
Mereka berada di desa Lamerda. Temuan berus tempat keberadaan Hudson. Mereka berjalan diantara pepohonan pinus.
"Mari kita cari kedai atau bar." Ruve memimpin jalan. Mereka menuju pusat desa. Dengan mengikuti aliran sungai. Mereka pasti akan menemukan rumah penduduk.
Tak jauh, Ruve melihat pondok dengan kepulan pada cerobong asapnya. Pondok sangat luas dan hijau. Di sekelilingnya bebatuan disusun untuk memagari pondok itu. Menandakan adanya kehidupan disana. Mereka bergegas memasuki rumah.
Ruve akan mendekat akan memasuki halaman pondok namun Araria mencegahnya. Ia mencoba mengambil sebuah ranting, memajukannya ranting tersebut.
ZRRRTTTT …
PSSSTTT …
Ranting itu terbakar. Membuat ketiganya tampak terkejut. Mereka mundur beberapa langkah. Ternyata pondok memiliki pelindung dengan listrik. Sungguh menakutkan.
"Dari mana kau tahu?" Pertanyaan Elves.
"Aku melihat adanya beberapa gundukan gosong di sekitar pagar" ucapan Araria dengan mengedikkan dagunya kearah beberapa gundukan hitam.
"Juga aku mencium bau bakaran yang gosong, aku kira itu kelinci, tikus atau rakun, yang ingin mencoba masuk" ucap Araria. Ia berjalan pada gundukan hitam itu.
Sangat teliti. "Aku pernah menemukan rumah dengan barier seperti ini dulu, seseorang yang aku kenal, ia sangat jago membuat barier."
"Aku kira hanya cahaya ilusi yang bisa membuat barier, aku ingat Agrabella memberitahukan aku, saat aku meminta diajarkan membuat barier, hanya bangsa peri dengan turunan asli dengan kepintaran tinggi yang bisa membuat barier" Ruve menjabarkan, mereka mengelilingi pondok itu.
"Benar, salah satunya orang yang aku kenal itu, dia anak Agrabella dan Dylan." Araria memungut sedikit abu dari gundukan hitam itu dan merasakan teksturnya. "Kelinci" ucapnya lirih.
"Aku tak pernah melihatnya saat kemarin disana" Ruve kembali menatap Araria.
"Memang kalian tak akan melihatnya, ia suka berpetualang, dari desa satu ke desa lain, ingin mempelajari banyak barier. Nanti ia pasti akan senang jika aku menceritakan kita menemukan barier dengan kejut listrik ini"
"Araria?" Mereka memandang sumber suara.
"YARAAAA" pekik Araria yang berlari memeluk wanita erat.
"Kau tak pernah kembali ke Cahaya ilusi! Agrabella selalu mengomeli aku, bahkan GranPaD pun ikut selalu mengomeliku"
Tawa renyah terdengar. "Kau dengan siapa?" Yara melihat Elves dan Ruve yang berada di belakang Araria.
"Ah, ini dia murid Gilberto yang lain, dan dia Elves. Kalau ini Ruve, kami sedang mencari seseorang"
__ADS_1
"Perkenalkan ia yang tadi aku ceritakan, Yara anak Agrabella"
"Kau bercerita apa tentangku?" Bisik Yara pada Araria. Melirik sahabatnya itu tajam. Araria melipat bibirnya, dan melemparkan pandangannya kemanapun.
"Yara" Yara menunduk sopan.
"Ruve, salam kenal"
"Elves" Elves menunduk sopan.
"Oke, kita ngobrol di dalam saja" dengan menjentikkan jemarinya, Yara membuka pagar.
"Silahkan, anggap saja rumah sendiri ya"
"Astaga ini pondokmu?" Yara mengangguk. Dengan cengiran manis.
Ruve dan Elves ikut masuk,
ZLENK!
Untuk sesaat rasanya seperti kuping tersumbat air. Barier itu kembali mengaktifkan dirinya untuk kembali melindungi pondok Yara.
"Apa yang membawa kalian ke desa Lamerda" Yara meletakan nampan berisi cangkir-cangkir.
"Mengejar penjahat"
"Aku bertanya serius?" Yara memandang Araria malas.
"Aku serius?! Mana ada bercanda di wajahku? Lihat?" Araria mendekatkan wajahnya dan Yara mendorong kepala Araria dengan telapak tangan menempel di wajah gadis siput itu.
"Jadi benar kalian mengejar penjahat?"
"Lebih tepatnya kami mengejar penculik adiknya dan sahabat kami" Ruve menyesap tehnya. Mencari ketenangan yang di rasakan saat memasuki barier pondok Yara.
"Maaf, aku turut menyesal" Yara mencoba bersimpati.
"Tak apa, yang kami dengar ia berada di desa ini, karena desa ini dekat dengan Dragon Eye."
Yara dan Araria saling pandang. Mereka seperti memiliki sesuatu yang mereka sembunyikan. Saat nama Dragon Eye keluar dari mulut Ruve.
__ADS_1
"Ya beberapa orang percaya Lamerda dikatakan pintu depan Dragon Eye" ucap Yara. Ia berhati-hati jika menyangkut Dragon Eye.
Karena sumber dari sumber berada disana. Tempat bagi Moon Goddess berkumpul. Tempat bagi premium rank berkumpul. Tempat kekuatan.
"Kami mendapat izin dari Raja Marzon" Elves mengungkapkan. Dalam hatinya Elves terus berucap agar ia tak terlambat.
Agar ia bisa lebih dulu mendapatkan yang seharusnya ia jaga. Namun ia sangat bodoh, memberikan benda itu pada penjahat Hudson.
Benda yang menjadi akses masuk Dragon Eye. Para Raja dan Ratu pasti memilikinya.
Sebuah batu berbentuk bulat, dahulu Ayah Elves memberikan padanya karena ia yang ditunjuk menjadi penerus Raja saat ini.
Dan selalu ia bawa kemanapun hingga Hudson menyandera Lavender.
Yara dapat merasakan perasaan bersalah menyelimuti kedua teman Araria itu. Perasaan kuat untuk membalas dendam pun ada, rasanya pekat seperti dulu ia pertama kali melihat Araria.
Dan Yara melihat Araria, dendamnya tak sepekat dulu, ia tersenyum pada sang sahabat.
"Jangan melihat diriku tanpa izin!" Tegur malas yang mendapatkan kekehan dari Yara. Araria tahu sekali dirinya.
"Mereka pekat" ucap lirih.
"Menginap lah disini, kalian bisa menjadikan tempat peristirahatan kalian, lagipula pusat desa tak jauh dari sini, kalian istirahatlah, aku dan Araria akan menyiapkan makan malam menyambut tamu-tamuku"
Yara menyeret Araria yang keberatan. Menunjukan kamar-kamar yang akan Ruve dan Elves gunakan. Mereka menuju lantai dua.
"Dimana kamarku?" Ia bertanya saat Elves dan Ruve berada di depan pintu kamar masing-masing.
"Nanti kau ikut aku! Kita belanja,"
"Apa aku boleh ikut? Aku tak terlalu lelah" Ruve ingin cepat menyusuri desa Lamerda ini.
"Boleh aku sangat senang" Elves tak ikut, ia merasa mengantuk. Karena kurang tidur sebelum datang ke desa ini.
"Ayo, kita girl night out ya" Yara semangat menggandeng Ruve dan Araria.
"Akupun tamu, dan juga lelah! Hei Yara!" Araria protes yang berakhir pasrah dan memborong banyak barang tak perlu, membuat Yara mengomel, karena Araria menggunakan uang Yara.
Ruve selalu dibuat tertawa. Dengan kelakuan keduanya. Ini yang seharusnya ia rasakan umurnya saat ini, memiliki banyak teman, untuk bersenang-senang.
__ADS_1
Tbc.