Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
bab 83. Oderaa


__ADS_3

Araria dan Elves terjatuh di ruangan gelap. Dan mereka telah menggunakan kekuatan prajurit Phoenix Way. Armor mereka terpasang, pengelihatan mereka menjadi lebih tajam dan awas.


Bahkan di kegelapan, mereka masih bisa melihat sekeliling dengan jelas. Terdengar rintihan diarah belakang.


Elves melangkah lebih dekat pada sosok hitam meringkuk di lantai. Ia meringis menahan nyeri.


"Deraa?"


Ia bisa melihat mata ular menatapnya tajam. 


"Dimana kakakmu?"


"Dibawa oleh B4jingan Mateo!" Ucapnya kesal. 


"Entah mengapa ia jadi penurut pada B3deb4h siaalan itu!" Umpatnya.


"Araria obati dia, aku akan mencari keberadaan Ruve"


Araria sudah berjongkok di depan Deraa. Tangannya menjulur dan bergerak diatas tubuh Deraa. Ia memindai luka apa yang ia lelaki itu derita.


"Hmm," Araria membuka tas pinggangnya. Disana ada berbagai ramuan juga pil-pil yang telah ia siapkan sebelumnya.


"Ini kunyah" Araria menyuapkan butir pil pada Deraa.

__ADS_1


"Apa ini asam sekali" ucap Deraa. Mulutnya menjadi berair. Ia memang sangat haus. Dan pil ini membantunya.


"Kau dehidrasi, juga cobalah apa yang diajarkan ayahmu tentang mempercepat menyebarkan obat pada tubuh" Araria bisa melihatnya bahwa Deraa pernah mempelajarinya.


Deraa berusaha untuk bersila. Ia menggerakkan tangannya. "Hurgh!" Deraa memuntahkan cairan kehitaman.


"Bagus muntahkan racun yang menggerogoti itu" ucap Araria. Ia juga membantu menyalurkan kekuatannya untuk menetralisir racun pada tubuh Deraa.


"Hurgh!" Lagi Deraa muntah. Setelahnya yang Deraa rasakan hanya lemas, nyeri yang ia rasakan pun hilang.


"Terima kasih kau teman Ruve?" Deraa mencoba berkenalan


"Ya bisa dibilang begitu, kami rekan" Araria melihat lagi denyut di tangan Deraa, sudah mulai normal.


"Kau bisa memanggilku Araria." Ucap Araria. Ia ingin mempercepat. Bisa-bisanya lelaki muda ini mencoba menggodanya.


"Kau sudah bisa berdiri?" Tubuh Deraa lambat laun merasa ringan, dan ia tak terlihat seperti telah teracuni.


"Ya, sehat, ringan, sangat nyaman" Dera menggerakkan tubuhnya. 


"Mari kejar mereka" ucap Araria yang mulai beranjak menyusul Elves.


Deraa mengikuti Araria, tepat di belakang wanita itu, ia terus menatap punggung kecil itu, rasa penasaran nya kembali membuatnya nekat mendekat. Deraa menjajari Araria. Ia ingin melihat wajah perempuan itu.

__ADS_1


"Ada apa? Mana yang sakit?" Araria memperlambat langkahnya, ia menatap Deraa yang juga menatapnya. Ia menghentikan laju langkahnya. Berdiri menyamping menatap Deraa.


Ia mengambil tangan Deraa dan mencoba meletakkan dua jarinya pada tempat dimana nadinya berada.


Ia merasa tidak ada yang salah, kemudian ia meletakan dua jari di nadi lehermya, wajah Araria bergerak dekat. Membuat debaran jantung Deraa meliar.


"Disini" bisik Deraa dengan menunjuk dadanya. "Rasanya ramai sekali" ucapnya. Garis dahi Araria terlihat. Wanita itu tidak mengerti maksud Deraa.


Deraa meraih kepala Araria dan meletakkan di dadanya. "Kau dengar detaknya kencang sekali" tangan Deraa masih menekan kepala Araria di dadanya.


Araria menyentak kepalanya dari tangan Deraa, memandang lelaki muda itu dengan datar.


"Kau mau main-main, tidak ingat nyawa kakakmu sedang dalam bahaya!" Araria memperingatkan Deraa untuk berhenti main-main.


"Oke, kita selesaikan ini, namun kau harus tahu aku, Oderaa tidak pernah main-main, cantik!" Tegasnya. Ia menoel dagu angkuh Araria. Dan kembali mencari keberadaan Ruve. 


Araria hanya menghela nafas dengan tingkah adik Ruve. Ia merasa dejavu, pernah melihat Ruve berkata demikian saat wanita derik itu mengejar cinta Elves.


***


Ruve berdiri dengan tatapan kosong. Disampingnya juga ada dua orang lagi yang mengapitnya. Mereka juga dengan tatapan yang sama kosong dengannya.


Di depan mereka seorang lelaki, mengelus rambut Ruve. "Kau milikku, dan selamanya akan menjadi milikku Ruve" Mateo mengelus pipi Ruve.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2