Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 93. Kebahagiaan yang Membuncang


__ADS_3

Pembicaraan tentang lamaran telah disetujui, pernikahan akan diadakan tiga hari kemudian.


Saat ini Desa Ceraz Viper sedang sibuk untuk mempersiapkan pernikahan Ruvera dengan Elves. Banyak berubah dari desa Ceraz Viper.


Desanya semakin maju dibawah kepemimpinan Deraa, adik Ruvera. Ruve juga turut andil sebenarnya, Saat ia memutuskan hubungan dengan Elves.


Ruve menyibukan diri dengan bekerja untuk desanya. Membantu Deraa. Bekerja tak henti. Agar pikirannya tidak kembali pada Elves juga rasa bersalah.


Satu hari pernah. Ruve ingin melupakan dengan menghilangkan ingatannya. Berhasil namun hanya bertahan seminggu dan kemudian ia ingat kembali dengan Elves.


Selama ini Ruve berjuang dengan dirinya untuk terus bertahan jika pikiran negatif melingkupi dirinya. Kerjalah yang menjadi solusinya, Juga ada waktunya ia berdiri lama di portal cermin.


Ia tidak melintas. Hanya berdiri. Itu pemandangan yang membuat Yara, Araria, Deraa dan Gen, Miris menatapi keadaan Ruve.


Sedih tapi hanya bisa menatap. Semua usaha sudah mereka lakukan, dengan memaksa Ruve untuk datang kekerajaan Elf, dengan mengenalkan Ruve pada banyak teman lelaki, dengan mengajak Ruve menetap di tempat Yara. Namun tidak sedikitpun membuat Ruve bisa melupakan Elves.


Akhirnya Ruve meyakinkan para sahabat untuk berhenti. Berhenti membantunya. Biarkan saja, Ruve pasrah, menyerahkan semuanya pada waktu.


Dan sahabatnya tersenyum pada Ruve di depan altar yang mereka buat, setelah janji suci keduanya telah mereka ucapkan. Ciuman dan pelukan hangat yang menyatukan mereka.


Araria dan Yara juga Lav, menitikkan air matanya, tepukan tangan kencang dari Gen, yang mendapat pukulan Gma Mima yang juga turut datang.


Ada Agrabelle dan Dylan juga ada di barisan kursi. Berus, Orso dan Lisica pun terlihat disana. Mereka merayakan upacara pernikahan Ruve dan Elves.


Sore menjelang malam, makan malam diadakan. Semua penduduk ikut memeriahkan pesta pernikahan anak Tetua Tosai.


"Selamat untuk pernikahannya sahabatku, doakan aku cepat menyusul" ucap Gen.


"Pasangan yang tak kami kira, bahagia kalian" Agrabella tersenyum. Ruve mengucapkan terima kasihnya dengan gerakan bibir pada Ibu dari Yara itu.


"Cucuku aku sangat menyayangi kalian berdua, semoga tuhan selalu memberikan banyak berkatnya dan melindungi kalian berdua" Gma Mima mengusap air yang menertes di samping matanya.

__ADS_1


"Kami sebagai tiga sahabat Ruvera sangat bahagia dengan pernikahan ini, selalu mencintai,"


"Jangan kau kecewakan sahabatku kakak!" Ucap Lavender.


"Dan bahagia ya kalian! Bersulang!" Yara, Araria, dan Lav mengangkat gelas dengan tangkai panjangnya, semua orang disana mengangkat gelasnya bersamaan.Pesta diadakan hingga pagi. Menari dan menari.


***


Paginya, Ruve dan Elves mengantar tamu-tamu mereka pulang, keluarga Elves lalu disusul Agrabella yang mengomeli Yara untuk menikah dan pulang ke Cahaya Ilusi.


Dengan memanfaatkan Hera dan Mikail meminta dijodohkan salah seorang jendral pasukan elit milik kerajaan Elf yang menawan hatinya. Alejandro.


Yang sedari mereka bertemu Yara selalu genit dan Ale yang dingin tak merespon. Hera dan Mikail hanya terkekeh melihat tatapan terganggu Ale.


"Kau boleh datang kapan saja ke kerajaan Elf untuk pendekatan padanya" dukungan Mikail sudah didapatnya. Sorakan kesenangan membuat Yara mendapatkan pukulan dari sang ibu.


"Tunggu aku Alejandro sayang" ia melempar ciuman jauhnya. Membuat Hera dan Agrabella menggeleng dengan kelakuannya.


"Dasar kau sangat memalukanku" ucap Araria.


"Tapi sepertinya Alejandro tertarik padamu, Araria" ucap Lav yang mendapat senggolan dari Gen.


"Jangan ngawur!" Ia melirik Deraa, yang juga meliriknya, Araria langsung membuang pandangannya.


Deraa berubah, ia tak lagi mengganggunya. Dan entah mengapa itu membuat Araria kesal, belum lagi banyak wanita dari klan ular yang memepeti Deraa saat menari di pesta kemarin. Menambah kekesalan Araria.


"Tak apa, aku akan tinggal di Kerajaan Efl" Yara dengan semangat. Setidaknya Ale jarang bertemu Araria dan Araria ia lihat sudah dengan Deraa.


"Apa kau yakin?" Tanya Gen.


"Kau juga akan membawa Lav ke Bymaba kan?" Lirik Yara pada Gen dan Lev bergantian. Bisa dilihat pipi Lav bersemu merah.

__ADS_1


"Nah! Sepertinya si adik akan segera menyusul sang kakak, Elves apa kau setuju?" Tanya Yara pada Elves.


Gen memainkan alisnya menoleh pada Elves ia sangat berharap mendapat restu. "Aku tergantung ayah" dan lelaki berkuping runcing itu tahu. Seberapa Gen gelisa ketika berdekatan dengan Mikail kemarin.


Gerakan wajah jabil Gen memudar. Berganti wajah yang lesu tertunduk di bahu sang wanita.


"Eits! Jangan mengambil kesempatan! Sana menjauh!" Yara suka sekali membuyarkan sesuatu. Gen menatap tajam pada Yara.


"Tenang aku akan ikut kalian ke kerajaan Elf" Yara merangkul bahu Gen. 


"Aku sama sekali tidak membantu" ucap Gen.


"Kata siapa? Kau tahu Raja dan Ratu sangat mendengarkan perkataanku, kau tak lihat saat disini, aku adalah anak ketiga mereka!" Ucap percaya diri Yara.


"Ya kan kakak? Adik?" Ia melihat ke arah Elves dan Lav.


"Dan kau jangan semena-mena padaku, adik ipar!" Yara mengeratkan rangkulan dan berubah menjadi pitingan. Dan membuat Lav melepaskan keduannya.


Wanitanya cemburu. Gen merangkul bahu Lavender dengan senang. Tapi Lav melepas dan berjalan cepat mendahului Gen.


"Love, sayang" berani ia memanggil Lav dengan mengedipkan mata pada Elves.


Ruve merangkul pinggang Elves. "Sayangnya aku" ikut membisikkan kata yang membuat Elves memerah kupingnya.


"Ah gemasnya" Ruve mengecup pipi Elves.


"HEH, PASANGAN BARU, KEMBALI SANA KEKAMAR!" Teriak Yara yang kesal. Ruve dan Elves hanya terkekeh.


"Love you"


"Love you too" Dan Elves ******* bibir Ruve, sekalian memperlihatkan kemesraan mereka toh sudah sah ini.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2