
Ruang makan rumah Gma Mima sangat ramai pagi ini. Tamu dari Cahaya ilusi mendominasi meja makannya.
Disana ada Agrabella juga Dylan. Ada sekumpulan prajurit Phoenix Way, dan Araria, Elves, Gen dan Ruve.
Holin teman Gma Mima, telah menyiapkan rerotian, sup hangat dan pancake. Juga dedagingan. Mereka sarapan dengan riuh.
"Ruve kau mau makan apa sayang?" Gma Mima menawarkan roti lapis yang ditolak Ruve. "Sup?" Ruve mengangguk.
Gma Mima menuangkan sup daging ke mangkok Ruve. Dan meletakkan pada meja Ruve. "Makan yang banyak, dan pulihkan tubuhmu" Gma Mima menepuk kepala Ruve sayang.
Gen mendominasi percakapan. Karena omelan Gma padanya. Yang tak bisa menjaga Ruve.
"Kapan kalian kembali?" Gma Mima bertanya pada Agrabella juga Dylan, karena Ceret teh tidak bisa ditinggal lama.
"Melihat kondisi Ruve yang sudah baik, nanti malam kami kembali." Agrabella menyuapkan sup dagingnya.
"Tak bisa lama meninggalkan ceret teh" lanjutnya.
"Kami juga akan kembali ke Phoenix Way langsung dari sini, melapor ke pusat dan kembali mengejar tiga bandit itu" Berus ikut masuk dalam obrolan Gma Mima.
"Aku ikut" Ruve berkata, membuat mereka yang sedang mengunyah makanannya melirik pada Ruve.
"Tujuan kita memang ke Phoenix Way, dan kami dengar Hudson, berada di Cahaya ilusi atau di Phoenix Way. Kami tidak menemukan lelaki itu di Cahaya Ilusi." Ucap panjang lebar Ruve.
"Kau masih pemulihan" Elves yang merasa tak mau lagi terjadi sesuatu pada Ruve pun menolak. Lupakan sejenak persoalannya.
"Tidak bisa! Kita harus terus mengejar, mereka sudah dekat. Dan aku merasa sehat"
__ADS_1
Ruve keras kepala, ia berdiri dari kursinya dan melompat, menunjukan bahwa ia baik-baik saja.
"Bagaimana jika kau tunggu beberapa hari lagi lalu menyusul ke Phoenix Way," usul Orso. Ia merasa Ruve keras kepala dan kekanakan saat ini seperti anak-anaknya.
"Hanya untuk mengetahui keadaanku saja kan? Kita lihat besok" Ruve yang egois. Bukan masalah sebenarnya untuk tinggal lebih lama, yang jadi masalah, ia menghambat pengejaran Hudson, mencari Lavender, adik dari Elves.
"Yah besok, kita lihat kondisimu hingga besok hari" Gma Mima mengelus punggung Ruve, "Lanjutkan sarapanmu, Ruve" dan mendorong Ruve ke kursinya.
Ruve menjadi penurut ia duduk dan kembali memakan supnya. Ia merasa tidak enak. Namun Ruve juga tidak ingin dirinya menjadi penghalang tim. Kelemahannya karena racun dari klan Avvol alias bangsa burung bangkai menjadi hambatan bagi timnya.
Ia sering terkena serangan bahkan tidak sadarkan diri. Itu sangat menghambat. Ruve sudah di ceritakan bagaimana ia bisa sampai di Bymaba bersama semua orang di Cahaya ilusi.
Ternyata kelompok bandit itu mengintai dirinya. Kelompok dari klannya si Mateo yang ia tak kenal, juga Los yang ternyata dari klan burung bangkai. Ada lagi klan Hyena, Filden.
***
Ruve hanya duduk terpekur. Ia merasakan tubuhnya sehat tapi mengapa otaknya terasa ringan. Banyak sekali melewatkan sesuatu itu yang membuat Ruve harus secepatnya ke Phoenix Way. Bukan hanya untuk Elves tapi untuk dirinya.
Racun yang ada dalam tubuhnya, Racun yang akan menghilangkan kekuatannya. Ruve mengepalkan tangannya. Tepukan pada bahunya membuat Ruve menoleh.
Elves datang dengan senyuman yang menawan, lelaki itu membuat gelombang kerinduan dalam dirinya melonjak. Rasanya ia ingin sekali masuk dalam rengkuhan lelaki itu.
"Kau tak istirahat?" Rube menggeleng. Yang Elves lakukan di kamar mandi, membuatnya bertanya tentang tindakan lelaki itu.
Apakah rasa itu telah tumbuh dalam benak pemuda Elves itu?
Senyuman dengan harapan setinggi langit Ruve berikan pada Elves yang telah duduk disampingnya.
__ADS_1
"Kau harus banyak istirahat," ucap Elves. Sedari tadi Ruve hanya terdiam dengan senyuman lebar di bibir juga tatapannya yang tak putus dari wajah lelaki bangsa Elf itu.
"Aku rindu" ucap Ruve. Ia masih menatap Elves dalam. Elves menangkap tatapan Ruve. Mereka bertatapan lama.
Tangan Elves terulur, jemarinya mengusap pipi Ruve. "Kau lupa" ucap Elves lirih.
"Dan karenanya kau harus dihukum" Elves mencapit kedua pipi Ruve dengan jarinya hingga bibir Ruve mengerucut.
"Kenapa?" Alis Ruve bertemu, ia tak begitu mengerti mengapa ia dihukum karena lupa dengan Elves.
Dan itu juga karena ia terkena ramuan buatan bandit-bandit itu. Lagipula ia juga lupa dengan semua orang.
Elves mendekatkan wajahnya. Dalam pikiran Ruve masih memutar kenapa ia harus mendapat hukuman.
Hidungnya dan hidung Elves bersentuhan, membuat fokusnya kembali, matanya melebar saat ia bisa merasakan hembusan hangat di pipinya.
Kejadian yang cepat.
"RUVE, ELVES, HOLIN DAN GMA MIMA MENUNGGU DIRUMAH HOLIN!" Teriakan kencang Gen membuat Ruve refleks mendorong tubuh Elves hingga terjengkang.
"Awh!" Rintihan Elves merasakan tulang ekornya nyeri.
"Elves maafkan aku!" Ruve segera membantu Elves berdiri. Ia merasa bersalah. Harusnya jika tak ada teriakkan dari Gen Ruve pasti sudah merasakan bibir lembut Elves.
"Kalian disini!" Ia masuk dengan riang. Tak menyadari tatapan laser yang Ruve berikan.
"Ayo cepat, Holin sudah memasak banyak makanan kesukaan mu, Cepat Ruve! Aku sangat lapar!" Dasar pengganggu umpat Ruve.
__ADS_1
Tbc.