
Yara melatih Juan. Wanita itu setidaknya harus sedikit tangguh. Walau ia bisa melawan tapi tidak kuat berlama menyerang.
"Ini untuk kebaikan dirimu!"
"Kau tidak bisa menjadi bulanan Hugo dan menyiksamu dengan alasan wanita yang telah tidak ada di dunia ini!" Gusar Yara.
Melihat lebam di sudut bibir Juan. Wanita itu berkelit jika ia tak sengaja terjatuh. Yara tentu tidak percaya. Ale pernah membuatnya lebam seperti itu.
Pipinya menjalas rona merah. Tidak! Ia sedang melatih Juan saat ini! Batinnya.
Yara melatih Juan dengan keras.
Lelah menggelayuti tubuh Juan. Ia berjalan lesu dan lunglai. Akhirnya ia bisa beristirahat. Juan memukul lengannya yang pegal.
Yara tak tahu pergi kemana, wanita itu sedari sore sudah ditarik pergi oleh Ale. Juan sangat berterima kasih pada Ale. Ia bisa beristirahat.
Lengan Jian ditarik dan masuk ke sebuah ruangan. Hugo menyeringai. Juan terkejut. Mata wanita itu melebar.
"Kau terlihat sangat lesu, sehari saja tidak melihat wajahku" kalimat narsis Hugo.
Disaat mereka tidak ada masalah Juan akan terkekeh menanggapi kenarsisan Hugo.
Namun saat ini, ia lelah dan butuh istirahat. Tidak ada waktu menanggapi Hugo.
"Lepas" ucap lirihnya.
"Aku tahu kau tidak akan berhenti tapi tolong untuk hari ini, aku sangat lelah" Juana memohon.
"Siapa kau berani memerintahku, HAH!?" Hardik Hugo mencengkram dagu Juan.
"J4 Lang Sialaan, sepertinya aku terlalu longgar padamu!"
"Berani sekali kau, menego?!" Cengkraman Hugo mengerat. Juan hanya menatap Hugo. Ia benar-benar tak ada tenaga.
"Tolong untuk har— Akh …"
Dorongan keluar pintu Juan dapatkan, ia yang tak siap pun tersungkur. Rasa sakit dan sedih menyelimuti Juan.
"Tak usah memohon, karena kau tak ada hak untuk memilih!"
"Kau hanya terima pembalasanku!"
__ADS_1
"Terima apapun yang aku lakukan pada dirimu,"
"Karena kau adalah milikku! Ingat itu!"
Hugo menutup pintu kamarnya dengan keras. Air menggenang pada mata Juan. Bibir wanita itu bergetar. Menahan segala kesakitan.
Perlahan Juan beranjak dan kembali ke kamarnya. Ia masuk ke kamar mandi dan duduk dibawah shower. Menangisi masa lalunya.
Yara kembali ke kamarnya, setelah menemani Ale berlatih. Ia merasa perubahan lelaki itu. Tidak biasanya Ale memintanya berlatih bersama.
Dulu pernah, tapi lebih banyak Yara yang meminta Ale untuk menemaninya. Seringnya juga Yara tak dipedulikan.
Membuka pintu terdengar kucuran dari kamar mandi. Juan sedang mandi rupanya. Yara menunggu dengan sabar. Setelah 20 menit. Ia merasa ada yang janggal.
"Juan! Kau masih lama?" Suara tinggi Yara.
"Juan?"
"Hei Juana! Kau sedang apa didalam? Bertapa?" Tak ada balasan. Yara menggerakkan knop pintu. Pintu dikunci dari dalam.
"Juan, kau jangan membuatku takut!"
Dengan cemas ia membuka pintu Ale dan Opal berada disana. Melihat kepanikan Yara.
"Ada apa?" Opal maju ia memegang bahu Yara.
"Opal, Juan … Juan di kamar mandi, sedari tadi, aku ketuk ia tak menjawab …"
"Kau tunggu, gak perlu cemas" Opal menuju kamar mandi, Ale mengikuti. Ale mengulurkan tangannya ke knop pintu.
Cklek!
Pintu terbuka. Ale mendorong pintu
"JUAN!" Pekik Yara. Menemukan Juan terkulai di lantai tak sadarkan diri.
Opal dan Ale menggotong Juan keranjangnya. "Aku akan memanggil Otis." Ale keluar dari kamar.
"Kau ganti pakaiannya." Yara mengangguk.
Yara telah menggatikan pakaian Juana. Lalu menyuruh Opal untuk memindahkan tubuh Juan keranjang miliknya.
__ADS_1
Yara mengeringkan rambut Juan. Tak lama Otis, Ale dan Hugo masuk kekamar. Wajah Hugo tampak datar. Tapi terlihat ada sedikit guratan kecemasan.
"Bagaimana?" Otis mendekat begitu juga Hugo. Melihat Hugo entah mengapa amarah Yara langsung naik. Ia beranjak menghampiri Hugo.
"Kau! Ini pasti gara-gara kau!" Tuduh Yara langsung pada Hugo.
Ale maju dan menghadang Yara. Lalu menggiring Yara keluar kamar. Otis melakukan tugasnya. Memeriksa tubuh Juan.
"Ia demam" Otis kembali mencoba memeriksa denyutan nadinya. Matanya melebar. Ia melirik ke arah Hugo.
"Siapa disini suaminya?" Otis melirik kedua lelaki yang ada disana. Opal dan Hugo.
"Bukan salah satu dari kalian?" Lanjut Otis bertanya. Hugo mengernyit dengan pertanyaan Otis.
Keduanya menggeleng.
"Juan belum menikah, mengapa kau bertanya?" Opal menatap Otis.
"Dia hamil"
"Apa!" Pekik Yara yang baru masuk. Ia datang pada Hugo.
"Baji ngan!" Yara mengarahkan tinjuannya pada wajah Hugo. Suara Yara meninggi.
"Bre ngsek sialaaan!" Kembali tinjuan Yara bersarang pada pipi Hugo yang terpaku.
"Mati kau bedeb4ah!" Makian dan umpatan Hugo dapat dari mulut Yara yang murka.
"Kau harus bertanggung jawab, bre ngsek!" Yara menarik kerah Hugo.
"Ugh" lenguhan Juan.
"Juan, kau sadar"
"Haus" ucap Juan.
Tenggorokannya kering. Opal mengulurkan gelas berisi air. Juan meneguk sedikit. Dan memberikannya kembali pada Opal.
"Mengapa kalian disini?" tanya Juan setelah tersadar ada beberapa makhluk memperhatikannya.
Tbc.
__ADS_1