
Agrabela sibuk dengan ramuan, untuk Ruve juga untuk ramuan Gilberto, Elves menunggunya sabar. Ia mendahulukan kesehatan Ruve.
"Bagaimana keadaanmu?" Agrabella memeriksa dan tampaknya wanita ini tak apa. Semuanya baik. Sangat baik malah.
"Kau baik, Elves merawatmu dengan baik" Agrabella tersenyum menggoda lelaki itu.
"Kalian juga sama merawatnya" elak Elves.
"Kau bisa kembali ke penginapan" Ruve mengangguk, ia senang banyak yang menyayanginya.
"Aku akan mengantarmu" Elves berkata.
"Kau tidak tidur di penginapan?" Elves menggeleng.
"Aku di sini, membantu Agrabella membuat ramuan Gilberto" Ruve menghela nafasnya, padahal ia ingin berduaan dengan Elves.
Ruve sebenarnya iri dengan Golum, ia bisa berkencan romantis dengan Elves. Ia tak peduli, ada Gen juga disana. Ia tetap iri.
Ia juga ingin kencan lagi dengan Elves, dan berdandan cantik, tapi sebagai dirinya.
"Kenapa kesal?" Elves menatap Ruve yang sibuk menendang kerikil, mereka saat ini berjalan ke penginapan untuk mengantarkan Ruve.
"Kau selingkuh!" Ucap Ruve, tentu saja Si pangeran kebingungan, tidak ada petir menyambar, tidak pula hujan badai, ia dituduh berselingkuh.
Dan saat ini pun ia bingung dengan hubungannya dengan wanita yang mengerucutkan bibir disebelahnya.
"Selingkuh?" Tanya Elves ulang, ia harus memperjelas perkataan Ruve.
"Iya, kau kencan dengan Golum! Dan kau terikat dengan ku!" Kesal Ruve.
Ia tahu hubungannya dengan Elves masih absurd alias tidak jelas tapi kan Elves sendiri yang memintanya untuk membuat lelaki itu jatuh cinta padanya. Dan Ruve menyanggupi.
Ruve menganggap itu termasuk ikatan antara dirinya dan Elves. Rasa iri dan cemburu membutakan logika wanita derik itu.
Sibuk dengan pikirannya, tak terasa ia sudah sampai pada tujuannya. Penginapan. Ruve tak juga masuk kedalam penginapan, Menunggu inisiatif Elves, lama.
"Selamat malam"
Elves yang kemudian berjalan menjauh, kembali ke tempat Agrabella, dan tentu membuat Ruve semakin jengkel. Ia menghentakan kaki layaknya anak kecil yang tantrum.
Tak sengaja di lobby ia menyenggol seseorang. Karena sedang marah, Ruve hanya melewatinya saja. Ia pun tidak melihat ke arah orang yang ia senggol.
Ia kembali menyenggol bahu orang lain. "Aduh! Ruve!" Pekik orang yang ia senggol ternyata Gen yang baru keluar kamar ingin mencari hiburan.
"Kau kenapa? Gaya kau seperti bandit pasar!" Ejek kesal Gen. Tubuh Ruve memang mungil tapi ototnya keras apalagi tenaganya kuat.
"ELVES SELINGKUH!" Bentaknya pada Gen.
__ADS_1
"Woah easy girl! Kapan?" Tanya Gen.
"Kemarin, dengan Golum!" Ruve bersedekap dada. Hembusan nafasnya kasar. Bibirnya mengerucut.
"Maksudku, Kapan kau dan Elves memiliki hubungan?" Dan bukannya menangangkan Gen malah tertawa kencang.
Ruve mendengus kasar dengan mata menghunus Gen tajam dan masuk ke kamarnya lalu membanting pintunya. Ia masih mendengar tawa laknat si ular hutan itu!
Ruve berjalan menuju ranjang, dan melemparkan tubuhnya yang baru pulih keranjang. Menutupi wajahnya dengan bantal.
"Dasar! Aaaaarrhh!" Teriaknya di bantal. Lalu ia duduk dan memukul-mukul bantal itu.
Gen membuka pintu Ruve, "Kau tak lupakan? Aku berada disana juga!" Lelaki itu masih saja terkekeh.
Jika mata Ruve adalah mata medusa maka Gen sudah menjadi pajangan batu di kamar Ruve. Ia menatap kesal pada temannya itu.
Karena benar apa yang Gen katakan. Ruve hanya berlebihan.
"Kau tahu saat kau tak sadarkan diri, Elves yang paling panik"
Gen mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang Ruve. Menatap Ruve masih diam dengan bibir mengkerut seperti pan tat ayam.
"Dia menggendongmu dan membawamu ke tempat Agrabella. Ia tak lagi peduli dengan lumut 1000 tahun. Ia meninggalkan begitu saja kotaknya."
"Aku membawanya dan menyusul kalian yang sudah jauh. Aku saja sampai kesusahan mengejar kalian"
Ruve terdiam, ia masih mendengarkan.
"Dan siapa yang menjagamu saat tak juga sadar?"
"Elves" jawab lirih Ruve.
"Dia menjagamu siang malam, walau bergantian dengan aku dan Agrabella, nyatanya ia tak meninggalkanmu lama,"
"Elves menjagamu, semalam, esoknya aku menggantikannya, aku kira ia akan datang sore untuk menjagamu tapi siangnya ia sudah kembali dan menjagamu hingga pagi.
Mata Ruve mulai berkaca. Ia tak menyangka Elves akan melakukan hal itu untuk dirinya.
"Kau tahu saat tubuhmu di pinjam oleh Gulom, ia selalu memperingati monster lumut itu agar menjaga tubuhmu, tidak melukai tubuhmu sedikitpun" tangis haru terdengar dari Ruve.
Semakin lama isakannya semakin kencang. Gen mendekat. Ia sudah menganggap Ruve seperti adiknya sendiri.
Ia mengelus kepala Ruve sayang. "Besok meminta maaflah, ia pasti bingung saat ini" Ruve mengangguk sambil meredakan isakannya.
"Sekarang lebih baik kau istirahat, kau baru pulih." Ruve mengangguk lagi.
"Kalau gitu aku pergi"
__ADS_1
"Iya" jawab Ruve lirih. Besok pagi,. Setelah ia bangun, ia akan pergi ke tempat Elves meminta maaf.
***
"Bagaimana?" Mateo ingin dengar perkembangan pengintaian yang Findel lakukan.
"Aku menunggunya namun setelah aku ikuti semalam, ia tidak keluar sama sekali dari rumah teh itu, hingga aku kembali" laporan Findel.
"Awasi terus"
BRUGH!
Seorang gadis menabrak lengan Mateo. Lirikan tajam ia lempar pada gadis yang menaiki tangga. Ruve.
"Yak sopan!" Ucap Los yang melihat kejadian itu, karena Ruve sama sekali tak peduli sekitarnya. Ia sendang marah.
"Ketua kau tak apa?" Tubrukan Ruve sangat kencang hingga suara tabrakannya menggema di lobby.
"Apa gadis itu tak apa-apa?" Tanya Mateo.
"Sepertinya tak apa Ketua" Los menjawab melihat Ruve yang pergi menghilang di balik tangga, Los menganggap Ruve tak apa.
"Ayo kita pergi, aku tak sabar rumor apa yang akan kita dengar dalam bar, pasti sesuatu yang heboh! Findel kau tidak sempat membakarnya kan?" Mateo matanya menyipit ia tersenyum lebar.
"Maaf ketua" Findel menunduk lagi.
"Tak apa, bukahkah ini akan semakin menarik"
Mateo menatap bola-bola di tangannya. Matanya berubah serius tapi tak menghilangkan cengirannya yang berubah menjadi seringaian.
***
"Kau ingat siapa saja yang berada disekitaran Robin dan Gior, saat mereka membahas tentang penyusup itu?" Dylan menanyai pemilik dan pelayan kedai
"Aku tak ingat, saat itu banyak pelanggan, sebentar, apa saat itu para penyusup itu berada di barku?" Tanya pemilik kedai.
"Bisa saja, tapi juga tidak" Jawaban Dylan, menggantung. Ia pun belum tahu, ia hanya menjalankan ide dari Agrabella. Tapi semua seperti menemui jalan buntu.
"Apa ada kejadian, selama Robin dan Gior disini? Kejadian apapun?" Dylan tak ingin menyerah.
"Ah, sebenarnya saat itu, Robin berbicara terlalu bersemangat dan meja sebelahnya terganggu. Dan salah satu dari mereka keluar dari kedai, Aku tak pernah melihat mereka. Pelanggan baru di kedaiku, pelanggan yang baik, mereka membayar banyak, meminta maaf karena membuat keributan di kedai"
Sang pemilik dan pelayan kedai mengangguk, saat membahas kebaikan pelanggan baru mereka yang royal.
Dylan mencatat semua keterangan pemilik kedai. "Terima kasih" ia kembali duduk pada mejanya. Ia harus mencari keterangan lebih lanjut pada bar tempat Gior memaki si penyusup.
Tbc.
__ADS_1