
Wanita itu berdiri di ranjang, "Ruve?" Mata membola, tampak jelas keterkejutan Elves. ia mendudukkan dirinya di pangkuan Elves.
Ruve bergelung nyaman pada dada lelaki itu. Ia menggeser kepalanya dan wajahnya menatap pada adam apel Elves yang ia perhatikan turun naik, jari dingin Ruve menyentuh adam apel Elves.
"Lucu" guman Ruve yang terus mengelusnya. "Ruve aku panggilkan Agrabella?" Elves berdehem, menghilangkan suara seraknya.
Ruve menggeleng, ia merapatkan diri pada Elves memeluk lelaki itu erat. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Elves.
"Hangat" katanya, Ruve menyurukkan kepalanya lebih dalam ke curuk leher Elves yang menahan nafas, ia merasakan hembusan dingin menerpa lehernya.
Ia kembali menelan saliva nya, gugup, salah tingkah. Tangan dingin Ruve mengelus punggung lelaki itu, Elves tersentak. Nafasnya tercekat.
Tangannya mengepal keras, Menyalurkan rasa meremang pada tubuhnya. Elves memejamkan matanya. Menarik nafas lalu menghembuskan lewat mulutnya.
"Ruve" Serak.
"Ternyata menyenangkan menjadi kalian" mata Elves terbuka. Ia memegang bahu Ruve dan menjauhkan dari dirinya.
"Siapa kau?!" Suara tinggi Elves. Ia melihat Ruve mengerling nakal padanya. "Hai tampan, kau lupa padaku?" Tangan dingin Ruve mengelus rahang Elves. Yang lelaki itu tepis.
"Sakit!" Ruve merengut. Ia mengibaskan tangannya yang sakit akibat tepisan Elves. Ruve turun dari ranjang. Dan mencoba berjalan. Selangkah demi selangkah.
"Wooohoooooo …"
"Ruve!" Pekik Elves saat Ruve mulai berlari mengelilingi kamar ini. Lalu menari layaknya balerina.
BRUG!
"APA YANG KAU LAKUKAN!" Bentak Elves. Ruve membuang wajahnya. Ia tak suka Elves yang membentaknya.
"Kau siapa? Ini bukan tubuhmu!" Elves kesal, entah siapa yang berada dalam tubuh Ruve, ia tak ingin sosok itu melukai Ruve.
"Aku harap kau menjaga tubuh ini" Elves mengangkat tubuh Ruve yang terduduk dilantai.
BRAK!
"Elves Ruve kalian baik-baik saja" Agrabella masuk tergesa, Gen menyusul di belakang "Elves Ru— RUVE!" Mata Gen bersimborok dengan Ruve telah sadar, ia berlari ke arah Ruve dan memeluknya erat.
"Hei kau, derik sialaan! Sudahlah, kau itu derik, aku tahu, kau mengagumiku tapi tidak begini caranya, merubah diri menjadi hijau, itu tak akan mengubahmu jadi ular daun!" Oceh melantur Gen.
"Ih siapa kau! Peluk-peluk sembarangan" Ruve mendorong tubuh Gen hingga lelaki itu terjengkang.
Ruve seakan jijik dan menganggap sentuhan Gen adalah kuman. "Elves dia—?"
"Aku pun tak tahu," Elves menatap Gen sama bingungnya.
__ADS_1
"Golum" Gen dengan keabsurtannya, mencoba menguji, matanya menatap lurus Ruve dan menunggu hasilnya,
"Ya?" Jawab Ruve yang sibuk memilin rambutnya gemulai, Elves menatap tajam Gen yang tak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa, itu pertanyaan banyak orang.
"Agrabella," Elves menatap wanita tua itu.
"Sepertinya kita istirahat dulu malam ini, kita cari solusinya besok" ucap Agrabella ia pun dibuat tak mengerti mengapa Golum bisa berada dalam tubuh Ruve.
***
"Jadi … Ruve menjanjikan tubuhnya dipinjam sehari oleh Golum?" Elves menceritakan pada Agrabella. Mengenai hal yang membuat Golum murka pada mereka.
"Kalian membohonginya agar kalian tahu dimana Golum menyembunyikan lumut 1000 tahun" Gen dan Elves mengangguk, sedangkan Ruve, wanita itu sibuk melihat kuku-kuku jarinya.
"Dan kristal di tengah kotak itu adalah jantungnya?" Kembali Gen dan Elves mengangguk. Agrabella menghela nafas. Ternyata ia juga terlibat.
Jika saja ia tak mengide, dengan menambahkan bubuk kristal itu pada ramuan obat Ruve maka tidak ada kejadian ini. Sekarang bagaimana mereka mengembalikan Ruve seperti sedia kala.
"Bagaimana kalau kita buat Ruve pingsan?" Gen memberi ide gilanya, yang tentu saja dijawab gelengan Agrabella dan Elves.
"Gimana kalau dibuat terkejut?" Lagi ide entah dari mana, juga di tolak.
"Kalian turuti saja kemauan Golum untuk meminjam tubuh Ruve, kan memang Ruve sendiri yang menjanjikannya" Regulas memberikan pendapatnya.
Ia gemas pada tiga orang pintar ini, namun aneh. Idenya sangat tak masuk akal. Sedangkan Golum yang ada di dalam tubuh Ruve menyukai usulan Regulas.
"Terima kasih" Ruve mengecup pipi Regulas. Regulas tak menyangka akan mendapat kecupan Ruve, eh … Golum.
"Aku ingin berjalan-jalan" ucap Ruve. "Masa pakai pakaian ini! Dia wanita tapi pakaiannya semua seperti pakaian lelaki" gerutu Ruve.
"Nanti kita beli" Elves menjanjikan sesuatu yang akan ia sesali. Mereka berjalan ke pasar.
Ruve mengajaknya masuk ke toko-toko dan membeli apa yang Golum inginkan.
Membeli pakaian, alat dandan, manik-manik, hiasan rambut, wewangian, dan masih banyak lagi.
Gen membalik kantong koinnya yang kosong, habis tidak tersisa. Begitupun sama halnya dengan Elves.
Mereka sedang menunggu di tempat Agrabella, Golum ingin berdandan cantik dan makan malam di kedai yang ia mau.
Setelah menunggu berjam-jam Ruve akhirnya turun. Ia mengenakan gaun berwarna pastel menjuntai indah.
Rambut yang hitam lurus, tergerai menawan dengan hiasan rambut cantik, ditambah dandanannya, matanya bulat dihiasi bulu mata panjang dan lentik, perona merah di kedua pipi menambah daya tariknya juga bibir merah mungilnya.
Semua nampak sempurna. Membuat kedua lelaki yang dari tadi menunggunya dengan gerutuan menjadi terdiam. Mereka terpesona.
__ADS_1
"Ruve kau cantik"
"Huh! Golum aku Golum!" Pekik Ruve, ia mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ayo aku lapar" keluar kelakuan bar-barnya. Banyak mata memandangnya, Golum yang merasa semua lelaki memandangnya takjub pun tersenyum, perasaannya jadi baik. Dan menambah kepercayaan dirinya.
"Silahkan Nona mau pesan apa?"
"Apapun yang enak keluarkan semua" Golum berkata dengan mengangkat dagu.
"Ah jangan! Eh bukan, kau bisa menghabiskan semua makanan yang ada disini?" Gen melirik Elves.
"Iya lagian Ruve makannya sedikit kau mau sakit perut dan kita tidak jadi naik perahu?" Elves mencoba mempengaruhi Golum
"Aku ingin naik perahu" Gen menggoyakngak kepalanya, memberi kode untuk Elves melanjutkan membujuknya.
"Nah makan yang biasa Ruve makan." Bujuk Elves.
"Memang apa yang biasa wanita ini makan?" Elves mengkode balik Gen.
Gen menepuk tanganya sekali dan beberap pelayan datang membawa baki-baki makanan.
Pelayan meletakkan baki-bakinya diatas meja mereka. "Wah banyak" guman Golum kesenangan.
"Pertama makan yang mana?" Ia sudah tak tahan, ia lapar.
"Untuk menambah kecantikkan, semua yang kecantikan perlukan ada didalam piring pertama, taraaa … silahkan menikmati"
Gen membuka piring pertama, berisi salad selada tanpa saus, ia menggesernya ke depan Ruve.
"Harus habis, kau tak mau kecantikanmu bertambah?" Elves melihat Ruve enggan memakannya.
"Benar demi kecantikan" ucap Ruve menyemangati diri. Ia menghabiskan sayuran pahit itu. Menelannya susah payah.
"Mangkuk kedua, untuk kulit yang mulus, taraa … " segelas besar jus berwarna hijau. Jus sayuran dan buah-buahan tanpa gula. Wajah Ruve mengkerut, ia tak ingin menyentuhnya.
"Kulit mulus agar lelaki yang sedang melihat ke arahmu tidak berpaling, dan membuat cemburu seseorang"
PLAK!
"Aduh!" Gen mengelus bahunya yang mendapat tamparan dari Elves.
***
"Ketua, aku menemukan target" Los memberitahukan Mateo menggunakan telepati.
__ADS_1
"Ikuti" Mateo memainkan bola-bola ditangannya, "Akhirnya kita akan bertemu lagi Ruve" desis Mateo, senyumnya menjadi seringaian mengerikan.
Tbc.