Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 71. Hampir Terkejar, Hampir.


__ADS_3

"Kau telah menemukannya?" Lelaki itu duduk di ruangannya. Ia berada di sebuah kastil besar yang dikelilingi oleh hutan lebat.


"Belum Tuan" ucap lelaki yang berdiri di depannya menunduk takut-takut.


"Apa kerjamu! Mencari begitu saja tak becus!" Bentak kencang lelaki yang duduk. Netranya menatap nyalang. Ia melemparkan patung kecil dari keramik padat pada lelaki didepannya 


Dak!


Patung itu menabrak pelipis lelaki itu, Darah segar menetes dari pelipisnya.


"Kerahkab semua orang dan cari!" Hardiknya.


"Ba,baik Tuan" lelaki yang duduk melambaikan tangan menyuruh lelaki dengan pipis berdarah itu pergi.


Lelaki pelipis berdarah itu menunduk hormat, sebelum keluar ruangan. Ia berpapasan dengan asisten lelaki itu.


"Tuan, lelaki itu telah sadarkan diri, dan ia tak mengingat apapun" lelaki yang duduk segera beranjak.


"Aku akan melihatnya." Ia berjalan angkuh meninggalkan ruangannya diikuti sang asisten.


"Nona Lavender menunggu anda juga Tuan"


"Hudson, mari kita makan" Ya, lelaki itu Hudson, ia berada di Lamerda, dengan kastil di tengah hutan.


Dan Wanita berparas lembut, anggun nan cantik dengan kuping runcing juga rambut bergelombang berwarna se-emas madu menghampiri Hudson itu adalah Lavender, adik Elves.


Walau dari mata biru indah itu terlihat kosong, senyum manis masih tersungging. "Oke tapi kita lihat jenguk dulu sahabat kakakmu ini" wanita itu hanya mengangguk.


Hudson berjalan ke sayap kiri bangunan kastil. Sebuah pintu kagi kokoh dibuka. Menampakan seseorang terduduk dengan kepala dibalut kain.


Mata lelaki itu juga kosong. Tak jauh berbeda dengan mata Lavender.


"Ben kau siauman?" Lelaki itu menatap Hudson dengan wajah dinginnya. Ia hanya membisu tak menjawab Hudson.


"BALDI!" teriak orang yang dipanggil Ben itu pada Baldi, seorang lelaki yang mengenalkan diri sebagai asistennya.


"Ya, ya Tuan, ada apa?" Lelaki itu masuk tergopoh.


"Siapa mereka" bentak Ben.


"Oh, me,mereka, … " Baldi melirik asisten Hudson, lalu melirik Hudson yang menatap Ben. Ia kembali melirik Dito, asisten Hudson.


Melihat pergerakan kepala Dito.


"Sahabat anda Tuan, dan gadis disebelahnya adalah adiknya" Ben menatap dingin, walau tatapannya masih kosong.


"Usir mereka! Aku tak ingin ada yang mengangguku!" Perintah Ben. Kembali Baldi mendapat anggukan dari Dito.


"Ba, baik Tuan"


"Maaf tu,tuan—"

__ADS_1


"Baik kita akan bertemu saat makan malam" Hudson keluar ruangan Ben ia akan makan siang bersama Lavender.


"Siapkan kereta kudaku, Lav kita makan diluar saja"


"Baik kak" Wanita itu menurut, Hudson menepuk kepala Lavender. Pelan. Dulu ia sering melakukan itu.


Dulu, sebelum dirinya dan Elves bermusuhan.


"Kereta kuda telah siap Tuan,"


"Ayo Lav, sekalian nanti kita lihat perkembangan misi yang aku berikan"


"Baik Tuan," Dito mengangguk.


***


Dito sudah memesan dua ruangan VIP yang bersebelahan dan dipisahkan dengan satu pintu penghubung.


Satu untuk Hudson makan siang bersama Lavender dan satu lagi untuk bertemu dengan para bawahannya.


Sekarang ia dan Lavender menikmati makan siang mereka. 


"Ini kak untuk kakak" Lav memberikan potongan paha ayam tanpa tulang pada Hudson. Lav sudah mengeluarkan tulangnya.


"Terima kasih adikku" ia mengusap kepala Lav. Dan menusuk daging lembut itu dan menikmatinya.


Pintu terbuka, Dito berjalan mendekat ia membisikkan sesuatu pada Hudson. Hudson meletakkan alat makannya. "Kakak tinggal sebentar ya, makan yang banyak" ia mengecup kepala Lav.


Lalu masuk ke ruang sebelahnya. Disana terlihat seorang lelaki dengan wajah yang babak belur.


***


Mereka duduk di tengah ruangan, banyak sekali pelanggan rumah makan ini, dan mereka beruntung, bisa mendapatkan meja.


"Disini makanannya sangat enak"


"Sup semur daging dan pizza dengan keju penuh sangat aku suka, oke aku mau itu."


"Sup semur daging 3 dan pizza dengan keju penuh satu juga, smoke tuna truffle salad,  minumnya Wine"


Pelayan mengangguk dan menyebutkan kembali pesanan meja Yara. Dan masuk dalam.dapur untuk membuat pesanan milik mereka.


Tiga puluh menit pesanan mereka datang, banyak senda gurau, hingga celetukan Yara, membuat mereka berpaling dari piring masing-masing.


"Astaga lihat dibelakang, di lantai dua, wanita itu sangat cantik, rambutnya membuatku iri saja. Warna madu, berkilau indah." Oceh Yara,


Ruve memandang dengan kunyahan. Kunyahan-nya menjadi pelan. Ia menajamkan matanya. Mata ularnya keluar. Memindai apa yang ia lihat. Matanya melebar, tanpa pikir panjang, ia meletakkan alat makannya.


"Oh pantas saja bangsa Elf, mereka terkenal rupawan, oh ia kita bawakan makana— RUVE!"


BRAK!

__ADS_1


Ruve berlari ke arah pintu masuk. Tanpa melihat sekitar, ia menabrak pelayan yang membawa nampan berisi makanan.


Ia hanya berkata maaf, lalu keluar, banyaknya orang yang menghalangi jalannya, ia mencari keberadaan, yang ia yakin itu adalah Lavender.


"RUVE!"


Namun saat ia akan dekat, tangannya ditahan oleh Yara. Ruve menepis kasar tangan Yara.


Dan ia terlambat, kereta kuda membawa Lavender. Ia berlari mengejar dengan kepala celingukan mencari kuda atau apapun untuk mengejar, namun nihil.


Kereta kuda itu semakin menjauh. Umpatan Ruve keluarkan. Nafasnya tersegal dengan menendang batu kerikil dengan marah.


"Ada apa Ruve?" Keduanya pun menyusul setelah Yara membayar semua kerugian yang Ruve ciptakan.


"Ayo kita kembali ke tempatmu Yara"


***


Keributan terdengar dari lantai dua kedai. "Keributan apa itu?" Hudson bertanya terlihat dari wajahnya ia telah mendapatkan berita bagus.


Dito keluar untuk melihat dari atas. Ada dua orang wanita yang meminta maaf pada pelayan dan pemilik kedai. Sebuah ketidak sengajaan ternyata.


Hudson menyesap minumannya. Sudut bibirnya terangkat, sebentar lagi. Ia akan mendapatkan pedang abadi.


"Lav sudah pulang?"


"Sudah Tuan, di bawah hanya ketidaksengajaan pelanggan menabrak pelayan yang membawa piring makanan" 


"Bagus, beri Logan sepeti kepingan emas, juga perjanjian yang telah disepakati untuk keluarganya, lalu bunuh dia" ucap Hudson.


Hudson tak ingin ada pengkhianat. Ia selalu membunuh semua siapapun yang terlibat dengannya.


Namun jika dirinya dan calon korban memiliki kesepakatan, Hudson tak pernah mengingkarinya. Pantang baginya. Dan ia menyakini jika mengingkari kesepakatan adalah sebuah nasib buruk.


"Baik Tuan" Dito akan menghubungi anak buahnya segera.


"Ayo kita pulang. Katakan pada Marta nanti malam aku ingin makan enak"


"Baik Tuan" Mereka beranjak turun. Hudson masih bisa melihat sisa keributan. Ia melihat dua wanita, satu ditahan oleh pelayan, satu wanita membayar kerusakan.


Dan setelah selesai mereka bergegas berlari dan hampir menabrak Hudson.


"Hati-hati Nona" ucap Hudson menangkap salah satunya yang hampir terjatuh karena menabrak tubuhnya.


"Maaf Tuan, maafkan saya," sang penabrak menunduk berkali-kali.


"Sekali lagi, maaf tuan, saya buru-buru" ucapnya melepas tangan Hudson dan berlari mengejar temannya yang telah menjauh.


Hudson menatap kedua nya diam. "Tuan silahkan" Dito telah menyiapkan kereta kuda untuk Hudson.


Kereta kudanya berjalan dan Hudson menatap jendela, kereta kudanya berpapasan dengan kedua wanita yang membuat keributan di kedai tadi dan ada satu wanita lagi yang tampak familiar.

__ADS_1


Hudson mengalihkan matanya, ia tak peduli pada insiden di kedai. Yang berputar di kepalanya adalah sebentar lagi kemenangan akan berada ditangannya.


Tbc.


__ADS_2