
Ruve memacu kudanya kencang, pagi buta mereka keluar dari penginapan dan menuju Cahaya ilusi. Seperti yang Dalton katakan.
Mereka akan mengejarnya, Gen yang yerus ke bar yang sama, menjadi dekat dengan Barbara dan para pelanggan yang setiap harinya selalu datang ke bar wanita itu.
Mengakrabkan diri kadang ia melihat Dalton di bar, kadang juga tidak. Ia bertanya kemana jalan menuju Cahaya ilusi. Mereka harus melewati satu desa yang terkenal misterius.
Desa yang berada di kaki gunung dan di atas permukaan laut. Penjaganya sesosok kura-kura tua. Bernama Kenny, Ia sangat menjaga tempatnya. Jika kau baik dengannya bisa saja ia akan membawamu langsung ke tempat yang kau mau.
Ia memiliki sihir yang hebat. Gen mendapatkan informasi dari beberapa orang di bar. Namun jika ia merasa terganggu dengan kedatangan dirimu, ia akan menganggapmu musuh atau ancaman bagi tempatnya dan kau harus waspada.
Dan Ruve, Elves dan Gen menuju puncak gunung Lemongrass, sebelum mereka menapaki lembah Abadi, dimana tempat dimana Kenny berada.
Jalanan sangat curam dan berbatu. Agak susah bagi kuda-kuda mereka menapaki, alhasil mereka meninggalkan kuda mereka dan berjalan menuju puncak.
Gen merubah dirinya menjadi ular. Ia meliuk cepat memasuki dedaunan kering juga bebatuan, ia menjadi pencari jalan.
Elves dan Ruve mengikuti Gen.
Bruk!
"Hati-hati" ucap Elves yang menarik tangan Ruve. Hampir saja ia terjengkang jika tak ada pemuda Elf itu di belakangnya. Ia biasa bergelantungan dari pohon ke pohon dengan menggunakan rantainya, namun Ruve memilih ikut berjalan bersama Elves.
Senyuman manis ia perlihatkan pada Elves. Ruve menggandeng tangan Elves. Elves hanya melirik saja. Membiarkan kelakuan Ruve.
Ruve menatap lurus pada rute jalan yang masih sangat jauh, menyenangkan memang berjalan disamping orang yang aku suka, tapi ini juga sangat melelahkan.
Rube tak melihat Gen pasti lelaki itu telah sampai lebih dulu. "Elves kau percaya padaku kan?" Ruve bertanya dengan tiba-tiba.
Elves hanya menatap bingung, "percaya padaku" Elves mengangguk pelan. Dan dengan cepat Ruve memeluk erat pinggang Elves. Ia menjulurkan tangannya dan rantai hitam keluar.
Dengan cepat mencari dahan pepohonan dan membawa Elves yang dalam rangkulannya bergelantungan dari pohon satu ke pohon lain.
"AAARGH!" Pekikan terkejut Elves antara takut bercampur geli, dengan tangan Ruve yang berada di pinggangnya.
Suara Elves menggema nyaring seiring ayunan Ruve menjadi lebih cepat. Ruve melirik Elves lalu mendengus, melihat lelakinya itu menutup mata. Juga Elves yang mencengkram erat bahu Ruve, Ia tak menyangka Elves takut ketinggian. Dilihat dari cengkraman Elves yang menguat.
BRUGH!
Ruve berhasil mendarat di puncak. Ia melihat Gen yang sudah bersantai di atas pohon. "Kalian lama" celetuknya. Elves meluruh ke tanah. Sesat kakinya menginjak tanah. Ia merasakan kakinya berubah menjadi jeli yang tak bisa menopang dirinya.
__ADS_1
"Ada apa? Jangan bilang kau takut ketinggian?" Pertanyaan Gen, lelaki itu melompat turun dari pohon dan menghampiri keduannya.
"Kalau benar, kau harus melawannya, karena setelah ini kita akan berhadapan dengan ketakutanmu" Gen mendekat pada sisi tebing dan melihat kebawah.
Disana mereka harus menuruni tembok tebing. Ada tangga kayu yang dipasang seadanya. Tangga kayu itu menempel pada tebing. Terlihat rapuh.
Ruve berjalan ke pinggir tebing dan menatap bawah tebing lalu menatap Elves bergantian. "Apa bisa?" Guman Ruve menatap Elves yang masih pucat pasi, setelah adegan mereka yang mengelantung tadi.
"Minumlah, kita istirahat dulu, lalu kita lanjutkan"
Elves menegak kantong air milik Gen. Ia menjatuhkan dirinya hingga tertidur telentang. Menutupi matanya dari cahaya matahari. Ia perlu mengambil nafas.
Ini adalah ketakutannya. Alasan sebenarnya ia tak bisa mencari bunga Ploppy yang hanya hidup di puncak gunung.
"Ini makanlah, kau tak apa? Wajahmu sangat pucat" Ruve mengelus pipi Elves yang mengintipnya sinis.
"Aku tak tahu kalau kau tak bisa ketinggian." Ruve memasang tampang menyesal. "Maaf" lirih Ruve.
"Kau disini saja biarkan aku dan Gen yang turun" Elves mendudukan tubuhnya. Ia tak terima, ia juga akan turun.
"Aku turun" Wajah Elves sudah kembali berwarna. Tidak sepucat sebelumnya.
"Baik, putuskan saat kau melihat medan yang akan kita lalui. Sana ke mendekatlah ke tebing" Ruve menggerakkan dagunya ke arah tebing.
"Lihat saja" Ruve memiringkan kepalanya. Elves masih menatapnya marah.
"Kau harus melihat karena itu lintasan kita selanjutnya." Ruve tahu amarah Elves, ia menjelaskannya perlahan.
"Maksudmu kita harus terjun dari tebing itu?" Seketika wajah Elves memucat lagi. Matanya membesar.
"Mmm … bisa juga, kita jadi bisa lebih cepat sampai." Ucap Ruve tanpa penolakan, mereka harus terjun.
"Apa tak ada cara lain?" Elves lemas. Ia teringat rasa mual saat ia dibawa Ruve bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain.
"Ada tangga" Gen menimpali. Ada rasa lega dalam hati Elves. "Aku lewat tangga saja." Putusnya dan mendapat anggukan dari Ruve dan Gen.
***
Mereka melanjutkan perjalanan setelah beristirahat sebentar. Elves mematung di tempatnya, "Bukan seperti ini tangga yang aku bayangkan." Gumannya menuruni tangga rapuh itu.
__ADS_1
Ruve memilih bergelantung, membuat gerakan pada tangga itu. Wajah Elves pucat dengan buliran keringat dingin. Tatapan datar mencari pijakan kokoh.
"Elves bagaimana kalau aku membantumu?" Tawaran yang membuat Ruve mendapatkan lirikan tajam.
"Iya kita mengejar waktu, sampai di lembah Abadi" Gen menyarankan agar Elves ikut Ruve bergelantung seperti sebelumnya.
"Kau masih kuat Elves?" Tanya Ruve melihat kaki Elves yang tampak bergetar hebat dan Elves masih diatas belum setengahnya, perjalanan masih sangat jauh.
"Jangan memaksakan diri" nasihat Gen. Untuk Elves yang menurutnya keras kepala ini.
"Oke, aku ikut denganmu Ruve" Ruve melihat lurus pada mata Elves. Bola mata hitam itu memancar rasa enggan, namun juga ketakutan disana.
"Apa kau yakin?" Ruve memastikan lagi. Elves mengangguk. Ruve mulai mendekat, ia meletakkan tangannya pada pinggang Elves dan tangan Elves merangkul kencang tubuh Ruve.
"Siap!" Elves hanya mengangguk. Ia pasrah. Debaran jantungnya berdetak kencang dan Ruve bisa merasakannya.
"Percaya padaku, rileks, tutup matamu, ini hanya sebentar dan kau akan kembali menapaki tanah secepat kau berkedip" ucap Ruve. Yang sudah berayun.
Elves mengeratkan rengkuhannya pada Ruve. Rantai-Rantainya mencari gagang kayu dari tangga yang bisa ditauti.
Ruve mengembangkan senyumannya, anak rambutnya berterbangan terkena hembusan angin.
Melirik pada wajah Elves yang memejamkan mata dengan kuat, membuat kekehan geli keluar dari dirinya.
"Sudah sampai dengan selamat Tuan" ucap Ruve dengan kekehan. "Kau! Ini bukan waktunya bercanda!" Desis Elves.
"Tentu tidak, kita sudah mendarat dengan selamat, kau sudah menginjak bumi" Ruve mencoba menghentakkan tanah.
"Kalian sampai kapan berpelukan seperti itu!" Gen sudah menunggu kedua nya dibawah. Elves mencoba mengintip. Membuka mata dan melarikan pandangannya kesekeliling.
"Hei Ruve betah kau dalam pelukan Elves" Gen mengejek jahil.
"Senang sekali, dipeluk terus." Elves menunduk, ia melihat cengiran Ruve dan mendorong tubuh Ruve menjauh, ia terbatuk untuk menyembunyikan salah tingkahnya.
Elves melangkah dengan sedikit terhuyung, ia menyandarkan diri pada pohon disana. Mengatur nafas dan juga debaran jantungnya yang memburu.
Walau ternyata rasanya tidak semenakutkan awal. Namun ia masih ingin beristirahat sedikit.
Ia terduduk, punggungnya menyender pada pohon. Ruve melempar kain basah pada tangan Elves. Elves melihatnya, ia melipat kainnya lalu menutup matanya. Segar.
__ADS_1
"Kau hebat" pujian Ruve sambil menepuk kepala Elves pelan. Membuat sudut bibir pemuda itu sedikit terangkat.
Tbc.