram. Ia tak mau menunggu.
"Sebentar Marzon! Dasar tidak sabaran" Suara tinggi Agrabella. Ia menatap Lycan itu tajam.
Agrabella menggeser sebuah nampan dan hanya dengan melambai diatas nampan secangkir teh hangat tersedia.
"Ini" Lycan itu menerima cangkirnya dan menyesap tehnya. Raut wajahnya menjadi lebih tenang dan bersahabat.
"Kemana GranpaD?" Matanya tak setajam saat ia datang. Yang ini lebih tenang.
"Mengurus korban terakhir dan akan ke Phoenix Way meminta bantuan pada Berus dan Orso" Agrabella menjelaskan, ia kembali ke mejanya untuk melanjutkan meramu.
"Bagus! Karena ini termasuk pelanggaran besar, dan mereka pasti bertemu denganku akhirnya"
Seringaian terlihat di wajahnya, sangat mengerikan, gigi tajamnya juga matanya yang berkilat kemerahan, menambah kengerian.
Elves hanya menjadi pendengar disana. Dan akhirnya Lycan itu sadar disana tidak hanya ada Agrabella dan dirinya, tapi juga ada Elves.
"Kau tidak ingin mengenalkanku padanya?" Sindir Marzon pada Agrabella. Wanita tua itu menghela nafasnya malas.
"Elves kau tahu jika memiliki Raja dunia bawah?"
"Iya" jawab Elves.
"Perkenalkan aku Marzon, Raja dunia bawah, dari klan Lycan," keterkejutan bisa Marzon lihat di mata pemuda itu.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda raja dunia bawah" Elves hormat.
"Biasa saja, tak perlu seformal itu, dan kau?" Kembali Marzon menyesap tehnya.
"Dia Elves, pangeran dari kerajaan Elf" Agrabella menyela saat Elves ingin mengenalkan diri.
"Baru saja aku bertemu dengan raja Elf, dan ia sangat baik, Kamu sedang mencari adikmu yang diculik? Apa kau perlu bantuan? Aku akan senang hati membantumu" Ucapan Marzon memberikan harapan besar untuk Elves.
"Bagus mintalah bantuan padanya, biar dia ada kerjaan, tidak merecokiku masalah teh saja"
Marzon terbahak. Ia suka kesini bukan hanya untuk secangkir teh, namun karena Agrabella dan Dylan, melihatnya bukan seorang Raja, melainkan dirinya sendiri.
"Tuan ada dua wanita yang memasuki taman Jiwa" Rooth memberinya laporan melalui telepati.
__ADS_1
"Aku pergi, salam untuk GranpaD" Lycan Marzon keluar dan ia berlari masuk ke hutan. Kembali ke kerajaannya.
"Menyusahkan" omel Agrabella dengan senyum terpatri di wajahnya. Elves tak menemukan wajah kesal.
***
Danau dengan asap diatasnya. Suasana sendu menyelimuti keadaan danau. Tampak jembatan, Ruve turun dari kudanya dan berdiri di tempatnya, mengikat sang kuda pada salah satu pohon disana.
Ruve mulai menatap ke kanan-kirinya, kakinya melangkah mendekati jembatan yang tertutup kabut.
TRING!
Suara saat kakinya menapaki pada kayu-kayu jembatan. Ia melangkah perlahan. Terus melangkah, ia menengok ke pinggir jembatan kabut menutupi permukaan air, hawa sekitar semakin dingin.
Bahkan hembusan nafas Ruve mengeluarkan asap putih. Untung Agrabella menyuruh Ruve mengenakan pakaian tebal. Jika tidak ia akan mati beku.
Ruve memakai tudung kepala dan mengeratkannya. Menghalau udara dingin masuk.
Ujung. Ruve menangkap garis ujung jembatan. Ia melangkah tergesah. Agar ia cepat bertemu Rooth.
BRAK!
Akar pohon terjatuh menghalangi dirinya. Ruve membungkuk melindungi diri. Ia mengintip. Dahan pohon itu tak terlihat patah.
Dan Ruve mendapati dahan itu mengelilingi pinggiran tanah didepannya.
Ruve mendekati dahan yang tiba-tiba muncul di depannya dan tidak menimbulkan kerusakan, seakan dahan dan ranting itu sebuah telapak tangan yang melindungi tempat itu dan tidak mengijinkan Ruve untuk masuk.
Wajah Ruve memutih, hidung dan telinganya terlihat memerah. Mulutnya mengeluarkan asap panas.
"ROOTH, PERKENALKAN AKU RUVERA, KLAN CERAS VIPER," Ruve memperkenalkan dirinya sebagai bentuk sopan santun.
"AKU MEMANG INGIN SESUATU DARIMU,"
"PERSETUJUANMU UNTUK AKU MEMILIKI AKAR BULKIE TAHUN INI,"
"AKU INGIN MENGHADIAHKAN PADA ORANG YANG AKU SAYANG," Ruve menunggu dahan ranting pohon itu memberinya jalan.
"Tapi tak apa jika kau tak sejutu, maka aku yang akan membuat dirimu setuju" Senyumannya mengembang, ia akan meladeni Rooth.
Ruve mengeluarkan rantainya. Kerincingan suara deriknya mengisi kesunyian sekitar. Ia akan melewati dengan Ruve menyangkutkan rantainya pada dahan teratanya.
Tapi rantainya ditepis oleh ranting-ranting kecil. Ruve masih berusaha. Mengeluarkan kekuatannya.
Kembali ia menjulurkan rantainya untuk menyangkut tapi terus saja ranting-ranting itu menepis rantai Ruve. Dan dahan dan ranting menyelimuti lebih tinggi tempat tumbuhnya Akar Bulkie.
Ruve berlari ditempat, "DINGIIINN!!" Gerutunya dengan berteriak. Dan ia mulai lagi mengaitkan rantai-rantainya. Tapi tetap ditepis oleh ranting Rooth.
Ranting dan dahan itu turun naik melindungi Akar Bulkie agar Ruve tidak bisa masuk.
__ADS_1
Ia akan meninggi hingga menyelimuti tempat Akar Bulkie berada, jika Ruve ingin mengikatkan diri pada bagian teratas dahan, dan akan kembali memendek jika Ruve diam tidak menyerang.
Tangan kanan Ruve mencoba mengaitkan ke dahan paling yang tinggi, tangan kiri mengaitkan pada dahan bawah yang akan ikut naik menyelimuti tempat itu.
Dan benar, Ruve ikut terangkat, sebelum dahan dan ranting menutup rapat Ruve melompat cepat dan ia berhasil.
Ruve mendarat dan berguling di atas rerumputan hijau. Suasana di dalam sangat bertolak belakang dengan suasana diluar.
Didalam masih terlihat matahari, terik. Suhunya hangat cenderung ke panas. Ruve melepas mantelnya. Ruve menemukan ladang luas dengan begitu banyak AkarBulkie didalamnya.
"HEY ROOTH, AKU TELAH DIDALAM."
"ROOTH YANG KECIL PUN TAK MENGAPA"
"NGOMONG-NGOMONG SAMPAI KAPAN AKU BERTERIAK BEGINI?" Ruve berdeham, suaranya sudah mulai serak dan tenggorokannya sakit ia terlalu banyak berteriak.
"Kau saja yang berteriak dari tadi, aku tidak menyuruhmu untuk berteriak" suaranya terdengar. Ruve mencari keberadaan sosok Rooth.
"ROOTH!" Ruve melonjak kegirangan, akhirnya Rooth merespon dirinya.
"Rooth"
"Hei Rooth," Ruve mulai tersenyum dengan centil. Ia menggoyangkan tubuhnya kekiri dan kanan.
"Kenapa kau memanggilku terus!" Suara tidak ramahnya kembali terdengar. Membuat senyuman terbit pada bibir Ruve.
"Hei Rooth kau tahu lelaki yang ingin aku beri akar bulkie ini sama tidak ramahnya denganmu" Ruve duduk di pinggir ladang Akar Bulkie yang belum mekar sempurna.
"Dia sedang marah, aku menuduhnya yang tidak-tidak, Oh aku ingin bertanya pendapatmu Rooth, bagaimana cara agar dia memaafkanku?" Ruve kembali curhat.
"Kan dia juga tidak ramah sepertimu" lanjut pertanyaan Ruve yang juga mengejek Rooth.
"Rooth? Heiiii, Rooth kau masih mendengarku?" Ruve mendongakkan wajahnya menatap langit yang cerah.
"Jangan bilang kau tertidur mendengar cerita cintaku" omel Ruve, bagai mereka adalah sahabat. Padahal wanita derik itu tidak tahu perwujudan dari Rooth yang sebenarnya.
"Aku mendengarmu, kau cerewet sekali!" Kesalnya.
"Aku pikir kau tidur!" Celetuk lirih Ruve.
"Jadi bagaimana tanggapanmu?" Lanjutnya.
"Berikan apa yang dia mau, selesai!" Senyum tersungging di wajah Ruve. Ini kesempatannya.
"NAH ITU! dia mau Akar Bulkie" Ruve menangkup kedua tangannya dan memohon pada langit.
Tawa terbahak terdengar. "Yang Mulia" pekik Rooth. Suara mereka terdengar oleh Ruve.
"Yang Mulia? Raja Marzon?" Ucap linglung Ruve.
__ADS_1
"Y,YANG MULIA? RAJA? RAJA MARZON! AKU PENGGEMARMU!" Pekik Ruve kegirangan. Ruve juga tidak pernah melihat penampakan Marzon iya hanya mendengar betapa hebat Sang Raja dunia bawah itu.
Tbc.