
Ruve mencuri pandang pada Elves yang sibuk meramu obat, Araria melihat kelakuan Ruve yang terlihat seperti cacing kepanasan tak bisa diam itu menautkan alisnya.
Ia kembali menyibukkan diri, biarkan saja, pasti mereka telah berbaikan.
"Pangeran Elves" suara yang dibuat seanggun mungkin itu mendatangi Elves. Araria bukan menatap si centil itu tapi menatap Ruve dan benar saja.
Si derik itu memasang tampang siap serang. Araria melirik pada Laluna, ia hanya bisa mendoakan si centil itu agar selamat sampai rumahnya nanti setelah dari sini.
Ia menyumpal kupingnya dengan butiran kain. Tak ingin mendengar pertengkaran hari ini.
"Pangerang kau tahu Raja mengundangku untuk makan malam" ucap Laluna dengan duduk disamping Elves. Ruve masih memantau.
"Aku sudah memilih gaun yang indah, aku ingin bertanya kau akan mengenakan pakaian berwarna apa?" Ia menopang kepalanya pada tangan dan mencoba berpose seimut mungkin.
"Hitam" ucap Elves yang tak Ruve sangka pemuda itu menjawab pertanyaan Laluna. Ruve kesal. Melihat Laluna yang merasa diatas angin. Mata Ruve menatap mata Laluna yang mengejeknya.
"Oke aku tidak akan mengganggumu hari ini, aku akan siapkan gaun indahku untuk malam ini" Laluna pergi bersama beberapa pengikut wanita itu.
"Hitam huh!" Kesal Ruve yang membuat kekehan Elves.
"Sudah makan sarapanmu" ucap Elves yang membuat dongkol hati Ruve. Ia menyendok kuah panas. Dan membakar lidah wanita derik itu.
"Ah!"
Sendok terpental. Lidah Ruve menjulur, warna memerah. Ruve mengipasinya dengan tangannya.
"Kau ini kenapa selalu ceroboh!" Ucap Elves dengan menarik dagu Ruve melihat lidah wanita derik itu.
"Hudah hana herhi hiakkahn Hakaiamu hitahu hana" usir Ruve yang kesal. Dan cemburu.
Elves menarik lagi dagu Ruve. "Julurkan lidahmu sini ku lihat" ucap Elves. Ruve menurut. Wajah tampan Elf menyihir mata Ruve agar tak mengedip.
Elves menabur bubuk di atas lidah Ruve, rasa manis asam menjalar di lidahnya. Dan tak lama lidah Elves ikut memagut lidah Ruve. Lidah Elves menjalar menjalar dan membelit lidah Ruve.
"ASTAGAH! KALIAN BISA TIDAK BERBUAT MESUM DI MEJA SUCI INI!" Araria murka. Ia sangat terkejut dengan pemandangan yang ia lihat. Wajahnya ikut bersemu merah.
"Mesum? Tidak aku hanya mengobati lidah Ruve yang terbakar. Meratakan obat pada lidahnya" ucap tenang Elves.
"AKU TIDAK BUTA KALIAN BERCIUMAN DI SINI! HOLY MOLLY! CARI TEMPAT TERTUTUP JIKA KALIAN INGIN BERKEMBANG BIAK!"
"BENAR-BENAR PASANGAN MESUM!" Hardik Araria yang melihat tingkah Ruve yang malu-malu menyebalkan.
"Tidak bisa, aku membutuhkan angin segar! Kalian juga keluar dari sini, setelah aku kembali, aku akan mensterilkan tempat suci ini! Dengar aku! Hei kalian pasangan mesum!" Ucap kencang Araria yang meninggalkan pasangan kasmaran itu.
Ruve menutup matanya, ia memukul gemas Elves. "Kenapa? Mau lagi?" Ucap Elves yang membuat Ruve berteriak malu tapi mau. Karena setelahnya ia mengangguk dan kembali saling bertukar saliva.
***
Makan malam berlangsung, Elves datang dengan Araria dan Ruve. Mereka memiliki meja yang berjauhan.
Disisi kanan Elves nampak kosong,
"Apa aku bilang ini bukan hanya makan malam" ucap wanita yang duduk disebelah Ruve.
"Pasti Raja akan mengumumkan pernikahan pangeran Elves dengan Laluna"
"Benar pasangan yang cocok, aku tak sabat mereka menggantikan Raja Mikael dan Ratu Hera." Ucap wanita dengan hiasan bulu dikepalanya.
Walau bagaimanapun Ruve sadar siapa dirinya. Hanya rakyat jelata bukan tandingan Pangeran macam Elves.
Lagipula jika diizinkan past tidak akan bisa Ruve menjadi pasangan Elves, mereka dari ras berbeda. Walau diluar sana banyak pasangan dari ras berbeda tapi Elves adalah calon Raja, syarat menjadi Raja dengan beristrikan ras Elf juga.
__ADS_1
"Lihat, Lihat, Pangeran memandang kesini terus, aduh atau dia memperhatikan aku ya?"
"Kau bermimpi! Pasti ia melihat ke arahmu" ucap wanita dengan hiasan kepala bulu.
Apa ia harus merelakan? Ruve melihat pandangan Elves hanya tertuju padanya. Senyuman Ruve mengembang.
"Kyaaa …"
"Kyaaa …"
"Kau lihat dia tersenyum padaku"
"Tentu padaku!"
"Tidak pasti padaku" Ruve menggeser duduknya, wanita di sebelahnya sangat ribut.
"Ternyata sainganmu banyak ya" Araria memperhatikan juga, karena kelompok wanita disebelah Ruve berkata dengan nada kencang.
"Laluna Martin, itu lihatlah ia mengenakan gaun serba hitam, aku heran mengapa Raja menjadikannya calon Ratu" ucap wanita kepala bulu.
"Mungkin ia melindur, harusnya kepemakaman tapi menyasar kemari" tawa wanita satu dengan kipas tangan menutupi mulutnya.
"Tapi dia tak malu? Ia berjalan seperti dirinya paling cantik!" Gusar wanita kepala bulu.
Banyak kasak-kusuk lain yang Ruve dengarkan.
"Ruve" suara panggilan halus terdengar. Ruve menegok. Kekanan kiri. Namun ia tak mendapati siapa yang menyebut namanya.
"Ruve"
"Araria kau memanggilku?" Ucap Ruve ia melihat gelangan juga wajah bertanya Araria.
"Ruve"
"Kau dengar ada yang memanggilku" Ruve berbisik karena kerajaan mempertontonkan musik, sebelum makan malam dimulai.
"Ruve! Kau dengar aku?" Ucap seseorang di seberang. Tempat Ruve terlalu berisik. Ia berpamitan Araria akan ke toilet.
Araria mengangguk. Ruve keluar.
"Siapa kau?" Hardik Ruve memegang telinganya.
"Ruve kau sudah bisa menggunakan kekuatanmu? Astaga kau berhasil mendapatkan batu kristal?"
"Deraa?"
"Iya Deraa, kau lupa dengan ku? Kakak macam apa kau ini!" Hardik adik Ruve.
"Maaf aku juga kaget, sudah lama aku tak menggunakan kekuatan ini, apa kabar ayah ibu?"
Helaan nafas berat terdengar dari dari adiknya Reuve bisa menebak ada sesuatu besar terjadi.
"Pemberontakan semakin menjadi kak, ayah sangat terdesak saat ini, bangsa Avvol bergabung dengan bangsa Crocuta dan juga ada pengkhianat Ceraz viper yang bergabung."
"Ayah sudah menggunakan kekuatannya untuk melapisi shield yang ada, tapi si pengkhianat itu membukanya. Mateo membang bedeb4h bangs4t!"
"Sebentar apa kau bilang? Mateo?" Ruve meneguk salivanya Mateo yang adiknya makdsut bukan Mateo yang ia tahu kan?
"Iya trio bandit, Mateo memiliki dua teman lainnya. Filden dan Los"
"Filden dan Los" Ruve menebak dan bersamaan mengikuti ucapan adiknya.
__ADS_1
"Kau tahu mereka kak?" Deraa antusias.
"Ya mereka mendatangiku, saat aku berada di cahaya ilusi, aku akan segera pulang,"
"Kekuatanmu telah pulih kak?"
"Ruve! Kemana sa—" Ruve mengangkat tangangannya pada Araria untuk menunggunya sebentar.
"Yah sepertinya sampaikan salamku untuk ayah dan ibu, aku segera pulang" Ruve melangkah mendekati Araria.
"Pulang? Kau akan kembali ke desamu?" Tanya Araria,
"Ya setelah perjamuan ini aku akan langsung kembali ke Ceraz Viper. Mereka membutuhkan aku," ucap Ruve.
"Tapi,itu Tapi," Ruve berjalan dengan kernyitan bingung pada rekannya itu.
"Kenapa?" Pintu ruang makan senyap. Semua mata tertuju pada Ruve, saat ia melipir ke mejanya, seseorang menggiring ke tempat berbeda.
Ia dapat merasakan tatapan panas dari Laluna di mejanya. Kenapa? Ia ditempatkan pada sebelah Elves. Elves berdiri menyambutnya dengan senyuman juga tangan yang mengulur ke arahnya.
Ruve menerima tangan Elves dan tepukan riuh menyambut mereka. Ia menghadap ke arah tamu, mereka masih berdiri. Lalu duduk. Elves membantunya duduk.
"Kau kemana saja?" Bisik Elves mencondongkan tubuhnya ke dekat Ruve.
"Hah?"
"Kau itu" Elves menjitak perlahan dahi Ruve yang menggemaskan jika terkejut.
"Kau aneh, ini sebenarnya ada apa?"
Ruve sudah bisa mengendalikan keadaannya. Ia menatap para tamu, Laluna yang menatapnya sebal, dou wanita di sampingnya yang menilai dirinya, juga Araria yang mengangkat jempolnya.
Kembali Ruve mencondongkan tubuhnya ke dekat Elves.
"Kenapa wanita-wanita itu menatapku menyeramkan, Elves ini ada apa?"
"Pasangan muda, kalian sangat romantis ternyata" ucap Raja Mikail yang duduk disebelah kiri Elves.
Ucapan Raja yang kencang membuat tawa terdengar dari para pria tua,
Cup.
Elves mengecup dahi Ruve dan mengusap rambutnya sayang.
"Maklum Raja, perang membuat waktu berduaan kami berkurang, iya kan sayang"
teriakan para gadis dan wanita memenuhi ruangan setelah adegan yang Elves pertontonkan.
Ruve melebarkan mata, bagaimana bisa Elves menyebarkan hubungannya pada tamu kerajaan,
Araria memutar bola matanya malas. Ia menggelengkan kepala, melihat tingkah laku keduanya yang diumbar di depan tamu perjamuan.
"Pangeran sangat romantis, aaahh jadi semakin suka"
"Laluna saja kalah telak dengan disamping itu, bagaimana dengan kamu" ucap wanita dengan bulu dikepala.
"Ck! Mengapa semua lelaki sempurna telah sold out! Mana untukku!"
"Mungkin jodoh kalian masih dikantongi Tuhan" ucap Araria menyambung. Kesua wanita itu menatapnya dengan ngeri. Mereka menggeser diri mereka menjauh dari Araria.
Tbc.
__ADS_1