Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 110. Kisah Yara Alejandro 17


__ADS_3

Yara memborong makanan yang ada dipasar. Dengan hadiah yang Otis beri. Yara seketika mendadak menjadi saudagar kaya raya.


Ia masuk dari kedai roti, kedai makanan manis, kedai mie, kedai sup. Yara membawa banyak kantong-kantong makanan.


Ia sudah kembali ke kediaman Otis. Dan meletakkan semua makanan yang ia beli di atas meja makan.


"Pelayan, siapakan satakan ini dimeja makan ya" ucap Yara. Pelayan yang Yara panggil ia mengangguk.


Tak lama semua hidangan dari Yara berjejer dengan sarapan buatan dapur kediaman Otis.


Yara bukan hanya membeli banyak sarapan ia pun bertanya pada penduduk. Semua menyebut hutan itu hutan kematian.


Yara mengingat bagaimana ibu pemilik kedai sup bercerita tentang suami temannya yang nekat masuk kedalam hutan kematian, ia kembali dalam keadaan linglung dan tak mengenal siapa pun.


Juga banyak lagi dari seorang pelanggan kedai mie. Mengatakan jika ia saksi jika benar adanya, jika kau masuk hutan kematian kau akan kehilangan ingatanmu.


Yara ingin membantah, jika ia telah masuk dan selamat. Tapi ia hanya orang batu tidak mau melanggar aturan pada desa yang ia singgahi.


Hugo dan Otis telah bergabung dengannya, sedangkan Beldino, ia sibuk mengurusi pekerjaannya.


"Kau akan kemana?" Hugo melihat Yara yang bersemangat sepagi ini.


"Aku ingin berkeliling"


"Bukannya kau sudah melakukannya pagi tadi?"


"Apa ada sesuatu yang menarik perhatianmu?"


Yara hanya tersenyum, penuh dengan misteri wanita mungil di depannya ini. "Aku permisi dulu" Yara mengelap mulutnya dan beranjak, berjalan cepat ke kandang kuda.


Otis pergi lebih dulu setelah semua sarapannya telah habis, ia pamit menuntaskan pekerjaannya.


Yara kan kembali ke hutan kematian ia rasa alat yang ia tinggalkan akan memberi jawabannya.

__ADS_1


Yara memacu kudanya. Menembus hutan dan semakin kedalam. Tapi aneh Yara merasa ia masuk hutan lebih dalam. Ia belum juga mendengar arus air terjun.


Yara rasa si pemilik barier menebalkan bariernya. Ia mengeluarkan jam tangan yang ia dapat satu paket dengan alat pendeteksi barier.


Ia melacak dimana keberadaan alat itu. Dan kembali mencari tahu hal apa yang melingkupi hutan kematian.


Jawabannya terlihat pada layar hologram, ia juga meradar alat pendeteksi itu. Yara menemukannya. Dan kembali Yara baca.


"Dimensi lain."


Yara disasarkan oleh si pemilik barier di dimensi lain. Pantas ia merasa tubuhnya menjadi lebih ringan.


Di layar dengan mudah Yara menghilangkan dimensi di sekitar Hutan dengan menekan tombol pada layar hologram itu.


"Non aktifkan dimensi lain."


Dan seketika tampak hutan sesungguhnya. Mudan Yara bisa melihat alat pendeteksi barier miliknya yang mengeluarkan kedutan sinar berwarna merah.


Yang berarti alat itu sudah siap untuk membuka barier didepannya ini. Cara menekan tombol pada alat pendeteksi, alat itu seolah menyedot semua barier yang Yara lihat.


Yara pun bisa merasakan deruan angin bercampur pecahan air, sungguh menyegarkan. Yara terpukau dengan pemandangan yang air terjun itu perlihatkan padanya.


"Aku tak menyangka, selain hebat dalam pertarungan kau juga ahli barier Tuan Ulat." Yara membalik tubuhnya ia melihat Otis yang menjulang di belakangnya.


"Tuan Otis, jadi kau pemilik barier yang langkah itu, luar biasa," ucap Yara.


"Kau juga tak lebih lyar biasa Tuan Ulat bisa menghilangkan dimensi buatanku, juga barierku."


"Maaf kelancanganku Tuan Otis" Yara merasa tidak enak juga takut jika Otis akan menolak tawaran Hugo.


"Aku hanya terpesona dengan air terjun yang kau jaga ini Tuan Otis, sekali lagi maafkan kelancanganku" Yara merasa bersalah.


"Tak apa Tuan Ulat. Sebenarnya bukan Air terjun itu yang aku jaga, melainkan ladang yang kau belakangi Tuan Ulat"

__ADS_1


Jika di depan kau akan disuguhi kehijauan tumbuhan air juga tebing mengelilingi air terjun yang memukau.


Saat Yara membalik tubuhnya. Ia bisa melihat ladang yang luas membentang. Dengan banyaknya bunga dari petak satu ke petak lainnya. Ditumbuhi berbagai bunga warna warni.


"Woaah" mulut Yara menganga. Yara terhipnotis untuk mendekati ladang luar itu. Semakin dekat Yara semakin tahu jika tidak hanya ladang bunga juga banyak tumbuhan ramuan.


Terima kasih pada Elves yang sempat mengajari tentang ramuan sederhana.


"Ini yang kau jaga? Tumbuhan obat ramuan" Otis mengembangkan senyumannya. Ia mengangguk.


"Dan bukan hanya ramuan obat biasa, tapi yang susah didapat, aku selalu menjaganya" ucap Otis.


"Aku merasa tidak enak. Tapi lebih baik kau tidak menutupi air terjunmu, ia ingin para warga menikmati keindahannya juga." Masukan Yara.


"Aku juga tertarik pas air terjun, karena itu aku sampai disini, dan aku akan memperbaiki barier milikmu"


"Tak apa aku akan membuatnya sendiri" Otis sangat berterima kasih, tapi ia hanya percaya pada barier buatannya.


"Jangan kau tolak dulu, aku akan membuat contoh kecilnya beberapa dan memperlihatkannya padamu, jika kau tidak suka, aku tidak akan bersikeras memaksamu, bagaimana?"


"Baiklah" persetujuan Otis ragu. Yara tersenyum dengan percaya diri.


"Tapi bisa kau beri barier instan pada tiga ladang disini?"


"Akar Bulkie?" Gumam lirih.


"Ssssttt …. Tolong rahasiakan" ucap Otis nyengir paksa. Jadi apa yang sebenarnya Otis jaga adalah tanaman milik Raja Marzon.


"Sepertinya aku akan menambah hari menginap ku di desa Combo, ini sekuat barier yang aku buat untuk cahaya ilusi dan bertahan seminggu"


"Baiklah terima kasih"


"Tidak harusnya kau yang minta maaf"

__ADS_1


"Tak apa"


Tbc.


__ADS_2